Bersikap apatis dengan lingkungan sekitar adalah kebiasaanku. Tapi beberapa hari belakangan tengkukku terasa panas. Seperti ada yang menyumpahi dari belakang setiap kali lewat diantara kerumunan para wanita. Sehingga membuatku bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
"Proposal kamu gimana Laiba?" Seorang gadis dengan rambut lurus panjang menghampiri kursiku. Tumben Miya menyapaku lebih dulu. Biasanya kan dia main dengan Geng Eksisnya.
"Lancar" Yah, meski terseok-seok, orang tak perlu tahu kesusahan kita kan?
"Pasti lah, kan dibantuin Bang Riza" sahutnya terdengar sinis. Atau hanya perasaanku saja demikian?
"Kamu tuh beruntung banget. Udahlah Bang Riza baik, ganteng pula. Cuci mata tiap hari sih kalau aku" ceritanya ringan.
Aku tersenyum masam. Miya tidak tahu saja kalau Bang Riza sedang mode dosen pembimbing, aku jamin tidak lagi bisa flirting-flirting manja seperti biasanya.
"Katanya mau ganti dosbing, kalau diliat-liat lagi kayanya proposal kamu deh paling cepet rampung" sembur Fatan yang tiba-tiba muncul dengan wajahnya yang jauh lebih kusut dari biasanya.
"Hai, Miya" sapa Fatan pada perempuan disampingku. Wajah Miya merah padam, sikapnya berubah delapan puluh derajat.
"Hai, Fatan" katanya malu-malu.
Fatan itu sahabatku. Kedekatan kami bermula sejak satu kelompok ospek. Berbeda dengan ku yang begitu biasa saja. Dia itu memiliki pesona yang tidan disadarinya. Kalau kata anak-anak kelas, dia itu makhluk good looking yang tidak sadar kalau dirinya tampan. Entah karena sering bergaul dengannya, aku tidak lagi terpesona padanya seperti yang sering dibicarakan anak-anak kelas.
"Bisa pindah gak, ada yang mau aku omongin ke Laiba" jelas Fatan. Miya tersenyum lama menatapnya seakan terpesona, tak kunjung bergerak. "Se-ka-rang" eja Fatan gemas.
"Oh, O-oke. Kalau gitu aku balik dulu Laiba" ujarnya masih dengan wajah yang tersipu.
"Rampung dengkulmu. Gak tau aja hidupku selama ini kaya dikejar rentenir" sahutku begitu Fatan duduk disampingku. Mataku masih mengiringi kepindahan Miya ke kursi lain dengan wajah yang memerah.
"Yaelah tapi beres, kan? Bantuin temenmu lah. Masih stuck di Bab I nih. Bu Retno ternyata gak semudah reveiw kating" keluhnya.
"Emang udah disuruh revisi berapa kali?" Tanyaku
"Sekali sih" ujarnya enteng
Aku mengepalkan tangan bersiap meninju wajahnya "Baru segitu ngeluh. Ngajak berantem emang"
"Eh Bang Riza tuh?" Tunjuk Fatan mengalihkan perhatianku.
Aku celingukan mengikuti arah yang ditujukannya. "Mana?" Saat aku berbalik, Fatan menunduk, menyilangkan kedua tangan membentuk benteng perlindungan.
"Jangan emosi gitu lah" katanya menenangkan. Mataku melototinya dan memberi peringatan. Namun dia kembali menunjukkan tangan ke arah pintu. Sayangnya aku tak lagi percaya dengan perkataan ataupun gesturnya.
Saat hendak bangun dan mengejarnya, tiba-tiba sebuah suara menghentikan aksiku."Selamat siang!"
Aku mendengar suara yang akhir-akhir ini cukup menghantui. Aku khawatir akibat kesehatan mental yang menurun juga berakibat buruk pada pendengaran hingga berhalusinasi mendengar suaranya di matakuliah yang seharusnya tidak bertemu Bang Riza.
Aku berbalik, mataku hampir saja keluar dari tempatnya. "Kenapa Bang Riza masuk kelas kita? Dia ngerangkap jadi asisten Bu Tias juga? Kejar setoran banget" Bisik ku pada Fatan.
"Nggak, ini emang matkul seminar proposal kok" sahutnya, anehnya dia ikut menundukkan kepala mengikuti tingkahku yang seolah bersembunyi dari seseorang.
"Lho bukannya itu hari jum'at? Masih dua hari lagi!" kataku tak terima.
"Kamu gak baca grub ya, kelas kewirausahaan tukeran sama proposal seminar, Pak Monry ada ngisi workshop hari ini. Jadi minta pindah ke Jum'at" jelasnya mulai membuka makalah proposal yang dia print.
Mampus. Karena sibuk menghindari teror Bang Riza, aku sengaja tidak membuka ponsel dan berakhir buruk seperti ini. Aku tidak tahu kalau tugas matkul seminar proposal akan dikumpul dan dipresentasikan. Memang Laiba, kamu tidak berbakat jadi mahasiswa pembangkang.
Segera ku geledah tas untuk mencari flashdisk, setidaknya aku selalu membawa-bawa laptop dan flashdisk di dalam tasku. Aku memeriksa dan mencari file proposal yang terakhir kali ku revisi.
Rencanaku begitu menemukan file itu, aku akan minta izin ke toilet dan melipir ke tempat print jurusan. Tapi sialnya strategi yang baru kususun didalam kepala itu gagal bahkan sebelum aku mencobanya.
"Kamu yang buka laptop" tunjuk Bang Riza membuat seluruh kelas hening dan menatap ke arahku. Seketika tanganku membeku. Aku mengangkat muka dan mengalihkan pandangan dari laptop ke arah Bang Riza berada dengan wajah pucat pasi. Kemudian melirik ke kiri dan kanan. s**t! Tidak ada oranglain yang membuka laptop selain aku!
"Sepertinya sudah siap presentasi, silakan maju ke depan" tambah Bang Riza santai. Sekuat tenaga aku menahan ekspresi wajah dan mata untuk tidak melotot dan menuruti perkataannya. Mahasiswa bisa apa selain manut?
Aku berdiri di depan kelas. Memandangi semua orang dan ku dapati wajah kesenangan Fatan di barisan belakang. Dengan senyum yang ku paksakan, aku memulai presentasi dadakan ini sambil mempersiapkan hati dengan komentar mematikan dari Bang Riza di hadapan seisi kelas.
Kurang lebih sepuluh menit kuselesaikan presentasi seadanya. Tidak ada sesi tanya jawab, karena tujuan presentasi ini adalah proposalku dijadikan bahan percobaan untuk dibedah, diulas dan untuk di cemoohkan Bang Riza pada teman-teman. Dan ya, sisa-sisa waktu matakuliah itu diisi dengan komentar-komentar Bang Riza yang terlampau objektif, halus tapi menusuk.
Usai kelas Fatan langsung menghampiriku. "Bantuin ya, ya, ya? Please" Fatan memohon, wajahnya memelas dibuat-buat.
"Siapa, ya anda?" Aku pura-pura tak kenal lantaran masih kesal dengan Fatan yang menertawakan saat proposalku dicecar habis-habisan. Teman macam apa dia?
"Ayo, lah. Aku diteror terus nih sama Bu Retno. Katanya kalau masih gak bener, gak dibolehin lanjut ke Bab berikutnya"
"Ga ada. Tadi kamu lihat sendiri 'kan proposal ku kena bantai. Revisianku juga banyak" tolak ku keras.
"Tapi kan Bab I kamu sudah oke. Aku lho mentok gak maju-maju. Kamu tega lihat temanmu gak bisa maju seminar semester ini? Katanya mau wisuda bareng" bujuknya.
Aku menghela nafas kemudian menatapnya jengkel. Kemarin saja dia dengan mudah menyebutku untuk mengulang semester. Hah. Ini nih kelemahan ku. Tidak tega dengan teman yang kesulitan. Meski sering berkata tidak dan enggan membantu, akhirnya ku iyakan juga.
"Ya sudah. Kirim proposalnya nanti aku coba koreksi dan beberapa saran. Ini bukan berarti aku ngerjain ya. Aku cuma ngasih pendapat. Selebihnya kamu kerjain sendiri. Jangan manja minta sekalian dikasih referensi. Awas aja" ancamku dengan nada tidak rela kemudian beranjak pergi meninggalkan kelas.
"Asik! Laiba emang terbaik" Kejar Fatan kemudian merangkulku.
