Laysa dibawa oleh Gavin ke sebuah tempat hiburan malam yang sangat ramai orang. Banyak dari mereka datang dengan menginginkan sebuah kesenangan semata, menghabiskan uang banyak demi mendapatkan kepuasan. Wanita-wanita berpakaian mini, silau cahaya-cahaya dari lampu berwarna-warni ditambah alunan musik keras memekik telinga. Sungguh, Laysa merasa tidak pernah nyaman dan semakin takut.
Datang ke tempat ini hanya mengingatkannya akan masa kemarin yang cukup kelam. Di mana ada banyak lelaki yang menginginkan Laysa terbaring di tempat tidur tanpa pakaian bersama mereka.
Tidak ... itu tidak boleh terjadi lagi. Laysa ingin sekali pergi dari sini, berlari bahkan kabur jauh menghindarinya, tapi genggaman tangan Gavin sangat erat mengajaknya berjalan melewati kerumunan orang.
“Jangan bawa aku ke sini, tolong. Aku ingin pulang, Gav.” Laysa memohon kepada Gavin dengan cara memegang lengan lelaki itu, menatapnya penuh berharap Gavin akan mengerti keadaannya.
“Jangan menatapku seperti itu, kau akan tetap bersamaku. Jika kau di rumah, si brenggsek itu pasti akan menggodamu lagi,” ujar Gavin yang tersamarkan oleh kerasnya musik di sekitar mereka. Lelaki itu mengusap wajah kasar, kemudian melihat kursi kosong di sebuah tempat. Sampai dia kembali menarik lengan Laysa untuk mengajaknya duduk di sana.
Gavin pun memesan minuman untuk dirinya, lalu mengecek ponselnya sebentar.
“Sepertinya kita tidak akan pulang malam ini.”
“Apa? Kenapa?!” Laysa bertanya-tanya dari raut wajah terkejutnya saat menatap kesantaian Gavin mengucapkan hal itu.
Namun, Gavin tidak memberi sepatah kata pun hingga minuman pesanannya datang. Lelaki itu seakan tidak peduli bagaimana ketakutan Laysa sekarang, hingga rasa trauma yang pernah dialaminya.
Sampai dua jam kemudian, Laysa hanya menemani Gavin. Dia tidak ikut meminum alkkohol atau makanan apa pun, benar-benar hanya menyaksikan lelaki yang tengah menghadapi sebuah masalah besar itu. Ya, Laysa berpikir demikian karena teringat pertengkaran Gavin dengan ibunya.
Wanita paruh baya tersebut tampak menentang keputusan Gavin dan bersikukuh akan menikahkan putranya dengan seorang gadis yang sudah ditentukan. Laysa berpikir, Gavin ternyata memang hanya seorang manusia yang masih bisa terlibat masalah. Tidak ada satu pun manusia yang bisa menghindari itu kecuali orang gila di rumah sakit jiwa.
Hanya saja, perbedaan Gavin dan Laysa saat menghadapi masalah sangat berbeda jauh. Lelaki itu tampak tenang walau sebenarnya pikirannya kacau. Sementara Laysa merasa ketakutan setiap waktu. Begitulah dirinya, sebab selama ini tidak pernah ada orang yang menjamin keselamatannya.
Terkadang, Laysa berpikir kematian adalah jalan terbaik menghindari masalah hidupnya. Namun, sisi lain dari dirinya menentang jika melihat foto kecil dalam kalung liontin peninggalan kedua orang tuanya. Mereka pasti menginginkan Laysa hidup dan menemukan kebahagiaan suatu hari nanti, walau entah kapan itu. Manusia hanya bisa berharap dan berusaha, selebihnya takdir yang akan menentukan.
“Sudah cukup, Gav. Kau sudah mabuk.” Laysa menahan pergerakan tangan Gavin yang memegang gelas berisi minumannya. Sebab kesadaran lelaki itu tampak sudah payah.
Namun, Gavin menepis tangan Laysa. Dia tetap menenggak minumannya sampai habis, kemudian menatap ke arah gadis itu.
“Jangan pernah mengaturku.” Gavin berkata seakan-akan mengerti apa yang Laysa inginkan.
Laysa terdiam, tapi tangannya sibuk merogoh tas dan mengeluarkan sebuah buku beserta pulpen. Dia menuliskan sebuah kalimat yang akan ditunjukkan kepada Gavin. Namun, saat tulisan itu selesai Gavin malah membuang bukunya.
“Kau membuang bukuku lagi! Dasar manusia egois!” Laysa marah menyaksikan bukunya melayang entah ke mana. Bodohnya, Gavin juga tidak akan mengerti makiannya sekarang. Lelaki itu terlalu angkuh dan keras kepala.
Laysa pun beranjak dari kursinya hendak mencari buku yang dilempar Gavin. Dia malu kalau harus meminta tolong kepada Derry gar membelikannya buku baru setiap kali Gavin membuang itu.
“Di mana bukunya? Dia benar-benar lelaki paling menyebalkan. Kenapa aku harus terikat dengannya?” Batin Laysa berkata. Dia terus mencari bukunya yang hilang di antara kerumunan orang.
Mereka-mereka yang melihatnya tampak heran karena Laysa menyalip sana-sini hanya karena mencari bukunya. Sampai langkah Laysa terhenti saat dia melihat bukunya tergolek di samping kaki seorang lelaki.
Laysa pun segera menyambar buku itu dengan senyum lebar. Sayangnya, itu hanya berlangsung sesaat setelah lengannya digenggam erat oleh seseorang. Dia pikir, itu adalah Gavin, tapi sayangnya bukan.
Seorang lelaki paruh baya gemuk dengan jambang yang mulai memutih itu menyeringai kecil di hadapan Laysa. Seakan dia elah menemukan sebuah benda berharga di tengah rongsokan sampah.
“Kita bertemu lagi, Manis.”
Tubuh Laysa merinding ngilu, lelaki ini adalah Lucas. Seorang yang pernah dikenalnya sebagai pellanggan tetap di sebuah tempat hiburan malam. Lelaki ini juga yang terus-menerus menggodanya setiap saat Laysa bekerja di tempat itu.
“Kau terlihat semakin menarik, apa ada yang sudah membeli tubuhmu ini?”
Plak!
Sebuah tammparan keras dilayangkan Laysa di pipi lelaki itu. Dia tidak suka dan sangat marah dengan ujaran kasarnya yang menyakitkan. Lucas pun hanya memegangi sebelah pipinya, belum bereaksi banyak ketika Laysa menatapnya tajam. Bahkan berusaha melepas genggaman tangannya cukup kasar.
“Kau masih saja seperti anjing liar. Tapi aku malah semakin tertarik, itu membuatku sangat penasaran denganmu.” Lucas menyeringai lebar, ditariknya lengan Laysa agar mengikuti langkahnya.
Laysa yang tidak bisa berbicara itu pun hanya bisa berontak keras. Dia tidak melihat keberadaan Gavin, tempatnya cukup jauh dari lelaki itu hingga dia ketakutan setengah mati. Sampai tubuhnya tertarik keluar tempat hiburan malam tersebut, Laysa memiliki kesempatan untuk lari.
Laysa menginjak kaki Lucas, lalu memukul wajahnya dengan tas. Lelaki itu spontan melepas pegangannya, hingga Laysa mengambil kesempatan untuk berlari secepat mungkin.
“Dasar kurang ajjar, jangan lari dariku, dasar kau gadis siallan!” teriak Lucas sanga kasar sambil mengejar larian Laysa.
Laysa yang semula merasa sudah mulai terbebas dari lelaki mana pun dibuat tidak bergerak saat ada dua orang berbadan tegap menghadangnya. Ternyata mereka adalah anak buah dari Lucas yang biasa menemani ke mana tuannya pergi. Tangan Laysa digenggam erat di belakang, hingga tubuhnya ditempelkan ke badan mobil hingga benar-benar tidak bisa bergerak.
“Masukkan dia ke dalam mobil,” perintah Lucas sangat jelas kepada kedua orang itu.
Tubuh Laysa pun ditarik ke sebuah mobil berwarna putih dan dimasukkan dengan paksa dalam sana. Lucas pun menyusul ke tempat yang sama seraya menanggalkan jas hitam yang dikenakannya.
“Kau benar-benar menguji kesabaranku sejak dulu, Manis. Tapi sekarang kau tidak akan pernah bisa lari lagi.”
Laysa mundur ke belakang hingga punggungnya mentok ke pintu mobil, dia menangis ketakutan. Melihat seorang lelaki tua yang akan melakukan hal buruk padanya ini, seakan tidak ada jalan keluar lagi bagi Laysa sekarang.
“Seseorang ... siapa saja, tolong aku dari orang ini. Aku takut sekali ....” Laysa semakin menangis pilu. Apalagi saat Lucas mulai mendekat dan mencengkeram kedua tangannya hingga tidak berkutik. Wajah lelaki itu mendekat sampai embusan napasnya yang berbau alkohhol menyeruak.
“Jangan menghindariku, Manis.”
“Tidak ... tidak! Aku tidak mau! Tolong aku!” Laysa berteriak dalam hatinya, menangis saja seakan tidak berguna. Sepertinya malam ini dia akan tersiksa oleh tangan kasar lelaki ini.
“Kurang ajjar!”
Mendadak pintu mobil terbuka lebar, lalu tubuh Lucas menyingkir dari hadapan Laysa dengan paksa. Lelaki itu ditarik oles seseorang dari arah luar dan mendapatkan bogemm mentah bertubi-tubi di seluruh tubuh terutama wajahnya.
Laysa sendiri masih sibuk menangis, dia tidak sanggup melihat apa yang terjadi di luar sana karena saking takutnya.
Sampai beberapa menit berlalu, seseorang datang menghampiri dan membuka pintu mobil di sampingnya. Kedua mata Laysa yang terhalang oleh butiran air mata itu melihat seorang lelaki berdiri di sampingnya dengan tegap.
“Tenanglah, semuanya sudah aman, Laysa.”
Hanya satu kalimat itu yang keluar dari mulut si lelaki yang ternyata adalah Xavier. Laysa bisa membedakan dua lelaki kembar tersebut dari model pakaian hingga parfum yang mereka kenakan.
Tubuh Laysa seketika melayang terangkat oleh kedua lengan kokoh lelaki itu. Dia tidak menolak, ketulusan Xavier menyelamatkannya sekarang sangat terasa dengan sebuah kelembutan yang disodorkannya.
***
Laysa dibawa oleh Xavier ke sebuah rumah cukup besar yang katanya tidak pernah ditempati lelaki itu selama beberapa bulan terakhir, sebab pekerjaan Xavier sekarang ada di luar kota. Laysa menerima saja, asalkan dia bisa terbebas dari siapa pun yang berniat jahat kepadanya.
Apa Laysa menaruh curiga kepada Xavier sekarang? Lelaki itu sama seperti yang lain yang baru dikenalnya beberapa hari. Namun, kecurigaan itu tidak pernah ada di benak Laysa. Kalau memang Xavier ingin berniat jahat, itu pasti sudah dilakukannya dengan mudah.
Sekarang Laysa sudah jauh lebih tenang, tidak ada lagi tangisan yang meluncur di pipinya. Pembawaan Xavier yang lembut cukup mempengaruhi perasaannya. Mereka sudah berbicara sangat banyak dalam mobil hingga sedikit banyak Laysa menaruh prasangka baik kepada Xavier.
“Terima kasih ....” Laysa menggerakkan jemari lentiknya saat Xavier menyodorkan segelas sussu hangat di atas meja.
“Tidak perlu berterima kasih, ini hanya segelas minuman.”
“Bukan itu, tapi aku berterima kasih karena kau sudah menyelamatkanku. Aku berhutang budi padamu.” Laysa menggerakkan jemarinya lagi, lelaki itu tersenyum tipis.
“Baiklah, anggap saja begitu.”
“Kenapa kau ada di sana? Apa kau juga sering ke tempat itu?” tanya Laysa.
“Tidak.”
“Sungguh?”
“Kau tidak percaya?”
Laysa terdiam, dia berpikir hanya sedikit lelaki di kota ini yang tidak tertarik dengan tempat semacam itu.
“Aku tidak pernah mengunjungi tempat semacam itu, aku lebih tertarik mendatangi tempat di mana anak-anak bisa tersenyum dan tertawa bebas tanpa beban. Di sana kebahagiaan yang sesungguhnya bisa kudapat,” ujar Xavier dengan senyum khasnya.
“Tempat seperti apa itu? Apa panti asuhan?”
Xavier hanya tersenyum tipis menandakan pertanyaan Laysa barusan adalah sebuah jawaban tepat baginya.
Laysa terdiam, setitik kekagumannya muncul untuk lelaki dewasa ini. Ternyata masih ada seorang kaya raya yang masih menggunakan hati nurani untuk mendekati anak-anak tanpa ayah dan ibu. Namun, jelas kepribadian Xavier berbanding terbalik dengan saudara kembarnya sendiri.
“Ah, ya. Sebenarnya aku masih penasaran apa hubunganmu dengan Gavin. Apa benar kalian berdua saling mencintai? Aku hanya ingin memastikan itu karena aku tahu sifat adikku.”
Xavier bertanya, Laysa sedikit bingung harus menjawab apa.
“Aku tidak bisa mengatakannya karena ini menyangkut kehidupan pribadiku,” jawab pada akhirnya.
“Begitu rupanya.” Xavier kelihatan kecewa dengan jawaban Laysa. “Tapi aku merasa itu bukan sesuatu hal yang baik. Aku mengetahui sifat asli adikku luar dalam, dia tidak akan bertindak tanpa pemikiran panjang.”
Laysa terdiam, sepertinya Xavier sendiri sudah bisa menebak-nebak isi pikiran Gavin.
“Tapi kalau itu membuat beban bagimu, apa kau ingin menghindarinya?” tanya Xavier.
“Apa bisa?”
“Kenapa tidak?”
Laysa kembali terdiam, dia berpikir jika saja ada hal yang bisa membuatnya terbebas dari Gavin, dia pasti akan melakukan itu.
“Apa kau punya orang tua atau rumah yang bisa kau tuju?”
Laysa menggelengkan kepala. “Tidak ada.”
Lelaki itu menghela napas tipis. “Kalau begitu tinggallah di sini sampai masalah Gavin dan orang tuanya selesai. Aku tidak akan memberitahu siapa pun tentang keberadaanmu.”
Mendengar tawaran itu, Laysa seakan diberi penerangan di sebuah jalanan gelap yang akhir-akhir ini menakutinya. Apa dia harus menerima tawaran itu? Tapi bagaimana dengan Gavin nanti jika menyadari calon istrinya menghilang?