Aurora menatap cangkir teh di hadapannya. Tetapi, dia tidak meminumnya. Mendengar kata-kata Fabian kalau mereka akan membahas soal kepindahannya. Jadi apa Fabian telah setuju? "Apa yang kau inginkan?" Fabian bertanya. "Jelas saja, persetujuan dari Fabian." Aurora berkata lirih. "Kalau aku setuju, apa kau nggak merasa sedih?" Aurora menatap wajah lelaki di depannya. "Kenapa Rora harus merasa sedih?" "Kalau aku mengizinkanmu pindah, bisa jadi itu karena aku tidak membiarkanmu tetap di sisiku, apa kau nggak berpikir demikian?" "Itu nggak benar. Rora sendiri yang minta, lagipula Fabian bisa berkunjung ke tempat Rora sesekali. Jadi setidaknya ..." Kalimat Aurora terhenti. "Yah, Fabian mengerti apa yang ingin aku katakan." "Aku jelas nggak mengerti dengan ucapan yang setengah-setengah

