Seorang pemuda tanggung berseragam SMA putih abu-abu terlihat tengah berdiri di depan sebuah toko yang sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya. Toko itu terletak di dalam sebuah pasar yang kumuh dan berusia cukup tua, mungkin saja pasar itu sudah berdiri dari sejak zaman kependudukan bangsa Belanda di Ibu Kota tercinta ini.
Mata pemuda tanggung itu nampak sedang mencari-cari, bola mata hitamnya menggelinding ke sana kemari, entah apa yang ia cari. Sesekali ia menengok ke arah jam tangan kulit yang ia kenakan, sepertinya ia sedang menunggu sesuatu.
“Sssttt ... sssttt ... sssttt ...!” Sebuah suara terdengar yang entah dari mana datangnya. Pemuda tanggung itu menengok ke kanan, ke kiri, depan, belakang. Jantungnya berdegup lebih cepat, khawatir ia, entah apa yang sebetulnya ia sembunyikan.
“AH!” Sesosok laki-laki dewasa dengan perawakan tinggi besar, bahkan tingginya mencapai langit-langit pasar, secara mengagetkan membekap mulut pemuda tanggung itu, dan ia hampir saja berteriak karena kaget bukan main.
“Sssttt ...! Jangan berisik!” Laki-laki dewasa itu berbisik padanya. Begitu si pemuda tanggung paham maksudnya, laki-laki dewasa itu segera membuka bekapan tangannya di mulut pemuda itu.
“Yeee ... lu ternyata! Gue kirain siape.” Ternyata si pemuda kenal betul dengan laki-laki dewasa itu.
“Udeh, kaga useh banyak cincong lu! Nih, ambil! Gue cabut dulu!” Laki-laki itu memberikan sebuah kotak yang telah dibungkus rapih oleh plastik hitam.
“Sip, bos! Makasih, ye!” Ucap si pemuda tanggung, sambil memperhatikan laki-laki itu berlalu dari pandangannya.
“Aduh ... untung nggak ketauan ....” Si pemuda tanggung menghela napas panjang, seketika hatinya merasa lega.
Pemuda tanggung itu pun segera pergi dari dari pasar kumuh itu, melewati toko demi toko yang telah lama kosong, melewati lorong demi lorong tanpa sinar lampu, hanya secercah sinar matahari masuk yang menerangi langkahnya.
Setelah menuruni anak tangga yang cukup banyak, ia segera berjalan ke arah di mana ia memarkir motornya. Sebuah motor Vespa kuning tengah terparkir di depan sebuah toko mainan anak-anak. Ketika pemuda tanggung itu hendak menyalakan mesin motornya, matanya tertarik dengan barang-barang yang ada di toko mainan itu.
“Koh, boneka lumba-lumba yang di depan etalase harganya berapa?” Tanya pemuda itu pada pemilik toko.
“Hah, yang mana? Haiya ... oh, yang itu. Itu sih harganya cuma lima puluh ribu aja, Bang!” Pemilik toko berkata dengan aksen mandarinnya.
“Mahal banget, Koh. Nggak bisa kurang, nih?”
“Haiya ... lu orang emang mau nawar berapa?”
“Hmmm ... tiga puluh ribu, gimana, Koh?” Pemuda tanggung itu menawar dengan ragu.
“Haiya ... haiya ... haiya ....” Pemilik toko berkaus k****g putih, bercelana panjang, bermata sipit, dan dengan perut yang banyak dilapisi oleh lapisan tektonik itu memperhatikan pakaian si pemuda tanggung dari atas sampai bawah. Lalu ia terdiam.
“Koh? Koh? Kok diem?”
“Haiya ... ya udah, deh. Owe kasih khusus buat lu orang, ambillah tiga puluh ribu! Ling Ling ... Ling! Bungkusin itu boneka lumba-lumba yang dietalase buat ini anak!”
“Makasih, ya, Koh!” Pemuda itu tersenyum girang sampai gigi kuningnya terlihat jelas berderet-deret.
Setelah proses transaksi selesai, pemuda tanggung itu menyalakan kembali mesin motor Vespa-nya, kemudian ia bergegas pulang dengan hati yang riang.
***
Pemuda tanggung itu menghentikan laju motornya saat tiba di depan pagar rumah. Ia masih tersenyum sambil membayangkan boneka lumba-lumba yang tadi telah ia beli dan akan ia berikan pada seseorang di rumah.
“Assalamu’alaikum ...! Mama ... Mama ... Ma?” Tak ada seorang pun yang menjawab. Ia masuk ke dalam rumahnya yang terlihat sangat sepi, tak seperti biasanya.
“MA ... MA? MAMA?! Ada apa ini, Ma?!!!” Pemuda itu terlihat panik bukan buatan.
“Cepet kamu telepon rumah sakit, Nak! Cepet!” Suara sang ibu terdengar bergetar. Pemuda itu pun langsung menuruti apa kata ibunya, dan tak lama mobil ambulans pun tiba di muka rumah.
“Ini, Pak! Di dalam! Masuk ke dalam, Pak!” Pemuda itu berkata dengan panik serta napasnya yang pendek-pendek, dan mengarahkan petugas rumah sakit untuk masuk ke dalam kamar.
Tiga orang petugas rumah sakit segera membawa seorang anak perempuan kecil ke dalam ambulans, kemudian ibu dan pemuda itu pun ikut masuk ke dalamnya.
“Tahan, ya, Nak! Kamu harus bertahan! Di sini ada mama, sayang!” Sang ibu berkata dengan suaranya yang parau dan terisak.
“Dek, ada abang di sini! Kamu pasti kuat!” Pemuda itu sudah mengeluarkan air mata sejak di rumah tadi.
“Nguiiing ... nguiiing ... nguiiing ...!”Suara dari mobil ambulans sudah tiba di muka rumah sakit. Anak perempuan kecil itu segera dikeluarkan dari dalam mobil dan dibawa ke UGD. Sang ibu dan pemuda itu ikut masuk ke dalam.
Seorang dokter jaga di ruang UGD segera memeriksa keadaan gadis kecil itu, diperiksanya detak jantungnya melalui stetoskop, dibukanya kelopak matanya, dipeganginya sekujur tubuhnya. Tak lama gadis kecil itu segera sadar, di tangan kirinya sudah terpasang jarum infus. Gadis kecil itu dirawat di ruangan khusus: Intermediate Care Unit. Di sana terdapat perawat dan dokter yang mengontrolnya 24 jam penuh, tak boleh sembarang orang menjenguknya. Kata dokter gadis kecil itu membutuhkan perawatan khusus, karena kondisinya masih belum stabil.
“Gimana keadaan anak saya, Dok?” Sang ibu terlihat panik.
“Seperti yang sudah-sudah, kondisi jantung anak Ibu memang masih sangat lemah. Sudah seharusnya memang masih dirawat di rumah sakit. Kan bulan lalu saya juga sudah bilang, anak Ibu memang belum diizinkan untuk pulang.”
“Tapi, Dok, suami saya yang minta dan memaksa.”
“Iya, saya juga tau, kok. Sudah, Ibu tenang saja. Kita akan pantau terus perkembangan anak Ibu.” Seiring dengan berlalunya dokter itu, ibu itu pun pingsan di tempat.
“MA? MAMA, BANGUN, MA?!” Si pemuda tanggung itu pun panik. Sejumlah perawat rumah sakit pun membantunya.
***
“Bang, gimana ini? Nyokap pingsan, sekarang lagi dibawa ke UGD. Lu kapan pulang?” Pemuda tanggung itu menelepon kakak tertuanya.
“Ya udah, berdoa aja semoga nyokap nggak apa-apa. Ya, tentu gue nggak mungkin pulang, gue kan bentar lagi ujian, lagian jadwal kuliah gue padet.”
“Mana bokap gue telepon juga nggak ada kabarnya pula! s**t!”
“Ya udah, lu tenang dulu aja. Palingan bokap bentar lagi dateng. Udah dulu, ya, gue mau masuk kelas lagi, nih. Bye!”
“Oke, deh, bye!” Pemuda tanggung itu mematikan teleponnya dengan rasa putus asa. Ia bingung di saat seperti ini tak ada yang bisa diandalkan.
Pemuda itu segera naik ke dalam lift untuk menuju ke ruang rawat adiknya di ruang Intermediate. Ia ingin memantau apakah keadaan adiknya sudah membaik atau belum. Saat ia hendak masuk ke dalam ruang rawat, dari jauh ia melihat dokter dan beberapa perawat terlihat sedang terdiam. Jantung pemuda itu seketika berdegup kencang, takut akan hal yang tak mengenakan terjadi, namun ia tetap melangkah maju, masuk ke dalam ruangan itu. Semakin ia melangkahkan kakinya ke situ, semakin jantungnya berdegup, tak terasa air mata meluncur di sudut matanya, bahunya berguncang hebat, dadanya sesak, tak mampu ia menahan kesedihan seorang diri.
“GISEL ...! GISEL ...! KENAPA KAMU NIGGALIN ABANG?!” Dengan suara yang setengah berteriak ia memanggil-manggil nama gadis kecil itu, berharap keajaiban tiba.
Di depan matanya, ia saksikan gadis kecil kesayangannya, adik tercintanya, sudah terbujur kaku. Dipeganginya seluruh tangan dan kaki gadis itu, sudah dinging rupanya. Tak kuat ia menahan tangis, semakin kencang, semakin terisak, makin sesak. Dokter dan para perawat mengelus bahunya, menenangkannya, berusaha sebisa mungkin agar pemuda tanggung itu tetap kuat, namun tetap saja sekuat apapun ia berusaha, ia tetap tak mampu.
Seorang perawat menutup mayat gadis kecil itu dengan selimut putih, dan pemuda itu langsung terdiam. Sekelebat terngiang dalam ingatannya akan senyum manis adik perempuannya itu, bagaimana ia sangat menginginkan hadiah ulang tahun sebuah boneka lumba-lumba. Namun saat ia hendak memberikan kado itu pada adiknya, adiknya malah sudah tiada, bahkan sebelum ia melihatnya.
Abang, aku mau boneka lumba-lumba, ya. Kata-kata itu masih terus terngiang dalam ingatannya.