Taman yang Sama (2)

1276 Kata
    “Allahu Akbar ... Allahu ... Akbar ...!” Suara adzan mulai bergema, pertanda sudah pukul setengah 4 sore. Aku segera memohon izin untuk pulang lebih awal pada bosku, pada bapak pemilik Rumah Makan Padang Saiyo Sakato.     “Pak, saya izin pulang sekarang, ya.”     “Iya, silahkan Marlin. Jatah cutimu selama beberapa bulan ini belum pernah kauambil, jadi silahkan saja jikalah kauingin pulang lebih awal hari ini.” Lega hatiku mendengarnya.     “Mau ke mana kau, Mar? Tumben sekali.” Tanya salah seorang juru masak padaku.     “Biasa, Uda. Urusan anak muda!” Ujarku, yang kemudai membuatnya jadi terkekeh-kekeh saat mendengarnya.     “Hati-hati di jalan, ya, Mar!”     “Tentu, Uda!” Ujarku, sambil berlalu dari hadapannya.     Aku segera berjalan menuju Masjid Istiqlal untuk melaksanakan solat ashar terlebih dahulu. Suara adzan terdengar begitu indah dari balik speaker masjid, aku segera masuk ke dalam halamannya yang begitu amat luas. Pada Masjid Istiqlal terdapat 7 buah pintu masuk yang diberi nama dengan nama-nama Asmaul Husna, dan aku masuk melalui pintu Al-Fattah, yang artinya Allah yang Maha Pembuka Rahmat.     Aku melaksanakan solat secara berjama’ah, dengan khusyuk, dan tenang. Tak lupa aku berdzikir dan melafalkan berbagai doa-doa selepas solat.     Kutengok jarum jam menunjukkan pukul 4 sore, aku segera membuka handphone dan memesan ojek online.     “Dreeet ... dreeet ....” Handphone-ku bergetar, segera aku berjalan menuju halaman masjid karena driver ojek telah tiba di sana.     Aku berjalan kembali melewati halaman masjid yang amat dan teramat luas, hingga hampir habis napasku dibuatnya.     Aku menengok ke sana kemari, mencari-cari di mana rimbanya si driver ojek online. Aku berjalan hingga pagar besi di muka masjid. Kulihat seseorang melambaikan tangan padaku, seorang laki-laki dengan posisi masih berada di atas motor yang ia kendarai, dengan jaket berwarna hitam biru, lengkap dengan helm yang ia kenakan. Aku segera berjalan ke arahnya, dan bertanya padanya.     “Dengan Pak Zainudin, bukan?”     “Betul, Mbak. Dengan Mbak Marlin, ya?” Tanyanya mencoba memastikan.     “Ya, tebakan Bapak betul!”     “Pasti Mbak mau pakai helm, kan?” Tanyanya dengan yakin.     “Ya, tebakan Bapak tepat sekali!”     “Pasti Mbak juga mau bilang, sesuai aplikasi, ya, Pak! Benar begitu, kan?” Tebakannya sangat tepat sasaran.     “Selamat! Bapak akan mendapatkan uang tunai senilai dua puluh lima ribu rupiah sebagai bayaran karena telah mengantar saya hari ini!” Ucapku padanya, ia pun tersenyum bangga ke arahku.     Tepat pukul 4 lebih 20 menit aku tiba di sebuah taman kota yang cukup luas. Suasananya begitu asri, nyaman, sejuk, sungguh menenangkan. Hanya terdapat beberapa orang yang tengah berkunjung ke sini, ada yang datang dengan kawan-kawannya, ada yang datang berdua entah dengan kekasihnya ataukah dengan pasangan FWB-nya, yang jelas mereka cukup mesra, ada pula yang datang bersama hewan peliharaannya.     Aku masih berdiri di muka taman bersama dengan driver ojek online yang masih bersedia menemaniku hingga si laki-laki berkacamata itu tiba, meskipun aku tak tahu kapan ia akan tiba di sini.     “Mbak, apa nggak ditelepon aja temannya?” Tanya driver ojek.     “Handphone saya mati, Pak. Batrenya abis, saya lupa bawa charger.”     “Yah ... Mbak .... Mbak, hafal nomor HP temennya, nggak? Kalau hafal coba telepon pake HP saya aja.” Baik hati pula bapak itu mau menawarkan bantuan.     “Nggak hafal, Pak. Ya, sudah, nggak apa-apa, Bapak duluan aja, biar saya nunggu aja di sini.” Jawabku pasrah.     “Serius?”     “Serius, Pak Zainudin.”     “Eh, Mbak, tapi, kok, rasa-rasanya saya merasa pernah lihat Mbak di mana gitu, ya?”     “Hah? Pernah lihat di mana gimana maksudnya?” Tanyaku tak paham.     “Ya, kayak pernah lihat Mbak sebelumnya, kayak pernah kenal gitu.” Ia mengamatiku dari ujung kerudung hingga ujung sepatuku.     “Perasaan Bapak aja, kali! Pak Zainudin ada-ada aja, nih.” Jawabku sewot.     “Iya, kali, ya! Mungkin hanya perasaan saya aja. Ya, udah, saya duluan, ya, Mbak. Permisi!” Bapak driver ojek online itu pun berlalu dari hadapanku.     Aku berjalan mengelilingi taman, melihat pemandangan di sekitar yang begitu asri. Terdapat berbagai jenis pohon di sini, ada pohon Swietenia mahagoni, ada pohon Chrysophiliium Sp, ada pohon Terminalia catappa, dan banyak pohon serta bunga hias lainnya. Terdapat banyak patung-patung juga di taman ini, sebagai simbol-simbol sejarah yang tentunya tak aku pahami apa artinya. Sejujurnya taman ini amat mirip dengan taman tempat di mana biasa aku bermain sewaktu masih di Banda Aceh dulu, dan tentunya ada sedikit perbedaan di sini.     Mataku tertuju pada seorang anak kecil yang tengah meremas hewan peliharaannya. Aku amati dari jauh, hewan itu berbulu putih, matanya merah, kaki-kakinya kecil-kecil, gigi-giginya juga kecil dan sedikit, namun si anak kecil itu malah meremasnya dengan kuat-kuat, dan menyuruh hamster itu menggigit kandangnya sendiri. Entah apakah mungkin si anak kecil sedang kerasukan anak buah jin ifrit, hingga si ayah yang melihat kejadian barusan segera memarahi si anak, dan memisahkannya dari hamster itu. Sungguh lucu dan biadab sekali.     Aku masih berkeliling taman, dan menemukan gerobak makanan yang menjual gulali kapas, segera kuhampiri pedagang itu.     “Pak, mau beli gulalinya, ya, satu.”     “Mau beli yang warna apa, Neng?”     “Saya mau yang warna ungu, ya!”     Aku pun memakan gulali kapas berwarna ungu sembari duduk di kursi taman, persis di bawah pohon mahoni. ***       Seorang laki-laki berkemeja rapih berwarna biru muda, berwajah tampan rupawan, dan berkacamata, tengah berdiri seorang diri persis di depan pos satpam rumah sakit. Ia terlihat gelisah, sambil sesekali mengecek layar handphone-nya, dan 5 detik sekali menatap jam tangan yang ia kenakan di tangan kirinya.     “Permisi ... apa benar dengan Mas ....” Seorang driver ojek online berhenti tepat di depan laki-laki itu.     “Eh, Bapak ...? Kita ketemu lagi, nih, Pak.” Laki-laki itu terlihat kaget dengan kemunculan driver ojek di hadapannya.     “Ya, sudah, Mas. Mau langsung jalan sekarang aja?”     “Tentu, Pak.”     “Ini, Mas, helmnya.” Driver itu menyerahkan sebuah helm berwarna hitam bergaris biru padanya.     “Oke, Pak, let’s go!” Ucap laki-laki berkacamata itu dengan riang gembira.     Mereka menyusuri sepanjang jalanan Jakarta, mulai dari melewati Masjid Istiqlal, melewati Monumen Nasional, hingga melewati Pasar Tanah Abang. Langit Jakarta sore itu begitu cerah, bersinar, hangat, menyenangkan, persis dengan suasana hati si laki-laki berkacamata saat itu.     “Emangnya Mas mau pergi ke mana, sih? Tumben pulangnya sore.” Bapak driver ojek terlihat kepo.     “Ya, mau ke taman kota, Pak.”     “Ada yang sakit di taman kota emangnya?”     “Ya, nggak ada, sih. Emang kenapa, Pak?”     “Ya, heran aja. Kok tumben Mas Dokter pulang sore, pergi ke taman pula.” Si bapak driver makin kepo.     “Biasalah, Pak, urusan anak muda!”     “Si Mas Dokter, nih, ngeles aja bisanya. Oh, ya, Mas udah nggak pernah pulang lagi ke Banda Aceh?”     “Nggak pernah, Pak. Emang Bapak pernah pulang lagi ke sana?”     “Pernah, baru tiga bulan lalu. Aceh sekarang makin bagus, Mas. Kakak saya masih betah aja tinggal di sana.”     “Hmmm ... gitu, ya.”     Mereka pun menyusuri jalanan Jakarta yang cukup macet, padat, merayap. Maklum masih banyak penjual kaki lima di depan pasar, sehingga agak menghalangi perjalanan kendaraan yang lewat.     Bapak driver ojek online menghentikan laju motornya persis di depan sebuah taman yang cukup luas.     “Alhamdulillah ... akhirnya kita sampai juga di sini, Mas.”     “Iya, nih. Ini, Pak, helmnya!” Laki-laki berkacamata itu menyerahkan helm yang ada di tangannya pada driver ojek.     “Mau dijemput lagi nggak nanti?”     “Enggg ... nggak usah, deh, Pak.”     “Ya, udah, deh. Selamat bersenang-senang, ya, Mas!”     “Bisa aja, nih, Pak Zainudin. Terima kasih, ya, Pak!” Bapak driver ojek online itu pun berlalu dari pandangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN