Mamah..., tempat rahasiaku.

1175 Kata
Sendiri, .... Sunyi, .... sesaat aku merasa duniaku hancur, luluh lantak, aku yang semula tak yakin akan konsep rumah tangga demi anakku aku berubah, aku bahkan sudah siap menerima Juan sebagai imamku. Aku yang semula tak menginginkan anak dalam kandunganku, kini aku berani mempertaruhkan nyawaku sendiri demi buah hati kami, namun semua itu tinggal keinginan. aku tak mungkin menjadi bagian dari hidup Juan, aku tak mungkin bisa berada di sisi Juan, Juan tak bisa lagi ku jangkau, tak ada lagi senyum manis dan kehangatan yang kudapat darinya. Aku hanya bisa mengingat tatapan matanya yang dingin, bukan tatapan elang yang ku suka, tatapan menuduh, tatapan menyakitkan yang menghujam hatiku, ada sakit di tatapannya, ada rasa kecewa, yang entah apa itu, tapi itu terlalu menyakitkan untukku.tatapan terakhir yang akan selalu aku ingat. Andi .... Andi sahabatku, selalu datang untuk memeriksa kondisiku dan anakku, sebelum menjadi Dokter anak, dia adalah dokter kandungan. kondisiku baik, anakku baik, dan mulai banyak bergerak, usia kandunganku sudah empat bulan lebih, berat badanku masih di bawah normal, jika aku tak bisa menaikkan berat badanku, akan sangat berbahaya buatku dan anakku.Juan selalu mengingatkan hal ini padaku, namun bagaimana aku harus menambah berat badanku, ketika bebanku yang berat tak kunjung selesai? Andi .... sahabatku, aku telah berkali - kali menolaknya, aku tak bisa memaksakan diri tuk mencintainya, jujur saja aku masih mencintai Juan, lagi pula aku tak mau menjadi beban untuk Andi, aku tak mau hubungan ini menjadi hubungan rumah tangga, aku gak siap, jika harus menghadapi keluarga andi. aku gak mau di anggap sebagai wanita pencari untung, aku gak perlu itu, sekalipun demi anakku aku tak akan melakukannya. anakku tak perlu Ayah, anakku hanya perlu aku. Ayah .... Aku bukanlah anak yang berbakti, bahkan bukan pula anak yang baik, Ayah yang selalu sabar menemaniku dalam. segala keadaan. hanya Ayah yang tulus menerimaku. "Ndu..... ada apa ... kenapa kamu menolak andi ? " tanya ayahku kala senja mulai naik ke peraduan. "Ayah .... aku gak bisa membohongi diriku sendiri yah, aku gak bisa memberikan bebanku padanya, aku gak mau dia dapat barang bekas, dia sahabatku ayah, dia orang baik, dia berhak dapat yang lebih baik dari aku , please Ayah, jangan bahas ini" pintaku pada Ayah. "Lalu .... apa yang akan kamu lakukan ? anakmu perlu seorang Ayah." "tidak ayah, anakku tak perlu seorang Ayah, anakku hanya memerlukan diriku, aku tak mau menodainya dengan kehadiran andi, Andi berhak mendapat wanita baik-baik, dan yang pasti bukan aku "dengan tak soapannya aku memotong perkataan Ayah. "Temui Juan, temui pria itu untuk terakhir kalinya " kali ini ayah memintaku dengan wajah yang lusuh. Senja itu... aku harus berdebat dengan Ayah .... permintaan Ayah terngiang di telingaku, menemui Juan? sama saja aku menghujam jantungku sendiri, Juan sudah bahagia dengan kekasihnya, apalah arti seorang Rindu, Rindu hanyalah penghangatnya, Rindu hanyalah pelampiasan nafsunya. nasibku ternyata seperti tokoh- tokoh dalam cerita fiksi belaka. sudahlah.... nasi sudah menjadi bubur, mau di bilang apa lagi? Rumah besar, sebenarnya aku agak segan datang ke sini, beberapa waktu lalu rumah ini seperti rumahku sendiri, aku pernah ,enjadi bagian terindah dari rumah ini, entah kini mengapa aku seperti orang asing, aku datang untuk yang terakhir kalinya, setelah berulang kali menghubungi sang mantan bos, tak ada hasil, mungkin nomor handphoneku telah di blokir olehnya, .... ah sudah lah. **** Rumah besar tampak sepi, benar saja hanya ada si mbok dan Mamah, semua orang sedang ke Sukabumi, entah mengapa Mamah tidak ikut. Mamah memelukku dengan sangat hangat, kami nangis bersama, aku tak punya Ibu, mamahlah Ibuku, dengan Mamah aku tak bisa menyimpan rahasiaku, bahkan ketika malam pertama kami berzinah Mamahpun tahu, ketika aku ngidam Mamah selalu mengirimiku makanan sehat ke kantor, ah Mamah... "Maafkan Rindu mah.... rindu kalah, Rindu tidak bisa berjuang lebih lama lagi, " suaraku di antara isak tangis kami. "Jangan pergi sayang, Mamah gak ikhlas jika Juan kembali dengan meranti, Mamah mau kamu nak " "Maafkan Rindu mah, Rindu sudah tak di harapkan oleh Juan, Juan benci rindu mah " ucapku Aku dan Mamah berbincang di taman belakang, ini taman favoritku dan Mamah, kita sering berkebun bersama, kata Mamah hanya aku yang sejalan dengan Mamah, menantu Mamah yang lain asik dengan pekerjaan mereka. "hallo jagoan, apa kabar nak ? ini oma sayang " Mamah mengelus perutku yang mulai membuncit, kami kembali menangis bersama. Anakku merespon dengan baik, dia menendang, dengan lembutnya. "Mamah yakin ini cucu Mamah, kenapa Juan tidak yakin? Juan ayahnya, Juan yang bodoh, Rindu yang kuat ya nak, demi dirimu dan anak kalian, Mamah akan berusaha sekuat tenaga memperbaiki semua ini " "Mah ... rindu gak ngerti, Rindu gak faham dengan semua ini, Rindu bingung mah, kenapa Juan tiba-tiba berubah, kenapa Juan tak lagi menghubungi rindu, mengapa Juan membuang rindu mah? Mamah tolong simpan rahasia ini, tolong jangan beritahu Juan tentang anak ini mah. aku yakin dia gak akan menerima anak ini, biarlah aku membesarkannya sendiri, aku sudah tak mau mengganggu kehidupan Juan lagi mah, aku sudah tak ingin mah, biarkan Juan bahagia bersama meranti dan ayse, ayse berhak bersama ibunya " "Rindu .... Mamah yakin ini hanya salah faham sayang " "Jika benar salah faham, kenapa Juan tak menemuiku, dan meminta penjelasan dariku mah? apa Yang di fikirkannya? siapa yang disalah faham mah? katakan mah." "Waktu itu Juan pulang dengan amarahnya, semua yang di hadapannya di buang, di lempar, kamar pun hancur berantakan. Juan bilang kamu selingkuh nak, dia datang malam itu, dan ada pria di rumahmu, mengelus elus perutmu, Juan fikir, kau ada main gila dengan Pria lain" "Apa ? Pria? maksudnya? Ya Allah Mamah, itu Andi mah, Andi seorang dokter anak, Andi sahabatku mah, sahabat masa kecilku, dulu dia seorang dokter kandungan, dia yang merawat ayse beberapa hari yang lalu, selama ini aku tidak pernah periksa ke bidan atau Rumah Sakit, Andi selalu datang tepat waktu untuk memeriksaku, kenapa Juan tak langsung bertanya padaku ? mengapa dia melarikan diri dengan otaknya yang gila ? Mamah .... Juan laki- laki pertama dalam hidupku mah, Juan pria pertama yang memberiku cinta dan pria yang memecah kesucianku,aku tak pernah memberi peluang pada pria lain." " Mamah percaya padamu sayang ... berjuang lagi ya, demi cucu oma, Mamah gak mau meranti " "Mah ..please Mamah ngertiin aku juga, Juan sudah tak mau berjuang mah, Juan sudah sangat membenciku, seandainya Mamah tahu perlakuannya padaku di Rumah Sakit, mungkin Mamah juga akan berbuat sama sepertiku." Kamar yang berantakan, di mana - mana kertas, aku mencoba berjongkok dan mengambil selembar kertas yang terserak, wajahku, dia melukis wajahku, apakah kau masih mencintaiku? apakah kita masih bisa berjuang demi anak-anak kita? demi ayse dan jagoan kita? sepertinya tidak, rasa Sakitku sudah tak terperih, aku meminta bantuan si mbok untuk membersihkan kamar ini, ku buka jendela lebar-lebar, agar udara pengap ini bisa berganti. "di minum susunya, mau Mamah buatkan yang lain? atau mau makan apa? tubuhmu kurus sekali sayang, sama seperti juan kurus, lecek, kumel " "Mamah.. " Aku cemberut di bilang sama seperti juan. "Mah ... biarkan aku sendiri, aku mau di Sini sebentar saja " pintaku "istirahatlah sayang, menginaplah semalam saja, Mamah mau menghabiskan malam ini bersama anak dan cucu mama " ucap mamah, sambil mengusap perutku dan mencium keningku, ini kah rasanya punya Ibu? Hatiku berdesir seperti kena sengatan listrik, jantungku berdegup teramat kencang, keringat dingin menembus kulitku, apakah aku sakit?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN