Model Itu Adalah Anna

1198 Kata
Hari ini Anna pemotretan dengan 3 tema berbeda. Kini ia telah siap dengan pakaian pertamanya. Riasan flawless dan bodycon dress berwarna hitam yang membuatnya terkesan seksi tapi anggun di saat yang sama. Ini adalah pemotretan pertamanya setelah beberapa bulan. Sedikit gugup tapi ia bisa mengatasinya. Anna melangkahkan kakinya keluar dari ruang ganti. Semua set dan kru telah siap menunggunya. “Bagaimana?” tanya Anna pada Emily yang sedang berbicara dengan salah satu kru. Emily memandang Anna dari ujung kaki hingga ujung kepala, lalu memutarnya pelan. “Perfect!” puji Emily dengan senyuman lebarnya. Anna tersenyum puas, lalu mereka pun menuju set untuk memulai pemotretan iLite. iLite adalah ponsel keluaran terbaru Aston Company. Didukung dengan teknologi super canggih dan tampilannya yang elegant juga futuristic yang ditujukan untuk kalangan menengah ke atas. Untuk mendapatkan banyak pemilihan gambar dalam waktu yang singkat, Anna bergonti-ganti pose dengan satu tangannya yang menggenggam ponsel iLite. Tak lama kemudian Samuel sampai di studio. Samuel memperhatikan para kru yang sedang bekerja. Semua terkesan lancar dan terset sesuai keinginannya. Para kru yang melihat CEO itu datang, menunduk hormat dan menyambut kedatangannya. “Selamat datang, Tuan,” ucap para kru. Samuel menganggukan kepalanya sambil melangkahkan kakinya ke ruangan pemotretan. Ivan membukakan pintu, Samuel masuk kedalam di susul sang asisten. Semua kru yang berada di ruangan menunduk dan menyambutnya, kecuali fotografer dan model yang tidak menghentikan aktivitas pengambilan gambar. Samuel mendekati set. Sejak tadi ia penasaran dengan sosok model yang menggantikan Angela. Ia tidak mendapat informasi apapun karena kontrak kerja sama dengan model yang baru belum ia terima. Akankah model barunya lebih baik dari Angela? Semakin dekat dengan set, semakin jelas Samuel melihat model itu. Tubuh model itu seperti familiar baginya. Karena model itu sedang menghadap ke samping, Samuel belum jelas melihat wajahnya. Hingga saat model tersebut menghadap depan. Samuel membelalakan matanya terkejut. Apa yang di lakukan Anna di sana? Berpose layaknya seorang model dengan penampilan yang sangat berbeda. Apakah benar wanita itu Anna, wanita yang ia nikahi lima bulan yang lalu? Samuel mengerutkan keningnya tak percaya. “Anna … dia modelnya?” Mendapati sang tuan syok melihat set, Ivan pun mengikuti pandangan Samuel dan ikut terkejut mendapati istri atasannya sedang berpose dengan begitu menawan. Anna yang tengah fokus berganti gaya, tidak menghiraukan kehadiran Samuel. Anna tahu cepat atau lambat pria itu akan mengetahuinya. Jadi, ia sudah siap dengan kemungkinan apapun. Yang ia tahu sekarang hanya melakukan yang terbaik dan menyelesaikan pemotretan ini secepatnya. “That’s the real Anna.” Emily yang berdiri tidak jauh dari Samuel, mendekat dengan menyilangkan tangannya di d**a dan tersenyum. Berniat menyapa suami sang sahabat. Samuel mengerutkan dahinya. “Siapa kau?” tanyanya dingin. ‘Ini manusia apa kulkas? dingin banget,’ umpat Emily dalam hati. “Aku Emily, sahabat sekaligus manajer Anna.” Emily memandangi Samuel dan menilainya. Ini kedua kalinya Emily melihat Samuel, pertama adalah saat pernikahan Anna. Tapi, Samuel pasti tidak akan mengingat orang remeh seperti dirinya. Emily tersenyum masam. “Jadi … dia adalah model Glory Entertainment?” decak Samuel. “Anna adalah primadonanya. Dia ahli di bidang ini. Tenang saja, aku yakin wajahnya akan menjadi keberuntungan produkmu.” Emily menyeringai puas menatap wajah pucat pria di depannya. Di jalan Anna mengatakan bahwa ia terkejut karena akan bekerja untuk perusahaan suaminya. Keresahan Anna membuat Emily bertanya-tanya, dan akhirnya Anna bercerita jika pernikahannya dengan Samuel tidak berjalan dengan baik. Samuel terdiam. Ucapan Emily bagai angin lalu untuknya. Aura dingin dan amarah mengelilinginya. Dengan segera ia keluar menuju tempat yang lebih sepi, Ivan mengikuti di belakangnya. Samuel mengambil ponsel di sakunya dan segera menelpon