Malam ini, cuaca sangat cerah, berarti penyiar radio tadi pagi benar, jika malam ini cerah berawan, langit bertabur bintang, rembulan bergelayut manja di angkasa, semilir hembusan angin mampu membuat pohon cemara menari bagai siluet penari balet.
Aku mengerjakan tugas kuliahku di pekarangan rumah, rumah warisan nenek memang lumayan jadul, asri, dah tenang, Ayah setia menemaniku dengan kopi hitamnya, tanpa sigaret.....
"Rindu kapan kuliahmu akan selesai ?" tanya Ayah
"in shaa Allah, tahun ini bisa selesai Ayah, doain ya yah biar skripsiku cepat selesai" jawabku.
"Ndu, apa kamu sudah bertemu dengan Andi ?" ayah kembali bertanya padaku.
"Andi? sejak kapan andi datang? bukankah andi di Palembang? sedang apa dia di sini Ayah? Ayah kapan bertemu dengannya ?" aku berhenti mengetik dan memandang ayah penuh tanda tanya.
"Ayah fikir kalian sudah saling bertemu, Ayah bertemu dengannya dua hari yang lalu, kami banyak bicara dan dia pun banyak cerita, tapi kok aneh ya dia tidak menemuimu !"
"entahlah lah Ayah, mungkin dia sibuk, biarlah Ayah "
Andi .... sosok pengisi dalam hidupku, masa-masa itu sudah lewat tapi tak pernah akan aku lupakan, kemana - mana kami selalu berdua, di mana ada aku di situ ada andi, persahabatan kami hanya sebentar, Andi harus pergi meninggalkan diriku, menyeberangi lautan, kini dia kembali setelah sekian belas tahun, tanpa mengabariku, bahkan dia tidak menemuiku.
Andi .... sudah seperti apakah wajahmu? apakah kau masih mengenaliku jika kita bertemu? apakah Ayah menceritakan Tentangku padamu? masih kah kau mau bersahabat denganku?
Memori masa-masa itu kembali hadir, tawa canda kita kembali muncul di hadapanku, bagai film jadul yang di putar ulang, kamu sering kali ikutan menjadi bodoh ketika aku dihukum harapan perwalian dan aku tidak bisa menjawabnya. di bawah sinar matahari kita berdua di hukum atas kebodohanku, aku tahu kamu jago matematika tapi demi persahabatan kamu ikut-ikutan bodoh, kita berdua memang tidak tahu malu, murid terkenal saat itu, terkenal karena sering di hukum, bukan terkenal karena kepintaran kita.
Di bangku SMP, aku sudah tidak menjadi murid bodoh lagi, beasiswa menjadi penopangku, aku tak ingin lagi di hukum, karena tidak ada kamu di sisiku saat aku di hukum.
Andi... andai kamu ada saat ini, aku ingin bercerita banyak padamu, apalagi saat ini kepalaku sedang di penuhi susunan skripsiku, aku butuh teman tuk berbagi, aku tak mungkin bicara dengan Ayah, karena Ayah tidak akan tahu menahu tentang hal ini.
Malam ini serasa panjang, memoriku terus saja berputar berulang ulang Tentangku, tentangmu, tentang kita.
ah.... sudahlah, lebih baik aku cepat selesaikan tugasku, aku sudah mulai lelah dengan semua aktifitasku, ingin rasanya menyelesaikan satu demi satu semua ini.
tahun ini aku bertekad harus lulus ujian, aku ingin bekerja di tempat yang lebih baik dan kedudukan yang lebih baik lagi, tidak lagi menjadi pesuruh orang-orang atasan.
Demi Ayah, demi kebahagiaan Ayah akan aku lakukan semuanya, dan demi cita-cintaku memberangkatkan Ayah ke tanah suci, aku akan bekerja lebih keras lagi untukmu Ayah.