Marisa mengecup kening Indra dan berbisik, “Kerja bagus, Sayang. Mau tambah lagi?” tawarnya. Indra menjawab dengan menggelengkan kepala. “Kok tumben, sih? Biasanya beronde-ronde. Wah, Ayah ciut, nih!” “Ayah nggak enak badan, Sayang.” Indra mendekap tubuh Marisa agar istrinya berhenti mengajaknya berbicara. “Tidur, ya!” pintanya. “Yah, Sayang!” Marisa menghembuskan napas kesal. Ia masih ingin ditemani melewati malam bersama Indra. Malam yang sunyi dan sepi, berbeda dengan kota Jakarta yang masih ramai terdengar kendaraan yang lewat hingga tengah malam. Di lingkungan rumah Rika, malam terasa sangat senyap. Marisa segera menyusul Indra ke alam mimpi. Baru dua jam tertidur, tiba-tiba Marisa terbangun dengan air mata yang membasahi kulit da-da bidang Indra. Merasa ada cairan membasahi

