Skandal (2)

1654 Kata
    Siang itu aku segera mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam ruangan direksi. Aku cukup takut dengan apa yang akan terjadi nanti. Pasalnya pabrik hari ini ditutup, karena sudah tidak ada supplier yang bersedia mengirim barang ke pabrik, sehingga tak bisa berproduksi, dan semua pekerja di sana akhirnya pulang ke rumah masing-masing selepas makan siang.     “Mar, gawat! Sumpah ini gawat banget!” Aku terkaget-kaget setelah seseorang secara tiba-tiba menarik tanganku ketika hendak menuju ruang direksi.     “Heh, apa-apaan, nih! Lepasin tangan gue sekarang!” Aku melotot pada laki-laki di depanku.     “Iya, Mar, sorry! Gue panik tadi. Soalnya─” Belum selesai laki-laki itu bicara, segera kuputus kata-katanya.     “Tuh! Dateng, gih, ke ruang direksi! Lu pertanggung jawabin semua ulah lu sana! CEPETAN!” Semua mata karyawan tertuju padaku, mungkin mereka heran sejak kapan ada bawahan yang dengan lantang berani memarahi bosnya di depan semua orang.     “ARIAN?! MANA ARIAN?! KENAPA BELUM MASUK KE RUANGAN SAYA?!” Sebuah suara yang berasal dari dalam ruang direksi terdengar hingga keluar. Semua karyawan yang mendengar dan melihat kejadian itu segera berbisik-bisik.     Arian pun bergegas masuk ke dalam ruangan itu sambil setengah berlari. Terlihat wajahnya sangat panik dan pucat. Mampus lo! Gumamku dalam hati.     Saat aku hendak masuk ke dalam ruang direksi, Bu Jenie segera menghentikan langkahku.     “Jangan sekarang, Mar! Biasanya dia bakal dimaki-maki dulu sama direksi, abis itu baru kita masuk, itu juga kalau suasananya udah reda.” Bu Jenie menjelaskan.     “Oh, gitu. Oke, deh, Bu. Emangnya si bos udah biasa, ya, dimaki-maki gitu?’     “Ya, jangankan biasa. Di atas kata biasa, Mar, di atas kata sering juga, alias selalu, rutin, udah ada jadwalnya malahan. Hehehe ....” Ujar Bu Jenie sambil terkekeh-kekeh.     “Parah juga, ya, Bu.”     “Emang! Banget!” Bu Jenie agak sewot.     Sudah lebih dari tiga puluh menit aku dan Bu Jenie berdiri mematung di dekat ruang direksi, sembari sesekali mencuri dengar atas apa yang terjadi di dalam ruangan, dan kami berbisik-bisik sambil terkekeh-kekeh. Amat bahagia kami ketika mendengar si bos dimaki-maki, dijatuhkan harga dirinya mentah-mentah, merasa dendam kami terbalaskan seketika, termasuk dendam pribadiku padanya.     “LU ORANG KALAU MASIH NGGAK BISA KERJA, MENDING NGGAK USAH DI SINI LAGI! BISA TUTUP SELAMANYA ITU PABRIK KARENA KELAKUAN LU!!!” Suara pak direksi terdengar begitu menggelegar dari luar ruangan.     “Kita hitung mundur aja dari tiga, ya.” Bu Jenie secara tiba-tiba berkata demikian.     “Hah? Maksudnya?” Tanyaku bingung.     “Yaudah hitung aja, ikutin gue, ya!” Ucapnya sambil terkekeh.     “Tiga ... dua ... satu ...!” Ucap kami berdua bersamaan.     “KELUAR LU DARI RUANGAN GUE! SEKARANG!!!” Terdengar pak direksi sangat murka pada orang yang ada di hadapannya.     Jadi ternyata ini yang barusan Bu Jenie maksud. Menghitung mundur, dari angka tiga hingga angka satu, menanti saat-saat di mana si bos, si Arian, si laki-laki bodoh dan d***u itu diteriaki dan diusir secara tidak berperike-bos-an. Jatuh sudah harga dirinya kini.     Mampus kau, Arian! ***       Aku masih menikmati kejatuhan harga diri si bos di ruang direksi hingga hari-hari berikutnya. Untung saja pak direksi segera mengambil langkah tegas dan cerdas, hingga pabrik bisa buka kembali esok harinya, dan barang-barang yang ditahan oleh pihak supplier kini sudah tiba lagi di pabrik. Dan semua utang-utang akan segera aku lunasi semua hari ini, karena kami berhasil menarik loan dari bank yang sudah menjadi langganan kami.     “Selama plafon loan kita masih ada, apalagi masih jauh, ya diambil aja lah! Kenapa mesti nunggu nanti-nanti? Kenapa mesti takut sama audit? Selama utang kita bayar tepat waktu beserta bunga-bunganya, ya, nggak ada masalah! Oh, ya, saya lupa satu hal, manajer keuangan kalian, kan, lulusan kedokteran gigi, ya. Mungkin dia lupa atau bahkan nggak tahu, bahwa utang adalah bagian dari aset.” Begitu pesan dari pak direktur pada aku dan Bu Jenie kemarin.     Sebetulnya aku juga heran, mengapa si Arian itu bisa sampai banting setir menjadi manajer keuangan, untuk apa gelar dokternya jika tak digunakan. Agak kepo sebetulnya, namun entah harus pada siapa kubertanya akan hal ini.     “Akhirnya, ya, Mar. Keadaan stabil lagi. Untung pak direktur langsung ambil alih, kalau nggak gimana coba nasib pabrik dan kita hari ini? Duh, bisa kacau, deh!” Ujar Bu Jenie saat kami sedang istirahat di teras gedung lantai 2.     “Ya, iyalah, Bu. Udah pasti bakal parah bingit.” Ujarku sambil mengunyah sepotong red velvet cake di mulut.     “Eh, tapi lu tau nggak, sih, Mar ....” Bu Jenie bicara sambil menengok kanan kiri, seperti takut jika ada yang mendengar.     “Tau apa, Bu?” Aku memajukan wajahku.     “Lu mau tau nggak kenapa si bos bisa sampe kerja jadi manajer di sini?” Ia bicara dengan suara yang berbisik.     “Ya ... ya ... ya, karena, kan, bokap-nya si bos itu investor terbesar di perusahaan ini, gitu, kan, Bu?”     “Ya, tentu bukan hanya karena alasan klasik macem begitulah, Mar ....” Bu Jenie agak sewot.     “Terus ...? Kenapa, tuh, Bu?” Jika kepo-ku jadi bangkit seketika.     “Emang lu nggak curiga apa, si bos jelas-jelas awalnya dokter gigi, dan dia juga sempet punya tempat praktek, tapi tiba-tiba tutup tanpa ada yang tau sebabnya. Terus 3 tahun kemudian, si bos kerja di sini langsung jadi manajer.”     “Jadi ... jadi gitu, Bu, ceritanya? Terus?”     “Ya, usut punya usut, sih, yang pernah gue denger, nih, ya. Tapi lu jangan cerita ke siapa-siapa, nih. Si bos itu pernah malapraktik, sampe bikin pasiennya giginya rontok semua!”     “Hah? Masa?” Aku agak kaget sekaligus tak percaya.     “Serius! Jadi korban malapraktiknya itu adalah anak sepupunya temennya ponakannya kakaknya temen gue! Gila nggak, tuh!” Bu Jenie menjelaskan dengan penuh semangat. Sepertinya keahlian gibahnya sudah lama terasah dengan baik.     “Waw ... parah juga, ya!”     “Ih! Banget!” Jawabnya terlihat sangat gemas dengan apa yang baru saja ia ceritakan.     Setelah waktu menunjukkan pukul 1 siang, kami segera kembali lagi ke dalam kantor untuk melanjutkan pekerjaan.     Di meja kerjaku, aku jadi berpikir dan mengingat sesuatu, jika memang yang Bu Jenie ceritakan barusan benar adanya, maka itu artinya selama aku berada di panti, selama itu pula si Arian tak punya pekerjaan, hanya terdiam di rumah sambil ketar-ketir takut akan hukuman yang datang akibat malapraktik yang dilakukannya. Aku jadi teringat akan sebuah pepatah, apa yang kau tanam, itulah yang akan kautuai, ternyata memang benar adanya.     Aku melanjutkan pekerjaanku sambil menyeruput morning tea hangat yang tersedia di atas meja. Aku membuka klik bank bisnis melalui komputerku, setelah sebelumnya memasukkan beberapa digit pin yang tertera di layar token yang kugunakan.     “Mar, coba cek, deh. Si bos udah approved transaksi belum? Kalau sampe belum, batal semua, loh, transaksi kita hari ini.” Bu Jenie mengingatkanku.     “Iya, Bu, ini lagi saya cek!” Jawabku dengan tergesa.     Aku menatap layar komputerku dengan amat serius, memperhatikan deret kolom approve, memastikan apakah masih ada transaksi yang belum jalan hari ini. Dan ternyata ... s**t!     “Gimana, Mar?” Bu Jenie bertanya sambil ikut menatap ke layar komputerku.     “Belum di klik semua, Bu!” Jawabku panik.     “Kejadian lagi, deh! Ya udah, Mar, kamu ke ruangan si bos, gih! Minta approve sekarang juga, bilang aja, nggak pake lama, ya, Pak! Gitu, Mar! Hahaha ....” Bu Jenie bicara sambil terkekeh.     “Ya, Bu, kalau saya di usir gara-gara ngomong gitu, gimana?” Tanyaku ragu.     “Nggak bakalan, tenang aja. Udah sana cepetan masuk, nanti si bos keburu pergi lagi, loh!”     Segera kumasuki ruangan si bos, si laki-laki buruk rupa dan juga buruk akhlak itu.     “Tok ... tok ... tok ...!” Sebetulnya aku sangat malas untuk mengetuk pintu terlebih dulu, ingin kubuka saja pintu ruangan itu dengan kasar dan brutal, namun untungnya aku masih tahu sopan santun.     “Siapa, sih? Ya, masuk aja!” Ujar seseorang dari dalam ruangan.     Kubuka pintu itu dengan perlahan karena ragu, namun segera terhirup sebuah aroma yang tak sedap. Awalnya kupikir aku yang salah, karena bisa saja aroma itu bukan berasal dari dalam ruangan itu. Namun setelah kubuka pintu lebar-lebar, terlihatlah sebuah pemandangan yang sangat tak sedap, yang sangat tak elok dipandang mata, yang sangat tak pantas dilakukan di dalam sebuah ruang kerja. Sambil tertawa-tawa, si Arian seketika menatap ke arah pintu yang baru saja terbuka lebar, menatap ke arahku, tanpa rasa malu dan canggung sedikit pun.     “Eh, Mar, masuk aja, sini! Kenapa lagi?” Arian dengan santai berkata demikian, seperti tak tahu dosa.     “Uhhh ... hmmm ... ini, Pak. Ss ... sss ... sssaya ... mau minta ... transaksi saya segera diapprove, Pak!” Aku berkata dengan terbata-bata karena heran dengan pemandangan yang tengah kusaksikan.     “Oh, itu .... Yaudah, saya klik sekarang, deh! Sorry, saya agak lupa karena lagi banyak tamu, nih.” Ucapnya seraya menurunkan kedua kakinya yang sedari tadi diselonjorkan di atas meja.     “Oke, Pak.” Aku segera keluar dari ruangan itu karena tak mau berlama-lama.     Hebat betul si Arian, di dalam ruangannya, di dalam lingkungan kerja, di dalam kantor, bisa-bisanya ia berbuat sewenang-wenang. Ia membawa 3 kawannya ke dalam ruang kerjanya, lalu dengan seenaknya meneguk botol bir bersama-sama di situ. Sungguh sangat keterlaluan. Aku keluar ruangan sambil menggelengkan kepala karena terheran-heran.     “Kenapa, Mar?” Bu Jenie bertanya karena melihatku menggelengkan kepala tiada henti.     “Itu, loh, Bu. Si bos udah gila!” Jawabku kesal.     “Hah? Gila apanya? Dia nggak mau approve transaksi, atau gimana?”     “Itu, Bu. Masa, ya, si bos lagi mabok-mabokan dalam ruangan, sambil bawa temen-temennya lagi. Kurang gila apa coba?” Aku berkata tanpa jeda.     “Duh, Mar. Asal kamu tau, ya, nggak kali pertama, kok, dia kayak gitu!”     “Maksudnya?” Tanyaku bingung.     “Ya, sejauh ini gue udah 2 kali, sih, pergokin dia lagi mabok di dalam ruangannya.”     “Serius ...? Bener-bener nggak ada otak, ya!” Aku benar-benar tak habis pikir.     “Ya, begitulah, Mar. Yaudah, yuk, kita kerja lagi!” Bu Jenie menutup perbicangan kami.     Aku pun melanjutkan pekerjaanku seperti biasanya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN