Pagi itu matahari bersinar amat cerah, agak berbeda rupa-rupanya, tak seperti pagi hari yang lalu-lalu. Aku tersenyum sangat lebar, kupakai kemeja terbaik yang kupunya, kemeja berwarna hijau gelap berbahan mengkilat, dengan kerudung merah muda, dan celana bahan warna hitam. Lebar-lebar langkahku, tegap, penuh semangat ’45, seakan di hari itu aku adalah pasukan yang akan menang, merdeka, karena telah berhasil membuat penjajah mohon diri dari tanah air.
Kupesan ojek online melalui handphone-ku, tak lama berselang driver itu datang, segera kunaik ke atas motor.
“Mau pakai helmnya, Kak?”
“Tentu, Bang.”
“Tujuannya sesuai aplikasi, ya?”
“Tentu, Bang.”
“Berangkat kita, Kak?” bercanda si abang.
“Ya iyalah, Bang!” Kalau temanku, tentu sudah kena gaplok olehku.
Aku turun di depan halte Trans Jakarta, segera kubeli tiket dan menyebutkan tujuanku, petugas di sana mengarahkanku harus naik bus yang ke arah mana.
Tak lama, aku sudah berada di dalam bus Trans Jakarta, cukup banyak orang di dalamnya, yang jelas tempat duduk sudah penuh, aku jadi harus berdiri.
Bus yang kunaiki beberapa kali berhenti di setiap halte yang dilewati. Sudah lama aku tak melihat pemandangan dari atas bus Trans Jakarta. Cerah sekali Kota Jakarta pagi ini, meski macet luar biasa di berbagai sudutnya.
Di dalam bus mengalun sebuah lagu, aku tahu persis itu lagu dinyanyikan oleh siapa. Salah satu lagu favoritku sewaktu kecil, saat aku masih duduk di bangku SMP, kakek selalu membelikan Compact Disk yang berisikan puluhan lagu dari grup band yang tengah kudengar di atas bus ini.
Angin katakan padanya … aaa … aaa …
Bahwa aku cinta dia … aaa … aaa …
Angin sampaikan padanya … aaa … aaa …
Bahwa aku butuh dia … aaa … aaa …
Lagu itu mengalun-alun, bergema-gema, berputar terus di kepalaku, hingga tersenyum aku seorang diri di tengah keramaian, untungnya aku tak disangka hilang akal oleh orang-orang di dalam bus.
“Halte Sunter Agung sebentar lagi tiba!” Seorang petugas di dalam bus memberikan aba-aba, para penumpang segera bersiap untuk keluar dari bus.
Aku segera berjalan mendekati pintu keluar, tak lama bus berhenti dan pintu terbuka, aku segera bergegas keluar. Tak terlalu ramai di halte ini, tak seramai saat aku berangkat tadi. Aku berjalan kaki menyebrangi jalan raya, kemudian masuk ke dalam sebuah komplek ruko yang terbilang cukup mewah.
Aku berjalan mengikuti arahan dari kawanku, Putri.
“Iya, belok ke kiri langsung, ya, dari gerbang ruko. Terus lurus, ada Starbucks, nah lu langsung belok ke kanan, deh. Iya betul, yang ada plang di depannya. Iya, tulisannya PT. APA AJA ADA. Oke, gua turun ke bawah, ya!”
Kawanku segera turun ke bawah dan menemuiku.
“Hei, Marlin, apa kabar? Eh, lu kurusan, ya? Lu kenapa, abis sakit, ya? Oh, ya, gue tuh dapet nomor baru lu dari tante lu, siapa namanya gue lupa, deh. Etek … etek … siapa, ya …? Ih, gue lupa, deh!” Kurang dari satu menit, kawanku sudah bicara panjang lebar. Agak bawel memang si Putri, namun sangat baik hatinya.
Kami segera masuk ke dalam kantor itu, sangat bagus dan rapih isi di dalamnya. Lantainya dilapisi marmer, dindingnya dilapisi wallpaper yang mengkilat, terdapat berbagai furnitur mewah di dalamnya.
“Ayo, Mar, kita naik ke lantai 2. Ruang kerjanya ada di sana!” Putri memberikan penjelasan.
Sesampainya di lantai 2, kami masuk lagi ke dalam sebuah ruangan dengan pintu kaca, dan masuk ke situ harus menggunakan kartu khusus.
“Hei semuanya, kenalin, nih, temen gue namanya Marlin!” Mereka semua tersenyum ramah ke arahku, kemudian bersalaman dan memperkenalkan diri mereka masing-masing.
Cukup menyenangkan sebenarnya bekerja di sini, karena selain atasan divisiku adalah seorang ibu paruh baya yang baik hati, kawan-kawan di ruangan ini juga cukup baik hati.
Aku duduk di sebuah kursi yang masih kosong, di sebelah kiriku ada seorang laki-laki yang tengah sibuk dengan laptopnya. Tak lama, ia menyadari akan kehadiranku, kemudian mengambil sebuah laptop dan menyerahkannya padaku.
“Mbak masih baru ya di sini?”
“Iya, Mas.”
“Oke, saya akan jelasin sedikit. Jadi perusahaan kita ini bergerak di bidang jasa periklanan, travel, sekaligus investasi, semuanya ada di dalam satu aplikasi. Bisa di download, kok, Mbak, di Playstore.”
“Hah? Gimana, Mas?” Aku agak kaget mendengar penjelasan darinya.
“Iya, jadi perusahaan kita ini baru berjalan sekitar 4 bulan. Tapi omzet perbulan kita sudah bisa mencapai trilyunan. Dan Mbak tugasnya di sini adalah sebagai admin. Saya akan jelasin cara kerjanya, nanti Mbak akan─”
Sunggu, selanjutnya aku sudah tak mendengar lagi apa yang tengah laki-laki itu jelaskan. Aku memperhatikan warna kulitnya yang amat putih, hingga urat-urat halus di wajahnya sedikit terlihat, bisa dibilang ia lumayan tampan. Rambutnya keriting ke atas, ia mengenakan kemeja dengan dilapisi sweater hijau gelap dengan tulisan Vans di d**a kirinya.
“Jadi begitu, Mbak. Ada yang mau ditanyakan lagi?” Sontak aku kaget mendengar pertanyaan darinya.
“Uhhh … hmmm … iya, paham, Mas.”
Dia kembali ke mejanya semula, dan sibuk kembali dengan laptopnya. Aku pun memulai pekerjaanku, karena tak terlampau sulit, hanya cukup memindahkan data dari aplikasi ke dalam Microsoft excel, lalu memisahkannya satu per satu sesuai kategori yang telah ditentukan. Memang sangat mudah, namun data yang terdapat di situ ada sekitar 800.
Divisiku bekerja dari pukul 9 pagi hingga pukul 9 malam. Bahkan terkadang kalau data yang kami terima sangat banyak di hari itu, kami bisa pulang sampai jam 11. Pernah sekali waktu aku dan kawan-kawan tak pulang hingga subuh, karena besok ada acara di sebuah hotel. Pengumuman pemenang undian katanya, tak paham lah aku. Tentu kami tak ikut dalam acara itu, kami hanya ditugaskan untuk menyiapkan segala keperluan dasar, seperti menyiapkan data-data pemenang, memesan hotel untuk tempat berlangsungnya acara, hingga membeli hadiah-hadiah kecil untuk para pemenang.
Selain itu, alasan lain mengapa bekerja di sini cukup menyenangkan adalah, setiap hari ada saja yang mengirimkan kami makanan. Katanya sih dari para investor, investor macam apa kupikir yang setiap hari tugasnya memberikan kami makanan, mulai dari Sushi Tei, Donut Krispy Kreme, Chat time, Xing Fu Tang Boba, hingga beraneka ragam lauk pauk dari restoran padang 99. Heran. Namun, tetap kumakan karena enak.
***
“Mar, boleh minta nomor HP kamu, nggak?”
Terkaget-kaget aku menyaksikan depan mataku sendiri. Seorang laki-laki tampan yang duduk di sebelah kiriku, yang tempo hari menjelaskan padaku tentang bagaimana cara kerja perusahaan ini, yang cueknya setengah mati, secara mengejutkan menanyakan nomor handphone-ku, dipanggilnya pula nama depanku.
“Uhhh … hmmm … itu ….” Ragu aku menjawab, takut ada maksud tertentu yang tak baik kupikir. Tapi setelah kupikir ulang, sepertinya laki-laki ini adalah orang yang jujur.
“Mar?”
“Eh … iya … nomor HP-ku … 0811 1234 567”
“Oke, terima kasih, ya, Mar.”
“Oke.” Singkat, padat, jelas, namun penuh arti. Segera aku kembali bekerja, dan aku tak tahu entah ke mana perginya laki-laki itu.
Sejujurnya aku cukup penasaran, ada apa gerangan secara tiba-tiba menanyakan nomor handphone-ku, namun bisa saja itu hanya untuk kepentingan data karyawan.
Hari itu adalah minggu ketiga aku bekerja di sana, sungguh tak terasa. Aku hari ini akan pulang lebih awal, pukul 7 malam. Kerjaan sedang tak banyak, aku cukup senang karena bisa istriahat lebih awal.
“Mar, rumah kamu searah sama rumah aku. Nanti pulangnya bareng aja, mau nggak?” Aku terdiam mematung, kenapa laki-laki di sebelah kiriku ini sungguh penuh dengan kejutan.
“Eh … gimana tadi?”
“Iya, kamu mau nggak, Mar, pulangnya nanti bareng aku?” Aku kembali mematung.
“Hah?”
“Iya, Mar. Kita pulang bareng, pulang bareng, Mar. Nanti aku antar sampai rumah kamu.” Aku mematung lagi.
“Yaudah, Mar. Nanti jam 7 aku tunggu di parkiran motor, ya!” Laki-laki itu berlalu begitu saja dari hadapanku.
Jujur aku bingung harus berbuat apa. Aku sebenarnya ingin bertanya pada kawanku, Putri, mengenai laki-laki ini. Tapi saat itu Putri sedang sibuk karena mengurus hal lain di luar kantor, aku tak enak jika mengganggu hanya untuk urusan sepele.
Tepat pukul 7 malam, aku turun ke lantai 1 dan berjalan keluar menuju parkiran motor. Tepat di depan sebuah motor berwarna hitam merah, laki-laki itu tepat berdiri di situ, melihat ke arahku.
“Mar, mau pakai helm?” Aku kaget, percaya diri sekali laki-laki ini, padahal aku belum berbicara sepatah kata pun.
Akhirnya aku berjalan mendekatinya dengan penuh ragu, mataku melihat ke kanan dan ke kiri, mencari-cari, takut jika ada benda berbahaya yang ia sembunyikan.
“Mar! Kok kamu bengong, sih? Ayo dipakai helmnya, naik ke motor. Keburu hujan, nih!”
“E … eeeh … iya, iya.” Aku malu menyadari bahwa ia mendapatiku yang tengah mematung.
Diperjalanan, kami berbicara hanya seperlunya saja. Sekitar satu setengah jam perjalanan, kemudian secara mengejutkan ia berkata lagi padaku.
“Mar, mau berhenti dulu sebentar, nggak?”
“Eh … gimana?”
“Oke, kita akan berhenti sebentar di kedai kopi deket rumah kamu, ya!”
Tak lama, motornya berhenti di sebuah kedai kopi yang letaknya hanya 15 meter dari rumahku, sangat dekat.
Kalau boleh jujur, sebenarnya aku sangat bingung jika diajak mengobrol oleh seorang laki-laki, selain karena aku memang tak terlalu suka banyak omong, aku juga cukup merasa sulit untuk membuka diri.
Namun, tak disangka, obrolanku dengan laki-laki itu cukup nyambung, sealiran, seirama, sama, sefrekuensi, seimbang, tak berat sebelah. Mula-mulanya kami berbincang tentang hobi, makanan kesukaan, musik favorit, latar belakang pendidikan, hingga latar belakang keluarga. Aku cukup percaya diri menceritakan semuanya tentang diriku padanya, pun dirinya.
Dari sejak perbincangan kami di malam itu, kami semakin hari semakin dekat. Hampir setiap hari ia mengantarku pulang, bahkan kadang berangkat bersama. Setiap malam selepas pulang bekerja, kami selalu menyempatkan untuk berbincang sejenak di kedai kopi dekat rumahku, maupun di dekat rumahnya. Kami juga sering berkabar melalui pesan singkat, bahkan telepon hingga beberapa jam lamanya.
“Kamu mau nggak kalau hari Sabtu sore main ke rumah aku?” Katanya di ujung telepon, dan cukup membuatku kaget setengah mati.
“Eh … uhhh … lain waktu aja, deh, kayaknya ….”
“Oh, kenapa memangnya?” Dia bertanya heran.
“Ya, nanti aja. Terlalu cepat kayaknya kalau sekarang, sih.” Jawabku beralasan.
“Yaudah, nggak apa-apa, kok. Besok pulang bareng lagi, ya!” Seraya ia berkata demikian, telepon pun dimatikan.
Aku sempat berpikir ulang, hubungan macam apa yang tengah kujalani dengan laki-laki ini. Baru berjalan hampir 2 minggu, dia sudah mengajakku untuk datang ke rumahnya. Terlalu terburu-buru menurutku.
Keesokan harinya, saat kami akan pulang bersama setelah pulang bekerja, ia menanyakan padaku sesuatu.
“Mar, kamu suka nggak sama aku?” Aku kaget, terdiam, mematung, tak tahu harus menjawab apa.
“Mar …? Kok diem?”
“Eh … iya, gimana maksudnya?”
“Iya, uhhh …. Maksudnya, kamu suka nggak temenan sama aku?”
“Oh, itu. Iya, suka, kok.” Kemudian ia segera menyalakan mesin motornya.
Motor yang ia kendarai berjalan cukup pelan, kami terdiam, hanya diam, hingga aku menjadi bingung sendiri, takut salah bicara barusan.
Sekitar satu setengah jam, kami sampai di depan rumahku. Tak biasanya ia langsung mengantarku pulang, biasanya ia akan mengajakku berhenti sejenak di kedai kopi.
Aku membuka pagar, dan langsung masuk ke dalam rumah. Saat pagarnya akan kukunci, tiba-tiba ia muncul lagi di depan pagar dengan membawa sebuah bunga mawar berwarna merah.
“Mar! Ini buat kamu, dari aku.”
“HAH?” Terkaget aku melihatnya.
“Ini, Mar. Mawar merah buat kamu, gambarin perasaanku saat ini ke kamu. Terima, ya!” Aku tertunduk malu, segera kuraih mawar itu.
“Terima kasih, ya, Tar!” Aku pun segera masuk ke dalam rumah.
Saat hendak tidur, aku merasa tak nyaman, gelisah, kaget, bingung harus menjawab apa besok. Ataukah memang tak ada yang perlu dijawab?
***
Besoknya, saat aku tiba di kantor bersamanya, kami melihat ada garis polisi berwarna kuning menglilingi bangunan ruko itu. Kabarnya, kantor kami ditutup untuk sementara waktu, karena masih dalam pemeriksaan oleh pihak kepolisian.
Padahal gaji kami bulan lalu belum dibayar penuh, masih berhutang si bos pada kami, pada karyawannya. Dari kabar yang berhembus, tersiar bahwa bos pemilik perusahaan ini adalah seorang penipu handal, dia adalah seorang pemain lama, dan telah 2 kali masuk bui.
Kami berdua berjalan dengan langkah yang gontai, sambil berpegangan tangan. Lalu ia berkata padaku.
“Mar, boleh pinjem uang dulu, nggak?”
“Maaf, ya, Tar. Aku juga lagi nggak ada uang.”
“Oh, yaudah nggak apa-apa, kok.” Wajahnya terlihat lesu.
“Sekali lagi, maaf, ya, Tarjo!”