Sore itu langit begitu cerah, awan-awan putih berarak beriringan, bergerombolan, bersama-sama, saat angin hendak menghempasnya awan-awan itu bergerak, bermain-main, berpindah tempat dari langit yang satu ke langit yang lain. Begitu pula perjalanan hidup, entah ke mana ia akan membawa kita pergi dari satu tempat ke tempat yang lainnya, membawa cerita-cerita baru, yang memilukan, mengharukan, menyedihkan, membahagiakan, bahkan pada yang menyakitkan.
Sore itu aku tengah bersiap-siap akan pergi ke taman bersama laki-laki itu. Aku memakai pakaian terbaikku, sebuah kaus dan celana berwarna merah jambu, begitu cerah ceria, menggambarkan suasa hatiku kala itu.
Tak butuh waktu lama aku sudah berpakaian rapih, lengkap, siap untuk pergi bertemu dengannya. Kutengok keluar jendela, seorang laki-laki berkacamata, berpakaian rapih, sudah menungguku di muka rumah. Aku bergegas keluar, dan menghampirinya.
“Kamu sudah siap?” Tanyanya padaku.
“Udah, kok.” Jawabku sambil tersipu.
“Yuk, kita berangkat sekarang!”
Kami pun berangkat, ia mengendarai kendaraannya dengan perlahan, aku duduk di jok belakang. Sesekali kami mengobrol tentang apa yang akan kami lakukan di taman nanti.
“Kita udah lama, ya, nggak ke taman.” Ucapnya, membuka percakapan kami.
“Iya, nih, Mas.”
“Nanti kita mau ngapain aja di taman?”
“Hmmm ....” Jawabku sambil berpikir.
“Seperti biasa, kamu mau gulali?” Ia mencoba menebak.
“Boleh juga, Mas.”
Kami mengobrol seadanya, mungkin karena bingung mau bicara apa lagi. Butuh waktu sekitar 20 menit hingga akhirnya kami tiba di taman alun-alun kota. Laki-laki itu memarkirkan kendaraannya tepat di depan sebuah gerobak penjual makanan, terdapat tulisan pada kaca gerobaknya: Mie ayam pelangi.
Angin berhembus cukup kencang, kami berjalan mengelilingi taman sembari mencari tempat duduk.
“Kita duduk di mana, ya, enaknya?” Tanyanya.
“Hmmm ....” Aku berpikir sambil menengok kanan kiri, barangkali ada tempat yang pas untuk kami.
“Ramai pula, ya, sore-sore begini.”
“Itu! Di sana aja, Mas!” Spontan aku menunjuk pada sebuah kursi kayu berukuran kecil yang memang hanya cukup untuk dua orang.
“Boleh juga. Yuk, kita duduk!” Laki-laki itu menarik tanganku.
Kami berdua duduk di kursi kayu itu, sambil menghela napas panjang, kemudian kami menatap awan putih yang begitu indah di langit. Kami terdiam, tenang, hening, jujur aku sangat menikmati momen ini.
“Lihat, ada badut di sana!” Aku menunjuk pada sebuah pemandangan tak biasa di depan tempat kami duduk.
Kami melihat dua orang laki-laki berkostum berwarna-warni, terdapat motif polkadot pada kerah, baju, hingga celana yang mereka kenakan. Salah satu dari mereka memakai wig keriting berwarna merah, dan yang satunya lagi berwarna kuning. Perut mereka besar membuncit, seakan menggambarkan bahwa mereka selalu kekenyangan, selalu sejahtera, tiada kesulitan hidup yang berarti, padahal bisa jadi sebaliknya.
Di tangan mereka terdapat 4 buah bola kecil berwarna-warni yang tengah mereka mainkan, badut yang satunya lagi bahkan memainkan 5 buah bola kecil itu sekaligus. Mereka pindahkan bola-bola kecil itu antar tangan kiri dan kanan mereka, namun tak ada satu pun yang jatuh ke tanah, semuanya bisa mereka kontrol dengan baik.
Wajah mereka dipoles dengan tepung bedak putih, terdapat garisan senyum yang mengembang berwarna merah antara pipi kanan hingga pipi kiri, seakan menyiratkan sebuah senyum kegembiraan yang abadi, tiada pilu, tiada gundah.
“Wah, keren banget!” Mata laki-laki berkacamata itu bersinar, amat kagum rupanya dengan apa yang tengah dilihatnya.
Kami menikmati hiburan dari dua badut itu dengan senang, riang gembira, hingga akhirnya mereka pergi dari hadapan kami. Banyak orang-orang di taman yang memasukkan uang pada sebuah kaleng yang telah tersedia, sebagai bentuk penghargaan atas atraksi yang tengah dua badut itu lakukan.
“Kamu nggak jadi beli gulali?” Laki-laki itu bertanya padaku saat dua badut itu baru saja pergi.
“Uhhh ... hmmm ... jadi, kok, Mas. Memangnya kenapa?”
“Kalau mau biar aku belikan sekarang.” Ia pun segera pergi ke sebuah gerobak yang letaknya tak jauh dari tempat duduk kami.
Aku dari jauh masih memperhatikan ke mana dua badut itu pergi. Mereka terlihat duduk pada trotoar jalan, dan telah memasukkan bola-bola kecil itu ke dalam tas. Salah satu dari mereka menenteng kaleng yang berisi uang hasil dari pertunjukkan mereka di hari itu. Mereka menghapus riasan wajahnya dengan sebuah handuk kecil yang telah dibasahi sebelumnya pada sebuah keran air di pinggir taman. Mereka juga melepas wig yang tengah dikenakan dan memasukkannya pada sebuah tas berbentuk kotak. Salah satu dari badut itu berdiri dan berjalan menuju sebuah gerobak penjual nasi goreng.
“Mar, ini gulalinya.” Rupanya laki-laki itu sudah tiba lagi di hadapanku, dan memberikan sebuah gulali berukuran cukup besar padaku.
“Terima kasih, ya, Mas!”
“Sama-sama, Marlin!” Ucapnya sambil tersenyum, dan membuat kedua matanya terlihat menyipit.
“Mas?”
“Iya?”
“Kenapa gulalinya warna ungu?” Tanyaku.
“Bukannya kamu suka yang warna ungu?” Tanyanya sedikit kaget
“Iya, sih. Apa nggak ada yang warna lain, Mas?
“Ada, sih ....”
“Tapi ...?” Aku melanjutkan kata-kata darinya.
“Ya, nggak pake tapi. Kamu mau warna lain?”
“Mau ... mau ... aku mau, Mas, kalau ada warna lain. Tapi─”
Obrolan kami mendadak terputus setelah kami dan semua orang yang ada di taman terkaget setelah terdengar sebuah suara dari arah air mancur.
“COPEEET ...!!!” Seseorang berteriak dengan amat kencang, dan semua orang segera melihat ke arah sumber suara itu.
“CO ... CO ... CO ... COPEEET! UANGKU!!!” Ternyata dua badut tadi telah kehilangan kaleng yang berisi uang hasil kerja keras mereka.
Beberapa orang laki-laki dewasa segera berlari mengejar copet itu. Dari arah air mancur 2 orang copet itu berlari dengan sangat gesit melewati pohon demi pohon, bahkan dengan panik mereka berlari tunggang langgang menginjak rumput-rumput gajah yang telah tertulis dengan jelas pada sebuah papan: Rumput jangan diinjak!
Copet-copet panik, beberapa laki-laki yang mengejar mereka juga panik, orang-orang di taman ikut panik, aku pun merasa panik. Segera kulafalkan doa-doa, doa agar para copet segera tertangkap, doa agar dua badut itu bahagia dunia akhirat, doa agar orang-orang yang membantu para badut mengejar copet bisa segera masuk surga, doa supaya orang-orang yang ada di taman panjang umur, dan doa sebelum hendak makan karena aku sudah tak sabar ingin mecicipi gulali yang ada di tanganku.
“Mas, aku makan gulalinya, ya!” Aku mohon izin untuk makan, tapi tiada balasan.
“Mas ... Mas? Mas ...? Eh, Mas? Kamu ke mana, Mas?” Seketika aku jadi panik, kutengok kanan kiri, depan belakang, atas bawah, tapi kawanku si laki-laki berkacamata itu tak nampak juga batang hidungnya.
“Awas ...!
“Kejaaarrr ...!!!
“Hati-hati ...!
“Mereka di sana!
“Yang baju merah jangan sampai lepas!
“Jangan sampai lolos!
“Ikat tangannya!”
Bertalu-talu suara itu terdengar dari para pengunjung taman, bersahut-sahutan, berselang-seling, silih berganti, bersambutan, bertimbalan. Hingga akhirnya kedua copet itu terkulai lemah tak berdaya, terikat kuat kedua belah tangan mereka dengan tali. Tak lama mobil Polisi datang, sirine berbunyi di sepanjang jalan memecah perhatian para pengunjung. Tiga orang Polisi terlihat segera menggiring dua orang copet itu ke atas mobil bak terbuka, dan mengucapkan terima kasih pada seorang laki-laki berpakaian rapih yang amat kukenal wajahnya. Ternyata dia di situ rupanya, gumamku.
Akhirnya drama penangkapan copet telah usai, para pengunjung segera kembali pada kegiatannya semula. Pengunjung yang semula pucat pasi kini terlihat lega, yang semula panik kini terlihat sedang piknik, yang semula berteriak histeris kini terlihat tenang, yang semula tenang saja kini terlihat makin tenang. Dan aku terduduk kembali pada kursi taman, sambil menikmati gulali ungu di tanganku.
Tak lama berselang laki-laki berkacamata itu kembali lagi ke hadapanku. Dengan senyumnya yang menawan, ia menatapku yang tengah menikmati gulali pemberian darinya.
“Enak, ya, gulalinya?”
“Iya, Mas. Enak banget. Kamu nggak mau coba?” Aku menawarinya gulali itu.
“Ini, buat kamu!” Ia malah memberikanku sebuah permen lolipop berwarna pelangi.
“Buat aku? Makasih, ya, Mas!” Aku tersenyum ke arahnya. Ia sungguh sangat baik hati.
Kami berbincang mengenai bagaimana ia tadi membantu menangkap para copet itu. Ia bilang sudah terbiasa berlari dengan kencang, dengan kecepatan 5 meter per detik, dengan semangat ’45, dengan keyakinan penuh, tanpa ragu dan tanpa tapi, ia berhasil meringkuk para copet itu bersama orang-orang yang juga ikut membantunya.
“Aku, kan, udah biasa latihan bela diri sama ayahku. Jadi, ya, terbiasa.” Ucapnya bangga.
“Kamu diajarin ayahmu buat olahraga bela diri?” Tanyaku sambil menikmati gulali.
“Iya, aku juga udah sering ikut kejuaraan.”
“Oh, ya? Kamu juara berapa emangnya?” Tanyaku jadi sedikit penasaran.
“Aku pernah dapet juara pertama, tapi aku juga pernah juara kedua, sih. Eh, tapi aku juga pernah dapet juara ketiga, deh.” Jawabnya sambil mengingat-ingat.
“Terus ... terus ...?”
“Ya, gitu, deh. Kalau kamu hobinya apa, Marlin?”
Kami berbincang cukup panjang, membicarakan tentang sekolah, tentang PR, tentang kakek dan nenek, tentang pelajaran melukis, tentang makanan kesukaanku, tentang kartun favoritku, hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul 5 lebih 15 menit saat aku melihat ke arah jam Sponge Bob berwarna kuning pemberian ayahku tempo hari karena aku berhasil menjuarai lomba cerdas tangkas.
“Jam tangan kamu bagus, Mar!” Ucapnya saat aku tengah melihat jam tanganku.
“Kenapa, kamu mau juga?”
“Nggak, kok.”
Kami pun segera bergegas pulang. Ia mengambil sepedanya yang terparkir di depan gerobak mie ayam favoritnya. Aku duduk di jok belakang, kemudian ia mengayuh sepedanya dengan sedikit tergesa karena adzan maghrib sebentar lagi akan tiba.
“Ayo, Mas, cepetan!” Ujarku.
“Iya, aku tau, kok!”
“Nanti dimarahin bunda, loh!”
“Iya, aku tau. Ini aku juga lagi cepet-cepet.” Ia sedikit kesal mendengar ucapanku.
Ia semakin mempercepat kayuhannya, yang semula ia mengayuh dengan kecepatan 7 meter per detik, kemudian menjadi 9 meter per detik, hingga menjadi 13 meter per dua detik, semakin lama semakin cepat, hingga akhirnya kami tiba juga di depan Masjid Raya Baiturrahman.
“Aku harus cepet-cepet wudhu, hari ini jadwalku buat adzan maghrib!” Ucapnya seraya berlari ke tempat wudhu laki-laki.
Aku pun segera berjalan ke tempat wudhu perempuan, hendak melaksanakan solat maghrib di masjid.
“Allahu Akbar ... Allahu ... Akbar ...! Allahu ... Akbar ....” Suara adzan terdengar dari mikrofon masjid, sebuah suara anak laki-laki kecil yang amat merdu, terdengar begitu lantang dan syahdu, dengan irama jiharkah. Aku sangat suka dengan suaranya, suara kawanku, Mas Rama.
Para jama’ah mulai mempersiapkan diri untuk memulai solat bersama. Aku segera memakai mukenah yang telah ibunda bawakan dalam tasku. Tak lama terdengar suara iqamah, sebagai pertanda bahwa solat sebentar lagi akan dimulai. Kami semua segera merapatkan shaf dan meluruskan barisan, dan dengan khusyuk mulai mengikuti imam untuk melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim.
“Allahu Akbar ...!”