Aku sedang sibuk mencari-cari di mana letak tas selempangku. Kuingat-ingat, terakhir kugunakan sekitar seminggu yang lalu, ketika aku menemani Tarjo bernyanyi di kafe. Sudah kugeledah seisi kamarku, tetap tak ada juga. Mulai dari di dalam lemari, di dalam laci, di bawah meja rias, di bawah tempat tidur, di bawah meja belajar, di bawah kursi belajar, hingga ke sudut kamar mandi juga tak kujumpai tas selempang itu. Entah ke mana perginya.
“Mar … Marlin … Marlinda …!” Suara kakek memanggil namaku.
“Iya, Kek!” Segera kuhampiri dirinya.
Kukeluar dari kamar, kutengok tak ada kakek. Di ruang makan, tak ada. Di ruang tamu, juga tak ada. Di teras, persis tak ada juga.
“Mar … Marlin …!”
Tapi suara kakek masih bergema, kucari asal suara itu. Kuberjalan ke arah dapur, tak nampak juga wujud beliau. Di kamar mandi, apalagi sama saja tak ada juga. Kucari ke kamarnya, tetap tak ada.
“Mar, ke sini sebentar!”
Kudengarkan baik-baik sekali lagi, dari mana datangnya asal suara itu. Sambil berjalan menyusuri isi rumah, kutengok kanan kiri, depan belakang, atas bawah. Kuberjalan lagi perlahan, hingga ke ujung tempat cuci pakaian. Kulihat sesosok laki-laki paruh baya, dengan wajah cemberut melihat ke arahku, ditangan kanannya tengah memegang sesuatu. Setelah melihat kehadiranku di situ, tanpa ambil tempo, beliau segera berjalan ke arahku.
Sambil bertolak pinggang, kakek bertanya padaku, “APA INI, MAR?!”
Aku kaget bukan main, kakek menggertakku. Aku diam seribu bahasa, mulutku terkunci, aku menunduk, tak tahu harus menjawab apa.
“Siapa yang memberikan ini padamu? Siapa dia?” Kakek bertanya sekali lagi. Matanya menatap mataku dengan tajam, seakan mencari jawaban.
“Ayo, Mar. Sini duduk, mari kita bicarakan ini.” Kami berdua duduk di ruang makan.
Kakek masih menatapku, masih menunggu jawaban dariku.
“Mar, siapa dia? Kenapa kau tidak menceritakannya pada kakek?”
“Itu … dia … hanya … hmmm ….”
“Hanya apa, Mar?”
“Dia … itu … kawan sekantorku ….”
“Lalu?”
“Lalu apa, Kek?”
“Lalu kenapa tak kaukenalkan dirinya pada kakek? Mar, kau ini sudah besar, tidak ada yang perlu kau rahasiakan lagi segala hal tentang dirimu. Kakek juga tak akan melarangmu untuk bergaul dengan siapa, asalkan orang itu baik dan jujur.”
“Iya, Kek, maaf.”
“Ya sudah. Jadi, sejak kapan kau dekat dengannya, dan kapan dia memberikan bunga mawar merah ini padamu? Hingga layu begini karena kaumasukkan dalam tasmu. Hahaha … kau ini ada-ada saja, Mar!”
“Iya, Kek, maaf.”
Akhirnya aku bercerita pada kakek tentang keberadaan Tarjo. Segala hal yang kuketahui tentangnya, kujabarkan secara jelas, singkat, padat, namun tetap terperinci. Aku bercerita dari mulai Tarjo yang awalnya cuek dan sok sibuk saat sedang bekerja di kantor, padahal tempat duduknya persis di sebelah kiriku. Hingga dirinya yang secara mengejutkan dan tiba-tiba meminta nomor handphone-ku, mengajakku pulang bersama, berangkat ke kantor bersama, mengantarku datang interview ke sana kemari, membincangkan banyak hal di kedai kopi, menemaninya bernyanyi di kafe, hingga menciptakan sebuah lagu untukku, dengan judul menggunakan nama depanku, Marlinda. Sungguh sangat romantis.
“Mar, kakek mau berkenalan dengan kawanmu itu, ya! Suruh mampir saja ke sini, tak perlu lama-lama, sebentar pun tak apa. Kakek hanya ingin tahu seperti apa orangnya.” Kakek berkata kepadaku yang tengah mencuci piring di dapur.
“Baiklah, Kek. Pasti akan kuajak ke sini. Tenang saja, Kek!” Aku berkata dengan setengah berteriak, takut kakek tak dengar.
Sorenya aku telah bersiap-siap untuk pergi bertemu Tarjo, sesuai dengan janjinya semalam, aku akan menemaninya bekerja, bernyanyi di kafe.
Seperti biasa, tepat pukul 5 sore kami bertemu di depan kedai kopi, lalu berangkat menuju Kafe Yang Tua Yang Nongkrong di mana tempat ia bekerja. Pukul 6 Tarjo mulai bernyanyi berbagai tembang kenangan untuk para paruh baya yang berjiwa muda tak ingat umur. Pukul 8 ia telah selesai bekerja, lalu kami mengobrol sebentar, dan ia mengantarku pulang ke rumah.
“Mas Tarjo, kamu masuk aja ke dalam rumah aku. Katanya kakek mau kenalan sama kamu.”
“Hah?! Serius?!” Tarjo kaget, terlihat setengah tak percaya.
“Ya udah, yuk, masuk!” Tarjo mengikutiku dari belakang. Ia masuk ke dalam ruang tamu, dan terduduk di sofa.
Aku masuk ke dalam rumah dan hendak mencari kakek, kuketuk pintu kamarnya, namun beliau tak menjawab. Ku langsung masuk ke dalam kamarnya, dan ternyata kakek sudah tertidur pulas. Akhirnya aku kembali lagi ke ruang tamu.
“Mas, maaf, ya. Ternyata kakek udah tidur.”
“Ya udah, nggak apa-apa, kok. Besok aja aku ke sini lagi, ya!”
Bersamaan dengan itu, akhirnya Tarjo pun mohon diri.
***
Kulihat jam tanganku, sudah menunjukkan pukul 6 sore. Aku merasa kesal, sekaligus gelisah, sambil melihat layar handphone-ku yang sedari tadi tak kunjung tampak satu pun pesan singkat masuk, maupun panggilan masuk.
“Sabarlah, Mar. Mungkin saja kawanmu kena macet.”
“Macet bagaimana, Kek? Dia kan biasa naik motor, tak mungkin bisa kena macet.”
“Ya, bisa saja, kan? Siapa yang tahu.”
Aku malah makin kesal dengan jawaban kakek. Entah mengapa, sudah 3 jam Tarjo tak mengabariku. Sebelumnya ia berjanji akan bertemu denganku di rumah pada pukul 3 sore, tapi sampai detik ini, detik di mana adzan maghrib hendak berkumandang, ia tak menunjukkan juga batang hidungnya. Sudah kucoba telepon maupun mengirimkan pesan singkat, tapi tak ada jawaban darinya, malah saat pukul 5 sore kutelepon lagi ke handphone-nya, nomornya malah tak aktif. Sungguh, rasa kesalku sudah sampai di ubun-ubun.
Setelah solat maghrib, jika tak ada kabar juga dari Tarjo, aku memutuskan untuk pergi ke rumahnya. Aku merasa kesabaranku sudah di ambang batas.
Segera kupesan ojek online melalui handphone-ku, kemudian pergi menuju rumahnya. Untungnya aku masih ingat betul nama jalannya beserta blok dan nomor rumahnya.
Tepat pukul 7 malam aku tiba di depan sebuah rumah berukuran mungil, berpagar putih, berdinding putih, beratap putih, berkusen, berteralis, dan berpintu putih bersih. Kuketuk pintunya berkali-kali, namun tak ada jawaban. Hingga sekitar 10 menit kemudian, pintu itu akhirnya dibuka juga.
“Mau cari si─” Orang itu melihatku dengan wajah yang cukup kaget, aku pun lebih kaget dibuatnya. Ia menutup mulutnya dengan tangan kanannya, hingga tak mampu melanjutkan pertanyaannya padaku.
Kami terdiam, saling berpandang, kaku, salah tingkah, kemudian nyengir.
“Siapa yang datang?” Tak lama dari balik pintu seseorang keluar dan bertanya demikian.
Di situ mata kami bertemu, kaget, terdiam, saling tatap, tak mampu berkata-kata, kemudian ia panik, kemudian terdiam lagi. Hingga kami bertiga akhirnya saling tatap menatap, namun tak ada yang bicara sedikit pun.
“Di luar siapa yang dateng, sih, Ma?” Seorang anak perempuan kecil bertanya dan tiba di muka pintu sambil menatap ke arahku. Aku kaget bukan main, baru sadar apa yang sebenarnya tengah terjadi.
“Ini, kan, tante yang waktu itu nolongin kita, ya, Ma?” Anak kecil itu bertanya lagi.
“Mas … Mas … Mas Tarjo ….” Aku dan wanita itu kompak memanggil nama lelaki di sampingnya.
Lalu wanita muda itu menggendong anak perempuannya, wanita yang waktu itu sempat aku tolong ketika kami bertemu di toko kelontong saat petugas Satpol PP sedang berpatroli. Wanita muda yang berasal dari kampung, yang berkata tengah mencari alamat kerabatnya di Jakarta. Sekonyong-konyong, secara tiba-tiba, secara mendadak, tanpa terprediksi, wanita itu ternyata adalah istri dari Mas Tarjo-ku, lelaki yang tengah kusanjung-sanjung, kupuja puji, dan kusayang-sayang. Wanita itu ternyata memang tengah mencari suaminya, karena si Tarjo, si laki-laki kampung sok tampan, sok playboy, sok laku, sok romantis, sok baik hati, padahal ia hanyalah penipu ulung. Jijik rasanya.
Tarjo sudah sekitar satu tahun belakangan ini meninggalkan kampungnya di Jawa Tengah, meninggalkan keluarganya, meninggalkan istri dan anaknya. Ia beralasan hendak mencari pekerjaan di Ibu Kota Jakarta, hendak mengadu nasib, tapi malah menipu istrinya sendiri yang jauh di kampung sana.
Sedih rasanya hatiku, sedih karena melihat di pelupuk mataku sendiri, sekali lagi, seorang laki-laki tega menipu wanita yang ia cintai, bahkan anak kandungnya sendiri.
Aku bergegas berjalan keluar dari teras rumah itu, berjalan setengah berlari, sambil menatap langit, menatap bintang, menatap bulan, menatap masa depanku yang entah akan seperti apa dan bagaimana. Sambil sedikit terisak-isak, kuhapus air mataku, dan langkahku makin cepat.
Tarjo, beginikah rasanya sakit hati, lagi?