Jobseeker (2)

1127 Kata
    Aku terdiam, berpikir, memutar otak tentang bagaimana cara mendapatkan uang dalam waktu singkat. Bekerja? Pekerjaan macam apa yang mampu mendapatkan uang dalam jumlah besar dalam kurun waktu 2 hari. Meminjam tetangga, malu. Meminjam saudara, mereka pun hidup dalam kemelaratan. Meminjam ke bank, bunganya terlampau besar, lagi pula ribet harus mengurus ini itu, persyaratannya banyak, lengkap, banyak maunya. Mau jual diri, tak akan laku, dosa besar pula. Meminjam ke pinjaman online, lebih parah lagi, bisa-bisa aku jual diri beneran. Mau pecah kepalaku rasanya.     Aku telah menceritakan pada Etek Marfi mengenai masalah ini padanya, namun ia berkata padaku untuk tetap tenang dan jangan mengambil tindakan gegabah. Aih … bagaimana mau tenang, uang seujung kuku pun tak nampak.     Malam itu aku membulatkan tekad untuk bangun pukul 3 pagi untuk melaksanakan solat tahajjud, aku yakin Allah akan membantuku. Tak mungkin aku ditelantarkan begitu saja oleh-Nya, sedangkan masalahku menggunung begini.     Tepat pukul 3 aku terbangun, dan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Aku solat, dan berdoa dengan khusyuk, serta dengan tangis yang menggenang di atas sajadah panjangku. Kumemohon, kupasrahkan diri sepenuhnya, hanya pada Allah. Sepasrah saat aku berdoa ketika gelombang tsunami menghantam tubuh kecilku, tangisanku saat itu sudah hilang tenggelam bersama air laut yang membawaku. Berdoa aku ketika itu sepasrah-pasrahnya, hingga pingsan, dan ketika kubuka mata, kulihat kakek tepat berada di depan mataku, dan berkata akan segera menjemputku untuk pulang.     Sudah waktunya sekarang keadaan berbalik, aku yang harus berusaha dan berjanji pada kakek, untuk bisa segera membawanya kembali pulang ke rumah.     “Dreeet … dreeet … dreeet ….” Handphone-ku bergetar dan segera membuyarkan lamunanku.     “Halo … Marlin ….” Suara di ujung telepon.     “Iya, Etek.”     “Perihal yang kemarin, Mar.”     “Yang kemarin? Yang mana, Tek?” Aku jadi bingung sendiri.     “Yang itu, loh, Mar.”     “Yang mana lagi, Tek?”     “Aih … kau ini, ya. Sudah, sekarang cepat ke ruang administrasi, sebentar lagi etek dan pamanmu akan tiba di sana!” Etek segera menutup teleponnya. Ternyata yang ia maksud adalah mengenai pelunasan biaya rumah sakit kakek.     Aku melihat etek dan paman sudah tiba di muka ruangan adiministrasi terlebih dahulu, cepat sekali mereka sampai, entah berangkat dari kapan.     Setelah mengurus semua kegiatan administrasi, kami bertiga segera membereskan barang-barang kakek ke dalam sebuah koper hitam besar, dan bersiap untuk pulang ke rumah. Lega rasanya hatiku kala itu, Allah menjawab doaku secepat kilat.     Ternyata Paman Haikal telah mendapatkan bantuan pinjaman dana dari kantornya. Pinjamannya bisa dicicil selama bertahun-tahun, semampunya, yang penting tiap bulan harus ada bayaran meskipun sedikit-sedikit. Dan Alhamdulillah pinjaman ini tak memiliki bunga, alias bunga 0%.     “Ayo, Mar, kau yang mendorong kursi roda kakek sampai ke parkiran, ya. Biar etek yang bawa koper kakek, dan paman mengambil mobil di parkiran.”     “Siap, Tek!”     Aku mendorong kursi roda kakek cukup jauh, masuk ke dalam lift, turun ke lantai 1, kemudian melewati beberapa ruangan dan koridor, lalu menunggu di lobi belakang. Kami menunggu mobil Paman Haikal tiba di sini, ternyata ia memarkirkan mobilnya di sebuah lapangan di dekat rumah sakit, karena lahan parkir di rumah sakit sangat terbatas sehingga ketika siang tempat parkir di dalam sudah penuh.     Kakek terlihat cukup senang dan antusias untuk segera tiba di rumah. Beliau juga terlihat menikmati perjalanan, menengok ke kanan dan ke kiri. Sudah hampir 2 bulan terkurung di dalam kamar rumah sakit sepertinya cukup membuatnya jenuh.     “Ayah, Marlin, mau makan apa kalian?” Etek membuka percakapan saat kami tengah melewati sepanjang jalan yang terdapat ruko-ruko yang menjual makanan di situ.     “Apa aku sudah boleh makan makanan kesukaanku?” Kakek bertanya pada kami.     “Makanan kesukaan? Makanan apa itu, Yah?” Etek bertanya heran.     “Nasi padang tentunya, apalagi memangnya? Hahaha ….” Kakek menjawab sambil terkekeh.     “Aih … Ayah, baru saja sembuh dari rumah sakit, sudah minta nasi padang.” Etek mengeluh, namun tetap menurut.     Mobil kami berhenti pada sebuah restoran padang yang menjadi favorit nenek semasa hidup. Kakek juga mengenang, bahwa nenek selalu tahu menu favorit kakek di restoran itu. Kakek bilang, semasa muda saat masih menjadi sepasang pengantin baru, beliau dan almarhum nenek suka sekali makan di situ, setiap bertandang ke Jakarta, sudah pasti akan bertandang pula ke restoran itu.     Kami berempat di mobil saling bertukar cerita mengenai hal-hal yang tak kakek ketahui selama beliau dirawat di rumah sakit. Kakek juga bercerita bagaimana perasaannya saat beliau tahu bahwa nenek telah tiada. Katanya beliau cukup syok saat itu, sepanjang tidurnya saat dalam keadaan koma, beliau sering bermimpi tentang nenek. Mulai dari saat pertama kali bertemu dengan nenek di bangku kuliah, berpacaran, lalu menikah, hingga pindah bulak-balik ke Jakarta – Aceh. Berkaca-kaca mata kakek mengenang itu semua, aku pun ikut sedih, dan kerinduan akan sosok almarhum nenek seketika menghampiriku. ***       Berulang kali aku membuka email melalui laptopku, kemudian membuka beberapa aplikasi pencari pekerjaan, kemudian kembali lagi membuka email. Sudah lebih dari 2 jam kerjaanku begitu terus, hanya menatap layar laptopku, sambil berharap cemas akan ada email yang datang untuk mengundangku mengikuti interview.     Kutarik napas panjang, kemudian kuhembuskan lagi. Sesak sekali d**a ini rasanya. Sudah lebih dari 2 minggu, 5 proses interview yang telah aku ikuti tempo hari belum ada kabarnya juga, entah memang belum ada kabar, atau memang aku tak diterima. Lelah sekali rasanya menunggu begini.     “Mar … Marlinda …!” Kakek memanggilku, segera aku tiba dan menghampirinya.     “Iya, Kek. Ada apa?”     “Makan dulu, Nak. Lihat, kakek sudah memasak untukmu.” Kulihat di atas meja makan, telah tersedia semangkuk besar nasi putih, ayam goreng, sambal terasi, serta sayur rebus.     “Kakek, kenapa masak tak bilang-bilang? Biar aku bantu, Kek.”     “Kau saja diam terus di dalam kamar. Ada apa, Mar? Ceritalah pada kakek.”     Akhirnya sambil menikmati makan siang, aku menceritakan pada kakek bagaimana kesulitanku untuk bisa mendapatkan pekerjaan, dan seperti biasa beliau berpesan padaku untuk banyak-banyaklah berdoa.     “Berdoalah, Mar. Solat tahajjud, Insya Allah segala doa-doamu akan terkabul.”     Begitulah nasihat darinya. Selepas makan siang aku kembali masuk ke dalam kamar untuk melanjutkan mengirim lamaran pekerjaan melalui email dan aplikasi.     Kuraih handphone-ku di atas meja belajar, kulihat di layar terdapat sebuah pesan singkat dari kawan lamaku, kawan semasa SMA dulu.       Mar, ini aku Putri. Gimana kabar lu, sehat? Gue denger katanya lu lagi cari kerja, ya? Kebetulan di kantor gue lagi nyari orang baru. Kalau lu berminat kabarin gue, ya.       Yang kemudian segera kubalas dengan hati yang berbunga-bunga.       Gue sehat, Put. Lo sendiri apa kabar? Gue mau, Put. Posisi kerjanya sebagai apa, ya?       Lalu dia balas lagi.       Sebagai admin. Ini perusahaan start up, gitu. Lu dateng aja ya ke alamat ini. Nanti gue share location.     Jujur aku merasa senang bukan kepalang, yang kunantikan selama ini akhirnya tiba juga. Segera aku memberi tahu kakek, dan beliau setuju untuk aku mencoba bekerja di sana.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN