Troublemaker (3)

2169 Kata
    Segerombolan anak SMA berseragam putih abu-abu tengah berkumpul di sebuah lapangan yang sepi, yang jauh dari keramaian. Mereka tengah membicarakan sebuah strategi rahasia untuk bersilaturahim dengan siswa SMA lain.     “Bro, nanti hari Rabu begitu pulang dari sekolah, kita langsung aja ambil motor dan ke lapangan yang di belakang.” Ucap salah seorang anak yang di perutnya terdapat lapisan tektonik yang sangat tebal.     “Ya, hari Rabu, kan, emang jadwal kita abis halal bihalal di sekolah! Si cumi, ye!” Timpal kawannya yang rambutnya macam salah satu tokoh kartun Tintin.     “Yaudeh, dah. Gua bawa 2 motor besok!”     “Asli, lu? Jangan ngibul lagi, ye! Basi tau nggak!” Kata seorang anak yang wajahnya tampan macam Ari Wibowo.     “Yaudeh, yaudeh! Iye, iye, iye! Kaga usah ribut lu pada!”     “Jangan lupa bawa pop mie, goengan kacang, sama kopi sachet, ye! Takut laper gue.” Kata si anak berperut lapisan tektonik.     “Makan mulu lu, ye! Udeh, pokoknya hari Rabu, beres semuanya sama gue!” Timpal si pemimpin geng mengakhiri rapat sore itu.     Setelah itu mereka semua pulang ke rumah masing-masing. Sang pemimpin geng sudah memikirkan dari jauh-jauh hari mengenai rencana menarik yang telah ia susun seorang diri, agar pertemuan silaturahim dengan sejumlah siswa SMA lain beberapa hari mendatang bisa berjalan dengan sukses.     Sang pemimpin geng merasa tak sabar, ingin aksinya segera bisa terlaksana dengan mulus, semulus kulit idol k-pop. Ia jadi merasa tak bisa tidur, gelisah, berkali-kali ia mengubah posisi tidurnya, hadap ke kanan, hadap ke kiri, telentang, tengkurap, hingga tidur sambil berdiri. Bahkan ketika ia sudah tertidur pun, ia tetap merasa tak bisa tidur di dalam tidurnya. Aih ... kesal ia bukan main.     Akhirnya saat-saat yang dinantikan pun tiba. Hari itu hari Rabu, matahari bersinar lebih cerah dibanding biasanya, awan-awan berarak beriringan, bunga-bunga menari-nari, burung-burung berkicauan seakan menyambut sang pemimpin geng untuk melancarkan rencana indahnya yang sudah ia susun dan terencana serapih dan seaduhai mungkin.     Sepulangnya ia dan kawan-kawannya dari sekolah, lekaslah mereka pergi menuju lokasi silaturahim dengan menaiki motor masing-masing. Mereka terdiri dari 9 orang anak laki-laki yang tampan rupawan dan menawan. Tak terlampau jauh jarak mereka dengan lokasi yang dituju, hanya sekitar 3 kilometer.     “Asyiiik ...!     “Akhirnya kita sampai juga ...!     “Horeee ...!     “Mantap ...!     “Acara kita pasti sukses ...!     “Tentu ...!     “Gasss ...!”     Suara mereka saling bersahutan bertalu-talu. Mereka memarkirkan motornya pada tempat penitipan motor terdekat dari lokasi silaturahim. Mereka singgah pada sebuah warung kopi yang tak ramai dikunjungi. Sekitar 15 menit mereka berdiskusi di sana mengenai kegiatan yang nanti akan mereka lakukan. Setelah yakin semuanya persiapan telah matang 100%, mereka pun berjalan kaki bersama menuju lokasi itu.     Dari kejauhan mereka sudah dapat melihat kehadiran para siswa dari SMA lawan. Mereka segera ambil ancang-ancang dan siap dengan posisi berlari dengan kecepatan 10 meter per detik.     “HEH! SINI LO PADA! NGAPAIN JAUH AMAT, TAKUT LO? CEMEN!!!” Terdengar suara dari jauh, suara yang berasal dari SMA lawan.     Sang pemuda tanggung yang juga merupakan sang pemimpin geng merasa terbakar emosinya. Ia merasa dilecehkan oleh para laki-laki tak tahu adat itu, ia merasa harga dirinya sebagai pemimpin geng telah dicabik-cabik oleh perkataan salah satu dari mereka barusan. Sang pemimpin geng merasa posisinya sebagai ketua dewan tawuran antar pelajar atau yang biasa mereka singkat dengan KETAPel, merasa terancam. Dan bisa jadi ia akan digantikan posisinya jika terbukti tak kompeten dan tak capable dalam memimpin tawuran pada siang hari itu.     “Temen-temen, ayo sekarang waktunya kita bersatu dan buktiin ke mereka bahwa kita akan menang lagi dalam tawuran hari ini!” Sang pemimpin geng menyebarkan semangat yang bergelora pada anggotanya.     “Tentu!!!” Kompak mereka menjawab.     “JAGOAN NEON! JAGOAN NEON! JAGOAN NEON!!!” Rupa-rupanya sang pemimpin tengah memulai yel-yel gengnya.     “JAGOAN NEON TAK TAK LEKANG MESKI DIHADANG! TAK KAN SIRNA MESKI DIHINA!” Kompaknya mereka bukan main, entah sedang menyanyikan yel-yel, ataukah sedang berpantun dengan rima a a b b.     “SERBUUU ...!!!” Begitu pemimpin geng memberikan aba-aba, para anggota pasukan segera melangkahkan kakinya penuh yakin. Awalnya mereka setengah berlari, kemudian berlari, kemudian berlari cepat, secepat lari babi ngepet yang kena gerebek oleh Pak RT setempat.     “Hajar!!! Hajar!!! Habisin mereka!!! Habisin mereka!!! Pukul kepalanya! Pukul tulang keringnya! Pukul kakinya! Ambil dompetnya!” Sekonyong-konyong berbagai hantaman dari benda tumpul, benda keras, benda tajam, dan benda-benda lainnya menghujani mereka.     Geng Jagoan Neon yang awalnya semangat, berani, tak kenal lelah, tak kenal kalah, yang semula larinya cepat, perlahan jadi lari maraton, kemudian jogging, kemudian lari di tempat, kemudian berbalik arah.     “Lariii ...!!! Kabur ...!!!” Pemimpin Geng Jagoan Neon memberi aba-aba dengan sangat yakin dan tegas. Para anggota geng menuruti perintah, dan dengan sangat kompak berlari berbalik arah dengan cepat, lebih cepat dibanding para waria lampu merah yang kena razia Polisi.     “Jangan sampai kita tertangkap!     “Sembunyi!     “Masuk ke dalam toko!     “Masuk ke dalam gorong-gorong!     “Masuk ke dalam saluran!     “Masuk ke dalam pasar!”     Para anggota geng berlari tunggang langgang, terburu-buru, cepat-cepat, cemas, khawatir, takut akan tertangkap.     “Ni ... nu ... ni ... nu ... ni ... nu ... nguiiing ... nguiiing ... kresek ... kresek ....” Terdengar suara sirine mobil Polisi, yang diakhiri oleh suara nguing nuging karena sirinenya rusak.     Para anggota Polisi segera keluar dari dalam mobil, mengeluarkan s*****a, dan menangkap para anggota tawuran yang masih tersisa di lokasi itu. Ketika Polisi tengah menggiring para anggota tawuran untuk diangkut ke atas mobil bak terbuka, terkaget-kaget mereka oleh sebuah suara tembakan.     “Dooorrr ...! Dooorrr ...! Dooorrr ...!” Sebuah suara tembakan terdengar 3 kali diarahkan ke langit. Sontak semua kaget, terdiam, dan menengok ke arah datangnya suara itu.     “Tangkap dia!” Seorang pemimpin Polisi itu meminta salah seorang anggotanya untuk menangkap orang yang tengah memegang pistol.     Tangan orang itu kaku, gemetar, dan pistol yang ia pegang pun terjatuh di atas tanah. Seorang Polisi segera membekuk orang itu dan memborgol kedua pergelangan tangannya.     “Ikut kami ke kantor sekarang!!!” Polisi itu murka dan membawanya ke dalam mobil.     Semua anggota tawuran yang terlibat berhasil diangkut oleh Polisi dengan mobil bak terbuka, namun khusus untuk si pemuda tanggung yang menjadi pemeran utama dalam bab ini, ia dimasukkan ke dalam mobil Mazda milik Polisi, takut jika ia terlepas begitu saja dari mobil bak terbuka karena nekat melompat.     Setelah semua tiba di kantor, si pemuda tanggung segera diinterogasi secara khusus.     “Kamu lagi, kmau lagi! Capek saya ngadepin kamu! Ga bosen-bosen, ya, kamu?!” Polisi itu murka dan bosan bercampur jadi satu.     “Iya, Pak. Bapak juga nggak bosen gitu nangkep saya terus?”     “Kamu itu, ya! Dikasih tau malah ngelawan!”     “Iya, Pak.”     “Mau kamu saya masukin lagi ke sel?! Mau?!”     “Mau, Pak.”     “Serius kamu?”     “Serius, Pak.”     “Yakin?”     “Yakin, Pak.”     Tanpa perlawanan, tanpa sanggahan, tanpa kalimat aktif maupun pasif, segera dan secepat mungkin Polisi itu segera memasukkannya lagi ke dalam sel. Entah apa yang ada dalam pikiran si pemuda tanggung.     “Anak saya di mana, Pak?” Lagi, lagi, dan lagi, ayah dari pemuda tanggung itu datang lagi ke kantor Polisi untuk mencari anaknya.     “Seperti biasa, Pak. Anak Bapak kami tahan di sel. Dia juga bawa pistol saat tawuran, dan ia juga masih mengonsumsi n*****a, Pak. Kami telah mengeceknya tadi.” Polisi itu menjelaskan.     “Pistol? Pasti pistol saya dia ambil secara sembunyi. Bener-bener itu anak nggak ada kapoknya.”     Sang ayah segera menjenguk anaknya ke dalam sel, dan hendak menebusnya. Namun tanpa disangka si pemuda tanggung malah menolaknya mentah-mentah.     “Kamu mau papa tebus, nggak?”     “Nggak perlu, Pa.” Jawabnya ketus.     “Kenapa?”     “Aku lagi pengen nginep di sini aja. Ganti suasana.” Jawabannya masih ketus.     “Ya sudah, kamu Papa rehab aja, ya!”     “Terserah.” Masih tetap ketus.     Memang aneh anak beranak itu, ayahnya hobi marah-marah, anaknya hobi tawuran, memang benar adanya kata pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Entah apa maunya. ***       Waktu bergulir begitu cepat, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari ke hari, bulan ke bulan, semester ke semester, tahun ke tahun. Namun tak ada yang berubah dari tingkah laku si pemuda tanggung itu yang kini telah menjadi seorang bujang. Adatnya tak kunjung berubah, masih buruk, masih egois, masih kasar. Entah tak mampu berubah atau memang ia yang tak mau berubah.     Dengan arogannya si bujang menjalin kasih dengan perempuan lain ketika telah bertunangan. Tak punya otak, tak punya hati, tak punya malu. Ia umbar berbagai janji pada banyak perempuan. Begitu mudah ia berucap sayang, cinta, ingin membina hubungan. Entahlah apa yang ada di pikirannya, mungkin ia memang bercita-cita ingin menjadi pembina.     “Arian, kapan kita jalan bareng lagi?” Seorang perempuan yang masih abege, terlihat sedang berada dalam mobilnya.     “Kapan pun kamu mau, aku pasti usahain dateng untuk kamu.”     “Kapan pun? Kalau besok lagi, gimana?” Si gadis abege terlihat cukup menantang ucapan dari si bujang.     “Hmmm ....” Si bujang terdiam dan terlihat kebingungan. Ia teringat sudah ada janji terlebih dulu dengan sang tunangan.     “Gimana? Kok kamu diem?”     “Uhhh ... hmmm ... itu ....” Si bujang bingung mencari alasan.     “Jadi kamu nggak bisa?! Barusan aja kamu bilang sendiri kalau kamu bisa kapan aja! Barusan, loh, kamu ngomongnya!” Si gadis abege terlihat murka.     “Eh, i ... i ... iya, sayang. Nanti, ya.” Si bujang wajahnya panik.     “Nanti gimana?! Yaudah, kalau kamu nggak mau, kita putus aja!” Si abege labil melancarkan ancaman mautnya.     “Eh, ya jangan, dong, sayang! Nggak, nggak, aku nggak mau kalau kita berpisah. Aku maunya cuma sama kamu, sampai kapan pun!” Si bujang mulai melancarkan gombalannya.     “Makasih, ya, sayangku! My baby, my sweet heart, i love you!” Si abege mulai terlihat menjijikan.     Di sisi lain si bujang bingung, langkah apa yang seharusnya ia ambil. Sudah satu bulan lebih ia berbohong terus pada tunangannya, berkata bahwa sedang ditugaskan di luar kota, padahal ia sedang bersenang-senang dengan seorang abege labil. Si bujang juga tak mau kalau sampai pernikahannya batal di tengah jalan, takut ia akan malu dengan kawan-kawannya. Pasalnya, seluruh keluarga besar, seluruh kawan-kawannya, kawan semasa TK, kawan semasa SD, kawan semasa SMP, hingga kawan semasa kerja di perusahaan yang lampau-lampau, hingga para tetangga di komplek rumahnya, tetangga di kampungnya, semua sudah tahu bahwa ia akan menikah beberapa hari lagi.     Wajah si bujang palyboy mendekati wajah si abege labil, pelan perlahan namun pasti. Bibir mereka bertemu. Mereka bersenang-senang dan melampiaskan hasratnya.     “Kamu nggak mau nginep aja di kosan aku?”     “Hah? Gimana? Aku nggak salah denger, nih?” Si bujang pura-pura, padahal senang bukan main.     “Iya, kamu dari pada tidur sendirian di kosan kamu, mending tidur di kosan aku aja malam ini, gimana?” Sungguh maut sekali rayuan yang dilancarkan oleh si abege labil.     “Yaudah, yuk. Kita ke kosan kamu sekarang, ya.” Wajah si bujang terlihat kalem, namun siapa sangka tentu saja otak kotornya berjalan liar ke sana kemari.     Sesampainya mereka di kosan si abege, segera mereka terduduk di atas kasur. Awalnya mereka terdiam, kaku, malu, malu-malu tapi mau, mau tapi malu-malu. Entahlah. Hingga akhirnya lampu pun dimatikan, gelap, nyaris tanpa cahaya.     “Kamu, mau?”     “Hmmm ... boleh.”     Akhirnya tanpa basa basi, tanpa pembukaan, tanpa kata pengantar, mereka pun melancarkan aksinya, dengan keyakinan dan degup jantung yang memburu. Detik demi detik, menit demi menit, hingga menit ke 30 tiba.    “Tok ... tok ... tok ...!” Seseorang mengetuk pintu. Mereka berdua terdiam, berpikir, lalu menghentikan kegiatan mereka sementara waktu.     Hanya dalam hitungan detik, pintu kamar mereka telah dibuka secara paksa. Dengan sebuah sinar dari lampu senter, lampu kamar pun dihidupkan.     “Kami dari Kepolisian, kami akan menangkap kalian yang terlibat tindak asusila! Kalian sedang kami gerebek dalam operasi menjelang bulan Ramadhan!” 4 orang Polisi tengah berdiri tegap di depan pintu.     Seorang Polisi wanita terkaget-kaget dengan apa yang tengah ia lihat, hingga ia tutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, sambil setengah berteriak.     “Ka ... ka ... kalian ... homo?!” Arian dan selingkuhannya saling bertatapan, dengan ragu namun harus ia menatap ke arah pedang lawan, pedang selingkuhannya.     Terkaget-kaget mereka semua yang ada di sana. Karena Arian secara mengejutkan ternyata juga tak tahu bahwa selingkuhannya itu merupakan seorang wanita jadi-jadian, alias b*****g, alias banci, alias waria, apapun itu namanya.     Arian merasa malu, semalu malunya. Harga dirinya sebagai laki-laki seketika hancur, luntur, karena telah ternodai oleh laki-laki lain, oleh laki-laki abege labil, oleh laki-laki berumur 18 tahun. Arian merasa jijik dengan dirinya sendiri.     Arian dan selingkuhannya itu digiring ke kantor Polisi. Entah apa yang harus ia katakan nanti pada keluarga besarnya, ia pun lemas, pucat pasi, terdiam, tak berdaya.     Lagi, lagi, lagi, dan lagi, Arian harus ditangkap oleh pihak Kepolisian dengan kasus yang berbeda-beda, tak kapok-kapok ia. Entah masa depan macam apa yang hendak ia bangun. Arian pun termenung selama perjalanan, terdiam, dan berpikir di dalam mobil.     Aku harus beralasan apa untuk membatalkan pernikahanku dengan Marlin?          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN