Puisi

4246 Kata
    “Hei, Marlin, kenapa kau? Ayo cepat bangun! Sudah jam berapa ini, hah?! Kau masuk kerja jam berapa hari ini?!” Suara kakek membangunkanku, aku segera membuka mata, terduduk, berusaha mengambil napas pelan-pelan, dan segera beranjak menuju kamar mandi.     Entah mengapa semalam aku memimpikan si Arian, si laki-laki buruk akhlak yang hobinya membuat masalah, dan sudah menyakiti hatiku hingga hancur berkeping-keping. Di mimpiku semalam, jujur saja aku merasa puas bukan main karena telah berhasil menghajarnya bersama kawan-kawan SD-ku.     Saat di perjalanan menuju tempatku bekerja, di atas bus Trans Jakarta, sambil terduduk melihat pemandangan, aku kembali teringat lagi akan mimpi buruk itu. Kawan, kalau kalian mau tahu, si Arian yang merupakan mantan calon pasangan pengantinku itu, juga merupakan kawan sekelasku sewaktu SD, namun ketika hendak kenaikan kelas ke kelas 5, ia di Drop out karena tanpa sengaja mendorong kawannya ke jurang, hingga kawannya itu dinyatakan meninggal dunia. Arian sangat suka main dorong mendorong, termasuk mendorongku ke dalam lembah kesengsaraan.     Ia memang hobi berkelahi, membuat onar, tapi pengecutnya minta ampun. Entah apa yang membuatku jatuh hati padanya, aku juga tak paham. Entah pakai pelet jenis apa hingga ia mampu membuat hatiku luluh padanya, bisa jadi ia pakai susuk di wajah dan lidahnya, bisa jadi juga ia pakai jaran goyang, bisa jadi juga ia gunakan semar mesem, namun bisa jadi pula ia menggunakan buluh perindu. Ingin terpingkal-pingkal rasanya jika aku sedang melamun dan menebak-nebak pelet jenis apa yang mbah dukun berikan padanya.     Aku bukan sembarang menebak apalagi menuduhnya. Pasalnya, Arian kerap kali dengan mudahnya mampu dekat dengan perempuan manapun yang ia mau, mulai dari perempuan keturunan ningrat sampai kasta paling rendah, perempuan dari kalangan pejabat hingga penjaga toko kelontong, perempuan dari kalangan artis sampai kalangan foto model, hingga tak sampai akalku dibuatnya.     Selain itu kawanku yang juga merupakan kawan Arian di kampus, pernah bercerita padaku.     “Eh gue, tuh, pernah nganterin Arian ke ....” Laki-laki melambai macam daun putri malu itu memulai bahan gibahnya.     “Tempat apa?!” Sontak aku kaget akan pernyataan darinya yang terpotong.     “Tempat ... praktek ... paranormal gitu, loh!” Jawabnya dengan terbata.     “So?!” Mataku melotot seakan memaksanya untuk segera melanjutkan perkataannya.     “Tapi ... sayang ... gue ... nggak ikut masuk ke dalem, sih ...."     “Terus?!” Mataku kembali melotot.      “Terus masa, ya, si Arian bawa kendi gitu, terus pas pulang kendinya udah diisiin air, katanya, sih, itu air kobokan bekas mbah dukunnya gitu!”     “Bekas Mbah Dukunnya?!” Aku setengah kaget dan agak jijik.     “Serius!”     “Iyuwh! Huuueek! Idih, najis tralala, deh!” Aku memperlihatkan mimik wajah seakan hendak memuntahkan isi perut.     “Nggak banget nggak, sih? Please, deh. Halloow ... zaman udah modern gini. Gils bingits nggak, tuh, mantan lu itu!” Kawanku makin terlihat melambai.     “Ihhh ... bingits, deh!” Aku terlihat melambai macam dirinya.     Kawanku si laki-laki melambai itu memberikan info itu padaku tepat setelah sebulan aku batal menikah dengan Arian. Jujur aku merasa sangat beruntung karena tak jadi membina rumah tangga bersama di playboy cap kapak itu, meski pada awalnya memang aku merasa cukup sangat terluka dengan semua ini.     Tapi setelah kupikir-pikir, apakah Arian juga melakukan hal yang sama padaku, membuatku jatuh hati padanya dengan cara pakai pelet? Ataukah ia memberikan fotoku pada mbah dukun yang kemudian dipergunakan untuk hal yang tidak-tidak? Ataukah awalnya ia menghipnotisku lalu mengambil semua dompet, HP, isi ATM, hingga isi hatiku, sampai tak bersisa sama sekali? Entahlah.     “Sebentar lagi, bus akan berhenti di Halte Juanda!” Sebuah suara terdengar dari speaker hitam di dalam bus. Aku dan penumpang lainnya hendak bersiap untuk turun.     Aku turun di Halte Juanda, tempat kerjaku tak jauh dari sini, tinggal berjalan kaki dan akan sampai dalam waktu kurang dari 5 menit. Aku berjalan kaki melewati jembatan penyebrangan yang menuju ke arah Masjid Istiqlal. Lalu berjalan lagi lurus sedikit, dan aku sudah tiba di tempat kerjaku. Aku bekerja pada sebuah rumah makan padang sebagai petugas kasir, terdapat tulisan besar pada sebuah kaca besar di depan toko yang menunjukkan nama rumah makan ini: Saiyo Sakato.     Aku bersyukur akhirnya mendapatkan pekerjaan, meskipun gajiku hanya sebatas UMR (Upah Minimum Rata-rata), namun pemilik toko ini sangat baik padaku. Ia sering memberikan ku lauk pauk yang tak terjual  di hari itu untuk kubawa pulang.     “Marlin, kaudatang pagi sekali hari ini? Mau masak dulu kau rupanya, hah?” Pemilik rumah makan senang sekali menggodaku jika aku tiba terlalu pagi.     “Tak apa, Pak. Rajin sedikit tak kan rugi, kan?” Sahutku.     “Mar, tolong ambilkan mangkuk stainless steel yang besar itu, ya!” Salah seorang juru masak meminta bantuan padaku.     “Iya, Uda. Tunggu sebentar, ya!” Aku hendak menaruh tasku terlebih dahulu di dalam lemari penyimpanan barang untuk para karyawan.     “Ini, Uda! Apa ada lagi yang bisa kubantu?”     “Tak usah. Masakanku sudah hampir selesai semua.” Ujarnya.     Aku cukup senang dengan rutinitas di pagi hari di rumah makan ini. Di sini terdapat 3 juru masak, dan semuanya adalah laki-laki. Para juru masak ini semuanya asli dari Kota Padang. Mereka masih kerabat dekat dengan pemilik rumah makan ini. Terdapat 6 pelayan yang bertugas mengantar pesanan pada para pembeli, sekaligus juga sebagai pencuci piring, dan bertugas membersihkan semua yang ada di rumah makan ini. Dan aku seorang diri bertugas sebagai penjaga kasir.     “Sebentar lagi sudah hampir jam 10. Kita akan buka toko, semuanya siap-siap, ya!” Bapak pemilik rumah makan memperingatkan kami para karyawannya.     “Siap, Pak!” Kami semua menjawab serentak.     “Saiyo Sakato? Horas, bah!!!” Pemilik toko, aku, para juru masak, para pelayan, hingga juru parkir di depan, semuanya berkata serempak, membuat yel-yel yang sebelumnya telah dibuat oleh bapak pemilik toko.     Tepat pukul 10 pagi, Rumah Makan Padang Saiyo Sakato pun dibuka. Seperti biasa, ramai para pembeli yang hendak membeli sarapan di sini.     Dari jauh aku memperhatikan ada 3 orang pemuda berpakaian kemeja rapih yang hendak masuk ke dalam rumah makan.     “Mau bungkus atau bawa pulang atau makan di sini atau makan di piring?” Seorang pelayan yang tengah berjaga di depan malah bercanda.     “Hmmm ... Uda, kita mau bungkus, tapi nggak dibawa pulang, mau dibawa makan ke rumah sakit.” Jawab salah seorang laki-laki dewasa yang berkemeja biru muda, dan memakai kacamata.     “Rumah sakit? Memang siapa yang sakit, Bang?” Si Uda malah bingung.     “Bukan, Uda. Soalnya kami mau sarapan di rumah sakit.”     “Iya, tapi siapa yang sakit?”     “Bukan, Uda. Kami kerjanya di rumah sakit.”     Ternyata 3 orang laki-laki berkemeja rapih, dan tampan rupawan itu rupanya bekerja di rumah sakit.     “Jadi apa di rumah sakit?” Tanya si uda.     “Jadi cleaning service, Uda.”     “Masa cleaning service ganteng begini, hah?”     Si Uda malah tak percaya, namun dalam hatiku pun tak percaya, sudah jelas dan pasti mereka mungkin bekerja di bagian lain di rumah sakit itu. Aku memperhatikan salah seorang dari mereka, laki-laki yang berkemeja biru muda dan memakai kacamata, yang paling tampan rupawan di antara yang lainnya. Aku memperhatikannya hingga ia mendekatiku, dan berbicara padaku tepat di depan mataku. Aku langsung gugup.     “Uni ... Uni ... Uni ...?”     “Hah?” Aku terbengong seketika, dan sadar begitu laki-laki berkacamata itu memanggilku.     “Kami mau bayar, Uni.”     “Eh, iya. Hmmm, maaf.” Aku terbata-bata.     “Jadi, berapa, Uni?”     “Oh, iya. Sebentar, ya. 10 potong ayam panggang, 10 nasi, 10 perkedel, dan 10 botol coca-cola. Semuanya jadi dua ratus tiga puluh ribu rupiah, ya!”     Tak lama laki-laki itu mengeluarkan sebuah kartu kredit berwarna hitam. Ia menyerahkannya padaku, dan aku menggesekkan kartu itu sebagai alat transaksi pembayaran. Mataku memperhatikan nama pada kartu kredit itu, sebuah nama yang sepertinya tak asing bagiku, seperti pernah kukenal, namun entah di mana.     “Sudah, Uni?” Laki-laki berkacamata itu membuyarkan lamunanku.     “Eh, iya, sudah, Mas! Ini kartunya. Terima kasih, ya.”     Laki-laki itu berlalu begitu saja bersama senyumannya yang sangat menawan dan berbekas diingatanku. Senyuman yang meneduhkan itu. Aih ... siapakah dirimu? ***       Aku pusing di dalam kamar seorang diri. Buku TTS-ku yang bergambar seorang artis tampan, Ari Wibowo, belum selesai juga kuisi. Masih ada banyak pertanyaan yang tak mampu kujawab.     Siapakah penemu batu bertuah pada Film Harry Potter?     Siapakah nama nenek moyang dari mantan pacarmu yang ketiga?     Siapakah nama selingkuhan dari mantan tunanganmu 3 tahun yang lalu?     Siapakah nama dokter tampan dalam Film Ada Apa dengan Pelet?     Sulit sekali kujawab soal-soal itu, lebih sulit dari pada soal tes hendak menjadi CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil). Bukan ku tak mau berusaha lebih keras lagi, namun memang takdir berkata lain, aku tak sanggup mengisi soal-soal itu terlebih karena tinta pulpenku telah habis. Pusing kepalaku.     Segera kuraih majalah tentang otomotif yang telah kubeli tempo hari saat pulang dari tempatku bekerja. Kubuka satu persatu halamannya, sangat tertarik aku dengan mobil-mobil canggih keluaran terbaru tahun ini, namun sayang uangku tak kan pernah cukup untuk membelinya jika hanya bekerja di rumah makan itu. Kecuali jika bapak pemilik rumah makan padang itu bersedia untuk membagikan warisannya padaku.     Aku segera membuka halaman yang lainnya, ternyata ada rubrik puisi di halaman itu. Di majalah otomotif ada rubrik puisi? Gumamku penuh tanda tanya.     Kuperhatikan satu demi satu puisi itu. Aku jadi teringat puisi yang pernah Arian tulis di papan kayu depan TOGA sewaktu kami masih kuliah dulu. Saat itu aku sampai tergila-gila dengan penulis puisinya, padahal aku tak tahu pasti siapa penulisnya dan seperti apa orangnya.     