Setelah tidak sengaja bersentuhan kulit, Anna tahu jika tubuh Samuel hangat. Ternyata suaminya mengalami demam. Oleh karena itu setelah mengobati luka di tangan Samuel, Anna memutuskan untuk membuat bubur dan membawakan obat untuk suaminya.
Anna meletakkan bubur hangat, segelas air putih, juga obat di atas meja kemudian melihat ke arah Samuel dengan penuh perhatian. Mata Samuel terpejam, tapi Anna tahu suaminya itu belum tertidur pulas.
“Sam, ayo bangun dulu. Kau harus makan dan meminum obat agar cepat sembuh,” ucap Anna dengan lembut.
Samuel membuka matanya perlahan dan Anna bergerak membantu suaminya itu untuk duduk. Namun, Samuel menepis tangannya. Anna pun hanya bisa terdiam membiarkan Samuel yang mengubah posisinya sendiri.
Anna masih bergeming di samping ranjang sambil menatap pilu pada sang suami. Benar dugaannya, sentuhan tadi tak berarti apa-apa. Samuel mungkin tidak sadar menyentuh tangannya. Ia harusnya tidak berharap banyak, bukan? Hanya sentuhan kecil, tapi mengapa begitu menggetarkan hatinya?
Samuel yang sudah duduk bersandar kemudian menoleh ke arah Anna.
“Mau sampai kapan kau diam saja? Tadi kau menyuruhku makan. Sudah tahu aku sakit, suapin dong!!” sentak Samuel.
“I-iya!” Anna tercengang kaget dan buru-buru mengambil mangkuk bubur. Ia gegas duduk di tepi ranjang lalu mulai menyuapi Samuel.
“Panas!! Tiup dulu dong!! Kau sengaja ya ingin membakar lidahku?!”
“M-maaf.” Anna segera mengambil air minum dan memberikannya pada Samuel.
“Begitu saja tidak becus!” dengus Samuel.
Anna menelan ludah. Ia hanya bisa diam menerima cercaan suaminya. Sakit rasanya terus menerima kata-kata kasar dari Samuel. Namun, hatinya jauh lebih sakit saat melihat suaminya itu bermesraan dengan wanita lain di kantor tadi.
Ingin rasanya Anna bertanya, siapa wanita itu pada Samuel. Namun, kali ini Anna sekali lagi harus memendam jauh perasaannya. Suaminya sedang sakit dan dia harus merawatnya dengan sepenuh hati. Kesehatan Samuel lebih menjadi prioritasnya.
Usai makan, Samuel meminum obat dan kembali berbaring di atas tempat tidur. Sementara Anna memilih pergi membawa bekas makan Samuel dan akan membantu pelayan menyiapkan makan malam di bawah. Anna lebih senang turun langsung soal makanan. Sejujurnya dia pun sudah sangat lapar.
Pukul delapan malam, Anna kembali masuk ke dalam kamar, tapi dia tak mendapati Samuel di atas ranjang maupun di kamar mandi kamar. Padahal niat Anna ingin berbicara dan meminta izin pada Samuel perilah tawaran kerja dari Joy karena wanita itu meminta kepastiannya malam ini.
Anna pun keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang kerja Samuel. Membuka pintu, ternyata benar dugaannya pria itu berada di sana.
Anna tersenyum, dalam hati ia bersyukur, Samuel sudah menginjakkan kaki ke ruang kerja artinya tubuh Samuel sudah lebih baik setelah meminum obat darinya tadi.
Dia pun berjalan masuk ke dalam. Ia bisa melihat Samuel berdiri membelakanginya di balkon. Namun, langkah Anna terhenti ketika mendengar Samuel sedang berbicara di telepon dengan seseorang. Anna tahu itu suara wanita karena Samuel sedang melakukan video call, jadi Anna bisa mendengar apa yang wanita itu katakan.
[“Babe, kenapa kau tidak membalas pesanku dan baru menghubungiku sekarang?”]
“Sayang, maafkan aku. Aku tidak enak badan tadi, kepalaku sakit sekali,” jelas Samuel.
[“Astaga, maaf aku tidak tahu. Apa kau baik-baik saja sekarang? Aku sangat ingin melihatmu. I miss you so bad.”]
“Aku sudah baik-baik saja. Miss you too, Baby. Aku akan mengunjungimu ke apartemen besok, hum?”
[“Janji?”]
“Hum, bagaimana dengan kuliahmu?”
[“Not bad. Dua bulan lagi aku akan lulus. Aku sudah tidak sabar untuk memulai karirku. Memiliki karir yang bagus dan menikah denganmu adalah impianku.”]
Samuel menghela napasnya kasar. “Untuk apa kau bekerja jika menjadi Istriku? Toh selama ini aku selalu mencukupi kebutuhanmu.”
[“Tapi aku juga ingin orang tuamu melihatku dan aku tidak mau menjadi wanita rumahan,”] rengek Zoya.
Samuel terdiam sesaat ketika dia mulai menyadari kehadiran seseorang di ruang kerjanya. Membalikkan badan, ia melihat Anna berdiri di depan pintu. Sepertinya wanita itu tengah menguping pembicaraannya.
“Baiklah, jika itu membuatmu senang. Aku ada urusan sebentar, Aku tutup teleponnya ya? Good night, Sayang. Aku mencintaimu.”
[“Aku juga mencintaimu, Babe.”] Setelah mendengar balasan cinta dari kekasihnya, Samuel mematikan ponsel lalu menghampiri Anna.
“Kau?! Berani-beraninya kau menguping pembicaraanku, hah? Sudah berapa kali aku bilang, aku tidak mengizinkanmu masuk ke ruang kerjaku!” bentak Samuel.
Anna menelan ludahnya, Samuel mulai mendekat dengan matanya yang menakutkan. “Ma-maaf, Sam. A-aku hanya ingin bicara. Ini mendesak.”
“Apa yang mau kau bicarakan? Cepat, aku tak punya waktu untuk meladenimu. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan!”
Tangan Anna mengepal di kedua sisi. Berusaha keras untuk tidak menangis di hadapan Samuel. Tak ada yang bisa menggambarkan betapa sakit hatinya sekarang. Mendengar bagaimana Samuel memperlakukan wanita lain sangat lembut, namun sangat kasar padanya. Bahkan untuk berbicara pada suaminya sendiri saja Anna seolah tak memiliki hak atas waktu Samuel sama sekali.
“Aku mau izin untuk kembali bekerja, aku–”
“Oh bagus! Yasudah sana, biar aku tak sering-sering melihat wajah bodohmu itu di rumah!” potong Samuel dengan suara datar dan dinginnya.
Mata Anna berkaca-kaca. Samuel memang sering berkata kasar, tapi kata yang paling terdengar menyakitkan baginya adalah ketika Samuel mengatainya bodoh. Karena Anna sadar, ia memang membodohi dirinya sendiri, dengan bertahan dan menerima perlakuan buruk suaminya. Bahkan kini ia harus menerima kenyataan pahit jika Samuel memiliki wanita lain di belakangnya.
Sakit rasanya mendengar suami yang kita cintai, mengatakan kata cinta itu untuk wanita lain. Tapi, apa boleh buat? Mereka telah terlanjur menikah. Ia pun telah jatuh cinta terlalu dalam pada suaminya.
Apakah setelah ini dia lebih baik mundur saja? Tapi bagaimana dengan wasiat mendiang ayahnya? Bagaimana dengan orang tua Samuel yang begitu menyayanginya? Dia tidak sanggup mengecewakan mereka.
“Sudah sana, keluar. Jangan berani-beraninya kau masuk ke ruang kerjaku dan datang ke kantorku lagi jika kau masih punya harga diri. Kehadiranmu hanya membuat semangat kerjaku buyar. Kau mengerti?!” Samuel kembali membentak dan membuat Anna tersentak kaget.
Tidak bermaksud untuk perhitungan, tapi setelah tadi dia merawat Samuel hingga tubuh pria itu merasa lebih baik, mengapa bukan ucapan terima kasih yang ia dapat, melainkan pengusiran dan kata-kata menyakitkan? Anna menggigit bibir bawahnya, ternyata apapun yang ia lakukan memang tidak pernah berarti apa-apa di mata Samuel.
Bagi pria itu, dia hanya istri yang tidak pernah diinginkan.
Anna hanya dapat mengangguk pelan kemudian segera pergi dari sana sambil menahan tangis. Ya, apalagi yang bisa ia lakukan saat ini selain menangis?