Joy. [“Hallo, Tuan Aston. Tumben menghubungiku langsung,”] sapa Joy. “Kenapa kau tidak bilang modelnya adalah Anna?!” teriak Samuel. [“Loh, kenapa kau emosi? Anna adalah Istrimu. Aku pikir kau tahu dia bekerja denganku.”] “Kau! Ini akan menjadi kerja sama terakhir kita. Bodoh! s**t!” bentaknya lalu melempar ponsel mahal itu ke lantai dengan emosi. Namun, dengan sigap Ivan mengambil ponsel itu dan mengamankannya. “Sialan, hah!” umpat Samuel sambil menendang vas bunga di dekatnya hingga pecah berserakan di lantai. Samuel menghembuskan napas kasar dan mengatupkan rahangnya, ia benar-benar emosi mengetahui kenyataan ini. Namun, sialnya ia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena situasinya sulit dan waktu yang sudah mepet. Samuel segera kembali ke ruang pemotretan. Ia melihat Anna telah keluar set dan sedang berbicara dengan Emily, Samuel langsung menarik tangan Anna dengan kasar. “Ikut aku!” perintahnya. Anna terkejut dengan perlakuan Samuel yang tiba-tiba. “Sam … lepas!” ringis Anna. Namun, pria itu semakin mengencangkan tarikannya. Emily yang melihat itu membelalakan matanya dan langsung mengejar mereka. Namun, terlambat karena Samuel telah membawa Anna ke ruang ganti dan mengunci pintu dari dalam. “Anna, buka pintunya!” teriak Emily sambil berusaha membuka engsel pintu, meski ia tahu pintu dikunci dari dalam dan tidak akan terbuka. Semua kru yang berada di ruangan itu keheranan dengan apa yang baru saja mereka lihat. “Tolong biarkan mereka berbicara dan jangan menambah keributan di sini, Nona,” ucap Ivan menenangkan. Akhirnya Emily hanya bisa pasrah dan melepaskan tangannya dari engsel pintu, lalu wanita berambut pendek itu berjalan keluar studio dengan emosi. Sementara di dalam ruang ganti. Suasana mendadak tegang. Samuel melepas tangan Anna kasar, bahkan pergelangan tangan Anna terlihat memerah karena cengkramannya. “Akhh …,” ringis Anna sambil memegang pergelangan tangan kanannya. “Apa maksud semua ini hah?!” teriak Samuel. Anna hanya diam menatap mata Samuel yang dipenuhi emosi. Ia juga bingung harus mengatakan apa. Semuanya serba mendadak dan tiba-tiba. Ia juga tidak menyangka akan kembali menjadi model. Apalagi menjadi brand ambassador produk suaminya. Sama sekali tidak ada dalam pikirannya. “Ternyata kau licik juga ya! Mulanya aku pikir kau hanya wanita bodoh dan polos, ternyata aku terlalu meremehkanmu,” geram Samuel. Anna menggelengkan kepalanya. “A-aku tidak–“ “Kau sengajakan melakukan ini, agar aku merasa berhutang budi padamu dan menerimamu menjadi istriku?! Jangan harap, aku tidak akan pernah sudi! Kau pasti senang melihatku pusing hingga jatuh sakit kemarin karena iklan ini, kau pasti tertawa di belakangku dan merasa menang karena kau yang akan menjadi model penggantinya. Dasar wanita bermuka dua. Kau mungkin dapat menjilat orang tuaku, tapi tidak denganku! Kau camkan itu!” bentak Samuel sambil menunjuk Anna dengan jari telunjuknya. Anna mengerutkan keningnya bingung. "Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak merencanakan ini. Aku bahkan baru mengetahui kontraknya tadi pagi. Aku tidak menjilat siapa pun, yang aku lakukan semuanya tulus.” “Aku tidak peduli dengan perasaanmu, aku tidak menginginkanmu, tidak akan pernah. Jadi, tidak perlu kau bersusah payah di depanku, mengerti?!” Samuel membentaknya lagi. Mata Anna berkaca-kaca tapi sekuat tenaga ia menahan luapan itu. Pemotretannya belum selesai, ia tidak boleh merusak riasan dan moodnya. Tidak boleh menangis, tidak sekarang! ‘Jangan menangis Anna … jangan sekarang … please!’ ringis Anna dalam hati. Melihat ekspresi Anna, Samuel menyeringai puas. Setidaknya ia dapat melimpahkan sedikit kekesalannya pada wanita bodoh itu. Samuel berbalik, berjalan menuju pintu. Ia membuka kunci lalu menarik engselnya. Namun, langkah kakinya terhenti saat mendapati seseorang membelakangi pintu. Dan ketika orang itu berbalik, Samuel mengerjapkan mata terkejut, kenapa orang ini berdiri di depan pintu, apakah ingin bertemu dengannya? “Sedang apa kau di sini?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN