Sebuah Penawaran

1104 Kata
Anna tidak langsung pulang ke rumah. Ia memilih mampir ke kafe sebentar untuk menenangkan diri. Anna tak mau ibu mertuanya bertanya-tanya dan curiga jika melihat keadaannya sekarang. Ada secangkir kopi dan croissant di mejanya. Namun, sejak tadi Anna terus membuang pandang ke arah jendela. Melihat pemandangan jalan sambil menangis dalam diam. Entah sudah berapa kali ia menarik napas, berusaha mengontrol emosi di hati, namun air mata itu terus jatuh di pipi. Hati Anna sakit sekali. Tak pernah terlintas dalam pikirannya akan melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain. Anna kira Samuel membencinya karena merenggut kebebasannya. Dia kira suaminya itu hanya butuh waktu untuk menerima pernikahan mereka dan lambat laun akan berubah. Namun, setelah apa yang ia lihat tadi, Anna mulai meragukannya. Mungkin saja Samuel telah memiliki wanita idaman lain hingga tidak pernah menerimanya sebagai istri. Sedang sibuk meratapi nasib buruk pernikahannya, tiba-tiba ponsel Anna berdering. Dia mengernyitkan kening saat melihat nama di layar ponselnya. Segera Anna pun mengangkat panggilan tersebut. “Hallo.” [“Anna, bagaimana kabarmu?”] tanya Joy, CEO perusahaan yang menaungi karir Anna sebelum menikah dan vakum bekerja. Anna tidak terlahir dalam keluarga bergelimang harta seperti Samuel, hidupnya sederhana. Berkat kecantikan yang ia miliki, sejak sekolah dia telah meniti karir menjadi seorang model. Hingga dua hari setelah orang tuanya meninggal, ia menerima sebuah surat wasiat untuk menikah dengan anak dari sahabat lama ayahnya, yang membuatnya terpaksa meninggalkan dunia modelling. “Aku … emm … baik.” Anna menjawab lalu menggigit bibir bawahnya. “B-bagaimana denganmu?” [“Well … kurang baik sebenarnya. Ehem … jadi begini, bisakah kita bertemu dan bicara hari ini?”] Anna semakin keherenan karena suara Joy terdengar sangat frustasi seperti orang yang sedang mengalami masalah. Anna berpikir sejenak kemudian menjawab. “Kau bisa menemuiku di Kafe sekarang? Kebetulan aku sedang bersantai di luar.” Pikir Anna daripada dia sendirian di kafe, apa salahnya ia bertemu dan bercengkrama dengan Joy. Mungkin dengan begitu, dia juga bisa melupakan soal Samuel sementara waktu. [“Oh thanks God, itu ide bagus, kirim lokasimu, aku akan menyusul sekarang juga!”] Dan beberapa menit menunggu, akhirnya Joy benar-benar datang ke kafe untuk menemuinya. Namun, Anna tak menyangka Joy akan menawarinya untuk kembali bekerja. “Kau tahu aku sedang vakum untuk sementara waktu.” Joy mengangguk. “Aku mengerti. Tapi, aku benar-benar membutuhkanmu kali ini.” “Anna, tolonglah. Perusahaan sangat butuh bantuanmu. Hanya kau yang bisa aku andalkan. Tanda tangan kontrak sudah dilakukan, sedangkan pemotretan dan syuting iklannya dua hari lagi dan juniormu kondisinya belum membaik. Jika aku tidak dapat menyediakan model yang bergrade sama dengannya, aku harus membayar denda yang sangat besar. Lagipula mereka juga membayar mahal, kau akan dapat banyak keuntungan. Memangnya kau tak sayang dengan karirmu yang bagus? Selama ini kau yang paling berpengaruh untuk perusahaan. Please kembalilah, hum?” ujar Joy. “Tapi Joy … Aku ….” Anna tidak melanjutkan ucapannya karena bingung mau menjawab apa. Di satu sisi ia memang sangat merindukan dunia modelling dan ingin kembali bekerja. Tapi, disisi lain Anna ingin menjadi istri yang baik dengan berada di rumah dan melayani suaminya. Namun, ketika ia mengingat Samuel yang bermesraan dengan wanita lain seketika membuat Anna bimbang. Haruskah ia kembali bekerja saja? Joy meraih tangan Anna dengan pandangan memelasnya. “Kau sudah menganggapku sebagai Kakakmu, bukan? Tolonglah, perusahaan sangat membutuhkan bantuanmu kali ini.” “Aku akan bertanya pada Suamiku dulu,” putus Anna. Sebenarnya ia tahu Samuel pasti akan membiarkannya, bahkan tidak peduli dengannya. Namun, Anna sangat menghargai sang suami, ia tidak ingin Samuel menjadi lebih benci padanya karena memutuskan sesuatu secara sepihak tanpa sepengetahuannya. Sungguh Anna tidak ingin mencari masalah atau membuat suaminya marah. Joy menghela napas berat. “Baiklah … Tapi aku butuh jawabanmu secepatnya. Jika bisa malam ini atau besok pagi. Aku harap itu kabar baik.” Setelah perbincangan mereka selesai dan Anna jauh merasa lebih tenang, ia pun memutuskan untuk pulang. Namun, Anna mengernyitkan kening saat melihat mobil Samuel sudah terparkir rapi di halaman rumah. "Tumben sekali Samuel pulang secepat ini, sekarang kan baru jam tiga sore," gumam Anna. Anna melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah dan melihat ibu mertuanya sedang duduk di sofa sambil membaca majalah. “Loh … Kau baru pulang, An? Mommy kira kau pulang bersama Samuel tadi.” “Tidak, Mom. Aku tadi bertemu dengan teman lama di Kafe.” “Oh begitu.” Dayana mengangguk. “Sam langsung ke kamar tadi, sepertinya dia sedang ada masalah di kantor.” Anna tertegun mendengar ucapan ibu mertuanya. Masalah apa? Bukankah tadi pria itu sedang bersenang-senang dengan wanita lain? “Kalau begitu Anna ke kamar dulu ya, Mom.” “Ya, Sayang.” Anna tersenyum tipis kemudian melangkah menaiki tangga dan berjalan menuju kamar Samuel. Langkah Anna terhenti ketika melihat Samuel berbaring di atas ranjang dengan sebelah tangan menekan pelipisnya. Anna ingin mendekat tapi ia takut. Samuel pasti akan kembali bersikap kasar padanya. Namun, sebagai istri ia harus tau ada apa dengan suaminya. Bagaimana jika Samuel sedang ada masalah atau dia sedang sakit? Anna tidak ingin menjadi istri yang tidak baik. Setidaknya dia perlu bertanya dan memeriksa keadaan suaminya, bukan? Akhirnya Anna memberanikan diri untuk menghampiri Samuel. “A-apa kau baik-baik saja?” tanya Anna gugup sambil mendekat perlahan. Tapi, kemudian mata Anna membelalak terkejut melihat sebelah tangan dan jari-jari Samuel yang penuh darah. “Astaga, bagaimana tanganmu bisa terluka?” Samuel tidak menjawab, tapi ia menatap Anna. Matanya memerah dan keningnya penuh keringat. Sejenak mereka saling tatap, Anna merasa ini adalah tatapan Samuel yang paling lembut padanya walaupun itu masih begitu mengerikan. Samuel tetap diam menatap Anna. Wanita itu bertanya dalam hati, ‘Ada apa dengan, Samuel? Dia seperti orang yang frustasi.’ “Ada masalah di kantor? Kenapa tanganmu bisa terluka? Apa kau tadi berkelahi?” Anna bertanya lagi. Kini Samuel tak lagi menatap Anna. Ia mengalihkan wajahnya dan kembali memijat pelipisnya dengan tangan kiri. Kepalanya sakit memikirkan masalah di kantor. Dan pertanyaan-pertanyaan Anna hanya membuat kepalanya semakin pusing. “Apa kau sakit?” Anna semakin khawatir karena Samuel diam saja. “Berhenti bertanya dan ambilkan aku air!" sentak Samuel dengan jengkel. Anna mengangguk cepat dan segera mengambil botol air mineral di atas meja yang berada dalam kamar. “Ini minumlah.” Anna membantu Samuel duduk kemudian mengulurkan botol air mineral pada Samuel tapi pria itu tidak mengambil botolnya, melainkan memegang tangan Anna dan menariknya. Hingga tubuh mereka hampir tak berjarak. Posisi sedekat ini membuat mereka bisa merasakan aroma tubuh dan napas masing-masing. Wanita itu terpaku, jantungnya berdegup dengan kencang. Sensasi apa ini? Samuel hanya menyentuh tangannya dan mungkin itu tidak sengaja. Namun, sepertinya Anna tidak akan melupakan sentuhan ‘tidak sengaja’ ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN