Skandal (3)

1874 Kata
Malam itu ketika aku sudah tiba di rumah sepulang dari kantor, aku menerima sebuah pesan singkat dari si laki-laki tampan rupawan berkacamata itu. Aku segera meraih handphone-ku, dan membuka pesan darinya.    Mar, nanti malam aku telepon, boleh?    Segera kubalas pesan itu dengan cepat tanpa jeda dan tanpa ragu.    Boleh, kok, Mas. Aku tunggu, ya!      Tepat pukul 9 malam setelah aku menyelesaikan makan malamku dan mencuci piring terlebih dahulu, handphone-ku pun bergetar. Kulihat pada layar, dan tertera jelas nama laki-laki itu.    Arian is calling you.    Aku bergidik ngeri melihat nama itu di layar handphone-ku. Entah tahu dari mana dia nomor baruku. Mungkin saja ia tahu dari Kara selaku staf HRD, tak mungkin Kara menolak jika manajerku sendiri yang bertanya padanya.    Reject!    Setelah kupikir-pikir selama 5 detik, akhirnya kuputuskan untuk mengambil langkah itu, langkah untuk memilih tulisan reject pada panggilan itu.    Tak lama berselang, handphone-ku bergetar lagi. Kesal aku dibuatnya, hampir naik emosiku, hampir aku naik pitam, kupikir atas dasar apa laki-laki menjijikan itu meneleponku lagi. Padahal masalah apapun tentu bisa dibicarakan esok hari di kantor.    Ketika hendak kutatap layar handphone-ku, ekspresi wajahku jadi berubah, yang semula terlihat murka bukan main, sekarang jadi terlihat tersenyum amat lebar, saking lebarnya hingga melebihi lebar pipiku.    “Halo, Assalamu’alaikum ....” Sebuah suara yang lembut dan amat menenangkan terdengar di ujung telepon.    “Halo, Wa’alaikum salam ....” Jawabku tak kalah lembut.    “Hai, Aisyah. Kamu lagi ngapain?” Tanyanya yang kemudian membuatku jadi tersenyum kegirangan.    “Eh ... hmmm ... aku lagi ... lagi ngapain, ya, ini.... Hehehe ....” Aku sangat gugup, dan kami tertawa bersama di ujung telepon.    Kami membicarakan banyak hal, menceritakan banyak hal, mulai dari kejadian-kejadian yang aku alami selama di kantor beberapa hari belakangan ini, menceritakan saat aku hendak berangkat kerja tadi pagi, menceritakan kelakuan aneh dari bosku yang amat menjijikan itu, hingga menceritakan saat aku hendak mandi tadi malam. Begitu pun dengan dirinya. Sampai akhirnya laki-laki berkacamata itu memberitahukan tentang maksud dan tujuannya meneleponku malam ini.    “Aisyah, aku mau kasih tau sesuatu ke kamu.” Ucapnya dengan cukup serius.    “Hmmm ... apa itu, Mas Adit?” Tanyaku dengan perasaan sedikit takut.    “Jadi ... jadi gini ... aku cuma mau kasih tau aja, sih. Jadi, tuh, mulai besok sampe 3 bulan ke depan, aku bakal pergi ke luar kota. Ada tugas soalnya di sana. Jadi, mungkin aku akan agak sibuk.” Ia menjelaskan dengan pelan.    “Uhhh ... hmmm ... gitu, ya?”    “Iya, gitu. Tapi, aku masih bisa, kok, dihubungi. Pas aku lagi santai, pasti aku akan kasih kabar ke kamu.”    Hanya itu penjelasan darinya. Sebetulnya aku juga bingung dengan hubungan kami, pacar bukan, kekasih bukan, hanya teman dekat biasa, jadi untuk apa aku harus risau jika memang dia sedang sibuk dengan urusannya. Sungguh bukan kewajibannya untuk terus menghubungiku, dan bukan pula urusanku jika memang ia sedang sibuk dan tak sempat menghubungiku.    Itulah akhir dari percakapan kami malam itu. Setelah telepon ditutup, aku pun bersiap untuk tidur, mematikan lampu, dan menarik selimut tinggi-tinggi hingga menutupi kepala.   Entah apa yang aku rasakan malam itu, sebuah perasaan sedih, senang, biasa saja, takut kehilangan, atau perasaan macam apa. Sungguh aku tak paham dengan perasaanku sendiri. ***      Siang itu di kantor aku tengah menatap layar komputerku dengan perasaan yang cukup kesal. Lagi, lagi, dan lagi, si bos belum juga approve transaksiku hari ini.    “Bu Jen, liat, deh!” Aku berkata pada Bu Jenie sambil menunjuk layar komputerku.    “Hah? Lagi? Buset, deh!” Ia terlihat kesal.    “Gimana, ya, Bu? Masa saya harus negur lagi, sih? Kan lucu, ya.”    “Iya! Lucu banget malahan! Masa bos ditegur mulu sama anak buahnya, harusnya, kan, terbalik, ya?” Bu Jenie sewot.    “Yaudah, deh, Bu. Saya masuk dulu ke ruangannya si bos. Doain ya!” Aku pun berlalu dari hadapannya.    Begitu tiba di muka pintu ruangan Arian, aku sempat terdiam beberapa detik, dan berpikir. Haruskah kuketuk dulu pintunya? Ataukah langsung saja kudobrak pintu ini secara gelap mata dan penuh emosi? Gumamku.    “Ah ...! Ah ...! Iya, sayang ...!” Terdengar sebuah suara dari dalam ruangan, sebuah suara yang samar-samar. Aku mencoba mendekati telingaku dengan daun pintu.    “Lagi, sayang ...! Ah ...! Ah ...! Aw ...!” Kudengar suara itu dengan sangat teramat jelas, tak mungkin kusalah. Dari desahan suara itu, aku sudah bisa menebak apa yang tengah terjadi di dalam ruangan. Aku berpikir apa yang harus kulakukan, apakah harus kupergoki mereka detik ini juga, ataukah harus kulaporkan pada pak direktur, ataukah harus kurekam adegan intim mereka berdua secara diam-diam.    Kudekati lagi telingaku dengan daun pintu hingga menempel persis, dan secara mengejutkan dan tiba-tiba, pintu itu terbuka dengan sendirinya, rasanya jantungku mau copot. Mata laki-laki itu dan dengan seorang perempuan di pangkuannya, tengah menatapku dengan cukup tajam. Mataku terbelalak dengan pemandangan yang tengah kulihat saat ini. Mereka melihatku dengan tatapan yang penuh tanya, mungkin mereka berpikir sejak kapan aku berada di situ.    Aku bingung, terdiam, mulutku terkunci, tubuhku kaku seketika, hingga suara itu terdengar dan memecah kesunyian.    “Ada apa ini?” Suara itu muncul dari belakang tempatku berdiri, jantungku pun berdegup makin kencang. Aku pun menengok ke sumber suara itu.    “Eh, Pak! Selamat siang, Pak. Ini, Pak, saya lagi─” Arian berusaha menjelaskan.    “Oh, yaudah, nggak apa-apa. Silahkan dilanjutkan, ya! Saya permisi dulu, ya, semuanya.” Pak direktur yang baru saja tiba, segera mohon diri dan berlalu dari hadapan kami.   Saat aku membalikan tubuhku ke arah Arian dan perempuan itu, ternyata mereka sudah duduk di atas kursi masing-masing. Aku jadi merasa serba salah, harusnya dari awal kuketuk pintu itu terlebih dulu, mana aku tahu rupanya pintu itu tidak tertutup dengan sempurna, sehingga bisa terbuka karena terdorong olehku.    Aku jadi merasa tak enak karena mengganggu mereka berdua yang sedang menikmati makan siang, semangkuk seblak super pedas level 50 tengah mereka nikmati saat itu, karena saking pedasnya hingga mereka terdengar seprti membuat sebuah suara yang mendesah. Ternyata aku baru saja kena prank. Amat menyedihkan.    Setelah kujelaskan apa maksud kehadiranku ke ruangan itu, si bos pun segera menunaikan tugasnya, dan aku pun segera kembali lagi ke meja kerjaku.    Namun aku sempat berpikir, mengapa hanya untuk makan seblak saja si bos sampai harus berpangku-pangkuan dengan perempuan itu. Entahlah, suka-suka mereka saja. ***      Malam itu di dalam kamar, aku tengah terdiam sambil membaca puisi-puisi yang pernah Mas Adit kirimkan padaku sebelumnya melalui pesan singkat. Aku membacanya lagi satu per satu.    Perlahan hati ingin kubuka    Teringat cinta yang penuh luka    Kaudatang coba memandu    Kini kaubuat aku merindu       k****a lagi pesan yang lainnya, sambil teringat-ingat kejadian tempo hari, saat pertama kali aku bertemu dengannya di rumah makan padang.    Duhai kekasih, janganlah kau tambah-tambah dosis cintamu padaku. Jikalau dosis kau kurangi, maka terkaparlah aku dalam rindu.      Makin k****a puisi darinya, makin-makin rasa rindu merajai hati ini.    Bersusah payah kuhapus kata cinta, sampai kaudatang sembari tersipu, dan lukaku pun tersapu.        Aih ... sungguh sangat dalam makna dari puisi yang ia ciptakan, aku semakin rindu, namun tak tahu harus berbuat apa.    “Dreeet ... dreeet ... dreeet ....” Handphone-ku bergetar, ada pesan masuk rupanya. Jantungku berdegup cukup kencang, berharap pesan singkat itu berasal dari Mas Adit.    Segera aku cek, dan ternyata pesan itu berasal dari operator. Sedih kali hatiku dibuatnya, rasanya ingin kutelepon mbak-mbak operator, lalu kukatakan padanya agar jangan menghubungiku dulu, karena aku sedang menunggu pesan singkat dari pujaan hatiku yang tak kunjung tiba.    Aku buka lagi majalah otomotif yang sudah beberapa bulan lalu kubeli, kubuka lagi bagian rubrik puisi, k****a lagi puisi-puisi yang tertera di halaman itu. Kemudian aku langsung mendapatkan inspirasi, dan terciptalah sebuah puisi yang amat teramat romantis.    Merangkai rindu satu per satu    Bertukar kata menjadi kalimat    Kalimat bertemu kalimat jadilah paragraf    Begitu pun kita    Aku bertemu kamu, jadilah cinta!        Aih ... mantap nian, bukan? ***      Pagi itu aku sudah tak sabar ingin tiba di kantor lebih awal. Bu Jenie berkata padaku semalam melalui telepon, bahwa hari ini kami akan mengunjungi pabrik. Kami akan berangkat bersama-sama dengan menaiki mobil kantor, dan ada supir yang akan mengantar kami hingga tiba di tempat tujuan.    “Jen? Mar? Udah pada siap semua belum?” Pak Nathan yang merupakan manajer dari divisi akunting, tengah memanggil kami untuk berjalan menuju basement gedung.    “Udah siap, nih, Pak! Mar? Gimana?” Bu Jenie memanggilku.    “Eh, iya, Bu. Sebentar lagi, tinggal matiin komputer, nih.” Aku tengah mematikan komputerku, karena baru saja mencetak sebuah dokumen terlebih dahulu.    “Yuk, kita ke basement sekarang! Mobilnya masih diparkir di sana.” Pak Nathan, aku, dan Bu Jenie segera turun ke basement melalui lift barang yang terletak di sebuah pojok ruangan yang agak tersembunyi.    Sesampainya kami di sana, lekas kami masuk ke dalam mobil, dan berangkat menuju pabrik. Isi di dalam mobil itu hanya ada 4 orang, termasuk supir. Kami memang sengaja berangkat pagi-pagi betul, saat keadaan jalan belum begitu macet dan padat.    Namun begitu kami tiba di depan gerbang tol semanggi 2, seseorang menelepon ke handphone Bu Jenie.    “Iya, ada apa, Pak? Oh, ya?!!! Oke, Pak, saya segera kembali ke kantor sekarang!” Seketika wajah Bu Jenie jadi panik.    “Kenapa, Jen?” Pak Nathan bertanya dengan mimik wajah yang terlihat khawatir.    Bu Jenie menedekatkan wajahnya ke arah Pak Nathan, yang kemudian membisikkan sesuatu yang terdengar amat rahasia dan paling rahasia dibanding rahasia-rahasia lainnya yang pernah kutahu.    Segera si supir memutar balik mobil, kembali ke arah kantor. Terlihat supir itu juga agak penasaran dengan apa yang tengah terjadi.    Dalam waktu singkat mobil kami sudah tiba kembali di basement gedung.    “Ayo, kita ke atas sekarang!” Bu Jenie melangkah dengan terburu-buru, aku dan Pak Nathan juga jadi ikut terburu-buru. Segera kami naiki lift barang dan memencet tombol 21.    Setibanya kami di muka pintu kantor, terlihat para karyawan tengah berkumpul di depan ruang direksi hingga ke depan meja resepsionis. Aku jadi heran, ada apa ini sebenarnya.    Bu Jenie menarik tanganku dan kami masuk ke dalam ruang direksi dengan melewati kerumunan para karyawan.    “Ayo, Mar!” Ujar Bu Jenie dengan napas tersengal-sengal.    “Ada apa, sih, Bu?” Tanyaku kebingungan.    “Udah ikut aja. Ada yang seru, nih!” Aku jadi makin bingung dengan jawabannya barusan.    Namun belum sampai aku di depan pintu ruang direksi, sebuah suara yang sangat menggelegar terdengar hingga keluar ruangan, padahal pintu itu sudah tertutup rapat.     “LU ORANG SENGAJA MAU GUE PECAT, YA, HAH?!!! LU BENER-BENER NGGAK PUNYA ADAB!!! KENAPA VIDIO LU BISA SAMPE KESEBAR DI AKUN TWITTER?!!! BISA HANCUR REPUTASI PERUSAHAAN INI KALAU LU NGGAK SEGERA GUE PECAT!”    Sekonyong-konyong, secara tiba-tiba, secara mendadak, tanpa diduga dan terduga sebelumnya, kami semua yang ada di luar ruangan itu terdiam, syok, kaku, setelah itu saling bisik-bisik, terkaget-kaget dengan apa yang baru saja kami dengar.    Rupa-rupanya, usut punya usut, si bos, si manajer keuangan itu, si laki-laki yang tak tahu adat dan tak tahu akhlak itu, si laki-laki berbadan tinggi dan berambut model Tintin itu, si Arian yang juga merupakan mantan pacarku, telah berbuat tindak asusila di dalam kantor, di dalam ruang kerjanya sendiri bersama seorang perempuan yang bahkan ia sendiri tak tahu asal usulnya. Hingga akhirnya ia diperas oleh perempuan itu, namun karena Arian tak dapat menyanggupi permintaannya, maka si perempuan menjual vidio tak senonoh itu di akun twitter.    Beginilah jadinya jika kita tak mampu menahan diri.    Skandal, skandal, skandal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN