Sudah lebih dari satu bulan aku menganggur di rumah. Entah sudah berapa ratus lamaran pekerjaan kukirimkan ke berbagai perusahaan. Yang mulanya aku hanya mau bekerja di bagian yang memang sesuai dengan latar belakang pendidikanku, kini dengan yakinnya aku putar haluan, aku mau bekerja apa saja dan menjadi apa saja, yang penting dapat uang. Kubuang jauh-jauh rasa gengsiku, tak pedulinya aku apa pun yang orang katakan.
Kakek juga berpesan padaku, bekerja apa saja tidak masalah, yang penting halal, yang penting berkah, yang penting melimpah, yang penting banyak harta, kaya raya. Semula aku hanya mau bekerja kantoran, kini bekerja di pasar pun tak masalah, tak mau kuambil pusing. Kawan terdekatku saat ini, Tarjo, ia juga sibuk membantuku untuk mencari pekerjaan. Sejak perusahaan Start Up tempat kerjaku tempo hari ditutup, disegel oleh Pak Polisi, maka aku dan para karyawan lainnya secara otomatis menjadi pengangguran, sisa gaji pun tak dibayarkan, sedih, pedih kurasa.
Mas Tarjo, begitulah aku memanggilnya sekarang. Tak jelas apa status hubungan kami, tapi yang jelas ia amat baik padaku. Ia tak segan untuk bertanya pada kawan-kawannya mengenai lowongan pekerjaan yang kira-kira sesuai untukku. Semua kawan ia tanyakan, mulai dari kawan yang bekerja di rumah sakit, kawan yang bekerja di kantor, kawan yang bekerja di pasar, kawan yang bekerja di toko kelontong, kawan yang bekerja di kebun binatang, hingga kawan yang bekerja di panti pijat tanpa embel-embel plus-plus. Bahkan ia juga selalu menawarkan diri untuk mengantarku jika panggilan interview tiba. Tak hanya itu, saat aku pulang pun kalau perlu dia yang menjemput, makanan dan minuman pun ia yang belikan. Baik hati sekali Mas Tarjo-ku.
Hari itu aku sudah membuat janji dengannya untuk mengantarkan lamaran pekerjaan secara door to door, alias datang langsung ke kantor perusahaan yang tengah membuka lowongan. Kami akan bertemu di depan kedai kopi dekat rumahku, di samping lapangan. Maklum, kakek belum aku kenalkan pada Tarjo, sehingga kami harus mengantisipasi agar tak ketahuan olehnya.
Tepat pukul 1 siang, di bawah terik sinar matahari yang panasnya macam kena api unggun, aku bergegas keluar rumah dan berjalan kaki menuju Kedai Kopi Yang Muda Yang b******a. Sangat romantis nama kedai itu, cocok sekali persis seperti yang tengah aku alami saat ini dengan Mas Tarjo.
“Hei, Mar!” Tarjo memanggilku sembari melambaikan tangan.
“Hei, Mas Tarjo ….” Aku tersenyum.
“Kamu cantik sekali, Mar, hari ini!” Aku hanya terdiam tersipu malu. Kemudian secara mengejutkan, tanpa aba-aba, tanpa ba bi bu, ia memakaikanku sebuah helm berwarna merah. Kagetnya aku, semakin kumalu, semakin kutersipu, semakin kusuka padanya. Sungguh sangat romantis.
“Ayo, Mar. Kita berangkat sekarang, ya.” Seperti biasa aku duduk di jok belakang, dengan menggunakan motor matic berwarna hitam merah miliknya, kami berangkat menuju ke sebuah kantor di mana tempat kawannya bekerja. Menurut kabar darinya, perusahaan itu tengah membutuhkan karyawan, dengan posisi sebagai staf administrasi.
Jarak kantornya ternyata cukup jauh dari rumahku, sekitar 9 kilometer, dan memakan waktu lebih dari 40 menit untuk bisa sampai di sana. Udara siang itu makin panas, kulitku terasa seperti terbakar, kulihat warnanya berubah jadi agak kemeraham, persis seperti kepiting rebus. Debu jalanan membuat tubuhku terasa semakin lengket, membuat mataku sesekali merasa kelilipan, sebegininya ternyata perjuangan mencari pekerjaan.
“Mar, sebentar lagi kita sampai, kok. Sabar, ya!”
“Tentu, Mas.”
Tak lama berselang, motor kami berhenti di depan sebuah ruko yang sekelilingnya dilapisi oleh kaca gelap, tak mampu kulihat isi di dalamnya. Kutengok ke atas, sebuah plang besi digantung persis di atas pintu kaca. Pada plang itu tertera nama perusahaan: PT. TAK GENTAR MESKI DIGETAR.
“Akhirnya … kita sampai juga, Mar! Huh ….” Tarjo menghembuskan napas panjang, sepertinya ia merasa lega setelah melalui perjalanan yang cukup jauh.
“Iya, Mas. Terima kasih, ya, udah mau anter aku.”
“Nggak apa-apa, Mar. Aku ikhlas, kok.”
Kami berjalan hendak masuk ke dalam kantor itu, namun setelah pintu kaca itu kami dorong, ternyata terkunci dari dalam, tak mampu kami masuk. Kami tengok ke kanan kiri, tak ada tanda-tanda bahwa ada bel yang harus ditekan atau semacamnya. Tarjo segera menghubungi kawannya melalui telepon, namun tak kunjung diangkat, kami pun bingung. Kami putuskan untuk menunggu setengah jam lagi.
“Mar, kamu haus, nggak? Aku beliin minum, ya?” Tarjo segera berjalan ke ruko sebelah untuk membelikanku minuman, aku pun mengikutinya.
Kami masuk ke dalam sebuah minimarket yang berukuran cukup luas. Tarjo mengambil 2 buah botol minuman ringan, dan sebuah roti sobek. Saat tiba di kasir, ia bertanya pada petugas mengenai kantor itu.
“Mbak, mau tanya. Kantor yang di sebelah itu hari ini buka, kan, ya?”
“Kantor?”
“Iya. Kantor yang di sebelah toko ini persis.”
“Kantor … di … sebelah …?” Petugas kasir malah bertanya balik.
“Iya, kantor yang di sebelah. Buka, kan, ya? Soalnya tadi saya mau masuk ke dalam, pintunya nggak bisa dibuka.”
“Oh … jadi … setau saya, sih, Mas, 2 hari yang lalu … kantor itu … udah ditutup, soalnya … udah lama … nunggak … bayar sewa ruko.” Petugas itu menjawab agak ragu.
“Jadi, kantornya udah tutup, Mbak? Beneran?”
“Beneran, Mas. Udah lama, sih, kabarnya … bakal … digusur … karena nggak bisa bayar sewa. Terus … yang punya kantor … juga … sebulan lalu … mati karena gantung diri … di lantai … paling … atas ….” Petugas kasir itu menjawab sambil menyeret-nyeret setiap kata yang ia ucapkan, entah ragu untuk memberikan informasi, atau kah takut.
“Oh … oke …. Jadi hari ini pun nggak ada karyawan yang datang ke kantor ini, ya?”
“Ya … ya … iya, Mas. Mau ngapain juga, kan.”
“Oke, Mbak. Makasih, loh, udah mau kasih informasinya.” Setelah membayar semua barang belanjaan, kami pun mohon diri.
Waktu menunjukkan pukul 3 sore, kami pun segera bersiap untuk pulang. Diperjalanan Tarjo menawarkanku untuk berhenti sebentar di kedai kopi, namun aku menolak karena alasan kakek sudah menungguku untuk tiba di rumah lebih awal.
“Mar, apa kamu nggak mau kita ngobrol sebentar aja?”
“Tapi kakek udah nunggu aku di rumah.” Aku memberi alasan.
“Yah, sebentar aja, Mar. Ke kedai kopi yang deket rumah kamu aja, gimana?”
“Hmmm … nggak mau, ah.”
“Ayo, Mar. Bentaran aja, kok.”
“Nggak mau, ah!” Aku tetap menolak.
“Ya udah, ke kedai kopi yang lain, deh. Ada kedai kopi yang baru buka di deket rumah aku, gimana?”
“Hmmm … nggak, ah. Beneran, deh, Mas, aku males banget.”
“Ke rumah aku aja, deh, gimana?” Tarjo malah mengajak ke rumahnya.
“Uhhh … hmmm … gimana, ya … tapi … itu … hmmm …. Boleh juga, deh!” Entah angin muson barat ataukah angin muson timur yang membuatku secara tiba-tiba berubah pikiran. Kalimat boleh juga, deh meluncur begitu saja dari mulutku.
Akhirnya setelah sekitar 50 menit kami tiba juga di muka sebuah rumah yang berukuran cukup mungil, rumah tingkat satu itu terletak di tengah jalan raya. Pagar besinya berwarna putih, temboknya juga berwarna putih, pintu kayunya juga berwarna putih, kusennya berwarna putih, teralisnya, lantainya, hingga atapnya juga berwarna putih bersih.
Tarjo memandangiku dari ujung rambut hingga ujung kaki, kemudian melepaskan helm yang kupakai.
“Mari masuk, Mar!”
“Eh … oke.” Aku masih berdiri mematung di muka rumah itu, aku merasa tak enak jika hanya berdua di dalam.
“Ayo, Mar, masuk aja. Nggak ada siapa-siapa, kok.” Tarjo tanpa ragu menggenggam tanganku, dan menggiringku masuk ke dalam rumahnya.
Aku terduduk di sebuah sofa kecil yang hanya muat untuk 2 orang. Di dalam rumah Tarjo hanya terdapat sedikit perabot, seperti meja ruang tamu, rak buku, dan sebuah lemari. Hanya ada satu kamar tidur, dan satu kamar mandi di sana. Pada satu sisi dinding yang menggabungkan antara ruang kamar dengan kamar mandi, tergantung sebuah potret wajah seorang wanita paruh baya dan seorang anak perempuan kecil yang kira-kira berusia 10 tahun.
“Mar, kamu mau minum apa? Biar aku bikinin, nih.” Tarjo rupanya sedang membuatkan aku minuman di dapur.
“Terserah, Mas. Apapun yang kamu buat, tentu akan aku minum.”
Tak lama Tarjo membawa dua gelas minuman berwarna biru, terdapat banyak es batu di dalamnya, dan minuman di dalam gelas itu seperti menari-nari, lompat-melompat, seakan menyambut kehadiranku di sana.
“Silahkan diminum, Mar!”
“Eh … iya, Mas.” Aku melihat minuman itu dengan sedikit rasa curiga.
“Mar, minum, dong. Udah aku bikini, loh. Masa kamu nggak mau minum, sih?”
“Eh … iya, aku minum, nih, Mas.” Secara perlahan namun pasti, aku meraih gelas itu, dingin sekali ternyata, entah berapa kilogram Tarjo memasukkan es batu ke dalam minuman itu. Aku terdiam sejenak.
“Mar … kok kamu diem, sih? Nggak mau diminum, nih? Ayo dong, minum.” Ia seperti membujukku.
“Eh … anu … itu … hmmm … iya, nanti akan aku minum, kok, Mas.“ Aku segera menaruh kembali gelas itu ke atas meja.
“Mar, kamu nggak mau ke kamar mandi dulu?” Seketika aku jadi berpikir, boleh juga tawarannya.
“Oh, iya, Mas. Aku tuh dari tadi emang mau ke kamar mandi, kebelet pipis soalnya.” Aku segera beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamar mandi.
Setelah kembali ke ruang tamu, aku pun meminum air berwarna biru tadi. Aih … lega sekali rasanya, hilang dahagaku, semangat kembali jiwaku. Namun tak lama aku merasa kepalaku pusing, agak sedikit berkunang-kunang, sempoyongan, lalu mengantuk.
“Kenapa, Mar? Kamu sampe nguap gitu, ngantuk, ya?”
“Iya, nih, Mas. Aku tiba-tiba jadi ngantuk. Nggak tau, nih, kenapa. Kecapekan kayaknya.”
“Oh, gitu. Eh, Mar, aku mau ke kamar dulu, ya. Mau beberes sebentar. Kamu tunggu aja di sini.”
“Yaudah, Mas, aku tunggu, ya!”
Tarjo masuk ke kamarnya, terdengar sepertinya ia tengah membereskan kasur dengan sebuah sapu lidi. Dan tak sampai 5 menit, ia sudah kembali lagi ke ruang tamu, kemudian duduk di sebelahku.
“Mar, jadi gini. Menurut kamu … kita … lebih baik … jadi … temen aja, atau ….”
“Atau apa?”
“Atau ….” Tarjo memajukan wajahnya tepat di depan hidungku, jarak kami sekarang hanya 10 centi, begitu dekat. Aku terdiam, membeku, kaku, gugup. Seketika ia memegang belakang kepalaku. Jantungku berdegup lebih kencang.
“Mar, ini ada serangga kecil di kepala kamu.” Aku jadi malu, ternyata ada sebuah serangga di kerudungku, entah sejak kapan dia ada di situ.
“Mas, jadi tadi kamu mau ngomong apa?” Aku melanjutkan perbicangan kami.
“Oh, itu. Iya, jadi … maksud … aku ….” Jarak wajah kami semakin dekat, lebih dekat dibanding yang tadi. Sekarang jarak wajah kami hanya sekitar 7 centi, kemudian 5 centi, lalu maju lagi menjadi tinggal 3 centi, dan kemudian kami terdiam.
“Tok … tok … tok ….!!!” Suara pintu rumah diketuk dengan cukup kencang.
“Permisi, Pak!” Terdengar suara seorang laki-laki paruh baya. Tarjo segera berdiri dan membuka pintu.
“Eh, ada Pak RT. Ada apa, nih, Pak? Tumben, lagi patroli, ya?”
“Iya, Pak Tarjo. Jadi anu … perihal akta kelahiran itu.” Selanjutnya aku tak paham apa yang merek perbincangkan, mungkin masalah data diri warga setempat. Untung saja aku dan Tarjo tak berbuat hal-hal yang melanggar norma sedikit pun, jika tidak mungkin kami sudah kena gerebek Pak RT.
Tak lama setelah itu, Tarjo mengantarku untuk pulang ke rumah, karena hari sudah hampir maghrib.