bc

How to Get Falling in Love?

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
HE
drama
bold
campus
polygamy
like
intro-logo
Uraian

Ku kira sikap apatis terhadap masa lalu adalah bentuk nyata dari kesembuhan sakit yang pernah hadir. Aku tak pernah tahu, kalau kebiasaan ku yang sering berjalan digaris abu-abu adalah kamuflase dari sebuah luka yang bermutasi menjadi bentuk lain, yaitu trauma. Seringkali ku sangkal, bahwa itu hanyalah omong kosong, tapi kenyataannya, memang begitulah yang terjadi. Aku tak pernah menghindar ataupun menolak dari yang namanya jatuh cinta. Hanya saja, aku tak tahu bagaimana caranya mempercayakan hati pada satu orang untuk selamanya.

chap-preview
Pratinjau gratis
I Like You
"Aku suka kamu." Katanya tanpa basa-basi. Pernyataannya barusan membuatku kehilangan minat. Entah memiliki kelainan apa, setiap kali ada laki-laki yang mendekati aku justru mundur. Tapi saat laki-laki itu sulit untuk kuraih, aku justru tertantang. Hell, ini memang aneh. Kalau kata Fatan, aku itu banyak mau. Saat kujelaskan bahwa kriteria yang kuinginkan adalah laki-laki baik, nyambung diajak bicara berbagai topik dan dia cerdas. Aku yakin seratus persen akan jatuh hati tanpa syarat begitu saja. Tapi nyatanya, bahkan saat si kating terkenal dengan kejeniusan dan friendly dengan semua orang itu sekarang menyatakan perasaannya aku kelabakan sendiri. Sebenarnya apa yang sedang kucari? Aku berkedip beberapa kali tanpa bisa berbicara apa-apa. Sementara Bang Riza menanti jawabanku harap-harap cemas. "Jangan terburu-buru. Aku cuma mau kamu tau perasaan aku," katanya saat itu. Enak sekali didengar, terkesan tidak menuntut dan tidak membebani. Sesaat aku ingin bernafas lega. Namun tatapannya yang hangat dan penuh damba, membuat pasokan udara di sekitarku terasa menipis. "Tapi jangan lupa dipikirin juga jawabannya." Tambahnya dengan senyuman yang membuat kedua belah matanya menyipit dan hampir menghilang namun terasa menarik untuk dipandang. Aku tahu dia tampan. Namun untuk pertama kalinya aku tidak terbius oleh ketampanannya itu. Setelah kejadian itu sebisa mungkin aku menghindarinya. Pesan dan telepon darinya selalu ku abaikan satu minggu ini. Hingga di mata kuliah pengantar seminar dia masuk, menggantikan dosen yang tidak bisa berhadir. Di barisan tengah aku menatapnya berjalan. Bang Riza menyampaikan beberapa pesan dari Bu Amira mengenai mata kuliah pengantar seminar. Juga membagikan modul pengantar seminar, yang katanya akan sangat membantu saat proses pembuatan proposal seminar. Satu persatu kami dipersilakan mengambil modul ke depan berdasarkan urutan absen. Aku menggigiti buku-buku jari, khawatir dengan suasana yang benar-benar canggung ini. Namun begitu urutan inisial namaku harusnya dipanggil justru dilewati begitu saja dan berlanjut ke nama mahasiswa berikutnya. Hei, kenapa namaku tidak dipanggil? Dan juga kenapa hanya aku dari sekian banyak orang di kelas ini! "Ada yang belum kebagian?" Tanyanya lagi yang jelas-jelas namaku belum dipanggil. Aku mengangkat tangan. "Saya belum kebagian, Bang." Ucapku di tengah keheningan kelas. Dia menatapku datar, "Ah, iya. Saya lupa, tadi kata Bu Amira modulnya memang kurang. Jadi Laiba, kamu ikut saya ke ruang dosen untuk ngambil modul yang baru selesai dicetak." Terangnya. Dengan pasrah aku mengangguk setuju. Baru saja aku ingin memuntahkan bersumpah serapah dengan kesialan hari ini. Bang Riza memberikan informasi yang tak kalah menggemparkan aku dan seisi kelas. "Ini ada kiriman dari Bu Amira kalau dosen pembimbing kalian untuk pembuatan proposal seminar nanti sudah dibagikan, saya akan kirim ke ketua matakuliah, jadi tolong share di grub kelasnya." Ujarnya kemudian dia pamit keluar kelas. Masing-masing dari kami buru-buru membuka grub kelas dan mengunduh file yang dikirimkan olehnya. Panel lingkaran itu berputar. Begitu berhasil terbuka, aku langsung menggulir ke bawah dan mencari inisial namaku, L untuk Laibatul Khifni Nuseiba. Dan kutemukan dosen pembimbingku adalah Pak Kusnadi, dosen yang terkenal paling sulit untuk ditemui. "Mampus" gumam ku seraya menepuk jidat sendiri. Bahuku merosot. "Kenapa tuh?" tanya Fatan. "Boleh ganti dosbing gak sih" pikiranku kalut. Setahuku dosen pembimbing saat seminar tidak akan diganti hingga bimbingan skripsi. Dan seingat ku kakak tingkat yang pernah bimbingan dengan beliau terancam terlambat lulus tepat waktu. Sudah susah ditemui sulit pula mendapatkan acc. Untuk ku yang cukup ambisius dan terobsesi dengan gelar cumlaude tentu saja ini adalah sebuah batu sandungan yang akan merusak planning hidupku. "Memangnya kamu kebagian siapa?" Tanyanya Ku tunjukkan file yang terbuka di layar handphoneku, Fatan meringis prihatin. "Semangat Laiba. Kamu pasti bisa" ujarnya mendramatisir dengan gerakan tangannya yang menyemangati. "Kamu kebagian siapa?" Aku penasaran melihat wajahnya yang anteng-anteng saja sementara aku sebaliknya. "Bu Retno" ujarnya tersenyum dan menunjukkan tanda peace padaku. Sumpah, demi apapun aku iri. Bu Retno adalah dosen ter-ramah dari hasil review kakak-kakak tingkat terdahulu. "Ya udah si, jalanin aja. Kalau ada apa-apa 'kan bisa konsultasi ke dosen PA" ujarnya enteng. "Maksud kamu 'ada apa-apa' tuh gimana?" Tanyaku sangsi. "Ya, kali aja harus nambah semester gitu" dengan seringai wajahnya yang menyebalkan. Mataku melotot. "Sembarangan!" Saat akan mendamprat Fatan habis-habisan, sebuah pesan masuk menghentikan aksiku. Dari Bang Riza. 'Jam lima aku tunggu di ruang dosen' 'Jangan telat' Dan kulihat jam di handphone masih ada sekitar tiga puluh menit lagi. Kabur atau datang, ya. Pikirku gelisah. Aku takut di mintai jawaban untuk pernyataannya minggu lalu. "Tan, kalau aku minta tolong kamu yang ambilin modulku, mau gak bantuin?" "Emangnya mau kemana kamu?" Raut wajahnya sudah menampakkan keengganan untuk membantuku. "Bisa nggak?" Sahutku tanpa memperdulikan pertanyaannya. "Bentar lagi aku ada rapat sama anak-anak DPM" ujarnya merapikan tas dan bersiap pergi. Yang artinya Fatan tidak bisa menolongku. "Ya udah deh. Gak jadi kalo gitu" akhirnya aku sendiri yang harus menghadapi Bang Riza. Memang bermain api itu tidak disarankan. Kupikir setelah interaksi kami yang cukup akrab selama ini, aku akan nyaman bersamanya. Tapi lagi-lagi, gejolak itu padam begitu mendapatkan pernyataan cinta. Seolah-olah tantangan itu hilang dan terasa hambar. Apa ini kutukan? Dengan langkah berat akhirnya aku sampai di ruang Bu Amira. Aku menilik melalui celah kaca pintu, apakah Bang Riza masih di dalam. Berulang kali tanganku ingin mengetuk, sebanyak itu pula urung ku lakukan. Dan saat aku mengangkat tangan lagi untuk mengetuk tiba-tiba pintu itu terbuka. Tanganku yang mengepal terhenti tepat di depan wajah Bang Riza, nyaris mengenai jidatnya. "Kamu mau mukul aku?" Bang Riza menatapku tak percaya. "Nggak Bang bukan gitu, tadi mau ngetuk pintu, tapi tiba-tiba abang muncul" sahutku gelagapan. Bang Riza tiba-tiba tersenyum, "Iya, aku tau kok. Ini modul kamu" dia menyerahkan modul yang sedari tadi dipegangnya. "Makasih Bang" "Langsung pulang? Makan dulu yuk" tawarnya "Engg... Gak dulu deh bang. Lagi buru-buru" "Ada apa?" Wajahnya menunjukkan ke khawatiran. "Gak. Ada urusan aja di kosan. Jadi, anu, aku duluan bang" kelitku yang agak dipaksakan alasannya. Untuk sementara waktu, aku bisa menghindari Bang Riza dengan alasan-alasan seperti ini. Tapi, pada akhirnya mau tak mau aku juga harus segera memberikan jawaban. Kalau di telaah lebih lanjut, sebenarnya Bang Riza benar-benar tipe idealku. Dia cerdas. Wawasannya luas, membuat pembicaraan seakan tak ada habis-habisnya. Pernah sewaktu selesai mengerjakan tugas mata kuliah, kami tak sengaja bertemu di tongkrongan jurusan, membicarakan banyak hal mulai dari masalah politik hingga mengulas tokoh-tokoh film harry potter. Itu adalah pembicaraan yang menyenangkan. Kadangkala, ada momen bersama Bang Riza yang mendebarkan. Tapi ada juga momen aku merasa nyaman bersamanya. Bahkan saat kami berselisih paham pun aku merasa tak perlu khawatir bersitegang urat leher untuk menemukan solusinya. Karena pada akhirnya, Bang Riza bisa menghormati sudut pandangku tanpa perlu meremehkan ataupun membuatku tersinggung. Ya, masalahnya adalah padaku. Aku belum siap memulai hubungan. Aku lupa bagaimana caranya mempercayakan hati pada satu orang. Sehingga lebih sering bermain di garis abu-abu. Saat tak ada yang tahan, aku mengambil kesimpulan bahwa kami tidak lagi sejalan. Handphoneku bergetar lagi, kali ini bukan dari Bang Riza, melainkan grub kelas. 'Informasi tambahan, bagi yang pembimbingnya Pak Kusnadi, semua urusan perkonsulan di limpahkan ke asisten beliau. P.S: beliau ngambil S3 di yogya' ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Love Match

read
180.3K
bc

Stuck With You

read
72.7K
bc

Happier Then Ever

read
92.5K
bc

Pengganti

read
304.0K
bc

Sweetest Pain || Indonesia

read
73.9K
bc

Ditaksir, Pak Bos!

read
149.8K
bc

Rainy

read
18.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook