Troublemaker (2)

1148 Kata
    Pemuda tanggung itu sudah tiba lagi di pasar kumuh itu. Di bangunan tua itu ia terduduk seorang diri, hendak menenangkan dirinya.     “Sssttt ... sssttt ... sssttt ...!” Suara bisikan yang sudah ia kenal. Kemudian muncul sesosok laki-laki dewasa tengah menghampirinya.     “Eh, Bang.”     “Iya, ini seperti biasa, ya! Gue cabut dulu!” Dan seperti biasanya, laki-laki dewasa itu segera keluar dari pasar kumuh itu.     Pemuda itu memasukkan kotak yang telah dilapisi plastik hitam itu ke dalam tasnya. Ia turun ke lantai dasar, dan menuju ke toko yang menjual berbagai makanan. Ia hendak memesan makanan pada sebuah restoran yang harganya murah meriah.     “Pak, mau pesen makan.”     “Eh, iya, Mas. Ini menunya, silahkan mau pesen apa?” Seorang laki-laki paruh baya memberikannya sebuah menu makanan yang terdapat di restoran itu.     “Hmmm ... yang enak makan apa, ya .... Ini aja, deh, Pak!” Pemuda itu menunjukkan sebuah menu yang bertuliskan: nasi goreng tak seperti biasanya.     “Oke, Mas. Nasi goreng tak seperti biasanya 1 ya? Mohon ditunggu dulu pesanannya!”     Pemuda tanggung itu duduk tepat di depan restoran itu, ia menghadap jalanan. Sembari menunggu makanan yang sedang dimasak, ia memang ingin melihat orang berlalu lalang. Ia sedang butuh waktu untuk sendiri, memikirkan semua masalah yang selama ini terjadi dalam hidupnya.     Saat ia hendak melihat orang-orang yang tengah berlalu lalang di pasar itu, segerombolan Polisi tengah berpatroli di sana. Melihat kehadiran para Polisi itu, pemuda itu pun segera berbalik badan. Ia terlihat khawatir, namun berusaha sebisa mungkin  menutupi wajah dan tubuhnya dengan sweter hitam yang ia kenakan. Polisi itu berjalan lurus dan menjauh dari tempat di mana pemuda itu terduduk. Ia pun lega, dan tak lama makanan pun datang.     Ia menyantap makanan di meja dengan perlahan, kondisi perutnya memang sedang lapar, tetapi suasana hatinya sedang tak enak. Saat ia tengah  menghabiskan makanannya, dan hendak minum, secara tak terduga dan tiba-tiba tangan seseorang dengan kuat tengah menarik pergelangan kanannya. Pemuda itu pun menghentikan minumnya, ditatapnya ke arah pemilik tangan itu.     “Kami Polisi, jangan bergerak!” Rupa-rupanya gerombolan Polisi tadi sudah tiba lagi di depan pelupuk matanya.     “Ss ... ss ... ssaya ... salah ... apa ..., Pak ...?” Pemuda itu terkaget-kaget.     “Kamu ikut kami sekarang ke kantor!” Tanpa perlawanan, pemuda itu pun segera digelandang masuk ke dalam mobil Polisi.     Secepat kilat keadaan berubah dalam hidupnya, entah apa yang berikutnya akan terjadi. Masih sedih dalam hatinya, masih basah tanah kuburan adik tercintanya, namun ia terkena masalah baru lagi. Entah apa yang akan ia sampaikan nanti pada ibunya.     Pemuda itu tiba di kantor Polisi, ia dimasukkan ke dalam sebuah ruangan, dan hendak dimintai keterangan sebagai tersangka.     “Jadi, apa kamu masih nggak mau mengaku juga?” Seorang Polisi berbadan tinggi besar tengah mengintrogasinya.     “Uhhh ... hmmm ....” Pemuda itu berpikir sejenak.     “JADI GIMANA? MASIH NGGAK MAU NGAKU JUGA?! KAMU JANGAN BUANG-BUANG WAKTU SAYA, YA!” Polisi itu mulai emosi dan naik pitam. Suaranya tiba-tiba menggelegar dan mengagetkan siapa pun yang mendengarnya.     Akhirnya setelah 3 jam pemeriksaan oleh anggota Polisi, pemuda tanggung itu pun mengakui semua yang telah ia lakukan. Tanpa perlu dipaksa, tanpa perlu digunduli, tanpa perlu diancam, tanpa perlu diiming-imingi, pemuda itu menyerah juga. Dijabarkannya semua yang ia lakukan secara terang-terangan, secara jujur, secara terbuka, tanpa ada yang ditutup-tutupi.     Pemuda itu harus menginap dalam penjara sampai pengadilan memutuskan hukuman apa yang setimpal untuknya. Ia pun pasrah, tak tahu lagi apa yang harus ia perbuat. Sudah 5 jam ia berada di kantor Polisi itu, dan tak ada seorang pun dari keluarganya menghubunginya apalagi mengunjunginya di sana.     “Iya, Pak. Itu anak saya! Saya sudah membawa pengacara untuk mengurus semuanya, saya yakin anak saya pasti tidak bersalah! Saya akan berikan jaminannya agar anak saya bisa keluar dari sini sekarang juga!” Suara dari seorang laki-laki dewasa yang ia kenal betul suaranya.     “Papa ...?” Gumam pemuda tanggung itu.      Sekitar 2 jam berlalu, dan proses tawar menawar telah usai antara pihak kepolisian dan pengacara dari keluarga si pemuda. Akhirnya pemuda itu pun bisa bebas, dan pulang ke rumah. ***       “Heh, lihat muka papa! Kamu tuh harusnya bersyukur, papa bisa tolongin kamu buat keluar dari kantor Polisi!” Ayah dari pemuda tanggung itu segera melampiaskan emosinya setibanya mereka di rumah.     “Aku nggak pernah, ya, minta ke Papa buat ngebebasin aku!”     “Dasar anak nggak tau diuntung! Heh, kamu lihat sini muka Papa! Sekali lagi kamu berani ngomong git─” Pembicaraan sang ayah terhenti.     “Mas, cukup, Mas! Udah cukup kamu pukul dia!” Rupanya sang ibu datang membelanya, ia terlihat baru saja terbangun dari tidurnya.     “Halah! Udahlah! Kamu nggak perlu belain dia lagi, udah jelas, kok, dia salah!” Sang ayah tetap bersikeras.     “Jangan, Mas! Jangan!”     “Udah! Biar aku didik anak ini! Biar nggak urakan lagi!     “Sini kamu! Ikut papa, sini!” Sang ayah menarik tangan anaknya dengan kuat, namun si anak juga tak kalah kuat mengelak tarikan tangan ayahnya, yang kemudian malah terjadi adegan tarik menarik antara anak beranak itu.     “Nggak mau, Pa!”    “Sini kamu!”     Akhirnya sang ayah berhasil membawa anaknya ke dalam sebuah ruangan yang biasa mereka sebut sebagai gudang. Ayahnya mengikat tangan anaknya dengan sebuah borgol dan mengaitkannya pada sebuah besi panjang yang terdapat di pinggir dinding.     “Lepasin aku, Pa! Papa! Lepasin aku!” Si anak berteriak dari dalam gudang, namun tak ada satu pun yang menolongnya.     Ia terdiam dan terduduk di dalam gudang, menetes air matanya. Teringat ia akan adik perempuannya yang baru saja meninggal beberapa minggu lalu. Ia mengingat satu per satu kejadian yang sejak kecil ayahnya lakukan kepadanya dan kakak laki-lakinya.     Sejak kecil sang ayah memang mendidiknya dengan sangat keras, jika salah sedikit saja ayahnya tak akan tinggal diam. Pernah suatu waktu ia dan kakaknya berencana untuk membolos ketika hendak mengaji, mereka berdua malah pergi ke bioskop untuk menonton film. Sang ayah yang ketika itu sudah lebih dari 2 jam menunggu mereka pulang dari mengaji, merasa khawatir akan keberadaan anaknya. Setelah sang ayah datang ke tempat anaknya mengaji, guru di sana memberi tahu bahwa anaknya hari itu memang tak datang ke sana. Sang ayah menjadi emosi dan naik pitam. Sesampainya di rumah kedua anaknya malah tertawa cekikikan tanpa rasa bersalah sedikit pun. Jadilah kedua anak malang itu menjadi bulan-bulanan ayahnya. Diborgolnya mereka berdua di bawah tangga, semalaman. Kedua anak kecil itu jadi terbiasa berbohong pada ayah dan ibunya agar tidak dihukum atau dimarahi sang ayah. Bahkan ia jadi sering berbohong untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, atau bahkan menutupi kesalahannya.     Sejak kecil si pemuda tanggung dan kakak laki-lakinya memang sering mendapatkan hukuman yang kejam dari sang ayah jika mereka tak mampu menuruti segala aturan dan keinginan dari ayahnya. Jangankan hanya diborgol, ditampar, dihajar, dan diusir pun juga pernah mereka rasakan. Hingga pemuda itu beranjak besar, beranjak remaja, dan terbentuklah sifatnya yang keras, pembangkang, pembuat onar, pembuat masalah, kasar, dan pembohong.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN