Kantor baru (2)

1986 Kata
    “Mar, bagaimana kerjamu hari ini? Apa menyenangkan?” Kakek bertanya padaku saat aku sedang menikmati makan malam bersamanya.     “Lumayan, Kek. Tadi pagi ada rapat, tapi manajer divisiku tak kunjung tiba, kena damprat lah dia sama pak CEO!” Aku bercerita cukup semangat.     “Oh, ya? Begitukah? Parah juga.”     “Ya, begitulah, Kek.”     “Memangnya seperti apa rupa manajermu itu?”     “Tak tahu, Kek. Dia tak pernah muncul di kantor, sudah sebulan kubekerja di sana, belum pernah sekali pun kulihat batang hidungnya.”     “Oh, ya? Hebat juga!”     Perbincangan kami di meja makan berjalan cukup seru. Kakek juga menceritakan semua kegiatan yang ia lakukan di hari ini. Kakek bercerita padaku bahwa ia pergi mengunjungi pemakaman nenek tadi siang seorang diri dengan menaiki taksi biru. Kata kakek supir taksinya ternyata adalah anak dari kawan lamanya yang bernama Zainudin. Zainudin? Ada banyak sekali orang yang bernama Zainudin di muka bumi ini, gumamku.     Setelah makan malam selesai, segera kuberesi meja makan, mencuci segala piring dan perlengkapan lainnya, kemudian kumasuk ke dalam kamar untuk beristirahat.     Kuhempaskan tubuhku di atas kasur, sangat nyaman sekali, sungguh indah hidup ini jika kita sedang berada di atas kasur. Kurasakan sesuatu di bawah bantalku, seperti sebuah buku. Setelah aku cek, ternyata memang benar, lebih tepatnya ada sebuah majalah di situ. Kubuka kembali majalah otomotif yang pernah kubeli beberapa bulan lalu di depan Masjid Istiqlal ketika hendak pulang bekerja.     Mataku tertuju lagi pada rubrik puisi. k****a lagi puisi yang berjudul cinta pertama karya RR. Puisi yang sama persis yang pernah kutengok di papan kayu di depan TOGA beberapa tahun lalu, saat aku masih kuliah dulu. Amat rindu aku, entah siapa yang kurindukan, pengarang puisinya pun aku tak tahu siapa gerangan.     “Dreeet ... dreeet ... dreeet ....” HP-ku bergetar, segera kuraih dan kulihat layarnya. Tertera di situ nama si dokter, laki-laki tampan rupawan berkemeja rapih dan berkacamata yang tempo hari mengajakku ke taman kota. Rupanya ia mengirimkan pesan singkat padaku.     Uni, lagi ngapain?         Aku merasa senang bukan kepalang, tersenyum-senyum aku menatap layar HP-ku. Sambil kubayangkan andai kata dapat kembali berjumpa dengannya, pasti hatiku akan sangat senang. Senyumku mengembang sepanjang malam menatap pesan singkat dari laki-laki berkacamata yang tampan itu. Hampir satu jam aku hanya tersenyum, bisa diperkirakan tidurku malam ini akan amat nyenyak, pulas, menyenangkan, menggembirakan, hingga akhirnya kulupa membalas pesan darinya, dan tertidur di atas majalah otomotif itu. ***       Aku segera bergegas ke kamar mandi, sudah pukul 6 lebih 30 menit, itu berarti aku hanya punya waktu sekitar tiga puluh menit untuk bisa tiba di kantor. Aku masih terhitung sangat amat baru di kantor itu, jangan sampai aku datang terlambat.     Tanpa sarapan, tanpa memoles wajahku dengan bedak, dan tanpa ba bi bu, aku segera meluncur ke muka rumah dan naik ke atas jok belakang motor pengemudi ojek online.     “Pak! Jalan sekarang! Nggak pake lama!” Suaraku terdengar sangat panik.     Pengemudi ojek itu segera mengeluarkan jurus mengemudi dengan kecepatan tinggi alias jurus balapan liar. Aku segera memegang pinggang si abang ojek, takut kalau sampai terjatuh dari atas motor, belum mau mati aku, masih muda, masih ingin merasakan bagaimana indahnya menikah dan punya banyak uang macam Bill Gates.     Dengan kecepatan yang kian detik kian bertambah, yang semula motor ini melaju dengan kecepatan 5 meter per detik, kini bertambah menjadi 7 meter per detik, kemudian bertambah lagi menjadi 15 meter per detik, hingga aku akhirnya tiba di muka stasiun MRT dengan tepat waktu, dengan kerudungku yang centang perenang.      “Udah sampe, nih, Neng!” Si abang ojek terlihat bangga.     “Iya, mantap juga kau, Bang!” Pujiku padanya.     “Iyalah, motor CBR-ku ini mampu menembus hingga langit-langit.” Ia memamerkan motornya.     “Udeh, ye, Bang! Makasih, ye! Neng mau berangkat dulu, bye!” Aku segera berlalu dari hadapannya, sebelum si abang makin menjadi-jadi.     Pagi ini akhirnya aku bisa tiba di kantor tepat waktu, aku amat bersyukur, dan tak lupa kuberikan bintang 5 pada si abang ojek online, dan uang tip sebagai ucapan terima kasihku padanya.     “Mar! Sini, deh!” Pevita yang merupakan kawan satu kubikelku, memanggil dan memintaku mendekatinya.     “Ada apaan, sih?” Aku menghampirinya yang sedang berada di meja salah satu kawan divisi kami.     “Lihat, deh, Mar!” Tangan Pevita menunjuk ke layar komputer di depan kami.     “HAH?! ITU SIAPA?” Secara spontan aku berbicara dengan setengah berteriak, sambil menutup mulutku dengan kedua telapak tanganku. Aku amat kaget dengan apa yang tengah kulihat di layar komputer itu. Pevita langsung berbisik ke kupingku.     “APA?!!!” Aku malah makin kaget mendengar apa yang baru saja Pevita katakan padaku.     “Udah kesebar, Mar. Semua orang juga sebenernya udah pada tau.”     “Masa, sih, Pev? Terus?!” Aku bertanya masih dengan perasaan kaget.     “Ya, sayangnya pihak manapun nggak mungkin pecat dia dari sini, sih.”     “Alesannya?” Aku masih bingung dengan apa yang baru saja kulihat dan kudengar.     “Ya, apalagi kalau bukan karena uang! Bokap dia itu investor terbesar di perusahaan ini. Ya jelas dong, kalau dia dipecat, ya kita semua dapet duit dari mana?” Pevita menjelaskan dengan matanya yang melirik ke sana kemari, takut-takut jika ada yang mencuri dengar percakapan kami.     “Jadi? Itu ... barusan ... yang kita liat ... itu ... beneran ...?” Tanyaku masih setengah tak percaya.     “Ya, iya beneran. Masa editan, lucu juga lu, Mar. Masa CCTV kantor diedit! Gambarnya aja grecek-grecek gitu!” Pevita agak sewot.     “Eh, si bos dateng! Si bos dateng!” Salah seorang kawan kami memberi aba-aba, agar kami semua segera kembali ke meja masing-masing untuk mulai bekerja.     Aku, Pevita, dan semua karyawan serentak segera bergegas kembali ke tempatnya semula. Tak lama kemudian muncullah sosok itu, sosok laki-laki yang ada di CCTV yang kulihat barusan, sosok laki-laki yang biasa kawan divisiku sebut sebagai si bos. Terdengar langkah kakinya berjalan menyusuri kubikel-kubikel, kucium aroma parfumnya, parfum yang sepertinya amat kukenal sebelumnya, pikiranku jadi melayang ke mana-mana dan ingatan akan potongan kejadian beberapa tahun silam mulai muncul lagi.     Seketika aku jadi panik, sekujur tangan dan kakiku dingin, bergetar, bibirku juga ikut gemetaran, kepalaku jadi tegang, pusing rasanya. Aku merasa ketakutan yang agak berlebihan, padahal belum tentu orang itu adalah dia.     Aku berusaha menenangkan diriku, kutarik napas panjang, dan kemudian kubuang pelan-pelan. Kuminum air mineral yang terdapat dalam gelas di hadapanku, kuteguk air itu pelan perlahan. Segera kuambil minyak angin yang ada dalam tasku, kuhirup aromanya dalam-dalam untuk menenangkan pikiranku. Hingga akhirnya kawanku berkata padaku.     “Mar, lu nggak apa-apa, kan?”     “Eh, iya, nggak apa-apa, kok.”     “Parfumnya si dedemit, tuh, bau bangke emang! Ngakunya doang parfum beli di Singapur, ngibul banget, dah!” Temanku malah jadi sewot sendiri.     “Gue mau ke toilet dulu, deh, kayaknya. Gue permisi sebentar, ya!” Aku mohon diri pada kawanku untuk ke kamar mandi sebentar.     “Oke, Mar!”     Segera kuberdiri dari tempat dudukku, yang kemudian aku hendak melangkah menuju ke kamar mandi, namun ketika kubalikkan badanku, tepat di depan mataku, di depan hidungku, sosok laki-laki itu terlihat jelas di pelupuk mataku. Laki-laki yang amat kubenci, laki-laki yang telah menghancurkan diriku habis-habisan, menghancurkan kepercayaanku pada laki-laki, pada hidup, pada masa depan yang gilang gemilang, hingga menjadi gelap gulita hidupku bertahun-tahun dibuatnya.     Kini, ia muncul lagi di hadapanku, menjadi atasanku di kantor. Sungguh amat berat kurasakan cobaan hidupku. Aku harus bertahan lagi dalam keadaan yang sangat amat tidak kuinginkan, mengapa keberuntungan hidup jarang sekali berpihak padaku.     Laki-laki b*****t, b******n, tak tahu malu, dan tak tahu adat itu menatapku sambil tersenyum. Sungguh senyuman yang amat menjijkan. Senyuman penuh kepalsuan, ucapan yang penuh dengan kebohongan, jijik kurasa.     Segera kupercepat langkahku, dan berlalu begitu saja dari hadapannya, seolah tak melihatnya sama sekali. Agar ia paham bagaimana rasanya diabaikan, tidak dianggap, dan ditinggalkan begitu saja seolah tak berharga. ***       Mataku sedari tadi tertuju pada Arian. Dia dengan santainya malah tertawa cekikikan bersama kawan yang lainnya. Aku berusaha menahan diri, dan terlihat profesional. Setelah sebuah aba-aba terdengar, aku segera berjalan ke arahnya, berjalan dengan tegak, dengan langkah-langkah yang rapih. Begitu aku tiba di depannya, meskipun ada jarak di antara kami karena terhalang oleh beberapa orang di hadapanku, namun aku tetap tenang. Segera kumainkan tugasku, tanganku bergerak-gerak ke atas, ke bawah, ke depan, mengalun-alun mengikuti lagu, mengikuti suasana hatiku kala itu.     Setelah tugas selesai kutunaikan dengan baik, aku kembali ke tempatku semula. Mataku segera melirik ke sana ke mari, mencari celah, mengambil ancang-ancang. Kuperhitungkan dengan teliti dan cermat, butuh berapa detik hingga aku dapat tiba tepat waktu di tempat tujuanku. Untung nilai matematikaku tak pernah kurang dari angka 9. Pasti kakek amat bangga padaku.     Setelah semua hal kuperhitungkan, hingga kemungkinan-kemungkinan terburuk yang dapat terjadi kupikirkan secara matang sebelumnya, akhirnya aku segera mengambil gerakan balik kanan grak!     Aku berjalan sambil berjinjit-jinjit ke arah belakang petugas upacara Senin itu. Dan aku menghentikan langkahku tepat di belakangnya. Akhirnya saat-saat yang kutunggu tiba juga, hari ini semua dendam dan kebencian akan terbalas, terbayar lunas. Tak kupedulikan kemungkinan buruk yang akan terjadi nanti. Dengan begitu yakin dan dengan semangat ’45, aku mempersiapkan diri untuk langkah selanjutnya yang akan kuambil, yang tak kan pernah kusesali seumur hidupku.      Kini posisiku tepat berada di belakang laki-laki jelek itu, laki-laki menyebalkan yang hobinya hanya tawuran antar sekolah, antar desa, antar kecamatan, bahkan antar kabupaten hingga antar provinsi. Segera kupasang posisi kuda-kuda, kutarik napas panjang, kupastikan bahu kakiku bisa sampai tepat mengenai sasaran. Kubuang napasku pelan perlahan. Kemudian kuhitung mundur dalam hati.     3 ... 2. ... 1 ...!     “AAAHHH ...!!! SAKIT ...!!! p****t GUE SAKIT!!!” Arian berteriak sekencang-kencangnya, sambil memegang pantatnya dan mengaduh kesakitan yang amat luar biasa.     Semua kawan-kawanku malah tertawa terbahak-bahak menyaksikan pertunjukkan hebat yang baru saja kumainkan. Pertunjukkan luar biasa yang mewakili seluruh isi hati dan keinginan dari para siswa siswi yang sudah amat sangat benci selama ini padanya, namun tak berani untuk meluapkannya. Aku yakin kawan-kawanku akan sangat berterima kasih padaku. Dan kepala sekolah beserta jajaran guru-guru akan amat bangga dengan keberanianku hari itu.     “HEH! SIAPE YANG BERANI-BERANI NENDANG p****t GUE BARUSAN?! SIAPE, HAH?” Arian mulai menunjukkan taringnya.     “Heh! Mata lu buta apa picek? Lu kaga liat gue dari tadi di belakang lu?!” Aku mulai menunjukkan taringku.     “OH, JADI ELU YANG UDAH BERANI NENDANG─” Tak kubiarkan Arian melanjutkan kata-katanya.     “Iya! Iya! Iya, gue pelakunya! Emang kenapa, hah?! Lu pikir gue takut sama lu?” Aku ngegas balik.     Seketika Arian jadi diam, tak berkutik.     “Ngapa lu jadi diem, Cumi?!” Aku memancingnya.     “LU SUKA, YA, SAMA GUE?”     “Iiihhh ...! Najis tralala trilili, deh! Iyuwh ...! Hooeekkk! Cuih, tau nggak!” Aku memasang mimik wajah seolah-olah sedang muntah.     “Yeeeuuu! Terus ngapa lu nendang gue?”     “Soalnya muka lu jelek! N-A-NA-J-I-JI-ES! NA-JIS! Muka lu najis! Item!” Dengan puas aku meledeknya.     “Idih, kenapa lu? Dasar Saifudin! Gue tau nama bokap lu!”     “Hih! Tau dari mana lu nama bokap gue? Dasar lu manusia neraka!” Aku tak mau kalah menghinanya.     “Lu, tuh, pala ayam!”     “Nggak jelas lu! Dasar sabung ayam! Ngaku-ngaku jadi ayam jago, padahal lu sering ikutan judi sabung ayam, kan?! HAAAAHHH ...!!!” Kini jarak hidungku dan hidungnya hanya sekitar 1 centimeter.     Para guru-guru segera berusaha untuk memisahkan kami, agar tidak terjadi hal-hal yang di luar kendali.     “Arian! Lu, tuh, jelek! Bau! Najis tau nggak!” Aku masih berteriak-teriak meski kepala sekolah telah membawaku jauh dari hadapannya.     Aku benar-benar sangat puas hari itu. Namun satu hal yang agak kusesali sampai kini, kenapa tidak sekalian saja kutarik rambut dan pantanya, agar ia kesakitan, dan tak mau balik lagi ke sekolahan ini.     Sungguh sangat menyenangkan jika diingat apa yang dulu pernah terjadi. Dan kini aku masih merasa dendam dan benci pada laki-laki itu.     Aku segera keluar dari dalam kamar mandi, dan berjalan masuk lagi ke dalam ruangan kantor dengan langkah yang yakin, dan kepala yang kutegakkan, menatap lurus ke depan, menatap masa depanku yang akan cerah ceria.     Arian, tunggu pembalasanku setelah ini!  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN