Lusi tersenyum melihat ulah kekasihnya itu, menatapnya dari kaca spion ketika Soni mengedipkan salah satu matanya padanya. Ketiga orang itu kembali membahas apa saja yang perlu mereka lakukan untuk membuat kafe mereka menjadi lebih baik lagi. Menjadi kafe favorit dan viral sehingga banyak orang yang datang untuk berkunjung. "Sebenernya kafe tadi lebih menang ke view, pemandangan, tempat lah ya intinya. Itu hal mutlak yang nggak bisa diganggu gugat," ucap Soni lantang. Matanya fokus menatap jalan, tetapi pikirannya masih saja memikirkan kafe yang baru saja ia tinggalkan. "Tapi yang dateng rame banget, loh. Aku yakin kalo malem pasti lebih rame lagi." Lusi membenarkan ucapan kekasihnya, tetapi juga menegaskan kalau kafe yang baru ia datangi sesaat yang lalu memang sangat ramai. "Secara k

