Konsultasi

1023 Kata
Kata Pak Kusnadi untuk bimbingan pertamaku akan diserahkan pada asistennya hari ini jam tiga sore. Aku berharap asisten beliau jauh lebih baik dan memudahkan perkonsulanku. Aku mengetuk ruang kerja pak Kusnadi. "Masuk" sahut seseorang dari dalam yang sepertinya sudah melihat kedatangan ku dari balik kaca yang terlihat gelap diluar tapi terang dari dalam. Begitu membuka pintu aku cukup terkejut menemukan Bang Riza duduk santai di dalam. Dan di sampingnya ada dosen Pascasarjana lainnya. Dia terlihat akrab disana. Seperti memang itu tempat miliknya. "Konsultasi?" Bang Riza bertanya setelah melihatku berdiri menunggu seperti kambing cengok. "Silakan duduk disini" perintahnya dengan wajah datar. Sebentar, kenapa Bang Riza menyuruhku duduk di depannya. Seolah aku akan berkonsultasi dengannya? "Kamu sudah bikin Bab I nya?" Tanyanya menatapku serius. Aku masih membeku. Mencerna apa yang sedang terjadi. "Kamu bawa 'kan?" Ujarnya kemudian menatapku yang tak kunjung memberikan jawaban. "Eh? Ah, iya bawa" sahutku kikuk kemudian menarik kursi kemudian duduk di depannya. "Beberapa hari lalu Pak Kusnadi minta saya menggantikan beliau sementara waktu untuk bimbingan", "Dua dari angkatan enam belas dan satu dari angkatan kamu" terangnya memberi pencerahan untuk tanda tanya besar di kepalaku. Jadi seperti ini akhirnya takdir membawaku? Percuma saja behari-hari ku matikan notifikasi handphone dan menghindarinya. Karena hasilnya justru berakhir satu ruangan dengannya setiap minggu. "Saya ini cukup fleksibel. Jadi waktu konsultasi, kita sesuaikan dengan kondisi dan situasi. Kamu gak masalah 'kan?" Jelasnya bersikap profesional menggunakan "saya". Posisi kami saat ini adalah pembimbing dan yang dibimbing, mahasiswa semester akhir seperti ku bisa apa selain manut-manut setuju? Membantah dan mengeluh sama saja tidak tahu diri. Karena disini akulah yang paling memerlukan bantuannya. "Mangguk-mangguk aja. Kamu punya mulut 'kan? Ngerti atau gak?" Dia mengetuk kertas yang ada di atas meja. Nadanya datar seperti tidak ada penekanan, tapi berhasil membuatku terintimidasi habis-habisan. Astaga, ini benar Bang Riza yang tempo hari menyatakan perasaannya pada ku? "Iya, ngerti" sahutku seadanya. Masalah realisasinya benar atau tidak, urusan belakangan. Yang penting selamat dulu hari ini. Satu jam hingga akhirnya sesi konsultasiku berakhir. Wajahku rasanya kaku di semprot dengan komentar pedas Bang Riza. Dia hari ini benar-benar seperti lain orang. Apa dia sengaja balas dendam karena beberapa hari ini tidak ku respon? Kalau benar, dia sungguh tidak profesional! "Laiba, tunggu!" panggilnya begitu aku hampir mencapai pintu keluar gedung. Aku menatapnya dengan malas. 'Apa lagi?' kira-kira wajahku berkata seperti itu. "Kusut banget" komentarnya bersikap santai. Kemana atribut formalitasnya yang baru saja menyidak ku tadi? "Kamu langsung pulang? Ngopi dulu yuk" Tanyanya ramah. Aku tersenyum sinis, "Nggak ada waktu nih. Tadi sama asdosnya dikasih revisi sejibun" sindirku sembari melirik gelang jam dengan di dramatisir. Bang Riza tertawa, "Kalau gitu aku anterin pulang" "Gak, makasih. Aku bawa motor sendiri" jelasku sembari menunjukkan kunci motor di depan wajahnya. Dia merebut kunci motorku begitu saja, "Geer banget. Maksudnya, sekalian kamu anterin aku. Motornya biar aku yang bawa" dia sudah menaiki motor dan menepukkan bagian belakangnya untuk ku naiki. "Abang mau pulang? Bukannya sekarang masih jam kerja, ya?" Kataku sembari memicingkan mata padanya yang kemudian dihadiahi bunyi klackson, aku terperanjat. "Astaga!" mataku memelototinya tak suka. "Makanya cepetan" desaknya padaku. Motor-motor siapa, yang mendesak siapa? Meski begitu aku tetap patuh membiarkannya membawa memasuki area kafe. Tapi sebelum kami sampai di Kafe, dia sempat berbicara, "Sebenarnya hari ini aku gak ada jadwal ke kampus. Aku datang ke kampus cuma buat konsultasi proposal kamu. Kurang baik apalagi coba sama kamu" katanya, sontak membuat pipiku menghangat dan membuat isi perutku serasa digelitik. Bang Riza membelikanku secangkir kopi dingin. "Buat dinginin kepala sama hati kamu" katanya memberiku segelas creamy latte yang manis. Setelah itu Bang Riza membawaku ke arah kostanku. "Sebentar, ini bukannya kita ke kostan abang dulu ya baru aku pulang?" Apa setelah ini aku harus mengantarnya lagi atau dia ingin membawa pulang motorku Aku tak mengerti kenapa justru berputar-putar begini. Tepat di depan gerbang kost dia turun. "Gak jadi. Aku kan gak bawa helm. Kecuali kamu mau kita kena tilang bareng" godanya "Asem!" "Ya, sudah. Sana masuk. Jangan lupa dikerjain revisinya. Minggu depan harus sudah beres" perintahnya yang terasa menjengkelkan. *** Tadinya kupikir teman-temanku beruntung karena memperoleh dosen pembimbing yang perhatian. Mengingatkan waktu konsultasi dan revisi. Tapi sekarang akhirnya aku paham, benar-benar paham. Aku bahkan sudah muak melihat notifikasi pesan dari Bang Riza. Boleh jadi aku berhasil mengabaikannya sebagai orang yang disukainya. Tapi untuk masalah satu ini aku gagal. Dia terus menerorku selama satu minggu full, tiga kali sehari di waktu-waktu senggang. Dan aku tak bisa mengabaikannya. Sebentar, dia bukannya punya jadwalku kan? Akhirnya komunikasi yang ingin ku hindari terus berlanjut hingga siang ini, mendiskusikan tempat konsultasi. Well, kupikir kampus adalah tempat paling praktis dan sepertinya ini maksud tersembunyi Bang Riza dari kata 'Fleksibel' waktu itu. Sebab dia terlalu sibuk dan memintaku untuk menemuinya di kafe usai Bang Riza dan rekan kerjanya rapat. Dari jauh dia melambaikan tangannya padaku. "Sumringah betul" gerutuku sembari berjalan menuju mejanya. "Kopi?" tawarnya begitu menduduki kursi. Aku mengangguk. Kurasa setiap tawaran dari Bang Riza selalu ada makna dibaliknya dan tidak akan berdampak baik jika ditolak. Karena mengingat waktu konsultasi terakhir hatiku cukup panas untuk menerima dampratannya yang blak-blakan. "Kamu sudah makan? Makan dulu yuk" ujarnya mengambil papan menu dan memesan beberapa makanan. "Aku dari pagi belum sempat makan" ceritanya tanpa ku tanya. "Kenapa gak sempat?" Sahutku sekenanya. "Soalnya gak di ingetin sama kamu" aku menatapnya horor. Apa karena sekarang kami tidak di kampus sehingga tingkah yang tak pernah kulihat selama ini tiba-tiba muncul kepermukaan. Dia tertawa begitu melihat reaksiku. "Natapnya biasa aja dong" "Biasanya berhasil menjaring cewek-cewek pakai jurus begituan?" Tanyaku sinis. "Cuma sama kamu gak mempan" alisnya bergerak turun naik. Aku geleng-geleng kepala. "Ini mau sampai kapan ya kita ngalor-ngidul gak jelas? Katanya mau konsultasi" aku mencoba menarik kembali pembicaraan ke jalur yang seharusnya. "Kan sudah kita bahas di chat proposalnya. Buat apa aku neror kamu kalau ternyata masih belum oke? Udah santai aja. Selanjutnya kamu mulai kerjain aja bagian Bab II nya, nanti kita bahas sama-sama" Bang Riza mengedipkan mata. "Bahas sama-samanya bukan via chat lagi 'kan?" Tanyaku sangsi. "Nggak lah, rajin amat. VC mungkin?" ujarnya serius. Kemudian aku mengangkat piring seakan ingin melempar beserta isinya ke wajahnya. "Bercanda. Santai dong" kemudian dia tertawa. Aku ikut tertawa. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN