Wanita Lain Dipangkuan Suamiku

1269 Kata
Sepanjang malam Anna tidak bisa tidur. Bukan hanya karena sofa yang kurang nyaman untuk ia pakai berbaring dan suhu ruangan yang dingin. Tapi, dia juga terus terngiang-ngiang ucapan menyakitkan Samuel padanya tadi. Dengan sedikit usaha Anna memiringkan tubuhnya yang sudah terasa pegal ke arah Samuel, suaminya itu sudah tidur di atas ranjang dengan lelap. Anna tersenyum menatap wajah tampan dan damai Samuel saat tidur, seandainya ia bisa tidur sekamar dengan Samuel dan menatap pemandangan seperti ini setiap hari, Anna pasti sangat bahagia. Meski dia tidak tidur seranjang dengan sang suami. Anna menghela napas lelah. Sakit rasanya mencintai seorang diri. Tapi, Anna masih ingin berjuang untuk mendapatkan hati Samuel, suaminya tercinta. “Aku harap hari esok kau akan lebih melunak padaku, Sam,” lirih Anna menatap pilu. Pernikahannya baru berjalan lima bulan, dia harus lebih sabar menghadapi Samuel dan menanti hati sang suami untuk jatuh padanya. Pukul empat pagi, mata Anna baru bisa terpejam, hingga ia bangun kesiangan dan Samuel sudah berangkat ke kantor. “Mom, maaf aku bangun kesiangan,” ucap Anna pada Dayana yang sedang sarapan di ruang makan. Dayana tersenyum menatap menantu tersayangnya. “Tidak apa, Sayang. Mommy mengerti, pasti Sam membuatmu lelah semalaman. Sam melarang Mommy membangunkanmu, karena semalam kau kurang tidur. Sam juga telat bangun, jadi dia melewatkan sarapan karena ada meeting penting pagi ini.” Dayana berdecak. Tapi kemudian ia terkekeh kecil. “Katanya dia terlalu lelap tidur setelah olahraga malam denganmu. Ayo sarapan, kau perlu mengisi tenaga,” jawab Dayana mengedipkan sebelah mata, bermaksud untuk menggoda Anna. Namun, Anna mengangkat sebelah alisnya tak percaya. Olahraga malam? Astaga, mengapa Samuel sampai berbohong seperti itu pada Dayana? Anna jadi merasa bersalah karena harus mengiyakan kebohongan suaminya. Padahal jangankan menyentuh tubuhnya, tidur seranjang pun, Samuel sangat enggan. “Emm … iya, Mom.” Anna mengangguk kemudian duduk di hadapan ibu mertuanya itu dengan perasaan yang tak enak. Ketika hari menjelang siang, Anna memutuskan untuk membawa bekal makan siang ke kantor Samuel sekaligus sebagai permintaan maaf karena dia terlambat bangun tadi pagi. Setelah 15 menit perjalanan, Anna sampai di lobby kantor Aston Company. Dengan membawa bekal makan siang buatannya. Ia melangkahkan kaki sambil tersenyum ramah pada semua karyawan yang menyapa istri dari CEO perusahaan. Semua orang di kantor memandang kagum pada sosok Anna yang sederhana dan hangat, tanpa mereka ketahui terdapat kepedihan dibalik senyumannya. Menaiki lift, kini Anna telah sampai di depan pintu ruangan Samuel yang tidak tertutup rapat. Jadi, Anna memutuskan untuk langsung masuk saja. Ia mendorong pintu dan melangkahkan kakinya ke dalam. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti bersamaan dengan bekal makan siang ditangannya yang jatuh ke lantai begitu saja. pemandangan yang Anna lihat sekarang sungguh membuatnya lemas seketika. Di kursinya, Samuel sedang memangku seorang wanita dan mencium bibir wanita itu dengan mesra. Tak kuat melihat itu Anna segera membalikkan badannya dan meninggalkan ruangan Samuel sambil membekap mulutnya menahan isak tangis. Mendengar suara benda jatuh, Samuel dan Zoya sontak menghentikan kegiatan mereka dan melihat ke arah pintu. Sekilas mereka melihat tubuh Anna yang berbalik keluar ruangan. “Itu Anna, Istrimu, kan?” tanya Zoya. Mata biru tajam Samuel menatap kepergian sang istri lalu melihat bekal makan siang yang kini teronggok begitu saja di atas lantai. “Ya, biarkan saja,” ucapnya dingin. Diluar … Lisa, sekretaris sekaligus sepupu Samuel yang baru saja datang dari lift, tersenyum ketika melihat Anna. “Hai An … kau datang, kau sudah bertemu dengan Samuel?” Namun, Lisa mengernyitkan keningnya ketika Anna tak menghiraukan sapaannya. Dia terus menatap Anna yang berlari tergesa-gesa, melewatinya begitu saja dan menaiki lift. “Loh … dia kenapa?” gumam Lisa. Curiga melihat istri sepupunya menangis dan berlari seperti itu, Lisa segera melangkahkan kakinya menuju ruangan Samuel. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Zoya keluar dari ruangan sepupunya itu. “Zoya! Beraninya kau datang kesini hah?!” makinya. Matanya melotot, Lisa tak percaya Samuel masih berhubungan dengan Zoya. Setahunya hubungan mereka telah berakhir semenjak Samuel menikah dengan Anna. Zoya menaikan alisnya dan tersenyum sinis. “Ini kantor kekasihku, siapa kau yang melarangku untuk datang ke sini?” Lisa semakin geram mendengar ucapan Zoya. “Dasar wanita kurang ajar!” Lisa segera mengambil ancang-ancang ingin menjambak rambut Zoya. Namun, kehadiran Samuel dan suara dinginnya menghentikan niatan itu. “Ke ruanganku sekarang, Lisa! Aku ingin bicara denganmu.” Zoya menyeringai mendengarnya, lalu menepuk-nepuk bahu sepupu Samuel itu seperti ada kotoran di sana. Ia mengangkat dagunya tinggi kemudian melangkahkan kaki jenjangnya menuju lift, sedangkan Lisa dengan emosi masuk ke dalam ruangan Samuel. “Apa yang kau lakukan? Apa kau gila membiarkan Zoya masuk ke dalam kantor?!” bentak Lisa. Dia kini berada di ruangan Samuel, memandang kesal pada sepupunya yang duduk dengan tenang di kursi kebesarannya. “Beraninya kau membentakku? Aku atasanmu!” Lisa menghela napas kasar. “Kau sadar, Sam?! Teganya kau selingkuh di belakang Anna?” “Aku tidak selingkuh, aku lebih dulu pacaran dengan Zoya ketimbang menikah dengan Anna.” Samuel menjawab dengan santainya. “Kau gila! Jadi begini perlakuanmu pada Anna selama ini? Apa Om dan Tante tahu kau masih berhubungan dengan Zoya?” Samuel memutar bola matanya malas. “Lisa … aku tekankan padamu ya, meski kau sepupuku, tapi kau tetap bawahanku. Tugasmu hanya mengurusi urusan kantor bukan urusan pribadiku. Stop menjadi mata-mata orang tuaku. Sekarang aku atasanmu bukan daddyku! Jadi ikuti perintahku. Lakukan saja pekerjaanmu dengan baik atau aku akan memulangkanmu ke London!” ancamnya. Lisa menaikkan alisnya dan tertawa lirih. “Kau mengancamku sekarang?” “Menurutmu?” Lisa menganggukan kepalanya pelan. “Aku mengerti. Tapi, perlu kau ingat Sam, sebagai sepupu dan sekertarismu aku berhak memperingatimu. Aku hanya tidak mau suatu saat kau akan menyesal karena telah menyia-nyiakan wanita sebaik Anna!” Samuel terdiam beberapa saat kemudian menatap Lisa dengan mata birunya yang menyorot tajam. “Tidak akan,” tandas Samuel dengan sangat yakin. Bagi Samuel, Anna selamanya akan menjadi wanita yang paling tidak dia inginkan. Dan satu-satunya hal yang dia inginkan adalah berpisah dari Anna secepatnya, kemudian menikah dengan Zoya. Samuel yakin setelah Anna melihatnya bermesraan dengan wanita lain hari ini, Anna mungkin akan menyerah dan memilih bercerai dengannya. Ya, seharusnya begitu bukan? Tak lama setelah Lisa pergi dari ruangannya, bawahan Samuel yang lain datang dan membuat moodnya semakin hancur. “Bagaimana?” tanya Samuel sambil menyilangkan tangan di d**a, menatap tajam pada pria yang kini sedang berlutut di hadapannya. “Sa-saya minta maaf, Tuan. Glory Entertainment menolak untuk membayar denda. Mereka bersikeras ingin menggantinya dengan model mereka yang lain karena kondisi Angela tidak memungkinkan untuk melakukan pemotretan 2 hari lagi,” jelas pria itu. “Sudah berapa kali aku bilang, investor ingin Angela sebagai modelnya, apa kau tuli hah?!” Samuel menarik kerah bawahannya kencang lalu meninju wajah pria itu hingga tersungkur. “Kalau begini aku bisa rugi besar, investor akan menarik seluruh dananya, dan produk baruku akan terancam gagal diluncurkan!” “Kau bodoh sekali hah, kerja begitu saja tidak becus!” geramnya. Samuel memijat pelipisnya, kepalanya pusing memikirkan nasib peluncuran iLite, produk baru yang harusnya di release minggu depan, tepat saat hari anniversary pernikahan orang tuanya. Ini adalah proyek besar, ia sudah menyiapkan segalanya beberapa bulan lalu, dan semuanya hampir selesai, hanya tinggal pemotretan dan syuting iklan model yang akan menjadi ‘wajah’ dalam produk itu. Tapi, sekarang terancam gagal karena sang model yang diinginkan mengalami kecelakaan satu bulan lalu dan masih dalam recovery hingga kini. Samuel menghela napasnya kasar. “Keluar kau dari ruanganku, sebelum aku berubah pikiran dan menghabisimu!” Mendengar itu bawahannya pun segera pergi dari sana. “Sial!” teriak Samuel kemudian tangannya menghantam meja kerja hingga kacanya pecah. Darah terlihat menetes dari kepalan tangannya. Namun, pria itu tidak merasakan sakit sedikitpun, amarah sedang menguasainya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN