Ayam jago jangan diadu
Kalau diadu jenggernya merah
Baju ijo jangan diganggu
Kalau diganggu, yang punya marah
Saya cinta sama bang kumis
Orangnya ganteng sangat romantis
Peluk, cium, aduh asyiknya
Sampai merinding si bulu roma
Aku terduduk di sudut tangga sambil melihat nenek dari kejauhan sedang tawar-menawar dengan seorang pedagang daging di pasar. Sudah dari sejam yang lalu kami berdua berkeliling pasar untuk membeli berbagai bahan masakan, dikarenakan 4 hari ke depan Hari Raya Idul Adha akan tiba. Nenek sangat antusias sekali untuk berbelanja di pasar, hingga tak sadar bahwa aku sudah lelah dan lebih memilih duduk pada sebuah anak tangga yang jaraknya tak begitu jauh darinya.
Lagu ayam jago terdengar melalui speaker di pasar modern ini. Pasar yang mulanya lebih dikenal sebagai tempat yang serba becek, basah, panas, kotor, bau, namun berbeda keadaan dengan pasar modern yang tengah kukunjungi ini. Di sini semuanya serba bersih, tempatnya adem, banyak kipas, tak ada genangan air, lantainya bukan dari tanah melainkan dari keramik, sering disapu, sering dipel, ada cleaning service-nya.
“Mar … Ayo, Nak! Eh … maaf, maaf, saya salah orang. Saya kira ini tangan cucu saya. Sekali lagi, maaf, ya!” Aku segera berlari ke arah nenek, terlihat dari kejauhan beliau salah orang. Nenek menarik tangan seorang laki-laki muda yang sedang berdiri persis di belakangnya.
“Nenek …!” Beliau terlihat panik, dan kaget begitu terdengar suaraku tengah memanggilnya.
“Aih … Marlin, ke mana saja kau, Nak? Nenek sudah takut saja kau hilang entah ke mana.”
“Maaf, Nek! Aku tadi duduk di situ.” Aku menunjuk deretan anak tangga di sudut pasar.
“Lain kali bilang dulu, Mar! Ya sudah, yuk kita pulang sekarang. Permisi, ya, Mas!” Nenek segera menarik tanganku dan mengajakku pulang. Namun laki-laki muda yang nenek sempat salah kira hingga menarik tangannya, yang sedari tadi berdiri di sebelah kami, menatap wajahku cukup lama, dan aku sempat melihat wajahnya beberapa detik. Seperti pernah melihatnya, batinku.
Aku dan nenek pulang dengan menaiki bajaj berwarna oranye. Abangnya berkata pada kami bahwa menjelang hari raya harga bahan-bahan makanan cenderung naik, hingga ia harus bekerja lebih lama seminggu belakangan ini.
“Susah, Bu! Harga pada naik, tau sendiri bentar lagi lebaran. Jadi saya harus narik bajaj dari subuh sampe jam 11 malem.” Abang bajaj berkata dengan suaranya yang terdengar naik turun karena beradu dengan suara kendaraan yang tengah ia bawa.
“Oh, begitu, ya, Bang?”
“Iya, Bu! Mana anak saya masih nunggak bayaran sekolahnya. Aduh, pusing, deh. Belom lagi minta beli buku sekolah. Untung anak saya baru satu, pinter sekolahnya, kalau males mah saya makin pusing!” Si abang bajaj terdengar mengeluh sepanjang perjalanan pulang. Aku dan nenek hanya terdiam di jok belakang, sambil melihat pemandangan.
“Bang, berhenti di depan gapura itu, ya!”
“Yang sebelah kiri, Bu?”
“Iya, betul! Nah … iya, di sini aja, Bang!” Abang bajaj memberhentikan kendaraannya tepat di depan gapura perumahan kami. Nenek memberikannya sedikit uang lebih, dan si abang sambut dengan senyum lebar serta ucapan terima kasih.
Di muka rumah, kakek rupanya telah menunggu kehadiran kami. Beliau segera membantu membawa beragam rupa barang belanjaan nenek di pasar tadi.
***
“Siapa yang bisa mengerjakan soal matematika di papan tulis?” Ibunda Guru Safira bertanya pada kami para murid sambil menengok kanan kiri, di tangan kanannya beliau menggenggam sebuah spidol hitam.
“Nggak ada yang mau jawab, nih? Kok pada diem semua?” Kami seisi kelas hanya terdiam, saling tatap, kemudian menunduk.
“Saya, Bu!” Seorang anak perempuan kecil, berbadan amat kurus, berkulit gelap kemerahan, rambut juga agak kemerahan, mungkin karena seringnya ia terpanggang di bawah sinar matahari.
“Oke, Nurani. Ayo, sini. Maju ke depan kelas!” Ibunda guru mempersilahkannya untuk menjawab. Seisi kelas menatapnya dengan serius.
Diambilnya spidol hitam dari genggaman ibunda guru, maju ia ke hadapan papan tulis. Sambil berjinjit dengan kakinya yang kecil dan kurus-kurus, ia menarik sebuah garis demi garis, pelan perlahan namun pasti. Hanya dalam waktu 1 menit, sebuah soal mengenai bilangan pecahan telah diselesaikannya dengan sempurna.
“Sudah, Nurani?”
“Sudah, Bu!” Jawab anak itu dengan sangat yakin, kemudia ia kembali ke tempat duduknya.
“Anak-anak, jawaban dari teman kalian ini benar! Nurani, kamu dapat nilai 100! Yang lain kenapa diem aja? Kalau masih belum ngerti, coba tanya sama ibu guru, ya!”
“Iya …, Bu …!” Seisi kelas menjawab dengan kompak.
Ibunda Guru Safira kembali menerangkan tentang materi berikutnya. Beliau terlihat serius menjelaskan pada kami mengenai sebuah materi baru. Saat kami sedang asyik-asyiknya belajar dan memperhatikan beliau, terdengar sebuah suara dari pojok kelas.
“Bu, kita kapan pulangnya, sih?! Saya udah bosen, nih!” Seorang anak laki-laki kecil berbaju berantakan, kemeja putihnya tak pernah mau ia masukkan ke dalam celana merahnya, tak pernah mau pakai dasi, rambutnya berantakan, kaus kakinya yang dipakai itu-itu saja, hingga aroma tak sedap tercium dari jarak 3 meter.
Seisi kelas terdiam, tak berani pula menatap anak laki-laki kecil itu terlalu lama. Dialah si pembuat onar dalam kelas, jagoan neon, pemberontak, pembangkang, dan ia menyebut dirinya sendiri: Si Ayam Jago.
Walaupun kami baru kelas 3 SD, tapi kawan sekelas kami Si Ayam Jago itu sudah sangat sering membuat onar, banyak sekali kasusnya, bahkan tahun lalu ia tak naik kelas, harusnya saat ini ia sudah berada di kelas 4. Mau tertawa rasanya ketika melihat sebuah kebrutalan, kebodohan, dan ketololan pada dirinya bersatu padu. Si Ayam Jago merasa bangga, namun aku merasa miris. Baru 3 bulan aku pindah ke Kota Jakarta ini, pindah ke Sekolah Negeri ini, tapi kutengok tingkah lakunya lebih udik dari pada orang udik.
Aku masih ingat betul saat awal aku tiba di kelas ini. Di muka kelas aku tengah memperkenalkan diri sebagai siswi baru, saat seisi kelas maju ke muka kelas memperkenalkan diri padaku, bersalaman, berganti-gantian. Dan secara tiba-tiba, sekonyong-konyong, Si Ayam Jago maju ke hadapanku mendahului barisan kawan yang lain, digenggamnya tanganku kuat-kuat, aku sebutkan namaku, ia sebutkan namanya, disitu aku mulai merasakan sesuatu yang lengket dan basah di telapak tangan kananku, aku terdiam. Si Ayam Jago seketika tertawa puas dan berlari duduk kembali ke tempat duduknya di pojok kelas, di kursi paling belakang, seorang diri.
“Mar, kamu nggak apa-apa, Nak?” Ibunda guru bertanya padaku ketika itu.
“Nggak apa-apa, kok, Bu.” Aku menjawab santai, seolah semua baik-baik saja.
Kemudian aku dipersilahkan duduk di sebuah kursi kosong, dan hanya itu satu-satunya kursi yang masih kosong di kelas itu. Dan ketika aku telah duduk, rokku terasa lengket, kutengok ke bagian belakang rokku, ternyata ada permen karet berwarna merah muda tengah menempel kuat, tak mampu kulepaskan dari rokku. Permen karet yang sama persis dengan yang Si Ayam Jago tempelkan di telapak tanganku barusan. Aku hanya terdiam, namun hatiku kesal bukan main. Tak kan kulupa perbuatanmu, wahai kau Si Ayam Jago!
***
Hari ini aku sangat semangat untuk pergi ke sekolah, pasalnya meski hari ini adalah hari Rabu, namun di kegiatan belajar mengajar di sekolah akan ditiadakan untuk sementara waktu selama sehari penuh. Aku senang bukan kepalang, karena kabarnya nanti para siswa akan dibagikan bingkisan yang berisi makanan ringan.
“Mar, kenapa wajahmu senang sekali nampaknya?” Kakek bertanya padaku saat hendak mengantarku ke sekolah.
“Hehehe … tak mengapa, Kek. Aku hanya sedikit senang, karena nanti di sekolah aku tak perlu belajar.” Aku tertawa kecil sambil menatap pemandangan di depanku melalui jendela mobil.
“Jadi kau senang karena tak belajar?”
“Ih … bukan, Kek. Tapi, ya aku hanya merasa senang aja.” Aku masih menatap pemandangan di depanku.
“Oke, oke, tapi nanti di sekolah jangan menangis, ya! Kalau kau tak menangis, kau akan kakek berikan hadiah.”
“Tentu, Kek. Lagi pula untuk apa aku menangis?” Aku menatap ke arah beliau. Namun kakek tak menjawab dan hanya tersenyum kecil sembari menyetir.
“Aih … sudah sampai, Marlin! Kamu mau kakek antarkan sampai ke kelas? Atau mau kakek tunggu di luar kelas?”
“Hah? Untuk apa, Kek? Aku, kan, bukan anak kecil lagi. Tak perlu lah ditunggu di muka kelas.” Aku sebetulnya agak heran dengan pertanyaan kakek.
“Ya sudah, kalau begitu kakek pamit pulang duluan, ya!”
“Tentu, Kek!”
“Ingat, ya, jangan menangis! Oke?!” Kakek terlihat menggoda ku.
“Tentu, tentu, tentu, Kek! Dadadadah, Kakek!” Ucapku sembari melambaikan tangan, dan beliau mulai melajukan mobilnya.
Seperti biasa, aku masuk ke dalam sekolah dan berjalan menuju kelasku. Dari kejauhan aku melihat beberapa orang tua kawan-kawanku tengah berdiri di muka kelas, ada juga yang sambil terduduk di kursi panjang yang terdapat di koridor sekolah. Aku menangkap sesuatu yang tak beres, namun aku tetap masuk ke dalam kelas.
Aku terduduk dalam kelas sambil mengobrol bersama beberapa kawanku. Kami membicarakan tentang serial kartun jepang yang biasa kami saksikan di layar televisi di rumah masing-masing setiap hari Minggu pagi.
“Aku nggak suka Conan, ah. Dia masih anak kecil, tapi sok tahu!” Kata salah seorang kawanku yang bermata sipit.
“Iya, aku juga nggak suka, Conan kurang ganteng!” Kata kawanku yang satunya lagi yang bermata bulat macam orang india.
“Tapi nggak juga, ah. Gantengan Shinchan lah, tetep!” Timpal kawanku yang duduknya persis di sebelah mejaku.
“Tapi Shinchan kata mama aku, tuh, nggak bener, tau!” Si mata sipit menimpali.
Aku hanya terdiam mendengar obrolan anak gadis yang rata-rata masih berusia di bawah 9 tahun ini, dan aku yang paling muda di sini, masih 7 tahun. Para gadis kecil yang belum akil balig secara semena-mena menyebut tokoh kartun yang mereka tonton itu kurang tampan, padahal aku sangat yakin sesungguhnya mereka juga tak paham apalah arti tampan yang sebenarnya.
“Anak-anak, udah dulu, yuk, ngobrolnya!” Ibunda Guru Safira masuk ke dalam kelas, seketika para murid segera memperbaiki posisi duduknya, terduduk diam, terduduk manis.
Tak lama beberapa orang dewasa berjas putih-putih masuk ke dalam kelas kami. Aku mulai merasa ada yang tak beres, aku tengah mengingat-ingat sesuatu, barangkali ada pengumuman yang aku lupakan dari ibunda guru tempo hari. Setelah aku berusaha mengingatnya, aku pun terduduk lemas, pasrah.
“Hai, selamat pagi adek-adek semuanya! Gimana kabar kalian hari ini?” Seorang dokter laki-laki muda mengucapkan salam pada kami dengan wajah gembira, dan senyum yang mempesona.
“Selamat pagi …!” Murid seisi kelas menjawab serentak.
“Perkenalkan nama saya Dokter Irwan, dan saya ditemani oleh 2 orang rekan saya, Dokter Aria, dan Dokter Ria.”
“Hai, Adek-adek semuanya, saya Dokter Irwan.”
“Hai, saya Dokter Ria.” Dua rekannya memperkenalkan diri di muka kelas.
Selepas mengucapkan salam, para dokter muda itu segera membuka sebuah tas besar, bentuknya kotak, jika dilihat secara seksama sepertinya itu mirip dengan tempat penyimpanan untuk minuman dingin. Mereka mengeluarkan berbagai alat rumah sakit, dan tengah bersiap melakukan sesuatu yang aku pun tak paham.
“Adek-adek, kalian harus tetap tenang, ya! Jangan nangis, kakak pastikan ini sama sekali nggak sakit, kok. Rasanya cuma kayak digigit semut!” Dokter Ria menjelaskan dengan lembut sambil tersenyum. Wajah cantiknya, dan kawat gigi yang memagari gigi-gigi putihnya satu persatu harusnya menambah manis senyumnya, namun entah mengapa bagi kami seisi kelas, senyuman manis dari Dokter Ria mengandung berjuta makna yang cukup mengancam.
Rasanya cuma kayak digigit semut! Rasanya cuma kayak digigit semut! Rasanya cuma kayak digigit semut! Entah mengapa kata-kata itu berulang-ulang berputar di kepalaku. Makin kuingat kata-kata itu, makin kuingat senyuman Dokter Ria, makin ingin rasanya aku membenamkan diri di bawah meja kayu, berharap para dokter muda itu tak mampu melihatku sama sekali.
“Ayo, absen selanjutnya, ya! Budi … ayo, yang namanya Budi, mana? Ayo, Dek, siap-siap, ya.” Kawanku Budi terlihat diam seribu bahasa, mulutnya terkunci, terduduk lemas, tak berdaya, pasrah, pucat pasi.
“Ayo, Budi. Iya, nggak apa-apa, kok, sayang. Iya, sayang, nggak sakit, kok. Iya, ayo dibuka dulu lengannya, sayang!” Entah seperti apa rasanya menjadi Budi, disapa dengan panggilan sayang oleh Dokter Ria yang cantik rupawan, namun disaat bersamaan pula harus merasakan pahit dan getirnya ketika lengan kirinya digigit semut oleh dokter cantik itu. Aih … miris!
“Tuh, kan …. Nggak apa-apa, kan, Budi? Tuh …, Adek-adek, lihat temen kalian, Budi nggak nangis, kok, abis digigit semut.” Dokter Ria tersenyum lagi, ia memang benar-benar wanita provokator. Padahal jika kutengok wajah Budi terlihat makin menyedihkan, pucat, lemas, tatapan matanya kosong, macam orang kalah judi di terminal.
“Ya, selanjutnya …. Hmmm … uhhh ….” Dokter Ria terlihat membulak-balikkan kertas absen yang ia pegang.
“Gimana kalau absennya saya acak aja, ya! Jadi biar adil. Oke, jadi selanjutnya adalah ….” Sungguh Dokter Ria adalah contoh orang yang tak patut dijadikan sebagai pemimpin. Belum apa-apa, tanpa rapat terlebih dahulu, tanpa diskusi, tanpa pikir panjang, tanpa debat kusir, dan tanpa terlebih dahulu bertanya pendapat kami maupun para rekannya, ia langsung saja ambil keputusan seenak jidat. Sangat keterlaluan.
“Selanjutnya adalah … Marlinda Aisyah! Yang namanya Marlin, mana? Yang mana? Di mana duduknya? Marlinda? Marlinda Aisyah?” Dokter Ria menengok kanan kiri, terlihat kebingungan.
“Marlinda?!” Aku terdiam dan merasa malu begitu Dokter Ria memergokiku di bawah meja. Aku nyengir begitu menatap matanya, dan segera berdiri dari bawah meja. Seisi kelas menatapku, wajah mereka seperti ingin tertawa, namun takut juga karena tengah menunggu giliran menjadi korban berikutnya dari Dokter Ria.
Kukepalkan tanganku sendiri kuat-kuat, kurapalkan berbagai doa-doa, mulai dari doa makan, doa hendak tidur, doa hendak mandi, doa hendak pergi, doa hendak belajar, doa hendak bercermin, doa hendak menghadapi anak buah jin ifrit, doa hendak berdoa, kurapalkan juga berbagai ayat-ayat suci, ayat kursi, Surat Al-Ikhlas k****a 3 kali, Surat Al-Falaq 3 kali, Surat An-Nas 3 kali, lalu ingin sekali rasanya kuhembuskan depan wajahnya.
“Iya, Marlin. Siap, ya? Tarik napas …, iya …. Nah! Tuh, lihat, kan, nggak sakit?!”
Begitu Dokter Ria berkata, tuh, lihat, kan, nggak sakit?! Rasanya ingin kutusuk matanya dengan jarum dalam suntikan itu! Kesal kali rasanya!
“Oke, kita lanjut, ya! Saya panggilin lagi, nih, namanya. Uhhh … hmmm ….” Mata Dokter Ria terlihat mencari-cari. Kini ia tak lagi mencari korban dengan memanggil melalui kertas absen, tapi langsung tengok kanan kiri, dan menunjuk siapa murid selanjutnya yang cocok jadi kelinci percobaannya pagi itu.
“Kamu!” Telunjuk Dokter Ria menari-nari ke arah wajah seorang murid.
Awalnya wajah murid itu terlihat santai, namun begitu pasukan dokter berani mati itu berjalan ke arahnya, kemudian mendekatinya, semakin lama semakin dekat, semakin dekat dan dekat. Ketika jarak diantara mereka tinggal 2 meter lagi, tanpa diduga, tanpa diprediksi sebelumnya, si murid langsung beranjak dari tempat duduknya, berlari tunggang langgang keluar kelas, berlari secepat atlet marathon, persis seperti sedang dikejar genderuwo.
Murid-murid seisi kelas tertawa terpingkal-pingkal, termasuk aku, meski lengan kiriku sakit bukan main, namun tak akan kulewatkan tontonan gratis, menghibur, dan mendidik macam begini.
Petugas keamanan sekolah yang tengah melihat kejadian itu dari jarak jauh, segera mengambil tindakan, ditutupnya segera gerbang sekolah agar murid yang kabur itu tak mampu keluar dari lingkungan sekolah. Para orang tua murid yang semula teduduk tenang di koridor sekolah, kini ikut tertawa melihat tingkah laku anak itu.
Pasukan dokter berani mati itu tercengang dan panik bukan buatan, berusaha mengajar namun gagal, ibunda guru juga berusaha mengejar dan memanggil-manggil nama murid itu, jadi kasihan aku melihat mereka.
“HEI, KE SINI KAMU …!” Seorang bapak terlihat memanggil murid itu, dan seketika murid laki-laki itu menghentikan laju kakinya, terdiam, berusaha mengatur napasnya yang sudah mulai pendek-pendek. Jika dilihat dari wajahnya, agak mirip dengan wajah si murid.
“Kamu kenapa lari?! Ayo, masuk lagi ke dalam kelas! Papa kan udah bilang sama kamu─” Ternyata bapak itu adalah ayah dari murid laki-laki itu, ayah dari Si Ayam Jago.
Akhirnya Si Ayam Jago segera kembali lagi ke dalam kelas, proses imunisasi melalui jarum suntik pun berjalan lancar. Semua murid bersorak sorai ketika para dokter membagikan bingkisan pada kami.
Mulai dari sanalah, aku dan kawan-kawan sekelasku jadi punya s*****a untuk menghina dina Si Ayam Jago, si usil, si jagoan yang tak berotak dan tak bernyali itu. Puas rasanya.