Sandiwara Gavin

1818 Kata
“Sudahlah, terima saja. Bukannya kalian berdua akan menikah? Apa salahnya mengundang calon istrimu, daripada kau mengundang wanita lain di luar sana.” Xavier seakan mendukung niat sang ibu. Gavin menoleh dengan tatapan tajam, dia sama sekali tidak senang lelaki itu turut campur berbicara tentang kehidupannya. Apalagi Xavier juga sudah bertemu dengan Laysa, walau entah apa yang mereka perbincangkan, Gavin tidak ingin saudara kembarnya itu mengambil tindakan lebih dulu. “Sepertinya bukan masalah besar juga kalau dia berjodoh denganmu. Kita berdua kembar identik, dia pasti bisa menyukaimu juga. Anggap saja aku menghibahkan berlian untuk kau rawat, dia tidak terlalu buruk, tapi bukan seleraku.” “Kau—“ Prak! Suara dentuman sendok yang sengaja dihantamkan ke atas meja kaca itu terdengar lantang, seisi ruang makan lantas terdiam ketika mengetahui siapa yang melakukannya. Ya, siapa lagi kalau bukan seorang Alexander Stewart ayah si kembar itu sendiri. Dia yang selalu geram dengan pertengkaran kedua putranya tidak jarang harus bertindak tegas. “Apa kita sudahi saja makan malam ini?” tanya Alex bernada datar ke kedua orang putranya. Namun, meskipun bersuara pelan, itu tidak menyurutkan ketegasan dari sorot mata tajamnya. Kedua anak lelakinya itu tertunduk diam, menurut seperti anak kecil. “Mereka hanya bergurau saja, Alex. Jangan marah begini, malam ini adalah pertemuan pertamamu dengan anak-anak. Kau harus lebih bersabar,” ujar Anne mencoba menenangkan suaminya. “Kau selalu saja membela mereka, pantas kalau mereka menjadi kekanak-kanakan walau sudah sebesar ini.” Alex menghela napas sejenak sebelum melihat jam di tangannya. “Apa dia masih lama? Waktu kita semakin sedikit.” “Sebentar lagi dia datang, tunggulah sebentar.” Mendengar hal itu, Gavin sudah mempersiapkan mental dan fisik menghadapi kedua orang tuanya nanti. Rencana mengenalkan Laysa kepada mereka berdua sudah matang, dia tidak akan mundur apalagi kalau sampai harus menyerah dan menerima perjodohannya dengan Laura. Gadis itu pasti akan merajalela hingga mengekang seluruh kehidupannya kelak. *** Sementara itu di kamar, Laysa sudah siap dengan penampilannya yang luar biasa sempurna. Dress putih se atas lutut membalut tubuh tingginya yang ramping, rambutnya yang cokelat keemasan sengaja dibiarkan tergerai indah dengan sedikit sentuhan tangan dari perias rambut yang semakin menyempurnakan penampilannya malam ini. Laysa malam ini terlihat begitu anggun dan sangat cantik. Make up tipis di wajahnya sama sekali tidak menurunkan kadar aura kecantikan alami yang dimilikinya. Namun, penampilannya sekarang sungguh berbanding terbalik dengan suasana hati Laysa sendiri. Dia merasa cemas berlebih, ketakutan hingga mual menyerang perutnya sejak tadi karena saking tegangnya menghadapi situasi ini. Apa yang harus dia lakukan sudah terkonsep oleh Gavin si sutradara kehidupannya. Tinggal menjalankan peran pentingnya sebagai calon istri untuk lelaki itu. Apa Laysa bisa mengadu akting di kehidupan nyata? Dia sungguh meragukan itu. Apalagi orang yang akan dihadapinya sekarang adalah orang berpengaruh dan terkenal dengan kejayaan sebagai pemilik hotel berbintang ternama di seluruh bagian kota Florida. Obat yang dikonsumsinya seakan tidak berkesan apa pun, itu kalah oleh ketegangannya sekarang. “Apa aku tidak bisa menghindar saja? Kenapa kehidupanku harus begini?” tanya Laysa pada diri sendiri. Dia ingin menentang keras, tapi yang ada di hadapannya adalah seorang Gavin Diamond Stewart. Bahkan sakit di lengannya akibat cengkeraman lelaki itu masih berbekas, dia jadi tidak bisa membayangkan hari esok lagi jika menentang keinginannya. Ketika Laysa masih bergulung dengan pemikirannya, seseorang membuka pintu dari luar dan ternyata itu adalah seorang pelayan rumah ini. Dia mengatakan kalau Laysa harus sudah turun dari kamar untuk menemui keluarga Gavin di lantai bawah. Laysa menelan ludah, berat rasanya untuk beranjak dari kursi yang didudukinya saat ini. Namun, dia tidak ada pilihan lain kecuali mengikuti setiap arahan Gavin. Usai berada di lantai paling bawah, Laysa diajak ke sebuah ruangan cukup besar. Di sana dia melihat ada beberapa orang yang duduk di kursi meja makan. Dari penampilan mereka, sudah bisa ditebak kalau mereka adalah keluarga dari Gavin. Namun, Laysa melihat ada seorang gadis yang duduk di samping Gavin. Gadis berperawakan tinggi semampai itu sangat cantik, dia terus menempel di bahu Gavin tanpa ada rasa canggung sama sekali. Apa dia kekasih Gavin? Laysa membatin. Dia yang masih berdiri di kejauhan itu mulai melangkah ragu menghampiri mereka, sepertinya makan malam juga sudah dimulai, mau tidak mau dia harus menghadapi ini. Mempercayakan kehidupannya di tangan Gavin bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. “Pernikahan kalian harus tetap berlangsung, karena seluruh kota sudah tahu dengan adanya kabar berita ini lewat media massa.” Anne berkata dengan senyum lebarnya, meyakinkan kepada Alex dan dua anaknya itu. “Momy yang menyebarkan berita itu, bukan aku. Tapi kenapa aku yang harus bertanggung jawab atas berita itu? Ini tidak adil bagiku, Mom.” Gavin memprotes tindakan ibunya tersebut. Dia tampak kesal hingga berkali-kali melepas pegangan tangan Laura padanya. “Itu karena Momy lebih tahu kebaikan untuk kita, Gav. Kau dan aku saling mencintai, sudah wajar kalau seluruh dunia tahu, dan pernikahan kita juga akan digelar dan disaksikan jutaan manusia dari televisi. Itu akan menjadi pernikahan paling berkesan sepanjang sejarah,” ujar Laura penuh kepastian. Anne, Alex dan Xavier sama-sama menebar senyum semringah karena mereka setuju dengan pernikahan ini. Namun, tanpa mereka sadari, perkataan-perkataan tersebut sudah melukai hati Laysa yang sempat mendengarnya. Jika Gavin akan menikah, lalu apa gunanya Laysa di sana? Laysa merasa langkahnya sekarang menuju ke arah yang tidak tepat. “Nona Laysa sudah datang, Tuan.” Derry memberikan pengumuman kepada mereka yang sibuk dengan perbincangannya. Otomatis pandangan seluruh orang hanya tertuju kepada Laysa. Mereka hampir tidak berkedip melihat sesosok gadis cantik di dekat mereka yang datang tiba-tiba di acara makan malam ini. Anne yang semula tersenyum, mulai mengernyit heran sebab tidak merasa mengundang siapa pun lagi kecuali Laura. “Siapa dia, Derry? Apa yang dilakukannya di sini?” tanya Anne. “Dia—“ “Dia adalah tamuku.” Gavin segera menyela perkataan Derry. Kemudian beranjak dari kursinya demi menyambut kedatangan Laysa. Digenggamnya tangan gadis itu, lalu mengajaknya mendekat ke arah meja makan. Laysa hanya bisa tertunduk, dia merasa serba salah di tempat ini. “Dia adalah gadis pilihanku sendiri yang pastinya akan kunikahi,” sambung Gavin tanpa ragu lagi. Membuat Anne, Alex dan Laura bereaksi cepat. Tidak ada satu pun dari raut wajah mereka yang bisa tenang menghadapi kelakuan Gavin sekarang. “Apa maksudmu, Gav? Kita akan menikah sebentar lagi, bisa-bisanya kamu membawa gadis lain dan memperkenalkannya sebagai gadis pilihanmu!” ujar Laura bernada kecewa. Begitu pun ekspresi yang ditunjukkan Anne, itu tidak jauh berbeda. “Kamu jangan main-main dengan momy, Gav. Siapa sebenarnya gadis ini?!” tanya Anne. “Apa aku harus mengulang kalimatnya dua kali? Kalau begitu baiklah, aku menekankan kalau dia adalah gadis yang kupilih menikah denganku, apa sudah jelas?” ujar Gavin menekankan perkataannya. Lelaki itu merasa genggaman tangan Laysa mengerat, menandakan bahwa gadis di sampingnya mulai tidak nyaman. Wajar saja, sebab pandangan orang-orang di sekitarnya begitu sinis. “Gavin!” Suara Laura mengeras, sambil menangis dia menghampiri Anne lalu memegang tangan wanita paruh baya itu. “Bagaimana ini? Gavin sudah mempermainkanku, Momy. Padahal apa salahku padanya? Aku berusaha bersikap baik, tapi dia malah membawa gadis lain ke hadapanku.” Laura mengadu. Membuat raut wajah Anne semakin merah padam akibat emosinya yang mulai naik. “Bisa-bisanya kau melakukan ini setelah semuanya, apa kau sudah gilla?!” Akhirnya amarah Anne membludak dengan nada tinggi. “Sudah kukatakan kalau aku memiliki pilihan sendiri, tapi Momy sendiri yang memaksaku menikahi Laura. Itu tidak pernah adil bagiku, aku tidak mau diatur mengenai pasangan hidup!” “Kau—“ “Kau harus menjelaskan ini pada daddy, Gav. Kalau tidak, kau akan mendapat hukuman atas permainanmu ini,” sela Alex. Dia pun menatap datar ke arah Gavin dan Laysa, seakan mengisyaratkan apa pun bisa terjadi, termasuk mempertaruhkan masa depan Gavin jika putranya itu memberi jawaban yang tidak sesuai keinginannya. *** “Ini bukan sebuah permainan, Daddy. Ini adalah kehidupanku, mana mungkin aku mau menipu Daddy dengan sebuah permainan konyol semacam ini? Daddy tahu hanya sedikit wanita yang berhasil memikatku, tapi Laysa adalah satu-satunya gadis yang tidak hanya berhasil memikatku, dia juga bisa meyakinkanku bahwa di dunia ini masih terdapat orang yang tulus mencintaiku apa adanya.” Gavin berusaha meyakinkan kedua orang tuanya. Sekarang mereka berada di sebuah ruang khusus keluarga di mana Gavin dan Laysa duduk berdampingan selayaknya sepasang kekasih yang saling mencintai. Sedangkan kedua orang tua itu masih tidak bisa menerima begitu saja, sebab mereka belum mengenal baik Laysa dan dari mana asal usulnya. Terutama Anne yang terus memandang rendah Laysa semenjak pertama kali bertemu. “Tidak ada yang tulus menerimamu kecuali Laura, Gav. Kau harus mempercayai itu, di dunia ini banyak yang menilai lelaki karena uang mereka. Tapi lihatlah saat kau tidak memiliki apa-apa, apa dia masih bisa menerimamu?” Anne masih tetap dengan keyakinannya tentang Laura. “Sudah seharusnya wanita menilai dari harta yang dimiliki kekasihnya, mereka berpikir realistis karena tidak hanya memikirkan dirinya sendiri saat sudah menikah. Ada keturunannya yang harus dibesarkan dan dirawat, apa itu tidak menggunakan uang? Jika seorang lelaki tidak mampu mencukupinya, lelaki itu sepatutnya malu kepada dirinya sendiri. Aku yakin, Daddy juga berpikir begini saat menikahi Momy,” ujar Gavin. Lelaki itu tampak tenang menghadapi kedua orang tuanya, tanpa disadari Laysa di sebelahnya sudah pucat pasi karena semakin tertekan. Dia ketakutan kalau-kalau tidak bisa berbuat banyak untuk Gavin atas keterbatasannya ini. “Kau benar-benar sudah dewasa, kau bahkan sudah memikirkan sampai sejauh itu. Apa begitu besar pengaruh gadis ini untukmu?” tanya Alex. “Tentu saja! Aku tidak akan mengajaknya ke sini kalau tidak berani menjamin perasaanku sendiri.” “Lalu bagaimana dengan Laura?! Apa kau tidak memikirkan perasaannya? Dia adalah kekasihmu dan kita sudah menentukan tanggal pernikahannya,” sela Anne yang masih penasaran dengan keputusan putranya. Ada kekecewaan besar dari wajah yang mulai menua itu, tapi Gavin seakan tidak peduli. “Aku yakin Momy sudah tahu jawabanku. Itu masih tetap sama sampai detik ini, kami memang pernah menjalin hubungan, tapi itu dulu sebelum aku menyadari perasaanku tidak bisa dipaksakan,” ujar Gavin tidak kalah meyakinkan. “Gavin!” Suara Anne semakin mengeras dibarengi tatapan kekesalannya. “Sudah cukup! Jangan diteruskan lagi, tolong berhenti bertengkar karena aku!” Laysa menggerakkan jemari-jemari lentiknya, berusaha berkomunikasi dengan mereka. Namun, sepertinya dia sudah salah mengambil tindakan karena hanya Xavier yang mengerti bahasa isyaratnya. “Kau mau menikahi gadis bisu ini, Gavin?! Keterlaluan! Apa yang ada di pikiranmu itu?!” Anne kehilangan kesabaran dan berdiri menatap tajam Gavin dan Laysa. Sementara putranya itu turut beranjak dari sofa dengan menggenggam tangan Laysa kembali. “Yang ada di pikiranku adalah Laysa dan tanggung jawabku mengelola hotel, selebihnya terserah Momy mau menganggapku apa. Aku rasa pembicaraan kita sudah selesai dan jelas.” Gavin mengajak Laysa meninggalkan ruangan tersebut, padahal Anne sudah berteriak memanggilnya dari belakang. “Gavin, Gavin! Sampai kapan pun momy tidak akan pernah mau menerimanya! Kau dengar itu baik-baik!” Suara Anne begitu lantang, tapi Gavin dan Laysa sudah menghilang dari pandangan menuju luar rumah. Gavin sangat kesal sekaligus tidak ingin terus-menerus melayani ocehan ibunya tentang Laura atau pernikahan. Gavin tidak suka dikekang dalam hal apa pun, itu adalah prinsipnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN