“Mommy harap kalian terus mesra seperti ini dan segera memberi Mommy dan Daddy cucu.”
Samuel tersenyum sambil menggenggam tangan Anna. “Tentu, Mom. Doakan saja, kami sudah usaha hampir tiap malam, hanya mungkin Tuhan belum memberi anugerah itu pada kami.”
Samuel dengan mulut manisnya lagi-lagi membuat hati Anna bergetar. Setelah kemarin dia mengetahui Samuel memiliki hubungan dengan wanita lain, bisa-bisanya pria itu bersandiwara manis seperti sekarang. Sesungguhnya Samuel pantas untuk mendapat piala oscar karena dia sangat hebat dalam berakting sebagai suami yang baik, padahal kenyataannya jauh dari kata baik.
Anna hanya bisa menahan sakit dan memasang senyum palsu di depan ibu mertuanya. Toh ini bukan kali pertama dia berakting sebagai istri yang sangat bahagia dan dicintai suaminya.
Dayana tersenyum senang melihat keharmonisan pernikahan anak dan menantunya. “Sam, kau harus mengatur jadwal untuk berlibur. Anna pasti bosan di rumah terus, lagi pula kalian belum melakukan honeymoon semenjak menikah.”
“Akan aku usahakan, Mom. Mommy tahu aku memang sedang sangat sibuk mempersiapkan peluncuran produk baru, kan?”
“Ya, baiklah. Mommy akan pulang dulu. Daddy mungkin sudah dalam perjalanan pulang juga,” ucap Dayana lalu ia memeluk Samuel dan Anna bergantian. “Selalu kabari Mommy ya, An.”
Anna mengangguk dengan senyuman manis. “Pasti, Mom. Salam untuk Daddy.”
Dayana menganggukkan kepala kemudian masuk ke dalam mobil, ia akan kembali ke rumah utama.
Setelah mobil yang membawa ibunya tak terlihat lagi, Samuel segera melepas genggaman tangannya dengan Anna, lalu menjauh begitu saja. Dia pun sudah siap untuk berangkat bekerja.
“Emm … Sam,” panggil Anna.
Samuel yang akan memasuki mobil berhenti melangkah dan menoleh dengan wajah dinginnya.
“A-aku akan mulai bekerja hari ini. Jadi, mungkin aku akan pulang lebih malam.” Anna dengan gugup meminta izin pada Samuel, meski ia tahu pria itu tak pernah peduli, setidaknya Anna telah memberitahu.
“Terserah,” jawab Samuel datar, ia tak begitu memperdulikan. Dia segera masuk ke dalam mobil yang dikendarai Ivan dan melaju menuju kantor.
Sesampainya di kantor, Lisa langsung memberi kabar yang mengejutkan untuknya.
“Sam, pagi tadi Glory Entertainment mengatakan sudah ada model andalan mereka yang akan menggantikan Angela untuk pemotretan hari ini,” ucap Lisa.
Samuel menaikan alisnya tak percaya. “Siapa modelnya? Memangnya mereka pikir investor akan dengan mudah menyetujuinya? Mereka ingin Angela, siapa yang bisa menggantikannya?” cibir Samuel.
Lisa mengedikkan bahunya. “Katanya mereka sudah memberitahukan Tuan Jacob dan beliau sudah setuju.”
Samuel membelalakkan matanya. “Apa? Semudah itu? Mana mungkin!”
“Benar, aku dengar Tuan Jacob akan datang ke lokasi, bahkan beliau mengirimkan penata rias terbaik.” Lisa menganggukan kepala meyakinkan.
“Serius? Baru kali ini tua bangka itu repot-repot mau datang lihat proses, biasanya mau tahu hasilnya saja!” dengus Samuel.
“Kenapa kau tidak yakin?” tanya Lisa sambil mengerutkan kening.
Samuel menghela napas kasar. “Jelas saja. Aku sudah sering berbeda pendapat dengannya dan si tua bangka itu keras kepala, tidak mau mengalah! Padahal idenya buruk.”
‘Seperti dirinya tidak saja,’ gumam Lisa dalam hati.
“Apa kau juga ingin datang ke lokasi?” tanya Lisa.
“Sepertinya, mungkin habis makan siang. Aku ingin tahu siapa modelnya, awas saja kalau sampai Glory Entertainment memberikan model amatiran padaku. Akan ku tuntut perusahaan itu!”
Lisa memutar bola matanya malas. “Baiklah, aku akan mengosongkan jadwalmu siang nanti,” ucapnya kemudian kembali keluar dari ruangan Samuel.
“Siapa model itu?” gumam Samuel bertanya-tanya.
***
Anna menatap bangunan tinggi di depannya. Baru hitungan bulan tapi ia sudah merindukan gedung ini. Perusahaan yang membuatnya menjadi seorang model terkenal. Hari ini Anna datang untuk menandatangani kontrak kerja dengan Joy sebelum meluncur ke lokasi syuting.
Menarik napas panjang. Anna tidak menyangka ia akan kembali memasuki gedung GE. Semula ia sudah benar-benar merelakan karirnya demi peran barunya sebagai istri. Tapi, apa boleh buat? Manusia hanya bisa berencana, takdirlah yang menentukan langkah seseorang.
Anna melangkahkan kaki jenjangnya memasuki gedung GE. Senyuman tak lepas dari bibir merahnya. Keamanan, staff, bahkan teman-teman model yang melihatnya semua menyapanya. Mereka tidak mungkin secepat itu melupakan sang primadona Glory Entertainment. Namun, tidak sedikit juga orang yang kesal melihat kedatangannya kembali di sini. Desas-desus dan bisik-bisik mulai memenuhi gedung itu.
Kabar Anna sudah menikah dengan CEO Aston Company dengan cepat menyebar. Banyak yang tidak menyangka karena mereka tidak pernah terlihat dekat sebelumnya. Ada pro dan kontra, segelintir orang meyakini Anna menjilat dan menggunakan cara curang untuk menjadi istri seorang Samuel.
Tiba-tiba Emily, manajer sekaligus sahabat Anna berlari menghampiri Anna dan memeluknya. “Anna! Akhirnya kau kembali. Kau tahu aku sangat senang ketika kau menelponku semalam bahwa kau akan comeback!” girang Emily menyambut sahabatnya.
Anna memutar bola matanya malas. “Kau sesenang itu, huh? Aku baru vakum delapan bulan, seperti sudah tahunan saja,” decaknya.
“Kau kan tahu aku selalu mendukung karirmu. Selain manajer, aku ini penggemar setiamu!” gerutu Emily.
“Ya ya ya,” ledek Anna sambil berjalan ke arah lift.
“Aku tunggu di bawah,” teriak Emily dari belakang dan Anna hanya membalas dengan acungan jempol.
Sesampainya di ruang kerja Joy, Anna langsung diberikan setumpuk dokumen berisi kerja sama mereka.
“Ini dokumen kerja sama dan kontraknya, karena mendadak jadi kau belum bisa mempelajarinya sekarang. Tapi, kau bawa saja, di jalan nanti kau bisa sambil membacanya. Jika kau sudah selesai memahaminya baru kau tanda tangan. Maafkan aku … tidak menyambutmu dengan baik, semuanya serba terburu-buru,” jelas Joy.
“Tidak apa-apa, Joy. Aku kan sudah berniat untuk membantumu.”
Anna kemudian mengambil salah satu dokumen, ingin membacanya sekilas.
“Anna, terima kasih banyak. Aku benar-benar lega menerima keputusan darimu semalam.”
Anna menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Lalu kembali memfokuskan pandangan pada dokumen itu. Ia membelalakan matanya ketika mendapati nama perusahaan pemilik produk yang akan diiklankan.
“Aston Company …,” ucap Anna, tak percaya dengan tulisan yang dibacanya.
“Iya perusahaan suamimu. Kenapa kau terkejut? Memangnya Samuel tidak bilang padamu?” tanya Joy.
Anna hanya menggelengkan kepala. Ia tak dapat menceritakan masalah pribadinya.
Joy menaikkan alisnya heran. “Ah, begitu. Tapi, tidak apa kan? Bukannya bagus, Istri sendiri yang menjadi model produk suaminya?” sahut Joy.
“Semoga.” Anna menghela napasnya berat. Sepertinya ia harus menyiapkan fisik dan batinnya kembali untuk menghadapi Samuel. Entah apa yang akan terjadi ke depan. Anna tidak berani untuk sekedar membayangkannya.
“Yasudah, sebaiknya kau berangkat sekarang. Emily sudah menunggu di mobil barumu.”
“Kau memberikanku mobil baru?” tanya Anna sambil mengerutkan keningnya.
“Tentu, kau model andalanku dan kau bersedia kembali padaku. Aku harus memberikan fasilitas terbaik untukmu. Meski suamimu kaya tapi ini fasilitas perusahaan, jadi kau harus terima, oke?” desak Joy.
Anna menghela napas pasrah. “Tapi, aku membawa mobil.”
“Aku akan menyuruh seseorang untuk membawanya ke rumahmu.”
Anna keluar dari ruangan Joy dengan wajah lemas, seandainya sejak awal dia tahu jika dia akan menjadi model dalam salah satu produk perusahaan Samuel pasti Anna sudah menolaknya. Sekarang dia tak punya pilihan, selain menerima dan menjalaninya. Terlalu terlambat jika Anna membatalkan semuanya. Dia tak ingin menyulitkan dan mengecewakan Joy.
“Semoga keputusanku ini benar.”