" Ndu .... mau sampai kapan kamu sembunyikan kebenarannya ?" tanya Andi sore itu.
"Entahlah .... mungkin selamanya " jawabku lesu
Usia kandunganku sudah memasuki trimester pertama artinya sudah hampir tiga bulan, sampai detik ini, aku belumlah berani pada Juan, aku tidak punya cukup keberanian untuk mengatakannya, Ayah tidak pernah ikut campur dengan urusanku, ini adalah hasil perbuatan zina kami, Ayah tahu aku tak menginginkan pernikahan.
"Jika kau bertanya pada Ayah, Ayah akan jawab menikahlah, Juan sangat mencintaimu, dia tidak akan meninggalkan mu dan anak kalian, cobalah, demi anak kalian, hilangkan egomu, tapi Ayah tidak akan memaksa, jika Kau tak ingin menikah, jangan gugurkan anak itu, jangan menambah dosa kalian, Ayah akan ada bersamamu, jangan bunuh cucu Ayah " Ucap Ayah dengan derai air mata, ini pertama kalinya aku melihat Ayah menangis, dulu ketika Ibu meninggalkan kami, tak setetes air mata pun keluar dari sudut mata Ayah.
Baiklah Ayah, akan aku pertahankan anak ini, apapun yang terjadi aku akan memperjuangkannya, mungkin perkataan Ayah benar, tidak semua sama seperti Ibu, aku akan mencoba membuka hatiku dan menghilangkan rasa ini, ketakutan ini, Andi, Ayah, mereka pendukungku yang terkuat.
Andi selalu datang, bahkan hampir setiap hari, entah gosip murahan dari mana hingga terdengar ke telingaku, aku ini salome, siang ... malam berbeda laki-laki, ah sembodo amat, mereka ga tahu apa yang sebenarnya terjadi, aku gak mau ambil pusing dengan ocehan mereka, per cuma juga jika aku membantah, bukannya meredam ocehan malah akan memperkeruh ocehan mereka, lebih baik aku diam.
Andi ..... siapa yang gak akan naksir dengan sosoknya? Dokter Muda, tampan,mapan, kharismatik, bujang pula, sabar, bahkan terlalu sabar, dia sering jadi bahan emosiku yang labil. terkadang aku marah - marah gak jelas, Andi meredam nafsuku, trimester pertama memang banyak rasa, sampai nafsu berhubungan intim saja sangat besar, Andi selalu ada untuk memberikan terapi, terapi kesabaran.
Sudah seminggu Andi tak datang, tak ada teman yang bisa aku ajak berantem dan berdebat, aku memang sudah risent dari perusahaan Juan, dengan debat yang cukup panjang, akhirnya Juan setuju aku risent, sekarang aku punya usaha sendiri di rumah.
Ayah pulang ke Bandung, Juan pun tak kunjung datang, bahkan tak menghubungiku. lengkap sudah kesendirianku.
"Ndu, ayse di rawat di Rumah Sakit, datanglah " pesan dari Andi. dari mana dia tahu ayse anak Juan?
Ayse .... inikah sebabnya Juan tak menghubungi bahkan tak datang ke rumah? kembali aku menelusuri lorong Rumah Sakit, ruang belibis kamar VIP, ternyata ada di lantai atas, lelah sekali aku menapaki anak tangga, entah mengapa semenjak hamil aku takut ketinggian.
ku tarik nafas panjang, ku buka perlahan pintu, aku berharap tidak ada siapa - siapa, ternyata salah, Juan duduk di tepi ranjang, bersama seorang wanita, siapa dia? apakah dia....
"assalamualaikum. .. " sapaku
Ku lihat keterkejutan di wajah Juan, fix Juan melakuan hal yang tak aku inginkan.
"Rindu ....." ucapnya
Apa? hanya Rindu? biasanya dia sangat antusias jika aku menemuinya, kata Sayang tak pernah dia tinggalkan. tapi ..... ah sudahlah, hatiku mulai menangis, bahkan menjerit, aku ingin balik badan dan kembali pulang, ada senyum sinis di wajah wanita cantik itu.
Ku tatap Juanku, Ku tatap kekasihku, Ayah dari anakku, wajah kusutnya, rambutnya yang tak terurus bahkan tubuhnya yang menyusut, baru seminggu aku tak bertemu dengannya, sudah berantakan sekali Juan. mungkin karena ayse sakit, dan pekerjaan kantor yang menumpuk, aku masih berusaha untuk positif.
"momiii..... " Ayse tersenyum manis padaku, aku berusaha tegar, aku tahu aku tak diinginkan Juan, tapi aku ke sini bukan untuk Juan, untuk ayse.
"Sayang .... kenapa ? " tanyaku
"momi ..... kata papah, momi gak akan datang, ayse pusing momi... " kepolosan ayse, membuatku yakin Juan sudah tak menginginkanku lagi.
"maaf ya sayang, Mamah baru tahu, sekarang ayse masih pusing gak?"
"enggak .... kan ada momi " senyum manisnya memang membuatku kangen
Ayse Firdaus, gadis manis yang tak mengenal Mamah, ayse selalu memanggil Ku momi, entah dari mana kata- kata itu di dapatnya, mungkin dari teman-teman sekolah nya. Kami cukup dekat, sudah seperti anak dan Ibu, kami sering jalan bareng, bahkan menggosipkan si papah yang sok cute itu.
Andi dan pasukannya datang, visit Dokter seperti biasa, Andi memandangku sesaat, aku khawatir Juan melihat kami, dan berprasangka tidak - tidak.
"Obatnya di minum ya, biar cepat pulang " ucapnya
Aku menyuapi putri Rajaku, aku berharap bahkan sangat berharap Juan menemaniku di sisi ayse, namun tidak, ada rasa yang teriris di dalam dadaku, Juan seandainya kau tahu, Ayse akan memiliki seorang adik, ah sudahlah percuma saja aku memberitahunya. dengan ayse saja dia seperti ini.semakin bulat tekadku tuk merahasiakan kehamilanku.
Akhirnya, Ayse tertidur setelah minum obat, aku heran ya, sedih bahkan teramat sedih dua tahun perjalanan zinahku dengannya, benar- benar tak di anggap, bahkan wanita itu pun tak mengeluarkan sepatah kata pun, hanya matanya saja yang melirik, melihatku bagai melihat kotoran hewan.
ku kecup kening Putri Rajaku, aku pamit dan tetap saja tak ada reaksi dari Juan, hanya tatapan matanya yang dingin menghujam hatiku. apa salahku Juan?
Aku berlari sekuat te nagaku, bukan lift yang aku tuju, tapi tangga darurat, ku terduduk di tangga, bukan karena kakiku lelah berlari, tapi hatiku begitu terluka,aku tak menyangka Juan seperti itu, Juan yang biasa hangat penuh cinta, tak pernah luput mencium kening dan bibirku setiap kami bertemu, bahkan dua minggu yang lalu dia selalu mengelus perutku, kini berubah drastis, Juan menjadi sosok yang tak ku kenal, hanya tatapan matanya yang dingin dan tajam saja yang melekat di diriku
apa salahku padamu Juan? tidakkah kau ingat pengorbananku? lupakah kau selalu mengemis cinta kepadaku setiap kita bertemu? dua tahun tak ada artinya buatmu. aku tak akan memberitahumu tentang anak ini, kau sepertinya telah berubah Juan, kau sudah tak mengharapkan diriku, kau sudah tak menginginkan anak dariku Juan, oh ... orang kaya, gampang sekali kalian berbicara manis, ketika kenyang, puas, gumoh, tinggal lempar, tinggalkan, ganti yang baru.
Siapa wanita itu? aku harus bertanya pada siapa? keluarga Juan kah ? apakah mereka masih mau menerimaku? Ayse sakit karena jatuh dari tangga saat dia ngambek mau menemuiku, Ayse protes karena tak ada yang mau mengantarnya menemuiku, tidak mau makan sampai dua hari dan akhirnya terkapar di lantai pingsan, pasti aku yang kena salah.
ku cari kontak Romi di Apl. w******p. hanya dia yang bisa me mbantuku.
assalamualaikum, romi bisakah kita bertemu ?"
"walaikumsalam, baiklah Kaka ipar, temui aku di cafe rosta beberapa menit lagi "
Cafe Rosta? lumayan jauh, aku harus bergegas, tak banyak waktuku. jika Romi sampai duluan dia gak akan menunggu ku.
Kemajuan Transportasi membuatku menjadi mudah tinggal klik tunggu di jemput. beres kan.
sesampainya di Cafe, benar saja Romi sudah dAtang,
"maaf, menunggu lama" ucapku
"baru sampe juga kok, duduklah ndu "
"a .... aku ingin bertanya tentang wanita itu romi " ucapku to the point
" maksudmu ..... "
"wanita yang bersama Juan di Rumah Sakit " putingku
"janji gak marah? " tanya nya. aku hanya menganngukkan kepalaku saja.
"Dia ..... ibunya ayse, wanita yang telah meninggalkan ayse dan ka Juan, dulu kak Juan dan meranti adalah sahabat saat kuliah, Kaka sangat tergila - gila padanya, meranti cinta pertama Kaka "
bagiku yang sudah teriris tambah terluka, Cinta pertama, aku tahu arti cinta pertama, sangat sulit tuk melupakannya, bahkan sekalipun mereka membuat salah, Cinta itu akan tetap ada.
"ada lagi yang tidak aku tahu? katakan romi, jangan sampai aku tahu dari orang lain "
"M...m...mereka belum bercerai " ujar Romi.
"A.... apa? hal sebesar ini kalian simpan? Tanyaku, aku gak percaya ini, Juan sampai hari ini belum menceraikan Meranti, dan aku.....
Aku.... tertipu, bodoh dasar bodoh, aku memang gak pernah sadar, mana mungkin Juan menerimaku, mana mungkin Juan mencintaiku, aku hanya obat buatnya, obat penenang, jika sudah tenang, maka tak akan di minum lagi, ku usap anakku, Sayang, janganlah takut nak, Ibu ga akan meninggalkanmu.
Panasnya matahari di atas kepalaku, tidaklah sepanas hati dan otakku. aku benar - benar kecewa dan sakit tak terperih.