"Ntar aku kirimin boba. Mau berapa? Bilang aja" ujarnya enteng. Aku berdecih tak suka dengan sikapnya.
Namun langkahku terhenti begitu mendapati Bang Riza yang berdiri di samping tangga dengan tatapan tak suka pada kami. Atau padaku?
"Eh, Bang Riza" sapa Fatan canggung dengan ekspresi yang diberikan Bang Riza. Fatan menurunkan tangannya dari pundak ku.
"Nungguin siapa Bang?" Tanyanya
"Laiba, kamu ikut saya" perintahnya dengan tatapan datar, menghiraukan pertanyaan Fatan.
"Hah?" Mau apa dia menyuruhku mengikutinya.
"Ikut saya sebentar" ulangnya dengan sedikit penekanan. Kemudian melirik ke arah Fatan yang tak kunjung meninggalkan kami.
Seolah paham Fatan akhirnya pamit dan terburu-buru meninggalkan ku.
"Saya tahu kamu gak ada kelas setelah ini. Jadi gak usah beralasan" tambah Bang Riza. Aku meneguk ludah. Kenapa suasananya terasa mencekam begini?
***
Aku memandangi sekitar. Tidak ada lagi mahasiswa yang berlalu lalang. "Memangnya kita mau kemana?" Tanyaku tanpa bergerak.
Alasannya harus jelas sebelum memerintah. Masalahnya adalah tadi di kelas dia sudah mengoreksi dengan sangat jelas bagian mana yang harus kuperbaiki. Jadi apakah waktu satu matakuliah tadi masih kurang?
Bang Riza memandangiku. "Bisa gak kamu gak bikin kepikiran." Ucapnya serius.
Kepikiran apa nih? Masa iya gara-gara proposalku yang banyak salah tadi? Wajar kan, mahasiswa tempat salah, pembimbing mengoreksi. "Maksudnya?" Pada akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulutku. Aku tak mengerti.
"Kenapa susah sekali sih buat ngajak kamu ketemu? Apa perlu pakai alasan proposal dulu baru kamu mau ketemu dan balas pesanku?"
Hah?
"Aku kira kita sudah cukup dekat dengan semua interaksi yang kita lakukan selama ini. Apa cuma aku yang salah paham disini?" Tanyanya frustasi.
Aku tergagap, "Begini Bang. Aku gak bermaksud begitu,"
"Apa karena Fatan?" Potong Bang Riza.
"Hah? Kenapa jadi Fatan?" Aku kebingungan.
"Aku sering lihat kalian selalu berdua. Dikelas, di kantin, dimana-mana"
"Aku pikir kamu gak bakalan ngelakuin hal cheesy seperti jatuh cinta pada temen sendiri? Ternyata aku salah ya"
"Sebentar" kataku
Bang Riza masih terus bicara, "Selama ini kamu anggap apa hubungan kita? Apa belum cukup jelas sikap yang aku lakuin?"
Aku tidak habis pikir dengan asumsi-asumsi yang diutarakan Bang Riza secara defensif seperti ini. Biasanya dia tenang. Secara naluriah aku ingin menjelaskan kebenarannya. Tapi, disisi yang lain aku berpikir. Lalu selanjutnya apa? Aku tetap pada pemikiran pertamaku, bahwa rasa itu sudah berubah.
Aku tak tahu harus memberinya respon seperti apa selain wajah linglung kebingungan dan tersudutkan. Sementara Bang Riza menampakkan wajah terlukanya.
"Maaf" cicitku.
Bang Riza masih menatapku. Aku menunduk. Dia melangkah maju. Membuatku mundur selangkah. Kemudian dia memegang pundak ku. "Laiba, apa benar selama ini kamu gak punya perasaan sepertiku?" katanya
Aku diam.
"Fine. Kayanya selama ini aku yang salah menafsirkan segalanya" Bang Riza kemudian pergi. Meninggalkanku yang masih menegang dengan debaran jantung tidak karuan.
Oh s**t! Apa itu tadi?
Kenapa setelah dia pergi justru membuatku seperti kehilangan sesuatu yang penting? Bukankah kemarin aku masih yakin bahwa 'spark' itu sudah menghilang.
Tidak. Tidak. Aku yakin, ini hanyalah efek sementara karena terbiasa diperhatikan dan perlakukan nya dengan lembut.