Lusi diam, ia memikirkan apa yang akan terjadi jika kafe yang sudah ia bangun susah payah dengan sang kekasih tak kunjung memberi hasil yang diinginkan Soni? Kafe itu adalah satu-satunya harapan mereka, mendapatkan restu saja tak cukup karena Lusi tahu membuktikan kalau ia dan sang kekasih mampu untuk sukses adalah hal penting yang harus mereka gapai. Soni kembali melihat raut wajah kekhawatiran pada sang kekasih. "Kamu takut Papa nggak akan kasih restu buat hubungan kita?" tanya pemuda itu dengan suara pelan. Lusi menggeleng. "Bukan, malah sebaliknya." "Maksudnya?" "Gimana kalau kita udah dapetin restu, tapi kita nggak bisa buktiin kalau kita mampu untuk usaha sendiri? Gimana kalau kafe kita nggak maju, nggak sukses? Aku takut itu yang terjadi." Lusi menjelaskan rasa khawatir yang men

