Skandal

1665 Kata
    “Mar, lo dicari-cari sama orang, tuh!”     “Hah? Sama siapa lagi?”     “Nggak tau, deh! Gue lupa nanya namanya, maaf, ya. Hehehe ....”     Entah sudah beberapa kali kawan-kawan satu kubikelku, kawan satu divisiku, kawan dari divisi akunting, hingga staf resepsionis, mengabarkan padaku bahwa aku tengah dicari-cari oleh beberapa orang melalui telepon kantor, namun karena kumatikan telepon di atas meja kerjaku, sehingga mereka semua tak dapat menyambungkan panggilan telepon itu ke nomor extension-ku.     “Duh ... gimana, nih ...?” Ucapku dengan suara yang berbisik.     “Gimana apanya, Mar?” Bu Jenie yang duduk tepat di sebelahku ternyata mendengar ucapanku barusan.     “Eh, Ibu .... Uhhh ... hmmm ... ini, loh, Bu, soal pembayaran ke supplier. Utang-utang kita, kan, udah pada jatuh tempo, sedangkan pabrik minta barang terus ke mereka, kalau sampai kita nggak lunasin utang dalam waktu dekat, para supplier ngancem katanya bakalan nggak mau kirim barang lagi ke pabrik kita. Kalau pabrik nggak dikirimin barang, ya proses produksi terganggung semua, kan, Bu. Gimana, ya?” Aku menjelaskan panjang lebar duduk perkaranya.     “Aduh, masalah hutang lagi, ya. Kamu udah coba tanya ke bank, bisa narik loan lagi nggak? Plafon kita kan masih jauh, ya.”     “Iya, sih, masih jauh, Bu, plafon loan kita. Tapi si bos bilang kita harus lebih kontrol loan, takutnya pas orang audit dateng, nanti hasil laporan audit perusahaan kita jadi nggak sebagus tahun kemarin. Gitu, Bu, kata si bos.” Aku menjelaskan lagi.     “Duh, kalau kayak gini saya juga bingung. Ya, nggak mungkin, kan, uang bakal turun dari langit  begitu aja. Aneh juga, tuh, bos kamu!” Bu Jenie terlihat cukup kesal.      “Kriiing ... kriiing ... kriiing ...!” Dering telepon di atas meja Bu Jenie berbunyi lagi.     “Tuh, kan, Bu! Pasti orang mau nagih utang lagi, deh! Saya nggak tau, deh, mau jawab apa ke mereka ... mau tenggelem aja, ah ....” Aku memelas, sambil menurunkan posisi dudukku hingga wajahku tak terlihat lagi dari meja seberang.     “Aduh! Gimana, ya? Coba saya angkat dulu, deh, sambil cari-cari alesan lain.” Bu Jenie berusaha membantuku.     “Halo? Dari mana, Pak? Dengan Bapak siapa? Oh, hmmm ... Ibu Marlin-nya ... lagi ... lagi ... nggak ada di tempat, Pak! Nanti aja, ya, Pak, coba hubungi kembali. Iya, terima kasih. Sama-sama, Pak. Selamat siang!” Bu Jenie berbicara dengan orang di ujung telepon sambil melihat ke arahku terus-menerus.     “Dari siapa lagi, Bu?” Aku bertanya panik hingga mataku melotot.     “Dari supplier handle pintu, dari Dekson. Pak Fajar namanya, dia bilang kalau uangnya nggak ditransfer hari ini, besok di bakal dateng nyamperin ke sini.” Bu Jenie berbicara sambil memegang kepalanya.     “Tuh, ka, Bu! Mau narik loan detik ini juga, ya tetep aja bakal susah lah buat transfer ke mereka hari ini. Duitnya aja baru cair jam 2 siang, kapan kita punya waktu buat transfer?” Aku merepet-repet agak emosi, pusing kepalaku dibuatnya.     “Si bos belum dateng juga, ya?”     “Belum, Bu Jen.”     “Beneran, deh, bos lu, tuh, emang gila! Udah ditegur juga sama Pak Rio kemarin, nggak ada berubahnya!” Gantian Bu Jenie yang merepet penuh emosi.     Aku dan Bu Jenie diam sejenak, berusaha menenangkan diri, sambil memutar otak mengenai langkah apa selanjutnya yang harus kami ambil.     “Halo semuanya!” Seorang perempuan muda yang cantik dari meja resepsionis tengah menghampiriku.     “Halo, Mbak Risa!” Jawabku mengikuti gaya bicaranya yang ceria.     “Eh, Mar, gini ....” Wajah Mbak Risa mendekati telingaku, dan membisikkan sesuatu.     “Serius?!” Tanyaku kaget.     “Ya, masa gue becanda, sih, Mar.”     “Eh, ada apaan, sih?” Bu Jenie ikut nimbrung.     “Gini, Bu Jenie. Ada tamu di depan, nyariin Marlin, katanya mau nagih utang.” Mbak Risa menjelaskan dengan seksama.     “Aduh! Mati, deh! Gimana nasib kita, nih, Mar?” Bu Jenie terlihat makin panik.     “Udah, ya, saya cuma mau kasih tau itu aja, kok, Bu Jen. Tamunya masih nunggu di depan, ya, Bu. Bye!” Mbak Risa segera berlalu dari hadapan kami.     Aku dan Bu Jenie saling tatap-menatap, tak tahu apa yang harus diperbuat, hingga pukul 12 siang, dan waktu istirahat pun tiba. ***       Aku pulang dari kantor sekitar pukul 7 lebih 30 menit. Seseorang berjanji untuk menjemputku di depan kantor. Dan sekarang, aku tengah menunggunya di sebuah kedai kopi yang lokasinya persis di teras gedung kantorku.     Aku memesan hot green tea latte sembari menonton beberapa vidio di YouTube. Malam itu langit tampak sedikit berawan, dan udaranya cukup dingin, dengan angin yang tidak terlampau kencang. Sebetulnya aku agak takut juga jikalau tiba-tiba hujan turun, masalahnya kedai kopi ini berada di outdoor, sehingga jika hal itu terjadi maka sudah bisa dipastikan kami semua yang ada di sini secara otomatis akan basah kuyup.     Aku kembali melihat ke arah jarum jam, ternyata sudah lewat 10 menit dari waktu yang telah dijanjikan. Aku pun segera menelepon orang itu untuk menanyakan sudah sampai di mana dirinya saat ini.     “Halo, kamu udah di mana, Mas? Oh, ya udah, aku tunggu di depan, ya! Dadahhh ...!” Aku segera mematikan teleponku. Ternyata dia sudah tiba di depan pos satpam sedari tadi, namun ternyata pulsanya habis, sehingga tak dapat mengabariku.     Aku pun berjalan keluar dari kedai kopi meninggalkan hot green tea latte di atas meja yang masih tersisa sedikit.     “Hai, Uni!” Laki-laki berkacamata itu melambaikan tangannya begitu melihat kehadiranku dari jauh.     “Hai, Mas! Udah lama, ya?”     “Nggak, kok, baru lima belas menit yang lalu di sini. Kita jalan sekarang aja, yuk!” Ucapnya, seakan tak sabar ingin mengajakku untuk pergi.     “Iya, Mas. Yuk!”     “Ini helmnya.” Laki-laki itu memberikan sebuah helm berwarna merah padaku, dan secara mengejutkan ia memakaikan helm itu tepat di kepalaku.     Aku langsung terdiam karena kaget, tak menyangka, tanpa aba-aba terlebih dahulu, hingga aku jadi malu dan juga salah tingkah dibuatnya.     Kami pun berjalan melintasi sepanjang Jalan Sudirman, sambil melihat pemandangan gedung-gedung tinggi dan lampu-lampu yang semakin indah jika dilihat pada malam hari. Sebetulnya kami belum menentukan tujuan ke mana kami akan berkunjung, tapi aku juga terlalu malas untuk bertanya padanya. Kunikmati saja perjalanan kami malam itu.     “Udaranya dingin, ya?” Ucapnya ketika kami masih di perjalanan.     “Iya, nih, dingin. Emang kenapa, Mas?” Tanyaku dengan setengah berteriak, takut ia tak dengar karena suara dari klakson kendaraan yang tiada henti.     “Nggak apa-apa, kok.” Kemudian ia diam lagi.     Tak lama berselang, ia memarkirkan motornya pada halaman sebuah restoran.     “Kita mau makan di sini, Mas?” Tanyaku.     “Iya, emang kenapa? Kamu nggak suka, ya?” Tanyanya sambil melirikku.     “Eh, suka, kok, Mas.”     “Yuk, kita masuk!” Tanpa terduga dan secara tiba-tiba, laki-laki tampan rupawan berkacamata itu menarik tanganku, yang kemudian ia memegang tanganku selama berjalan bersama.     Kami berhenti pada sebuah bangunan yang luas dan bertingkat tiga, terletak di daerah Tebet. Di gedung ini terdapat berbagai restoran yang cukup bagus, dengan rasa makanan yang juga cukup berkualitas.     Kami masuk ke dalam restoran yang menjual berbagai macam steak, ada steak ayam, ada steak ikan, ada steak daging sapi, ada steak daging kambing, domba, kerbau, banteng, dan untungnya tak menjual steak daging manusia.     “Mar, kamu mau pesan apa?” Tanyanya padaku ketika hendak memesan makanan.     “Aku mau ... aku mau ... aku mau ... steak!” Jawabku akhirnya setelah beberapa menit membaca satu per satu daftar yang ada di buku menu.     “Iya, aku juga tau. Tapi kamu mau steak apa?” Tanyanya lagi sambil sedikit tertawa.     “Hehehe ... ya, maap. Jadi ... aku ... mau ... steak ikan salmon aja, deh!”     “Ya, udah. Oke.” Ia pun segera memanggil pelayan dan memesan makanan yang akan kami makan.     Setelah beberapa menit makanan pun tiba di meja kami. Kami makan dengan sangat lahap, mungkin karena sama-sama lelah setelah pulang bekerja.     Selepas proses makan memakan selesai, kami segera pulang. Ia mengantarku pulang sampai tiba di muka rumah. Selama di perjalanan, kami mengobrol sedikit, tapi aku cukup senang dengan pertemuan kami malam ini.     Butuh waktu sekitar 40 menit sampai akhirnya kami bisa tiba di rumahku. Begitu kami berhenti di muka pagar, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.     “Hah, apa ini, Mas?” Aku bertanya heran.     “Ini, bunga melati putih buat kamu!” Sontak aku kaget, aku jadi teringat akan sesuatu. Ingat akan beberapa tahun silam, ingat akan seseorang yang juga pernah memberikanku bunga melati putih. Tapi sayangnya aku sudah tak tahu keberadaannya sekarang, entah apakah dia masih hidup, ataukah dia sudah tiada.     “Uni? Uni ...? Uni ...? Kok kamu bengong? Kenapa? Ada yang salah, ya?” Pertanyaan darinya membuyarkan lamunanku.     “HAH? Eh, maaf, Mas! Nggak ... apa-apa, kok .... Aku cuma ... kaget ... aja, jadi ... inget ... seseorang ... soalnya ....” Jawabku terbata-bata.     “Oh, gitu. Yaudah, ini bunga melatinya buat kamu! Mohon diterima, ya.” Ucapnya padaku sambil tersenyum.     “Eh, makasih banyak, ya, Mas.” Aku meraih bunga melati putih itu dari genggamannya.     Aku segera mohon diri untuk masuk ke dalam rumah, karena malam sudah larut. Namun ketika aku hendak balik badan, ia memanggilku lagi.     “Uni?” Panggilnya tiba-tiba.     “Ya, Mas?” Aku menoleh ke arahnya.     “Jadi ... nama kamu itu memang Uni atau ... atau ... gimana? Soalnya, kan, aku manggil kamu uni karena waktu itu kamu kerja di restoran nasi padang. Hehehe ....” Ternyata itu yang ingin ia tanyakan.     “Oh, maksudnya kamu mau tau nama aku, ya?”     “Iya, kalau memang diizinkan untuk tau, sih. Soalnya, kan, kamu udah tau nama aku, nih. Masa iya aku nggak tau nama kamu siapa.”     “Boleh, kok, Mas. Tentu kamu boleh tau siapa nama aku, Mas Adit.” Aku tersenyum saat menyebut namanya setelah kata mas.     “Jadi ... siapa ... nama ... kamu ...?” Ia bertanya dengan mata yang penuh dengan rasa penasaran.     “Namaku ... namaku ... namaku ... kamu bisa panggil aku Aisyah.” Aku lihat sinar matanya kali itu lebih bercahaya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN