Pagi itu Soni mengajak Lusi untuk menemui orang tuanya, di kediaman orang tuanya. Saat melangkahkan kakinya pertama kali di rumah Ruslan, Lusi merasa seperti akan menjalani sidang karena ia sudah melakukan tindak kejahatan yang fatal. Rasa takut menyelimuti dirinya, melemahkan dirinya. Sosok yang biasanya pemberani dan penuh percaya diri, kali ini merasa gugup dan gemetaran tak karuan. Sebelum melangkah lebih, Lusi menghentikan langkahnya dan lalu menggenggam erat tangan kekasihnya. Mau tidak mau, Soni ikut berhenti dan kemudian menatap kekasihnya. "Kenapa?" "Aku gugup banget," sahut Lusi apa adanya, suaranya bahkan terdengar gemetar. Soni tersenyum, tiba-tiba pria itu mendekati sang kekasih dan lalu menciumnya, di pipi kirinya. "Buat penyemangat! Udah, jangan takut, kita hadapi ini s

