“Eh, Cin! Kenalin, nih, ada anak baru, buat divisi finance!” Seorang perempuan muda yang cantik dan berpakaian sangat modis tengah mengajakku berkeliling kantor untuk memperkenalkanku pada semua karyawan di sana. Sebagai seorang staf Human Resources Department (HRD), hal ini memang sudah menjadi bagian dari pekerjaannya.
“Duh, siape, nih, Cin? Eh, siapa nama kamu?” Seorang perempuan yang sama cantiknya bertanya padaku.
“Pagi, Bu. Nama saya ... Marlin ....” Jawabku pelan dan sedikit malu-malu.
“Oooh .... Kenalin nama gue ... Cinta!” Perempuan cantik itu mengulurkan tangannya padaku.
“Eh, kenalin, nama yey Rangga!” Seorang laki-laki yang terlihat agak melambai ikut mengulurkan tangannya padaku hendak memperkenalkan diri.
“Wow ... anak baru, nih? Pasti gantiin si Lisa, ya?” Tanya seorang perempuan paruh baya.
“Eh, Bu Grace. Pagi, Bu. Iya, dia yang akan gantiin posisinya Lisa, Bu.” Jawab staf HRD itu dengan sopan.
“Hmmm ... siapa nama kamu? Lulusan dari mana?” Perempuan paruh baya itu melihatku dengan pandangan mata yang cukup tajam, dari ujung kerudung hingga ujung sepatuku.
“Ss ... sss ... saya ... Marlin, Bu. Saya lulusan dari─” Baru setengah kumenjawab pertanyaan dari perempuan paruh baya itu, seseorang hendak memanggilnya dari dalam ruangan.
“Grace! Sini sebentar! Laporan yang kemarin kenapa belum selesai juga pagi ini, sih?!” Terdengar suara seorang laki-laki paruh baya dari dalam ruangannya, sepertinya ia merupakan atasan dari perempuan itu.
“Ya udah, kita keliling lagi, yuk, Mar!” Staf HRD itu mengajakku dengan ramah.
Perempuan muda itu bernama Kara. Sebagai staf HRD yang baik, ramah, sopan, baik, pintar, dan benar, ia memperkenalkanku dari satu karyawan ke karyawan lainnya., dari satu divisi ke divisi lainnya, dari satu meja ke meja lainnya, dari satu ruangan ke ruangan lainnya, dari depan pintu kantor hingga ujung ruang rapat, tanpa terkecuali. Dan ternyata di perusahaan sebesar ini ada juga karyawan-karyawan yang jenisnya aneh bin ajaib, salah satunya yaitu seorang perempuan yang bertugas sebagai office girl yang tengah ada di hadapanku saat ini. Dari sejak aku tiba di kantor ini tadi pagi, hingga aku telah berkeliling kurang lebih 20 menit, perempuan office girl ini masih saja berdiri di depan sebuah meja karyawan laki-laki. Kulihat perempuan itu sepertinya berumur sekitar 40 tahun, namun sedari tadi kuperhatikan ia tengah mengobrol dan sedikit menggoda karyawan laki-laki di depannya yang memang terlihat cukup tampan.
“Pak Nathan, kemarin katanya mau kasih saya cokelat. Kok malah dihabisin, sih?” Tanya perempuan office girl itu.
“Hah? Cokelat apa, sih, Mbak Mus?” Laki-laki tampan itu terlihat sudah muak.
“Itu, loh ... yang dikasih sama si anu ....”
“Anu? Anu siapa, Mbak? Eh, Win, gue mau ngeprint laporan, nih!” Laki-laki itu berlalu sembari berkata pada kawan yang ada di sebelahnya.
“Pak Nathan ... Pak .... Ih, Bapak, mah. Kok saya dicuekin, sih?” Perempuan office girl itu terlihat cemberut dan segera pergi dari meja itu menuju ruang pantry.
Aku tertawa kecil melihat kelakuan perempuan itu yang sungguh aneh bin ajaib.
“Ayo, Mar. Kamu belum kenalan sama satpam dan resepsionis di depan, kan?” Kara bertanya sambil berjalan kembali ke depan pintu kantor.
Kulihat seorang laki-laki berseragam hitam-hitam, berwajah teduh dengan senyum yang ramah, sambil melihat ke arahku begitu kami tiba di hadapannya.
“Hei, anak baru, ya? Gantiin Lisa pasti, nih?” Satpam itu bertanya pada Kara sambil melihat ke arahku.
“Iya, Pak. Tepat sekali! Kenalan, dong, Pak, jangan diem aja, hehehe ....” Kara tertawa kecil.
“Hei, anak baru. Nama kamu siapa? Nama saya Nurdin.” Satpam itu mengulurkan tangannya padaku.
“Nama saya Marlin, Pak.” Aku menjawab sambil tersenyum padanya.
“Eh ... eh ... eh ... ada anak baru, nih? Kenalin, dong!” Seorang perempuan cantik dengan rok pendek yang cukup ketat melihat ke arahku.
“Eh, Mbak Risa. Iya, nih, anak baru. Kenalin Mbak, namanya Marlin.” Kara memperkenalkanku padanya.
“Oh, nama kamu Marlin? Namaku Risa, aku selalu nongkrong di meja resepsionis. Salam kenal, ya!” Perempuan itu menjabat tanganku dan berkata dengan ramah.
“Eh, lu liat si Nathan, nggak?” Perempuan resepsionis itu berbisik pada Kara, sepertinya mereka sedang membicarakan seseorang.
“Si Nathan? Dari tadi gue liat dia di mejanya, kok. Tapi ....” Kara menjawabnya sambil berbisik juga.
“Tapi apa?” Si perempuan resepsionis terlihat sedikit panik.
“Tapi ... dari tadi dia digodain sama Mbak Musdalifah! HAHAHA ...!” Setelah berbisik tiba-tiba Kara malah terlihat tertawa.
“Udah, ah, bodo amat! Gue cubit lu, Kar!” Perempuan resepsionis pun segera berlalu.
Aku mencium sepertinya ada cinta segi tiga di kantor ini. Seorang laki-laki muda tampan yang digilai oleh 2 orang perempuan, yang satunya mbak-mbak resepsionis, dan satunya lagi mbak-mbak office girl. Hmmm ... cukup menarik!
“Mar, sekarang saya antar ke meja kamu, ya!” Kara berkata padaku, dan kami berjalan masuk lagi ke dalam kantor itu.
Ternyata divisiku terletak pada pojok ruangan, paling pojok di antara yang paling pojok. Terdapat banyak kubikel di tengah ruangan besar itu. Sesampainya di meja tempatku bekerja, aku segera berjabat tangan dan memperkenalkan diri pada kawan satu kubikelku. Ada 6 orang pada kubikel itu, termasuk aku.
“Yang gantiin Lisa, ya? Namanya siapa?” Tanya seorang perempuan berkulit kuning.
“Iya, Bu. Nama saya Marlin.”
“Oh, Marlin. Nama saya Jenie, saya nanti yang akan jadi supervisor kamu.” Ia memperkenalkan diri dengan ramah.
“Kenalin nama gue Pevita. Selamat bekerja sama, ya!” Seorang perempuan yang terlihat seumuran denganku menjabat tanganku.
“Nama gue Dian Sastro! Selamat datang!”
“Nama gue Ari Wibowo! Selamat bergabung!”
“Hai, nama gue Agnes Mo. Semoga betah, ya!”
Mereka semua memperkenalkan dirinya dengan ramah, namun sepertinya nama yang mereka sebutkan bukanlah nama asli diri mereka. Aku hanya bisa tersenyum, menganggukkan kepala, sambil sesekali tertawa kecil, dan mereka semua malah ikut tertawa pula.
“Eh, ya. Bu Jenie, si bapak nggak lagi ada di ruangannya, ya?” Kara bertanya pada ibu supervisor.
“Hmmm ... ya, biasalah, dia kan kalau dateng siang terus. Udah, Kar, nanti aja kenalinnya. Biar gue aja nanti yang kenalin Marlin ke si bapak.”
“Ya sudah. Aku duluan, ya, Bu Jenie. Marlin, temen-temen semuanya, aku duluan, ya. Mau balik ke ruangan, ada kerjaan lain! Hehehe .... Bye!” Kara berlalu dan meninggalkan kami semua di situ.
***
Aku cukup senang bisa bekerja di perusahaan yang cukup besar ini. Meskipun pada awalnya aku tak menyangka bisa diterima bekerja di sini. Berbekal informasi dari kawan lama kakek, bahwa di perusahaan dulu tempatnya bekerja sedang membuka lowongan pekerjaan untuk bagian keuangan, sangat sesuai dengan latar belakang pendidikanku. Aku mengirimkan sebuah surat lamaran kerja beserta Curriculum Vitae melalui email ke alamat email yang tertera di situ. Tak lama berselang aku ditelepon oleh pihak HRD, dan langsung memintaku datang untuk melakukan proses interview. Dan di sinilah aku sekarang.
Para karyawan di sini cukup baik, ramah, profesional, bisa bekerja sama dengan baik, dan aku cukup bangga bisa bekerja di sini. Kantorku cukup jauh dari rumah, memakan waktu sekitar kurang lebih satu jam untuk bisa sampai di sini. Aku berangkat dan pulang dengan menaiki kendaraan umum. Naik ojek online dari rumah menuju stasiun MRT, lalu naik MRT dan turun di stasiun MRT Sudirman, dan menuju kantor dengan berjalan kaki. Kantorku terletak di tengah Kota Jakarta, di kawasan perkantoran yang terdapat banyak sekali gedung-gedung tinggi, kantorku terletak di salah satu gedung tinggi itu.
Hari ini merupakan pekan keempat aku bekerja di sini, tak terasa memang, tapi sejauh ini aku merasa betah- betah saja, tak ada hambatan yang berarti. Aku bertugas membuat laporan atas uang yang masuk dan keluar dari dan ke rekening perusahaan setiap pagi dan sore hari, lalu membuat list untuk mengatur jadwal pembayaran ke supplier dan tagihan-tagihan lain setiap harinya, mengelola pemakaian petty cash, mengurus berbagai kegiatan perusahaan yang berhubungan dengan bank, seperti menarik loan, membayar bunga-bunga pinjaman pada waktunya, melunasi hutang-hutang tepat waktu, membuat surat-surat untuk mengajukan jaminan ke bank, dan lain sebagainya. Aku cukup senang dengan pekerjaan baruku, kawan-kawanku di sini juga dengan sangat senang hati selalu mau membantuku jika aku mengalami kesulitan dalam bekerja, mereka juga selalu bersedia menjawab jika ada hal yang tak mampu kupahami.
Semua pekerjaan dapat kukerjakan dengan lancar dan baik. Dan hari ini ada jadwal meeting bersama seluruh karyawan dari divisiku.
“Mar, nanti lu orang dengerin dulu aja, ya, gimana meeting ini berjalan. Lu orang jangan tanya-tanya dulu, soalnya lu masih baru. Nanti kalau memang ada yang mau lu orang tanyain, tanya aja ke gue, ya!” Bu Jenie memperingatkanku sebelum meeting pagi itu di mulai.
“Baik, Bu Jenie.” Aku menuruti saja perkataannya.
Kami masuk ke dalam ruang meeting satu per satu, ini baru pertama kalinya aku masuk ke ruangan ini. Ruangannya cukup besar, bagus, dan sangat rapih. Semua interiornya berlapis kayu yang menambah kesan mewah. Terdapat meja kayu yang amat besar berbentuk persegi panjang, dan kursi kerja yang sangat empuk berjejer di setiap sisi meja dengan jumlah yang cukup banyak. Ada proyektor yang menggantung di atas, dan papan putih dengan ukuran besar terdapat di salah satu sisi dinding untuk kegiatan presentasi saat meeting berlangsung.
Setelah semua peserta meeting hadir di ruangan, seorang laki-laki yang merupakan CEO dari perusahaan ini membuka meeting di pagi itu.
“Selamat pagi semuanya! Salam sejahtera saya ucapkan untuk kalian semua yang hadir di ruangan ini. Tak lupa saya ucapkan syukur kepada Tuhan karena hingga hari ini kita semua bisa hadir dalam keadaan sehat, dan semoga perusahaan ini akan tetap dan makin berjaya sampai nanti.” Laki-laki itu bernama Rio, dan kami semua memanggilnya dengan Pak Rio. Ia terlihat cukup tinggi dan gagah, dan dari cara bicaranya sangat mencerminkan bahwa ia cukup intelek. Hmmm ... sepertinya ia amat cocok untuk menjadi om.
“Nah, bisa kita lihat pada papan di depan, ya, semuanya! Dari laporan keuangan kita tahun lalu, jika dibandingkan dengan tahun ini, kita lihat ada kenaikan yang cukup signifikan, yang artinya adalah ... laba perusahaan kita tahun ini naik pesat! Dan yang berarti adalah ... kalian semua juga bisa mendapatkan bonus di akhir tahun!” Pak Rio melanjutkan presentasinya.
“Kemudian ... hmmm .... Oh, ya, dari manajer keuangan mana? Mana? Kenapa cuma ada manajer akunting doang di sini?” Pak Rio melirik ke sana kemari, matanya terlihat mencari-cari, terlihat dahinya mengerut, dan jika dilihat dari sorot matanya sepertinya ia amat serius dan menanti jawaban atas pertanyaannya barusan.
“Kenapa nggak ada yang jawab? Ke mana ini manajer keuangan? Jenie?! Ke mana atasan kamu? Kenapa kamu malah diem aja, sih?!” Pak Rio terlihat mulai marah.
“Uhhh ... hmmm ... itu ....” Bu Jenie selaku supervisor keuangan terlihat bingung mau menjawab apa, ia menunduk, mengigit bibir bawahnya, dan tak berani menatap mata Pak Rio.
“Jen ... Jenie ...?! Apa ada yang lain yang tau ke mana perginya orang yang saya maksud?” Wajah Pak Rio terlihat merah padam.
“Oke, nggak masalah kalau semua nggak ada yang mau jawab. Biar saya tanya langsung ke manajer HRD aja, ya!” Pak Rio segera menaruh mikrofon yang ia pegang ke atas meja, dan segera bergegas pergi keluar dari ruangan.
“Eh, Pak ...! Pak Rio! Tunggu sebentar, Pak!” Bu Jenie terlihat kualahan mengejar Pak Rio.
“Ada apa lagi, Jen?!” Langkah kaki Pak Rio terhenti sejenak.
Bu Jenie hanya diam, Pak Rio juga diam sambil mengengok ke belakang, ke arah Bu Jenie. Namun beberapa detik berselang, muncul kehadiran seorang laki-laki di antara mereka, persis di muka pintu ruang meeting. Seketika semuanya jadi diam, Bu Jenie, Pak Rio, seluruh karyawan di ruang meeting, seluruh kursi di ruang meeting, seluruh meja di ruang meeting, papan putih di ruang meeting, proyektor di ruang meeting, hingga aqua gelas beserta risol dan gorengan yang tersaji di atas meja ruang meeting, semuanya juga ikut terdiam, nyaris tanpa suara.
Pak Rio menatap mata laki-laki muda yang berdiri di depannya dengan tajam dan teramat sangat serius. Dengan satu tarikan napas panjang, dengan keyakinan penuh, tanpa rasa ragu sedikit pun, Pak Rio berkata pada laki-laki itu.
“KE MANA AJA LU ORANG, HAH?!!!” Ternyata Pak Rio benar-benar naik pitam.
Laki-laki muda itu segera mengejar Pak Rio yang pergi jauh meninggalkan ruangan meeting, dan berjalan ke ruangan HRD. Semua mata keryawan di sana tertuju pada mereka, diam-diam telinga mereka juga mencuri dengan, kepo sekali mereka semua, tak tahan jika ada gosip baru.
Selanjutnya aku tak tahu lagi drama apa yang hendak terjadi antara mereka berdua, entah drama pemecatan seorang manajer secara tak hormat, ataukah drama seorang manajer merong-rong CEO untuk memohon ampun, ataukah drama azab seorang manajer yang terlampau sering memakan gaji buta. Entahlah.
Tapi kejadian hari ini cukup seru kurasa, dapat memicu adrenalin antara si bapak manajer dengan si bapak CEO. Mantap juga dramanya.
Tapi jujur aku juga agak sedikit kepo dengan profil si bapak manajer keuangan, karena selama kurang lebih satu bulan aku bekerja di sini, belum pernah kulihat batang hidungnya, apalagi wajahnya. Terlebih si bapak manajer barusan hanya terlihat dari belakang, dari jauh, sangat samar-samar.