Kembali Kepada Gavin

1483 Kata
Keesokan harinya, Gavin sudah uring-uringan tidak jelas. Sejak semalam dia sudah kehilangan jejak Laysa yang pergi entah ke mana. Dia merasa sangat boddoh dan ceroboh karena membiarkan gadis itu pergi dari kursinya. Sampai Gavin pulang dengan tangan hampa, dia tetap mencari keberadaan gadis itu. Dari rekaman cctv yang didapatnya di area tempat hiburan malam hingga tempat parkir, Laysa diseret paksa oleh seorang lelaki tidak dikenal. Gadis itu ketakutan, Gavin bisa melihatnya dengan jelas. Butiran-butiran kemarahan Gavin semakin membesar mengetahui gadisnya tidak hanya dibawa oleh orang asing, melainkan ada seorang lagi yang membawanya pergi sampai detik ini. Dia adalah Xavier, lelaki yang menyelamatkan Laysa semalam. Tidak hanya itu, Laysa diketahui ikut bersamanya dan entah pergi ke mana, Gavin sendiri masih mencari keberadaan gadisnya. “Di mana dia, Derry?” tanya Gavin kepada Derry yang mengajaknya ke sebuah bar tempat di mana Lucas berada. Gavin sampai mencari keberadaan lelaki bertubuh gempal tersebut, sebab dia sudah tidak bisa menahan luapan emosi yang ingin diledakkannya saat ini juga. Lelaki paruh baya itu tampak duduk di sebuah sofa dalam ruangan tertutup bersama beberapa kawannya. Mereka masih bisa bersenang-senang tanpa tahu ada sebuah masalah besar yang menghampiri. “Seret dia ke hadapanku!” perintah Gavin sangat jelas kepada beberapa orang bodyguard yang sengaja diajaknya ke tempat ini. Mereka langsung mematuhi perintah Gavin, lelaki bernama Lucas tersebut ditarik paksa dari sofa hingga dia tidak bisa banyak melawan karena kedua lengannya dikunci rapat oleh dua orang sekaligus. Beberapa orang teman yang bersamanya pun tampak terkejut, tapi tidak berbuat apa-apa kecuali lari meninggalkan Lucas di sana. Mereka hanya sekumpulan lelaki tua yang biasa menghabiskan uang. “Apa yang kau lakukan, Siallan?!” teriak Lucas mencoba memberontak dari cengkeraman kuat dua orang di sampingnya. “Kau ... berani sekali menyentuh gadisku.” Gavin berkata dengan nada datar hingga diselimuti aura gelap. Dia masih teringat bagaimana Laysa pegang dan diseretnya dengan paksa dalam rekaman cctv itu. “Gadis? Apa maksud perkataanmu itu?” “Laysa, kau mengenalnya, bukan? Dia adalah mantan pelayan di tempat kecil milik temanmu itu. Semalam kau menyeretnya keluar dan menyiksanya sesukamu, apa kau tahu apa artinya itu?” Lucas terdiam sejenak seakan berpikir kesalahan apa yang sudah dilakukannya terhadap Laysa. Dalam ingatannya, gadis itu hanya seorang diri tanpa ada siapa pun di dekatnya hingga dia berpikir bahwa Laysa bekerja menjadi pelayan di tempat tersebut. “Kau mencari masalah denganku.” “Tidak!” sahut Lucas cepat. “Aku tidak pernah ingin mencari masalah denganmu, aku sama sekali tidak tahu kalau gadis itu bersama denganmu semalam. Sungguh!” “Apa aku bisa mempercayai ucapanmu itu?” “Tentu saja! Lagi pula, apa untungnya kau datang ke sini hanya untuk pellaccur itu? Dia hanya gadis rendahan yang bisa dipakai siapa pun. Orang sepertimu tidak layak melakukan ini untuknya,” ujar Lucas. “Pellaccur?” Gavin mengepalkan tangan ketika mendengar lelaki itu merendahkan Laysa. Dia semakin geram dan tidak terima, apalagi emosinya pun masih belum reda sejak tadi. “Kau benar-benar ingin menguji nyawa dan usaha kecilmu itu. Asal kau tahu, aku bisa saja memusnahkan seluruh asetmu dalam sekejap saat ini—“ “Jangan! Baiklah, baiklah. Aku tidak akan mengatakannya lagi. Asal jangan menghancurkan bisnisku,” ujar Lucas yang mulai panik. Gavin hanya cukup tahu bahwa Lucas adalah seorang pemasok minumman keras untuk hampir seluruh orang yang berniat membeli, usahanya itu memang sangat menguntungkan, tapi tetap tidak ada apa-apanya bagi kekayaan yang dimiliki Gavin. Gavin bisa saja menguasai pasar tempat Lucas mencari nafkah, sebab dia memiliki lebih banyak kenalan di dunia gelap semacam itu. “Permohonanmu tidak bisa kuterima. Kau teta harus menanggung akibatnya karena telah menyentuh gadisku dengan tangan kotormu itu,” ujar Gavin menegaskan. Dia pun berbalik arah dan mengajak Derry pergi dari sana meninggalkan Lucas. Namun, sebelum itu, orang-orang yang diperintahkannya mulai mengambil bagian sesuai perintah tuannya ... yaitu membuat Lucas jera karena sudah berurusan dengannya. Sementara itu, Gavin berjalan tegas ke arah mobilnya diikuti Derry yang masih setia di belakang. “Apa kau sudah menemukan jejaknya lagi, Derry? Sebelum aku habisi orang itu, aku ingin menemukan gadisku lebih dulu,” ujar Gavin sekaligus bertanya. “Sudah, Tuan. Hanya ....” Derry menahan kalimatnya sebentar. “Kalau boleh saya bicara, Tuan tidak boleh bertindak gegabah terhadap Tuan Xavier. Dia bukan orang yang mudah untuk diancam apalagi dilawan.” Tap! Langkah Gavin mendadak terhenti, lalu menatap ke arah Derry dengan sangat datar. Lelaki paruh baya itu hanya tertunduk diam menyadari majikannya tidak setuju dengan saran darinya. “Apa kau masih berpikir aku selemah itu, Derry?” “Maaf ... saya hanya mencemaskan Tuan.” Gavin seketika menghela napas kasar. “Mencemaskan?” ujarnya seraya tersenyum miring. “Bahkan orang tuaku saja tidak pernah memikirkan itu. Siapa kamu bisa melakukannya untukku?” Derry hanya terdiam dan masih tertunduk. Gavin sendiri tidak pernah menolak perhatian lelaki paruh baya itu walau kata-katanya mungkin sangat terdengar pedas di telinga. Dia malah senang karena ternyata masih ada yang mau memberi perhatian padanya, padahal bukan berasal dari kedua orang tuanya sendiri. *** Gavin pun tetap mendatangi tempat yang dimaksud oleh Derry. Dia terbilang nekat datang hanya untuk bisa menemui Laysa, tanpa memedulikan risiko yang bisa saja datang menghampirinya ketika bertemu dengan Xavier. Ya, Gavin sudah mengetahui ke mana lelaki itu membawa Laysa. Sebuah rumah di salah satu sudut kota ini adalah tempat yang paling berpotensi menyembunyikan diri. Apalagi Xavier juga sudah jarang pulang dan memilih tinggal di luar kota karena tuntutan pekerjaan. Ketika Gavin sudah memarkirkan mobil tepat di depan gerbang rumah, tampak ada seorang wanita dengan mengenakan jaket tebal keluar dari sana. Wanita itu tampak terburu-buru melangkah sambil sesekali membenarkan masker dan topinya. Dari postur tubuh hingga warna rambutnya, Gavin sudah mengetahui siapa wanita itu. Sampai dia menyuruh Derry untuk mengikuti langkah si wanita dengan kecepatan mobilnya yang sangat pelan. “Dia itu memang ....” Gavin mengepalkan tangan, pikirannya semakin kacau balau mengingat Xavier juga tidak pulang semalam. Apa yang dilakukannya semalaman suntuk? Itu menjadi sebuah pertanyaan besar pada diri Gavin. Kecemburuannya tidak bisa tertahan, hingga dia memilih keluar dari mobil secepat mungkin. Gavin menggenggam tangan wanita itu hingga langkah mereka tertahan seketika, si wanita pun menoleh dan kelihatan terkejut melihat sesosok Gavin Diamond Stewart berkeliaran di sekitarnya. “Mau ke mana?” tanya Gavin. Wanita itu berusaha melepas pegangan tangannya, tetapi tentu saja tidak akan menyaingi tenaga yang dikeluarkan Gavin. Sampai masker dan topinya dibuka paksa, tampaklah wajah cantik Laysa di sana bersama tatapan tajamnya. Laysa menggerakkan jemarinya, memberi bahasa isyarat kepada Gavin bahwa tangannya cukup sakit sekarang. “Jangan memberitahuku bahasa tubuhmu yang tidak akan pernah kumengerti. Hanya cukup tahu kalau aku tidak akan melepaskanmu lagi mulai sekarang,” ujar Gavin bernada datar. Dia pun mengajak Laysa masuk mobil, dan gadis itu sama sekali tidak melakukan penolakan. Laysa menurut saja seakan tidak ingin banyak berdebat dengan orang yang tidak bisa didebat. “Apa kau sudah gilla?!” bentak Gavin keras hingga Laysa sedikit tertunduk menyelamatkan telinganya. “Kenapa kau tidak pulang dan memilih menginap di rumah orang itu, hah?!” Gavin bersuara keras dibarengi genggamannya yang semakin erat kepada Laysa. Pergelangan tangan gadis itu berbekas kemerahan, hingga sedetik kemudian tangis kecil Laysa muncul. Gavin segera melepas genggamannya, membiarkan Laysa mengambil buku dalam saku jaketnya dan menuliskan sesuatu di sana. “Aku tidak ada pilihan lain, sungguh! Aku takut kau marah semalam, untuk itu siang ini aku berencana pulang ke rumahmu. Tapi kau masih tetap memarahiku.” Tulis Laysa pada buku kecilnya. “Jangan mencoba membodohiku, apa kau yakin aku bisa mempercayaimu?” “Untuk apa aku berbohong? Apa bedanya aku berada di sekitarmu, atau lari menjauh? Itu sama-sama merugikanku.” “Apa kau bilang?” Gavin kembali mencengkeram lengan Laysa sangat erat, gadis itu belum berhenti menangis. Dia tetap berusaha membuka lembaran bukunya dengan satu tangan lain untuk menunjukkan sesuatu kepada Gavin. “Hidup dan tubuhku sudah menjadi milikmu, bahkan aku tidak bisa memikirkan hidup di luar sana lagi karenamu. Jika aku diberi dua pilihan sekalipun, aku akan kembali padamu. Karena hidup denganmu lebih baik dari pada menyodorkan nyawa dengan percuma di luar sana.” Seketika hening. Gavin yang semula ingin sekali mengeluarkan kiamat kasar dengan kemarahan terbesarnya, mendadak luluh setelah membaca isi tulisan buku Laysa. Gadis itu putus asa, Gavin tahu. Namun, yang membuatnya tersentuh adalah ketika Laysa mempercayakan hidupnya secara tidak langsung. “Apa kau bisa tunggu di luar sebentar, Derry?” Gavin memberi kode kepada Derry, hingga lelaki itu mengerti dan meninggalkannya berdua saja bersama Laysa. Gadis itu masih tampak menangis, sisa-sisa ketakutan terlihat jelas di depan mata. Gavin pun melonggarkan pegangan tangannya, lalu mengajak Laysa duduk di pangkuannya hingga jarak mereka semakin dekat. “Kalau begitu, jangan pernah lagi menjauh dariku apa pun yang terjadi, Lays. Kau adalah milikku, ingat itu baik-baik.” Gavin membenarkan anak rambut basah yang menghalangi wajah sendu Laysa. Gadis itu tidak lagi bereaksi banyak, kecuali cengkeraman erat di bahu Gavin saat bibbirnya terasa hangat oleh sentuhan lembut yang menuntunnya dalam sebuah kenikkmatan tabu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN