Fabian menelepon dan mengatakan pada Aurora lagi. "Besok nggak perlu berangkat ke kampus, Idris akan mengurus dosen killermu." "Benarkah?" Aurora mengerjapka mata. "Nggak percaya?" Fabian bergabung lagi ke atas tempat tidur, kemudian membelai rambut Aurora. "Bersantai dulu sambil menunggu aku melakukan sesuatu." Aurora mengangguk. "Rora akan percaya pada Fabian. Sepertinya Rora mengantuk, apa Rora boleh tidur." "Tentu saja." "Besok pastilah banyak pemberitaan tentang Rora." "Bagus juga, itu akan membuat Rora terkenal." "Terkenalnya untuk arti yang positif atau negatif?" "Semua bisa diatur." "Fabian memang yang terbaik." Aurora memuji. "Apa kau bangga padaku?" Aurora memperhatikannya. "Serius, Fabian ingin mendengar jawaban dari pertanyaan itu." "Serius." Fabian menatap mata Au

