Seharusnya keputusan yang kuambil akan berefek baik padaku, seperti rasa puas dan tenang karena sudah kembali ke kehidupan lama. Tapi ternyata, cara dunia bekerja memang selalu tidak seindah ekspektasi.
Pada akhirnya rasa canggung itu hadir. Aku masih harus berkonsultasi dengan Bang Riza meskipun BAB III ku sudah rampung. Lagi, Pak Kusnadi melimpahkan tugasnya pada Bang Riza. Aku heran apa Bang Riza tidak ingin cepat-cepat keluar dari program studi ini?
Dia melepas kacamatanya, kemudian menyerahkan proposalku. "Silakan daftar seminar proposal dan kabari Pak Kusnadi kalau sudah ada jadwalnya" ucapnya tenang dan datar. Aku mengerjapkan mata. Apakah aku harus senang? Tapi kenapa tidak ada euforia yang luarbiasa? Bahkan aku cenderung meragukan bang Riza. Dia betul membaca proposalku 'kan?
"Ini beneran udah rampung Bang?" Beo ku tak percaya.
"Yah, biar sisanya di koreksikan penguji" sahutnya acuh.
What the? Dia mau menyerah begitu karena kemarin sudah kutolak? Tidak bisa. Kalau di keroyok di depan penguji, setidaknya harus ada Pak Kusnadi, alamat babak belur kalau dosen pembimbingku saja invisible kehadirannya.
"Bang... Ini kalau ada hubungannya sama kejadian tempo hari aku minta maaf" kataku. Gerakan tangan Bang Riza terhenti. Sembari menatapku tak suka.
"Silakan kalau tidak ada lagi yang ingin di konsultasikan, pintu keluarnya ada disebelah sana" tanpa menghiraukan pertanyaanku.
Aku diam sesaat, menatapnya tak rela kemudian keluar. Sudahlah. Apa sih yang bisa di harapkan pada laki-laki yang sudah kutolak?
"Dimana?" Tanyaku pada orang yang ada di panggilan telepon. Aku perlu melampiaskan rasa frustasi ini.
"Aku tunggu di Abude" kataku tanpa minta persetujuan dari orang yang bersangkutan.
Pintu lift terbuka. Aku masuk ke dalam, menekan lobi. Hingga sebuah tangan menghalangi pintu yang hampir menutup sempurna.
Bang Riza, dia ikut turun. Kami saling diam beberapa saat. Dia memandangi ke arah depan, dinding yang memantulkan penghuni lift. Aku mengalihkan pandangan ke arah layar handphone meskipun tidak ada yang menghubungiku. Pokoknya pura-pura sibuk saja!
"Langsung pulang?" Katanya. Aku mencuri pandang melalui sudut mata. Enggan menatapnya. Khawatir bukan aku yang sedang diajak bicara.
"Hmm" sahutku seadanya.
"Kamu... " Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya pintu lift terbuka.
"Duluan Bang" kataku terburu-buru meninggalkannya. Cukup didalam ruangan tadi mendapat penolakan keras darinya. Tidak lebih lanjut diluar ruang dosen. Aku perlu Fatan sekarang juga.
Sesuai tempat janjian, tidak. Pemaksaan sepihak dariku. Aku perlu telinga Fatan untuk menampung aspirasi yang tidak bisa ku keluarkan pada asdos alias Bang Riza.
"Annoying banget tau gak. Manggil seenak jidat. Apaan si? Awas aja gak penting-penting amat" gerutu Fatan.
Bahuku merosot. Kemudian ku tumpahkan semua uneg-uneg di kepala. Hampir saja aku memaki-maki Bang Riza dengan sebutan berbagai nama binatang. Fatan menatapku iba.
"Sabar, ya. Tapi coba deh kamu lihat sisi positifnya juga. Cuman kamu lho yang udah di bolehin daftar seminar" semangat Fatan.
"Masa sih? Alfa sama Shely enggak?"
"Gak tau ya. Tu anak keliatannya aja pinter. Gak jelas sama tujuan hidup, ya gitu" ucapnya disela kunyahan kentang goreng.
"Kaya sendirinya tau aja tujuan hidup mau ngapain"
"Aku si gampang. Jadi youtuber. Monetisasi duit yang udah banyak" ucap Fatan percaya diri.
"Hoel. Enak sekali ya jadi anak ibu kamu".
Hari itu pembicaraan kami berakhir dengan cerita Fatan yang sudah berhasil lanjut ke BAB II. Dan sedang kejar tayang untuk mengebut BAB III untuk konsul berikutnya. Well, aku ikut senang untuk kemajuan proposalnya.
Sekitar pukul tujuh malam aku memutuskan untuk berpisah dengan Fatan. Namun pertemuan tak terduga justru terjadi. Bang Riza muncul tepat di depan ku. Dia sama terkejutnya denganku, dan yang membuatku lebih terkejut lagi, dia bersama perempuan yang entah siapa.
Aku memutuskan untuk melaluinya begitu saja tanpa bertegur sapa. Tapi panggilannya membuat kepalaku otomatis mengangguk tanpa senyum. Aku menganggap itu adalah bentuk sopan santun pada asisten dosen yang kukenal. Aku tak ingin terlihat sok akrab di depan wanitanya. I mean, perempuan cantik yang sedang merasa terancam dengan kehadiran ku, aku mengetahuinya dari tatapan matanya yang tidak santai, seolah menyiratkan bahwa Bang Riza itu miliknya.
Begitu melewati mereka. Sekilas aku bisa mendengar. "Dia siapa?" Tanya perempuan itu.
"Mahasiswi bimbinganku" sahut Bang Riza yang masih samar-samar terdengar olehku. Aku tersenyum masam.
Mendadak turun hujan. Langit begitu gelap. Bersama itu pesan bang Riza masuk "Katamu langsung pulang?",
Read.
"Sekedar informasi aja, perempuan yang sama aku tadi bukan siapa-siapa aku Laiba", tambahnya.
Untuk apa dia menjelaskan perempuan itu siapa?
Berkali-kali aku meyakinkan bahwa perasaanku masih sama, bahwa aku tidak memiliki 'percikan' itu lagi. Tapi anehnya sebanyak itu pula pertahananku mulai goyah, ada rasa lega yang menyergap bahwa perempuan itu bukan siapa-siapa bang Riza.
Lagi, kubiarkan pesan Bang Riza terbaca tanpa balasan. Setelah itu aku menyimpan handphone ke dalam tas, aku nekat menerobos hujan. Badanku baru terasa menggigil setelah melepas jas hujan di parkiran kost. Sebab di sepanjang perjalanan, pikiranku tersita oleh asumsi-asumsi tak penting.
Kenapa perasaan lega itu muncul?
Jelas hal itu bertentangan dengan keyakinan yang ku amini.
Selepas mandi dan berganti pakaian aku berbaring. Mataku berat dan semuanya gelap. Aku tak tahu sejak kapan tertidur dan sudah jam berapa sekarang? Saat terbangun badanku terasa panas. Dan perut ku terasa mual. Bisa ku simpulkan sendiri, aku demam. Terakhir kali makan sepertinya tadi sore, pun yang masuk hanya minuman dingin dan camilan.
Ponselku kehabisan baterai. Aku langsung mencolokkannya ke pengisi daya. Pelan-pelan aku bangun. Mencari obat yang ku simpan di dalam laci samping tempat tidur, tidak lama setelah itu aku tertidur lagi.
Hingga sebuah gedoran dari luar pintu membangunkanku sekali lagi. Badanku benar-benar terasa berat.
"Laiba!" Panggil seseorang dari luar sekali lagi. Kali ini disertai dengan suara beberapa orang lainnya.
Dengan gontai aku berjalan membuka pintu. Ternyata langit sudah mulai gelap lagi dan kutemukan ada Bang Riza beserta beberapa tetangga kost yang menampilkan raut wajah lega. Kenapa tuh?
"Astaga Laiba, kamu ngapain aja di dalam? Gak ada kabar seharian. Dihubungin susah banget!", Omelnya tanpa jeda,
"Orangnya udah keluar mbak. Makasih banyak udah bantuin gedor, maaf ngerepotin" ucapnya pada beberapa tetanggaku yang juga menanyakan keadaan ku.
"Abang ngapain kesini?" Masih tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi.
"Kamu sakit?" Tangannya bergerak menyentuh dahiku tanpa izin. Eh apa nih? Kok pegang-pegang.
"Udah sembuh" sahutku sekenanya. Kenapa Bang Riza seperti mode pacar begini. "Abang ngapain kesini?" Tanyaku sekali lagi.
"Bisa kita duduk dulu?" Tanyanya.
Aku mempersilakannya duduk di depan kost an. "Kamu sudah makan?" Lagi dia bertanya, ada kekhawatiran didalam suaranya.
"Sudah" (kemarin) sambungku dalam hati.
Dia diam sebentar. "Awalnya aku cuma mau tau perkembangan seminar proposal kamu. Soalnya kamu masih belum kasih kabar udah daftar atau belum. Aku juga udah terlanjur ngasih tahu Pak Kusnadi soal perkembangan proposal kamu dan skripsi anak-anak angkatan 16. Pak Kusnadi bilang, beliau minta dikirimkan jadwal seminar secepatnya, biar bisa liat apakah bisa hadir atau gak di seminar kamu. Tapi kamunya susah dihubungi gini, ku tanya sama temen-temen kamu juga gak ada yang tahu",
Dia menarik nafas keras, "Aku gak tau kalau kamu sakit begini. Aku khawatir Laiba. Setidaknya kamu kasih tau atau minimal aktifin lah handphonenya. Aku kira kamu sengaja ngehindarin aku lagi gara-gara kemarin" terangnya,
"Maksudnya gara-gara kemarin?" Alisku terangkat sebelah. Gara-gara dia yang tidak peduli pada proposalku atau gara-gara kepergok jalan dengan perempuan? Tapi kan itu bukan urusanku.
Bang Riza berdeham canggung, "Intinya kamu kalau ada apa-apa tolong kabarin aku" ucapnya lirih.
"Ada apa-apa tuh gimana misalnya?"
"Minta belikan obat atau temenin kamu ke dokter misalnya? Anything" wajahnya memelas.
Aku tertawa sinis, "Lucu. Nggak ada asdos yang begitu. Kalau ada, mahasiswanya gak tahu diri" bantahku
"Ada, contohnya aku. Dan kamu pengecualian Laiba" sahutnya serius.
Diam, aku tak tahu harus merespon seperti apa. Beberapa saat hening mengisi jeda itu, hingga perutku mengeluarkan bunyi.
"A-ah ini.. kayanya a-angin, anginnya ada yang ketinggalan di perut" aku menepuk mulutku yang berbicara asal. Sial, apa yang baru saja ku katakan? Mana ada angin ketinggalan di perut? Jangan-jangan dikira Bang Riza aku mau buang angin. Astaga, jorok sekali Laiba!
Bang Riza mengangguk, dia mengambil handphone dan mengetik sesuatu disana, kemudian menaruhnya lagi di atas meja. "Aku udah pesenin soto buat kamu. Kita makan bareng-bareng, ya" katanya membuat pipiku terasa menghangat atau demamku kumat lagi? Nampaknya aku perlu Paracetamol tambahan.