Aku pusing jika mengingat lagi tentang Arian, entah apa sihir yang sebetulnya ia gunakan. Tapi aku jadi teringat akan suatu fakta yang aku temukan sendiri, tanpa aku beri tahu pada Arian atau siapa pun. Pernah sekali waktu aku sedang berkunjung ke rumah Arian saat masih pacaran dulu, lalu aku hendak melaksanakan solat maghrib, dan ibunya mempersilahkan aku untuk solat di kamarnya Arian. Jujur, itu kali pertama aku masuk ke dalam kamarnya. Ada sebuah papan yang terbuat dari styrofoam tergantung di dinding kamar, banyak kertas tertempel di situ, k****a satu per satu.     Terkaget-kaget aku sewaktu membaca isinya, ternyata itu semua adalah puisi-puisi yang Arian baca sewaktu acara wisuda para mahasiswa di JCC. Yang membuatku kaget adalah ternyata puisi-puisi yang tertempel di situ adalah puisi yang ditulis tangan langsung oleh pengarangnya, tulisan tangan itu sangat rapih dan indah, sangat berbeda dengan tulisan tangan Arian yang bagaikan huruf sansekerta, tak dapat dibaca namun penuh arti mendalam. Tertulis di pojok kanan bawah kertas itu nama pengarang asli puisi itu, lengkap dengan tanda tangannya. Namun sayang, kulupa nama perisisnya, tapi kuingat tanda tangannya.     Waktu itu aku memang sengaka tak bertanya pada Arian, karena cukup tahu saja, selama ini hanya untuk perkara kecil macam begini saja, Arian tak dapat jujur padaku. Padahal jika dipikir, apa sulitnya berkata yang sesungguhnya, bahwa puisi-puisi yang ia baca bukanlah puisi karangannya. Toh, jikalau ia jujur, tak mungkin aku akan minta putus hanya karena perkara aku suka dengan puisi itu.     Sesulit itukah berkata jujur, Arian? ***       Siang itu aku tengah bekerja, aku melayani seorang ibu yang hendak membayar makanannya. Ibu muda itu memegang erat anak kecil yang ia bawa.     “Sayang, diem dulu sebentar. Mama mau bayar dulu, ya.” Ternyata mereka adalah anak beranak.     “I-a, Mama. A-ek i-em a-a, kok.” (Iya, Mama. Adek diem aja, kok.) Anak perempuan kecil itu belum jelas bicaranya.     “Mbak, saya mau bayar, ya. Total semuanya jadi berapa, ya?” Ibu muda itu bertanya padaku.     “Iya, 2 bungkus nasi isi udang balado, sama es teh manis, semuanya jadi lima puluh lima ribu rupiah, Bu!” Ibu itu segera mengeluarkan uang dari dompetnya, dan menyerahkannya padaku.     “Mama! I-u a-a a-pa a-eng!” (Mama! Itu ada bapak dateng!) Anak perempuan kecil itu segera berlari ke arah seorang laki-laki berkemeja rapih.     “Eh, ntar dulu, Sayang! Mama belum selesai! Sini dulu! Eh, tunggu sebentar, ya, Mbak.” Ibu muda itu segera berlari mengejar anaknya.     Aku melihat ke arah mereka, dan mereka bertiga segera masuk bersamaan ke dalam rumah makan.     “Tadi mana, Mbak, kembaliannya?” Ibu muda itu telah tiba lagi di depan mataku, kali ini lengkap dengan seorang laki-laki yang tengah menggendong anaknya.     “Ini, Bu, kembaliannya! Terima kasih, ya, Bu, Pak!” Aku memberikan kembalian itu padanya, sambil melihat ke arah laki-laki itu, laki-laki berkemeja rapih dan berkacamata yang tempo hari kukagumi karena wajahnya yang tampan rupawan.     “Ayo, Mas. Masuk ke mobil aku aja.” Terdengar dari luar pintu si ibu muda itu mengajak laki-laki itu masuk ke dalam mobilnya, dan memanggilnya dengan panggilan Mas.     Lemas lututku seketika. Kupandangi keluarga kecil mereka dari balik jendela. Entah kapan aku bisa memiliki keluarga kecil yang harmonis seperti itu. ***       Aku masuk ke dalam kamar dengan badan yang lemas, karena sudah 3 hari belakangan ini kami semua karyawan di rumah makan itu harus lembur. Bapak pemiliknya berkata pada kami bahwa pembeli malam hari justru lebih banyak dibanding pagi hari. Tentu saja, siapa juga yang mau sarapan dengan kuah penuh santan, berminyak berlemak, dengan sambal yang pedas dan nasi yang menggunung. Yang ada setelah sarapan nasi padang, malah jadi mengantuk, ingin tidur, dan tak jadi bekerja, tak produktif.     Katanya bapak pemilik hanya ingin mencoba tutup hingga pukul 10 malam selama seminggu belakangan ini, jika hasilnya tak sepadan sengan tenaga yang kami keluarkan, maka jadwal tutup toko akan dikembalikan seperti semula.     Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidur tak sampai larut, karena besok paginya aku harus berangkat lagi untuk bekerja. Kutengok jam dinding sudah menunjukkan pukul 12 malam, entah mengapa aku masih sulit untuk tidur. Kubuka kembali majalah otomotif itu, kubuka lagi rubrik puisi, k****a semua puisi-puisi yang ada di situ. Dan mataku tertuju pada sebuah puisi yang kukenal.   Cinta Pertama Berucap sesal kau sudah hilang Berucap cinta kau punya dia Merindumu pun tiada guna Mengingat-ingat kisah yang lalu Tidak! Aku tidak mencinta Hanya termenung menatap bayang Aroma kebaikanmu terekam jelas Tiada lagi telinga tempat mengadu Tiada lagi hati untuk menyayang Tiada lagi bahu untuk bersandar Sesal … Apa masih ada yang sebaik kamu?                                                 RR       HAH??? Aku kaget setengah mati, karena puisi yang tertera di situ adalah puisi yang tertempel di papan kayu depan TOGA sewaktu kukuliah, dan puisi ini juga yang terdapat di dalam kamar Arian. Tapi sayang sungguh disayang, tak ada nama pengarangnya, hanya tertera inisialnya di situ: RR.     Jujur aku sangat lupa dengan nama asli si pengarang, yang kuingat hanya bentuk tanda tangannya, seperti ada huruf A disitu dan berbentuk seperti kapal. Lucu sekali ada tanda tangan berbentuk kapal, entahlah. Jujur pula, meski waktu sudah berlalu sangat jauh, namun puisi-puisi itu masih kusuka, masih kuingat, masih kurindukan. Dan jujur pula, aku masih penasaran dengan siapa pengarang di balik puisi-puisi indah itu.     Tak terasa aku mulai mengantuk, dan tertidur di atas majalah itu. ***       “Marlin ... bangun, Nak! Sudah jam berapa ini, hah?” Terdengar teriakan suara kakek dari balik pintu kamarku. Seperti biasa segera kuterbangun dan menuju kamar mandi.     “Mar, kakek sudah bikinkan kau roti untuk sarapan. Kaubawa, ya, Nak!”     “Tentu, Kek!” Aku tersenyum ke arahnya. Kakek memang sangat pengertian, tahu bahwa semalam aku tak sempat makan karena sudah lelah sepulang bekerja.     “Kakek, aku pergi dulu, ya! Assalamu’alaikum!” Aku mencium punggung tangan kakek dengan hendak berpamitan pergi.     “Wa’alaikum salam! Iya, Mar. Hati-hati di jalan, ya, Nak!” Aku segera berlalu dari hadapan kakek, dan segera naik ke atas motor milik driver ojek online yang telah kupesan sebelumnya melalui handphone-ku.     Alhamdulillah perjalanan hari ini menuju tempatku bekerja tak memakan waktu lama, tak ada kemacetan yang berarti, dalam waktu 45 menit aku sudah sampai di Rumah Makan Padang Saiyo Sakato.     Seperti biasa rutinitas pagi kami para karyawan di toko ini, bisa terbilang sibuk namun tetap santai kami jalani, dengan hati yang riang dan penuh suka cita kami bekerja dengan sumringah dan semangat ’45, demi mencapai masa depan yang gilang gemilang.     Para juru masak tengah memasak berbagai makanan yang hendak dijual, para karyawan yang lain ada yang sedang menyapu, mengepel, mengelap jendela, mencuci piring, bahkan ada yang sedang sarapan. Kami memang harus sarapan dahulu di sini sebelum toko dibuka.     “Saiyo Sakato? Horas, bah!!!” Seperti biasa, pemilik toko, aku, para juru masak, para pelayan, hingga juru parkir di depan, semuanya berkata serempak, membuat yel-yel seperti yang sudah-sudah, agar kami makin semangat untuk bekerja di hari itu.     Siang harinya, banyak sekali pembeli berdatangan untuk makan siang di sini, dan tak kalah banyak pula pembeli yang memilih untuk membungkus makanannya. Aku lumayan lelah karena berdiri tanpa jeda selama hampir 2 jam penuh, karena melayani pembayaran para pembeli. Hingga pukul 2 lewat, masih banyak pembeli yang berdatangan.     “Uni ... saya mau bayar, nih.” Kulihat di belakang seorang anak remaja yang hendak membayar, ada laki-laki berkacamata tampan rupawan yang tempo hari kulihat.    “Uni?” Anak remaja itu memanggilku yang sedang bengong karena melihat laki-laki yang berdiri di belakangnya.     “Iya, satu porsi nasi, lauknya rendang, minumnya es jeruk, total semuanya jadi dua puluh tujuh ribu, ya!”     “Iya, sebentar, ya.” Anak remaja itu merogoh sakunya, kemudian tasnya, seperti sedang mencari-cari sesuatu. Wajahnya panik, kemudian pucat, kemudian ia mencari lagi ke sakunya, kemudian ia bingung, lalu diam seperti sedang mengingat sesuatu.     “Kamu kenapa, Dek?” Aku bertanya padanya.     “Uhhh ... hmmm ... itu .... Kayaknya dompet aku ketingalan, deh, Uni.” Anak remaja itu terlihat memelas.     “Waduh, terus gimana?” Aku malah bertanya balik padanya.     “Eh ... hmmm ... gimana, ya, Uni ....” Ia masih sibuk mencari ke dalam tasnya.     “Udah, pakai uang Om dulu aja, ya!” Laki-laki berkacamata yang tampan rupawan itu menyebut dirinya sebagai Om. Dan yang lebih mengejutkan lagi ia menawarkan bantuan pada anak remaja itu.     “Ini, Uni. Pakai kartu kredit saya aja bayarnya, sekalian, ya, sama bayar makanan saya juga.” Om-om berkacamata itu memberikan kartunya padaku, dan aku segera menggeseknya dan menyelesaikan transaksinya.     “Ini, Mas. Tanda tangan di sini.” Aku mempersilahkan om-om itu untuk tanda tangan pada kertas transaksi.     “Ini, Uni. Terima kasih.” Om-om berkacamata itu berlalu dari hadapanku bersama si anak remaja tadi. Aku memperhatikan tanda tangannya, sepertinya kukenal dengan bentuk tanda tangan ini. Ah, tapi tak mungkin. Ada berapa ribu orang di dunia ini yang memiliki bentuk tanda tangan yang sama, tak mungkin pula si om itu adalah orang yang menulis puisi di papan depan TOGA sewaktu kami masih berkuliah dulu.     “Iya, makasih banyak, ya, Om! Sekali lagi makasih! Iya, Om. Iya, enak, kok! Enak, Om!” terdengar suara si anak remaja dari kejauhan tengah berkata pada laki-laki berkacamata yang baru saja membayarinya makan secara tidak sengaja.     Entah mengapa, seketika aku jadi meringis mendengarnya. ***       Malam ini adalah malah ke 6 aku pulang kerja pukul 10 malam, dan malam ini pula terakhir aku lembur, karena bapak pemilik rumah makan akhirnya mengakhiri jadwal lembur kami, sangat lelah ternyata bekerja lebih dari 12 jam, mau mati rasanya badanku ini.     Ketika aku tengah berjalan kaki menuju halte Trans Jakarta, aku merasa ada sosok yang menguntitku dari tadi, dari sejak aku keluar dari rumah makan. Aku mengehntikan langkahku sejenak, aku merasa mereka malah makin mendekat. Aku ingin menengok ke belakang, tapi takut, ingin kutengok ke kanan dan kiri, tapi takut juga, ingin kuteriak, tapi aku malah makin takut.     Segera kupercepat langkahku, yang tadinya lima langkah per detik, menjadi 10 langkah per detik, lalu kupercepat lagi langkahku, hingga menjadi 15 langkah per satu setengah detik, kemudian kuberlari, tapi mereka malah ikut berlari mengejarku.     Napasku sudah mulai habis, ketika aku hendak berhenti karena lelah berlari, mereka malah berdiri di hadapanku, dua orang laki-laki berbaju hitam, dengan wajah yang sok galak, siap menghabisiku. Aku sudah sangat ketakutan, lutut-lututku lemas, sekujur tangan dan kakiku gemetaran, jangan sampai aku jadi pipis di tempat.     “HENTIKAN!!!” Sebuah suara yang amat kencang terdengar dari kejauhan. Suara langkah kaki, yang semakin lama semakin mendekatiku, yang kemudian berlari amat kencang dan segera menghampiriku.     “Ayo, kabur ...!” Dua orang laki-laki berbaju hitam segera berlari menjauh dari kami.     Aku kaget, tanganku dingin, kakiku juga dingin, bibirku bergetar, aku tak mampu menguasai diri.     “Kamu tremor, ya? Sudah, tenang dulu, ya. Merek sudah pergi, kok.” Laki-laki itu menenangkanku, memberiku duduk di pinggir trotoar, kemudian memberiku minum.     “Kamu nggak apa-apa? Ada yang sakit, nggak? Atau ada yang luka?” Laki-laki itu bertanya padaku, namun aku masih terdiam tak mampu menjawab, karena aku masih sangat kaget dengan kejadian barusan dan tangan kakiku masih tremor.     “Udah, ya, kita duduk di sini dulu aja.” Aku dan laki-laki itu terduduk di pinggir trotoar hampir setengah jam. Ia menunggu sampai keadaanku benar-benar tenang.     “Ss ... ss ... s-saya ... m-mau ... p-pulang ....” Aku berbicara sambil terbata-bata.     “Iya, iya. Kita akan pulang. Biar saya antar, ya? Nanti kita naik taksi dari sini, kamu tinggal tunjukkin jalannya aja, ya!” Laki-laki itu berkata padaku yang kubalas hanya dengan anggukan kepala.     “Taksi!” Laki-laki itu pun memanggil sebuah taksi biru yang hendak lewat di hadapan kami. Kami masuk ke dalam mobil, dan pulang menuju rumahku.     Kami hanya terdiam selama di perjalanan, dan aku hanya berkata, belok kiri, Pak, belok kanan, Pak, lurus, Pak,hati-hati ada jurang, Pak, jangan bunuh diri, ya, Pak! Hingga akhirnya kami tiba di depan rumahku.     “Ini rumah kamu?” Laki-laki itu bertanya padaku, dengan matanya yang agak merah, dan wajahnya yang terlihat sudah sangat mengantuk.     “Iya. Terima kasih, ya!” Aku segera membayar ongkos taksi terlebih dulu kepada pak supir sebelum laki-laki yang mengantarku menolaknya.     “Eh, nggak usah! Yah ... jangan diterima, Pak. Yaudah, deh.” Laki-laki itu kehabisan kata-kata karena pak supir sudah terlanjur menerima uang dariku.     Laki-laki yang mengantarku pun segera melanjutkan perjalanannya dengan taksi biru itu, tanpa kami berkenalan terlebih dahulu. ***       “Mar, lu nggak apa-apa, kan?” Salah satu karyawan di rumah makan bertanya padaku dengan sedikit khawatir,     “Lu emang kemarin lewat mana, deh?     “Terus, akhirnya lu gimana?     “Penjahatnya ada dua orang?     “Ciri-ciri penjahatnya gimana?     “Akhirnya yang nolongin lu siapa?”     Bertubi-tubi pertanyaan datang padaku, semua kawan-kawan ditempatku bekerja seperti sangat penasaran dengan apa yang menimpaku semalam. Mereka semua meminta agar aku menceritakan kejadiannya secara detail dan sesuai dengan urutan kejadian. Aih ... sangat memusingkan.     Setelah aku bercerita panjang lebar pada mereka semua, tak terkecuali pemilik toko hingga juru masak yang sedang memasak di dapur, akhirnya ceritaku pagi itu selesai juga. Dan segera kami akhiri dengan ucapan Alhamdulillah.     Kami semua kembali bekerja seperti biasa. Mengucapkan yel-yel sebelum toko dibuka, melayani para pembeli, melayani pembayaran, hingga malam hari tiba, dan toko hendak tutup pukul 8 malam.     Aku hendak membantu untuk membereskan piring-piring yang masih ada di atas meja, dan membawanya ke dapur. Setelah itu aku kembali lagi ke meja kasir untuk menghitung sejumlah uang yang diterima pada hari itu. Aku mengelompokkan uang-uang itu berdasarkan nilai nominalnya, lalu menghitungnya satu per satu, setelah itu kucocokkan dengan jumlah yang terlah tercatat pada sistem di komputer. Aku cukup serius ketika tengah menghitung semua uang-uang itu, dan tak mempedulikan sekitarku.     “Hai! Uni ... Uni ... Uni ...?” Sebuah suara terdengar memanggilku berkali-kali saat aku tengah menghitung uang.     “Eh, hah? Iya?” Aku menatap ke sumber suara itu.     “Uni, saya mau bayar.” Aku terdiam sejenak ketika menatap orang yang tengah berdiri di depanku.     “Eh, iya. Satu bungkus nasi, lauknya satu perkedel, satu telur dadar, satu peyek udang, dan satu es teh manis, totalnya jadi tiga puluh ribu rupiah, ya!”     “Ini, Uni.” Laki-laki itu menyerahkan kartu kredit hitamnya.     “Ini, Mas. Terima kasih, ya!” Aku mengembalikan kartu kredit miliknya, kuperhatikan kertas yang sudah ia tanda tangan, masih kuperhatikan detail tanda tangan itu.     “Uni!”     “Hah? Ya?”     “Yang semalem ... kamu udah nggak apa-apa, kan? Kamu udah baikan, kan? Udah nggak tremor lagi, kan?” Tanya laki-laki berkacamata yang tampan rupawan, yang semalam telah menolongku saat aku hendak dirampok oleh dua orang laki-laki berkaus hitam di pinggir halte.     “Eh ... itu ... hmmm ... aku ... nggak apa-apa, kok!” Aku menjawabnya sambil gugup.     “Oh, ya. Gimana kalau malam ini kita pulang bareng lagi? Aku bawa motor, kok.” Laki-laki itu sungguh penuh dengan kejutan rupanya.     “HAH?”     “Iya. Gimana, mau nggak?”     “Oh ... anu ... kayaknya aku nggak bisa, deh. Aku bisa pulang sendiri, kok. Lain waktu aja, deh, ya!” Aku gugup dan malah menjadi terlihat agak ketus padanya.     “Oh ... gitu, ya? Yaudah, deh, nggak apa-apa.” Ia terlihat agak kecewa.     “Iya.”     Kemudian ia segera berjalan keluar dari rumah makan, tak sampai tiga detik, ia pun balik lagi.     “Kenapa lagi, Mas?” Tanyaku.     “Eh ... itu ... kunci motor saya ketinggalan. Hehehe .... Saya duluan, ya, Uni.”     “Oh, kirain kenapa. Iya, Mas.” Jawabku terlihat agak ketus.     Ia berjalan lagi keluar dari rumah makan. Aku segera melanjutkan lagi pekerjaanku untuk menghitung uang di laci kasir.     “Uni!”     “HAH?” Aku setengah kaget, ternyata laki-laki itu balik lagi.     “Uhhh ... hmmm ... Uni. Jadi gini ... kalau ... besok sore ... kita ... ke ... taman aja ... gimana?” Aih ... ternyata ia tak mudah menyerah, segera kutebak pasti moto hidupnya adalah Maju tak gentar membela yang benar. Tak habis pikir aku dibuatnya.     “Hmmm ... hmmm ... hmmm ....”     “Jadi, gimana? Ke taman, besok sore?”     Laki-laki berkacamata, berkemeja rapih, yang tampan rupawan, ia terlihat tersenyum mendengar jawabanku barusan. Jawaban yang tak disangka akan mengubah jalan hidup kami ke depannya.     Aku pun tersenyum ke arahnya, hingga ia berlalu dari pandanganku.     Taman, pantai, puisi, aku rindu pada kalian.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN