Indra dan Marisa kini sudah sampai di rumah mewah milik keluarga Wijaya. Indra disambut hangat oleh kedua orang tuanya. Sebaliknya, Marisa cuma disambut hangat oleh Gusti. Santy hanya memperhatikan, memeluk, dan membawa putranya masuk ke dalam rumah. Ia tidak memedulikan Marisa. Bahkan saat Marisa hendak mencium tangannya, ia menghindar dengan memeluk Indra. Ia mengabaikan Marisa hingga gadis itu terdiam di depan pintu. Gusti yang menyadari Marisa tidak dipedulikan oleh Santy segera merangkul menantunya dengan hangat. “Gimana kejutan Indra? Seneng, kan?” Gusti memberikan senyuman, berharap menantunya menyingkirkan rasa kecewa akibat tidak diacuhkan oleh Santy. Marisa mengangguk dengan girang. “Seneng banget, Pa! Papa ya, yang suruh A’a Indra pulang?” Mata Marisa berkaca-kaca. “Kok tahu

