Taman yang Sama (3)

1755 Kata
    Aku sedang menikmati gulali kapas berwarna ungu di tanganku, ini sudah kali kedua gulali ini kumakan, disebabkan karena aku tengah menunggu kawanku yang juga tak kunjung terlihat batang hidungnya di taman ini.     “Hai ... udah ... lama ... nunggu ... ya ...?” Sebuah suara mengagetkanku.     “Hai.” Dahiku mengkerut.                                    “Kamu ... udah ... lama ... nunggu ... di ... sini ...?” Laki-laki itu bertanya lagi.     “Hah?”     “Iya ... kamu ... udah ... lama ... nunggu ...?” Ia masih bertanya.     Aku pun diam.     “Hai ... udah ... lama ... nunggu ... ya ...?” Ia bertanya lagi.     Aku pun masih diam.     “Kamu ... udah ... lama ... nunggu ... di ... sini ...?” Ia mengulangi pertanyaannya.     Aku tetap tak berkutik.     “Iya ... kamu ... udah ... lama ... nunggu ...?” Ia tetap bersikeras mengulang pertanyaan yang itu-itu saja. Mungkin jika ada lomba paling banyak mengulang pertanyaan, dia sudah pasti menjadi juaranya.     Aku menatapnya dari atas sampai bawah, agak iba sebenarnya, namun aku takut. Ia balik menatapku dari atas sampai bawah. Aku jadi makin takut, dadaku ngap-ngap, napasku jadi pendek-pendek, tanpa berlama-lama, tanpa memberikan ia kesempatan lain, tanpa ambil tempo, tanpa jeda, aku segera berdiri dan berlari secepat-cepatnya, sejadi-jadinya.     Aku sangat takut jika harus membayangkan orang tak waras itu bisa sampai mengejarku apalagi menangkapku hidup-hidup. Aku berlari ke arah luar taman, ke tempat yang ramai, ke tempat para pedagang makanan sedang menjual makanannya.     Langkah kakiku terhenti sejenak, sambil mataku mengawasi ke mana perginya si orang tak waras itu. Dengan lutut yang lemas, dan napas yang tersengal-sengal, aku dikagetkan lagi oleh sebuah suara.     “Kamu udah lama di sini?”     Sontak aku kaget, dan segera menengok ke belakang sembari berlari.     “Kamu kenapa malah lari?”     Seketika kuhentikan langkah kakiku, sambil tertawa kecil karena malu, aku pun terdiam sejenak di depan laki-laki itu.     “Kamu kenapa kayak ketakutan gitu?”     Aku menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya kembali. Kutenangkan diriku, kuatur napasku, sambil terdiam.     “Tadi ... aku ... dikejar ... sama ... orang ... gila ....” Akhirnya aku bisa menjawab pertanyaan darinya.     “HAHAHA ...!!!” Laki-laki berkacamata itu malah tertawa terpingkal-pingkal sambil menatapku.     Aku segera memasang wajah cemberut, yang kemudian kami malah menjadi tertawa bersama. Kami membicarakan banyak hal di taman kota, mulai dari hobi, makanan kesukaan, minuman kesukaan, pekerjaan, hingga sinetron favorit.     “Kamu sukanya nonton sinetron apa?” Tanyanya padaku.     “Aku, sih, lebih suka nonton sinetron azab, soalnya kayak mengguncang adrenalin gitu, deh. Kalau kamu sendiri?”     “Aku ...  lebih suka ... nonton ... sinetron ....” Ia terlihat berpikir sejenak.     “Sinetron apa?”     “Aku ... sebenernya ... suka nonton serial Baywatch, sih. Soalnya kayak mengguncang detak jantung gitu, deh. Apalagi kalau lihat si Pamela.”     “Oh, pantes. Sangat mengguncang detak jantung, sih, ya.” Ujarku meledeknya.     “Iya, nih, banget.” Pipinya memerah, terlihat ia tersipu malu.     “Pipi kamu kenapa merah gitu?”     “Nggak apa-apa, kok.” Jawabnya.     Saat kami hendak berjalan-jalan mengelilingi taman kota sambil melanjutkan perbincangan, sesosok laki-laki hadir secara tiba-tiba dan mengagetkan kami. Kami pun terdiam beberapa detik, saling bertatapan, sebelum akhirnya kami berlari tunggang langgang berlawanan arah.     “AAAHHH ...!     “TOLONG ...!     “ADA ORANG GILA ...!”     Kami panik, kemudian berlari, kemudian berteriak, kemudian semua orang di taman itu melihat kami, dan kami pun berhenti berlari saat tiba di tengah jalan raya.     Kami berdua merasa lega, meskipun napas kami tersengal-sengal, hingga terbatuk-batuk, dan lutut kami sungguh sangat lemas. Kami berdiri mematung di tengah jalan raya yang untungnya saat itu tak dilewati oleh satu kendaraan pun.     “Kita ... pulang ... aja ... yuk ...?” Laki-laki berkacamata itu bertanya dengan napasnya yang masih terengah-engah.     “Ya ... udah ... pulang ... aja ... yuk ...!” Jawabku yang juga masih terengah-engah.     Kami pun menyetop sebuah taksi biru yang tengah lewat di depan kami. Saat kami hendak masuk ke dalam mobil, supir taksi terlihat keheranan dengan mimik wajah kami.     “Mbak dan Mas-nya abis lari sore, ya?” Tanya supir itu.     “Eh ... enggg ... nggak, kok!” Jawab kawanku.     “Oh, kirain. Habsinya kayak kecapekan abis lari-lari gitu, sih.”     “Ah, Bapak, nih, bisa aja. Nggak, kok!” Jawabnya.     Taksi biru yang kami naiki pun segera berjalan, menyusuri jalanan Jakarta yang padat merayap, sambil ditemani rintik hujan yang turun menimbulkan suara samar-samar di atap mobil yang tengah kami naiki. Udara dingin menyelimuti lelahnya tubuh kami di sore itu, embun menutupi pandangan melalui jendela mobil. Boleh jadi tubuh kami kelelahan karena semua kejadian yang kami alami sore itu, namun hati kami bahagia mengenang semua kejadian lucu di hari itu. ***       Pagi itu seperti biasa kegiatanku yaitu berangkat kerja dengan menaiki bus Trans Jakarta, lalu turun di Halte Juanda, kemudian berjalan kaki melewati jembatan penyebrangan ke arah Masjid Istiqlal, berjalan kaki lagi sekitar 3 menit, hingga aku tiba tepat di depan sebuah rumah makan padang, yang tak lain dan tak bukan adalah tempat kerjaku.     “Aih ... Marlin, pagi sekali kautiba di sini?” Seperti biasa ucapan dari bapak pemilik toko menggodaku.     “Bagaimana liburanmu, Marlin?” Tanya salah seorang juru masak padaku.     “Apa dua hari kemarin kauambil cuti untuk berlibur? Ke mana?” Tanya salah seorang pelayan yang tengah membersihkan jendela.     “Eh, Mar, jangan-jangan kemarin kauberkencan, ya? Kenalkanlah pada kami kawanmu itu!” Ucap si juru masak yang satunya lagi.     “Marlin, apa kita nanti akan bersenang-senang selepas pulang bekerja?” Ujar pelayan lain.     “Iya, Mar. Apa akan ada pesta perpisahan untuk kami semua?” Juru masak yang lain menimpali.     “Iya, Mar, meski kau baru bekerja 6 bulan di sini, tapi kita sangat akrab, seperti keluarga dekat. Bukan kah begitu?” Bapak pemilik toko terdengar cukup menyentuh.     Memang hari ini adalah hari terakhirku bekerja di sini. Bukan karena aku tak betah, tak nymana, tak suka, apalagi karena alasan gaji yang kurang yang menyebabkan aku memutuskan untuk resign dari rumah makan ini, tapi karena aku sudah punya kesempatan lain di luar sana yang lebih menjanjikan untuk masa depanku.     Karena hari ini adalah hari terakhirku bekerja, ada banyak hal yang harus kupersiapkan. Dari mulai membuat laporan untuk semua pengeluaran dan pemasukan selama sebulan penuh, hingga serah terima jabatan pada seorang gadis muda yang akan menggantikan posisiku, gadis itu merupakan kemenakan dari salah satu juru masak yang bekerja di sini.     Aku juga membereskan barang-barangku yang sering kutinggal di sini, seperti sisir, sabun, handuk, sampo, sikat gigi, pasta gigi, selimut, kasur, cermin, piring, sendok, hingga segala rupa peralatan olahraga. Maklumlah, terkadang aku suka menginap di salah satu kosan kawan kerjaku di dekat sini.     Tak terasa setelah semua hal-hal yang perlu aku bereskan telah selesai kutunaikan, maka aku dan seluruh karyawan rumah makan, termasuk bapak pemilik toko, kami mengadakan pesta perpisahan sederhana. Selepas jam kerja, setelah toko ditutup, aku mengajak mereka semua makan es krim di salah satu toko yang tak jauh letaknya dari tempat kami bekerja.     Kami berjalan kaki menuju toko es krim itu, beramai-ramai, macam gerombolan karyawan pabrik berseragam yang hendak pulang.     Sesampainya di sana, aku mempersilahkan semua kawan-kawanku memesan es krim apapun yang mereka sukai. Yang penting jatah untuk satu orang hanya satu porsi, tak lebih tak kurang, disebabkan uang yang kupunya pun pas-pasan.     “Aku mau pesan es krim vanili!     “Awak mau es krim green tea!     “Aku mau es krim cokelat!     “Aku mau es krim tiramisu!” Suara dari kawan-kawanku yang masih muda terdengar bertalu-talu, saling menimpali, tak mau kalah, mereka terlihat cukup antusias, entah karena mereka tak pernah lihat es krim, ataukah memang mereka yang terlampau udik.     “Eh, tak usah rebutan, mengantrilah yang tertib!” Ujar bapak bos menghentikan hiruk pikuk yang tengah terjadi.     Setelah seluruh pesanan kami tiba, kami menyantap es krim bersama-sama dengan suka cita. Kami bercanda tawa, bersuka ria, membincangkan hal-hal yang selama ini terjadi di rumah makan. Entah tentang kelakuan aneh dari kami semua, atau tentang kelakuan aneh para pembeli di toko.     “Waktu itu, saat aku tengah melayani pembayaran, ada seorang gadis muda yang ketinggalan dompet. Untung saja orang yang ada di belakangnya menawarkan bantuan.” Aku mulai bercerita.     “Lalu?” Tanya kawanku yang lain.     “Untung saja ada yang mau membantu, ya! Jangan sampai kasbon dulu lah! Bisa rugi toko kita nanti.” Ujar bos menimpali.     “Waktu itu saat aku hendak membungkus makanan untuk seorang pembeli ....” Kawanku berkisah.     “Kemudian?” Tanya yang lainnya.     “Dia hendak memilih lauk, tapi dia mau mengambil lauk dengan tangannya sendiri. Tak mau sama sekali jika aku yang mengambilnya.” Lanjutnya.     “Sebabnya apa?” Tanya bapak bos.     “Entahlah. Mungkin dia pikir aku tak pernah cuci tangan, kali!” Jawabnya lagi.     “Lihatlah! Kedua tanganmu hitam begitu, mungkin dia takut tertular jadi hitam juga.” Salah seorang kawan meledeknya.     “Sejak kapan warna kulit bisa menular? Ada-ada saja, kau!” Jawabnya sewot.     Kami semua sangat menikmati pesta perpisahan malam itu, meski aku hanya mentraktir mereka es krim murah di toko pinggir jalan, tapi mereka terlihat sangat menghargai permberian dariku.     Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Kami semua pun pulang ke rumah masing-masing, termasuk diriku. Sebelum pulang, mereka memberikan pesan-pesan padaku, agar aku lebih tabah menjalani hidup ke depannya, mereka juga mendoakanku, agar aku menjadi orang yang lebih sukses dan berhasil dalam hal karir maupun hal yang lainnya.     “Mar, ini untukmu, sebuah kado sebagai kenang-kenangan dari kami semua untukmu. Mungkin nilainya memang tak seberapa, tapi Insya Allah ini akan menjadi pengingat jika kau tengah merasa jengah dan lelah akan hidup ini.” Pak bos memberikan sebuah kotak kado kecil berwarna kuning, terdapat pita kecil di tengahnya.     Aku buka pelan-pelan kotak kado itu di depan mereka semua, sangat gembira aku ketika melihat isinya. Sebuah buku kecil dengan judul, Doa-doa yang tak tertolak. Aih ... sangat mengesankan.     Aku sedikit meneteskan air mata karena terharu melihat bagaimana sikap baik mereka terhadapku. Meski kami baru kenal, tapi kami bagai keluarga dekat. Saling mengisi, saling membantu, saling mengingatkan, saling bahu-membahu, saling menasihati, saling menghibur, saling menjaga satu dengan yang lainnya.     Aku pulang dengan langkah yang terasa berat, berat karena lelah bekerja seharian, berat karena memang cukup sedih harus meninggalkan kawan-kawan kerja yang sudah amat baik padaku selama ini.     Aku berjalan melewati jembatan penyeberangan menuju Halte Juanda Bus Trans Jakarta, sambil sekali lagi menengok ke belakang untuk terakhir kalinya, menengok kawan-kawanku yang kini berjalan berbeda arah denganku, menengok Rumah Makan Padang Saiyo Sakato, menengok Masjid Istiqlal, dan menengok pada diriku sendiri bahwa terkadang jalan hidup membawaku entah tak tahu ke mana arahnya.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN