Ayam Jago (2)

1355 Kata
    “Nur, lo kerjain, ye, PR matematika punya gue! Awas kalau sampe besok lo malah nggak masuk!” Si Ayam Jago ternyata berulah lagi. Tak henti-henti ia berbuat onar dalam kelas. Kutengok dari jauh si Nurani meneteskan air matanya, dan menuruti permintaan Si Ayam Jago.     Tak sekali itu saja kulihat ia bersikap seenaknya pada Nurani, tapi juga berkali-kali, dan tak ada yang membel, karena semua juga merasa takut pada Ayam Jago. Tak tega aku melihatnya, kadang aku mengajak Nurani mengobrol saat jam istirahat, mengajaknya berbincang dari hati ke hati, dari mata ke mata, dari nasib ke nasib.     “Nur, kamu mau istirahat ke mana?” Tanyaku padanya disuatu siang.     “Aku … aku … aku di kelas aja, kok. Mau ngerjain PR.” Ia terlihat kaget begitu melihatku menghampirinya.     “Nur, kamu mau ngerjain PR apa? Bareng aja, yuk! Aku bantu, kok.” Aku berusaha ramah agar ia mau berbicang denganku.     “Hmmm … hmmm … begitu, ya. Yaudah.” Jawabnya agak meragukanku.     Mulai dari situ kami pun berbincang-bincang tentang banyak hal, salah satunya adalah mengenai keluarga. Aku bercerita mengenai diriku yang baru 5 bulan lalu ditinggal mati oleh ayahanda dan ibundanya, karena gelombang tsunami menerpa kampung halaman sekaligus tempat tinggal kami.     “Jadi kamu anak yatim piatu, ya?” Tanya Nurani padaku.     “Iya. Aku sekarang tinggal sama kakek dan nenek di Jakarta ini."     “Oh, begitu, ya.” Jawabnya singkat.     Nurani juga menceritakan tentang dirinya yang merupakan anak tunggal, keluarganya serba kekurangan, ayahnya hanya pengemudi bajaj, sering kali kurang untuk menyambung hidup. Maka itu ia rajin belajar, agar bisa dapat beasiswa hingga kuliah, agar bisa mengubah nasib keluarganya. Ayah Si Ayam Jago ternyata adalah juragan bajaj yang ayahnya kemudikan, sering keluarganya berhutang pada juragannya itu, oleh sebab itu Nurani jadi merasa tak enak dan menurut saja jika Si Ayam Jago menyuruhnya ini itu.     “Nur, tapi kamu kan bisa menolak jika Si Ayam Layu itu nyuruh kamu ngerjain PR.” Ungkapku padanya suatu hari.     “Udah pernah, sih, aku tolak. Tapi dia malah ngancem.”     “Ngancem apa?!” Aku setengah kaget mendengarnya.     “Katanya … katanya … katanya dia mau bilang ke temen-temen kalau ayah aku suka ngutang sama ayahnya dia. Aku, kan, malu nanti.” Ucapnya sambil menunduk.     Aku jadi memikirkan sesuatu, betapa buruknya tingkah laku Si Ayam Layu itu rupanya. Geram aku melihatnya. Pasalnya, tak hanya pada Nurani, atau padaku saja dia bisa berbuat semena-mena begitu, tapi juga pada kawan-kawan kelas kami yang lainnya. ***       Kabar berhembus bahwa Si Ayam Layu itu terlibat dalam tindak k*******n antar pelajar, alias tawuran. Ia bergabung dalam tawuran bersama sekelompok anak SMP yang menyebut dirinya: Jagoan Neon.     “Mar, kakek baca di koran Kompor, kawan sekelasmu ada yang terlibat tawuran, ya?” Tanya kakek pada suatu pagi, persis sebelum aku berangkat sekolah.     “Hah, dari mana kakek tau?”     “Tak perlu kautahu, Mar, kakek tahu dari mana. Yang jelas, kau jangan sekali-kali terlibat di dalamnya, ya!” Ucapan kakek sungguh membuatku kaget.     “Tentu tak mungkin aku ikut, Kek.”     “Abang ada-ada saja, tak mungkinlah cucu kita yang masih kelas 4 SD ini malah ikutan tawuran!” Nenek datang dari arah dapur dan segera membelaku.     “Iya, iya, iya. Aku, kan, hanya khawatir. Tak salah, kan?” Kakek membela diri.     Tak lama setelah itu, kakek pun segera mengantarku ke sekolah. Di dalam mobil aku hanya terdiam, tak dapat ku berkata-kata lagi. Tak habis pikir aku mengenai Geng Jagoan Neon yang tengah viral itu.     Setibanya di sekolah, aku segera melangkah keluar mobil, mencium punggung tangan kakek, dan bergegas menuju kelas.     Di dalam kelas ternyata sudah heboh berita mengenai Geng Jagoan Neon. Seisi kelas bergunjing, sepuas-puasnya membicarakan soal Si Ayam Layu yang sempat masuk ke kantor Polisi.     “Anak-anak, udah dulu ngegosipnya! Ayo, sekarang waktunya kita buat belajar, ya!” Ibunda Guru Safira masuk ke dalam kelas, dan segera memulai pelajaran pagi itu.     Jujur saja sebagai anak kelas 4 SD, sesungguhnya kami tak paham betul mengenai duduk perkaranya. Yang kami tahu hanyalah Si Ayam Layu itu ikut tawuran, lalu mendekap di kantor Polisi selama semalam suntuk. Dan aku malah bertanya-tanya dalam hati, bagaimana rasanya bermalam di kantor Polisi, ya? ***       Sekumpulan siswa laki-laki berseragam SMP putih biru, tengah berkumpul di sebuah kebun tak terurus yang luas dan sepi. Tak ada warga sekitar yang melihat maupun curiga pada mereka, karena memang tak ada warga di sekitar sana. Hanya ada rumput liar dan padang ilalang yang tumbuh meramaikan kebun itu.     “Lu udah siapin apa aja, nih?” Tanya anak laki-laki yang berbadan kurus tak terurus.     “Gue udah bawa parang! Gaul, kan, gue?” Jawab anak laki-laki yang merasa dirinya paling gaul.     “Kalau gue, sih, cuma ada kepala gesper, nih!” Seorang anak laki-laki yang berbadan gempal berusaha berkata dengan rendah hati.     “Wow … wow …! Gila, gila, gila, apaan, nih? Kepala gesper, kok, segede kepala uler?” Beberapa kawannya menimpali.     “Idih, kepala gesper begini doang, sih, gua juga punya! Mereknya Versace pula! Eh, kalau lu bawa apaan, Bro?” Tanya seorang anak yang terdengar sok asyik, tapi malah terdengar begitu norak.     “Gue bawa─” Jawaban yang hendak meluncur dari mulut seorang anak laki-laki berambut ikal secara seketika tertahan begitu saja. Karena kini yang tengah mereka lihat, adalah segerombol anak SD berbaju putih merah, telah tiba di kebun itu, di depan pelupuk mata mereka saat ini.     “Wah … gila, lawan kita hari ini anak SD? Yakin?”     “Duh, Cin, kok nggak ada yang kasih tau schedule kita, sih, hari ini harus lawan siapa?” Seorang anak laki-laki yang terlihat agak ngondek merasa panik.     “Wooow …! Gimana, nih?!”     “Eh, iya, gimana, nih?!”     “Ih, parah asli!” Geng Jagoan Neon itu terlihat panik, tak tahu apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.     “Lu semua kenapa, sih, jadi panik gini? Tenang … tenang … tenang …. Kan ada gue, Si Ayam Jago!” Anak laki-laki itu maju ke depan, meski dengan seragam putih merahnya, anak SD itu terlihat begitu percaya diri. Sebuah gear motor yang besar dan banyak terlihat di ujung rantai yang tengah ia bawa di tangan kanannya. Seketika semua kawan-kawannya bertepuk tangan, bersorak sorai, bergembira semua.     Saat semua kebanggaan dan kegembiraan itu terlukis di wajah para anggota Geng Jagoan Neon, tak lama muncullah pemimpin tawuran dari geng lawan. Pemimpin tawuran itu menamakan dirinya sebagai: Geng Petasan Banting.    “HEH, KALIAN SEMUA PARA LAKI-LAKI BURUK RUPA!!!” Pemimpin Geng Petasan Banting mulai memberikan kata sambutannya.     “KALAU LU, LU, LU, DAN LU SEMUA NGAKU BAHWA KALIAN ADALAH LAKI-LAKI JANTAN, HADAPI GUE, SEKARANG!!!” Tepuk tangan bertalu-talu tak keruan, menggambarkan seolah pemimpin itu adalah tipe pemimpin berkharisma yang mampu dijadikan contoh oleh para anggotanya.     Tanpa ragu, tanpa jeda, tanpa ambil tempo, setelah pemimpin lawan berkata demikian, Si Ayam Jago langsung maju ke hadapannya. Semakin maju, semakin dekat, dan semakin nampak siapa sosok di balik pemimpin Geng Petasan Banting.     “A … a … am … ampun!!! Gue minta maaf, ya! Gue nggak berani! Serius!” Si Ayam Jago segera bertekuk lutut di hadapanku.     Betapa puasnya aku akhirnya bisa menjadi pemimpin tawuran dan melawan si Arian, Si Ayam Layu itu yang selama ini amat kubenci.     “KAU BUANG GEAR MOTOR DI TANGANMU ITU JAUH-JAUH!!!” Kuancam dia, seketika ia langsung menurut.     Saat gear motor itu telah ia buang jauh-jauh, kusuruh semua anggota Geng Jagoan Neon untuk pulang ke rumah masing-masing, dan tanpa basa-basi mereka semua lekas beranjak pulang. Kini, tinggallah si Arian bersama dengan anggota gengku.    Tanpa basa basi, tanpa pikir panjang, tanpa ragu, tanpa ba bi bu, dengan kekuatan penuh, dengan keyakinan matang, kami segera menghabisi Arian dengan rasa napsu yang teramat tinggi.     “PASUKAN, SEMUANYA … SERBU …!!!” Begitu aba-aba dariku terdengar, secara membabi buta kami menghajarnya dengan bantal-bantal, guling-guling yang lucu dan berwarna merah muda, ada yang berbentuk hati, berbentuk boneka Annabelle, hingga berbentuk boneka Chunky.     “IYAAA …!!! SERBU SEMUANYA, SERBU …!!!”     “Hei, Marlin, kenapa kau? Ayo cepat bangun! Sudah jam berapa ini, hah?! Kau masuk kerja jam berapa hari ini?!” Suara kakek membangunkanku, aku segera membuka mata, terduduk, berusaha mengambil napas pelan-pelan, dan segera beranjak menuju kamar mandi.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN