Soni membungkukkan badannya, menerima pukulan sang kekasih yang beruntun itu dengan bibir tersenyum. Ia hanya ingin bersama kekasihnya, bercanda dan tertawa bersama, mengobrol sebisa mungkin dan yang paling penting adalah menghabiskan waktu bersama. Kejadian di kafe tadi, membuatnya merasa jauh dari sang kekasih, apalagi melihat Lusi yang berniat pergi begitu saja tanpa dirinya. Sejak awal, Lusi lah yang mengejar cintanya, Soni sudah terbiasa dengan sikap gadis itu yang lebih dulu menyukainya. Namun, kejadian di kafe tadi, membuat pria itu merasa takut kehilangan, kehilangan sosok yang selama ini ada untuknya. Dipukuli karena bercanda seperti sekarang ini, membuatnya merasa nyaman karena artinya sang kekasih tak benar-benar marah padanya. Lusi akhirnya menghentikan aksinya, kembali duduk

