“Kakek, nanti sore aku akan keluar, ya. Ada urusan dengan kawanku, mau bertemu.” Aku mohon izin pada kakek untuk pergi keluar nanti sore, karena aku akan bertemu Tarjo dan menemani ia bekerja.
“Apakah akan lama, Mar?”
“Sebentar, kok, Kek.”
“Oke, sebelum jam 10 kau sudah harus sampai di rumah, ya!” Kakek memperingatkanku.
Tentu aku akan pulang kurang dari jam 10 malam, karena Tarjo akan selesai bekerja pada pukul 8 malam.
“Kek, aku berangkat, ya!” Aku mohon diri pada kakek, setelah sebelumnya mencium punggung tangannya terlebih dahulu.
Seperti biasa Tarjo menjemputku di depan Kedai Kopi Yang Muda Yang b******a, tepat di sebelah lapangan. Hari ini aku akan menemaninya bekerja, mungkin sekitar 2 jam. Ia bekerja sebagai penyanyi pada sebuah kafe, dengan berbekal sebuah gitar akustik, Tarjo akan membawakan kurang lebih sekitar 30 tembang kenangan.
Kafe itu biasa didatangi oleh berbagai kaum sepuh yang biasanya masih merasa berjiwa muda, masih suka nongkrong sana sini, masih suka bercengkrama hingga tengah malam, masih suka tak sadar bahwa sudah bau tanah, lupa akan umur, lupa akan malaikat Izrail.
Terdapat plang dari kayu di depan kafe itu, bertuliskan sebuah nama: Kafe Yang Tua Yang Nongkrong. Terdengar lucu sebenarnya, karena aku jadi teringat akan kakekku. Alhamdulillah beliau masih ingat umur, masih ingat cucu, sehingga tak berwisata kuliner ke sana kemari macam anak muda tak ingat mati.
“Jreeeng … jreeeng … jreeeng …..” Tarjo mulai memetik gitarnya, di awali dengan D minor, kemudian A minor, kemudian ke G, kemudian ke C, kemudian balik lagi ke D minor, begitu seterusnya, persis lagu sebuah band legendaris kenamaan negara tercinta.
Aku terduduk di sebuah kursi, terdapat sebuah meja kecil di depanku. Aku duduk sambil menikmati sebuah jus sirsak dan sosis bakar. Aku menatap serius ke arah Tarjo, ia sungguh sangat serius memainkan gitarnya, penuh penghayatan, penuh drama, sepenuh jiwanya. Aku tersenyum, ia terlihat makin tampan ketika sedang bernyanyi seperti ini. Aih … aura anak band memang beda.
“Lagu terakhir, saya persembahkan untuk seorang wanita paling spesial di hidup saya saat ini. Marlinda, ini lagu khusus buat kamu!” Aku terkaget mendengar apa yang Tarjo ucapkan barusan, hatiku seperti melayang jauh ke atap kafe, kemudian melayang lagi ke genting, kemudian melayang lagi naik kea wan, hingga tiba ke langit ketujuh.
“Mar … lin … da …maukah kau jadi kekasihku …
“Mar … lin … da … maukah kau jadi pendampingku …
“Mar … lid … da … maukah kau jadi alasanku tuk hidup …”
Indah nian Tarjo menciptakan, menyanyikan, mempersembahkan lagu itu hanya untuk diriku seorang. Sungguh sangat romantis. Tersenyum-senyum aku menatap ke arahnya, sembari sesekali menunduk malu, tersipu, merah padam wajahku, kemudian pucat pasi.
Entah tak paham apa yang tengah kurasakan saat ini. Bahagia? Mungkin. Senang? Barang tentu. Malu? Sedikit. Entahlah.
Tarjo, beginikah rasanya jatuh cinta lagi?
***
Hari ini adalah jadwalku untuk mengikuti interview di sebuah perusahaan di daerah Karet. Sudah dari semalam aku mempersiapkan semua yang aku butuhkan untuk hari ini. Mulai dari mencetak segala dokumen yang dibutuhkan, menyiapkan buku tulis, menyiapkan pensil, menyiapkan pulpen, menyiapkan tas, menyiapkan pakaian, menyiapkan otak, hingga menyiapkan rasa sabar yang ekstra kalau-kalau aku tak diterima lagi. Entah sudah berapa belas perusahaan yang aku ikuti untuk proses interview, proses menjawab berbagai soal-soal yang diberikan, proses wawancara dengan user, proses tes kesehatan, proses tawar menawar gaji, hingga proses tawar menawar harga diri, semua proses telah aku ikuti. Namun tetap saja tak satu pun perusahaan yang sudi merekrutku menjadi karyawannya. Entah apa yang salah dari diriku.
Aku akan berangkat ke sana seorang diri, katanya Tarjo sedang ada urusan lain hingga tak dapat mengantarku hari ini. Seperti biasa aku akan pergi ke stasiun MRT dengan menaiki ojek, kemudian naik MRT tujuan Karet, hingga setelah sampai di stasiun tujuan aku akan berjalan kaki menuju kantor itu. Aku sudah mencari sebelumnya di mana letak kantor tujuanku melalui Gmaps, dan ternyata letaknya tak jauh dari stasiun MRT tempatku berhenti.
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi, aku sudah harus sampai di sana sekitar setengah jam lagi, karena interview memang akan dimulai pada pukul 10. Tepat pukul 09.20 MRT yang aku naiki sudah sampai di stasiun Karet, aku segera bergegas keluar pintu dan menaiki banyak anak tangga dengan kecepatan kaki super duper cepat, hingga napasku pendek-pendek, tersengal-sengal, kemudian dadaku ngap-ngap.
Tiba juga aku di dekat kantor itu, banyak gedung-gedung tinggi yang kulewati, taman-taman kecil, banyak bunga-bunga berwarna-warni, indah dipandang, namun kemacetan dan asap knalpot merajalela di sepanjang perjalanan, bunyi klakson saling beradu bertalu-talu. Beginilah keadaan Ibu Kota Jakarta dengan sejuta keindahan dan karut-marutnya. Namun tetap kucinta.
“Kruuuk … kruuuk ….” Ternyata perutku berbunyi pertanda lapar, sebetulnya aku masih punya waktu 40 menit lagi untuk tiba di sana, jadi kuputuskan untuk membeli sarapan dulu di pinggir jalan. Kutengok kanan kiri, melihat-lihat apakah ada makanan yang cocok untuk perutku. Di sepanjang jalan di sekitaran masjid, ada beberapa pedagang makanan kaki lima menjajakan dagangannya. Ketika aku sedang sibuk memilah-milah makanan, ada beberapa mobil bak terbuka berwarna hijau lumut. Di dalamnya ada tiga orang petugas berseragam, mata mereka tajam, seakan-akan mencari-cari, sigap, tangkas, kuat, cepat.
“Ada petugas Trantib … Trantib … awas!
“Ada Satpol PP … Satol PP … kabuuur …!
“AWAS!!!
“Ampun … Pak!
“Jangan, Pak!
“Jangan sita dagangan kami! Ampun …, Pak!
“Kami akan pergi, Pak! Kami janji nggak akan dagang di sini lagi!”
Seketika terjadi kekacauan hanya dalam hitungan detik. Suara-suara itu terdengar dari para pedagang kaki lima, sedih hatiku menyaksikan itu semua, namun tak mampu kuperbuat apa-apa.
“Ayo, Nak. Kita ngumpet di sini! Sini, sini!” Seorang ibu muda tengah terlihat menarik tangan anak perempuannya yang masih kecil. Ibu muda itu terlihat ketakutan dan panik, tangannya gemetar, bibirnya ikut bergetar. Jika dilihat dari pakaiannya, sepertinya anak beranak itu bukan berasal dari sini.
Mereka berdua bersembunyi di balik barang dagangan di toko ini. Aku yang ketika itu hendak membeli roti di dalam toko kelontong, merasa kaget akan kehadiran mereka tepat di sebelah betis kiriku.
“Bu … Ibu nggak apa-apa?” Aku bertanya pelan ketika rombongan Satpol PP telah berlalu.
“HAH?” Ibu itu terlihat masih ketakutan, dan kaget mendengar pertanyaanku.
“Bapak-bapak itu udah pergi, kok, Bu. Ibu kenapa? Ibu dari mana? Ibu mau pergi ke mana sama anaknya?” Ibu itu menatap ke arahku dengan ragu, matanya melihatku dari ujung kerudung hingga ujung sepatuku.
Ibu itu akhirnya bercerita bahwa ia memang bukan berasal dari sini, sudah dari 2 hari yang lalu ia dan anaknya tiba di Jakarta dan tengah mencari alamat kerabatnya di sini agar dapat menginap sementara waktu. Jadi selama 2 hari ini mereka hanya tidur di jalanan, di depan toko-toko yang sudah tutup jika malam hari tiba, sesekali mereka mampir ke masjid untuk membersihkan diri. Ibu itu memberikan sebuah kertas kuning yang berisikan alamat kerabatnya di Jakarta.
“Kalau alamat ini, sih, harusnya nggak terlalu jauh dari sini. Ibu tinggal naik angkot aja sekali, nanti juga sampai, kok.” Ibu itu terlihat senang mendengar ucapanku, matanya berkaca-kaca.
Aku menemaninya untuk mencari angkot di pinggir jalan, untungnya tak sampai 5 menit angkot yang diharapkan tiba juga. Sebelum ibu dan anaknya pergi, tak lupa kuberikan makanan dan minuman sebagai bekal untuk perjalanan mereka. Lega rasanya hatiku dapat menolong orang yang tengah membutuhkan bantuan.
“Makasih, ya, Mbak. Semoga gusti Allah membalas semua kebaikannya, Mbak!” Ibu itu berkata dengan logat Jawa.
“Sama-sama, Bu!” Seiring dengan kepergian anak beranak itu, aku pun bergegas menuju tempat tujuanku.
***
Malam itu aku tak bisa tidur, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Aku bingung apa yang harus kulakukan.
“Dreeet … dreeet … dreeet ….” Handphone-ku bergetar, segera kuraih dan kulihat siapa yang menghubungiku tengah malam begini.
Ternyata ada sebuah pesan singkat dari Tarjo.
Mar, aku kangen sama kamu, besok ketemu, yuk! Di tempat biasa, ya, jam 5 sore. Kamu temenin aku kerja. Aku juga punya sesuatu, nih, untuk kamu. Silahkan dinikmati, ya!
Aku senang sekali menerima pesan singkat darinya. Segera kulihat pesan apa yang hendak ia kirim berikutnya. Ternyata Tarjo mengirimkan sebuah lagu yang telah ia rekam dan ia nyanyikan sendiri, tentu juga diiringi dengan alunan gitar akustiknya. Sebuah lagu dari Band The Beatles dengan judul Here, There, and Everywhere, dengan begitu merdu dan sempurna dapat Tarjo nyanyikan. Ia memang seorang musisi sejati, aku makin suka padanya.
Segera kubalas pesan singkat darinya.
Terima kasih, ya, Mas. Aku suka banget lagunya. Iya, besok kita ketemu di kedai kopi sebelah lapangan, ya. Sampai bertemu besok sore!
Seketika hatiku jadi berbunga-bunga, senangnya aku bukan main. Lekas kupejamkan mataku, tak sabar untuk bertemu dengannya esok hari. Kupastikan tidurku malam ini secara otomatis akan pulas, nyenyak, lelap, mimpi indah, penuh harapan.
Angin malam bertiup lembut, bintang-bintang menghiasi langit, terlihat sangat indah, kecil-kecil, sambil malu-malu tapi mau mereka bersinar-sinar. Bulan sabit terlihat di ujung langit, sangat indah, meski tinggal setengah, begitu pula dengan hatiku, masih terlihat meski tinggal di ujung, masih sama indahnya, meski tinggal setengah.
Aih … semoga aku masih bisa jatuh cinta lagi.