Rindu
Namaku Rindu setyawan, aku terlahir dari keluarga sederhana, Ayahku bukanlah pegawai kantoran, ataupun PNS, Ayahku hanyalah seorang kuli bangunan dan aku bangga memiliki ayah yang seorang pekerja keras, Ibuku seorang Ibu rumah tangga biasa, terkadang Ibu bekerja di komplek dekat rumah kami, itu pun jika ada yang membutuhkan jasanya.
Masa kecilku, cukup bahagia dengan segala kekurangan yang kami punya, Ayah dan Ibu selalu ada buatku, namun kebahagianku tidak berlangsung selamanya, entah bagaimana ceritanya hari itu Ibu meninggalkan rumah, meninggalkan aku dan Ayah, aku menangis histeris di depan pintu dalam pelukan Ayah, tangisanku tidak mampu mencegah epergian Ibu, bahkan Ibu tidak bersedih melihatku menangis, untuk menoleh ke arahku saja Ibu enggan, apa salah kami Bu? aku tidak mengerti mengapa Ibu setega itu pada kami, tidak sekalipun Ayah pernah membahas kepergian Ibu.
Berhari - hari aku menangis, sampai sembab mataku, masih melekat dalam otak kecilku, 27 Desember Ibu meninggalkan aku dan Ayah, dari rasa rinduku yang dalam terhadap Ibu, kini rasa itu berubah menjadi rasa benci. Ibu sudah mati buatku.
Ayah selalu ada memelukku, menemaniku di semua langkah ke hidupanku, hanya ada Ayah, aku tumbuh tanpa kekurangan kasih sayang, Ibu sudah tidak penting dalam hidupku.Aku bahagia bersama Ayah.
waktu berlari dengan sangat cepat, kini Aku bekerja di sebuah perusahaan asing, aku hanyalah karyawan rendahan, yang berusaha bertahan demi masa depanku dan Ayah, sepulang kerja aku meneruskan studiku di Universitas, Ayah selalu bilang
" teruslah belajar sampai masuk liang lahat, tinggi kan derajatmu dengan ilmu, jangan seperti Ayah yang tidak sekolah, jadi orang bodoh itu tidak enak, sudah susah di dunia susah pula di akhirat, dengan ilmu kamu bisa menjadi apapun yang kamu mau, dengan ilmu kamu bisa terbang lebih tinggi, dengan ilmu kamu bisa membantu rang lain, ilmu hatus seimbang pula dengan iman, punya ilmu tak punya iman akan tersesat hidupnya, punya iman tak punya ilmu akan kurang cahaya hidupnya."
Ayah yang hanya lulusan SMP bisa sangat bijak dalam berkata-kata. bahkan sangat dalam buatku
sampai usiaku sekarang ini, aku belum pernah merasakan pacaran atau punya teman pria istimewa seperti kawan-kawanku, aku s elallu sibuk dengan kerja dan kuliah, buatku gak masalah gak punya pacar, jadi jomblo akut pun aku ikhlas, aku ingin hidupku untuk bakti pada Ayah, hanya ada Ayah dalam hatiku, Aku akan berusaha ,membahagiakan Ayah dengan cita-cita Ayah.
hidupku ku abaikan untuk Allah dan ayahku, aku tak perduli suara nyinyir tetangga sebelah yang selalu membicarakan diriku, memang teman-teman sebayaku sudah banyak yang menikah bahkan sudah banyak yang memiliki anak, mereka menikah muda, memang jika di fikir menikah muda itu asyik, umur 30tahun atau 40 tahun sudah santai tidak mengurusi anak kecil lagi, tinggal ketik hasilnya.
Ah .... biarlah itu hak mereka, dan hak ku pula menentang pernikahan dini, kalo kata ayah "nafsi - nafsi" Ayah saja yang di rumah sendirian tidak pernah mengeluh atau menyuruhku segera menikah,,,, masih jauhlah usiaku juga baru 20 tahun, masih banyak yang harus aku lakukan.
Aku bukan tipe orang yang perduli dengan ocehan yang unfaedah .... masuk kuping kanan keluar kuning kiri, jangan sampe nyangkut di hati, biarkan mereka bicara sesuka hati mereka, biarkan mereka menuai dosa, toh aku senang juga di gosipin, setidaknya d osaku bisa berkurang. simpel... gak perlu sakit hati juga sama mereka, toh karma berlaku.