Daru melihat ke arah ponsel. Kemudian dia berkata. "Tampaknya, belum ada tanda-tanda Fabian akan bereaksi?" "Tunggu saja besok, dia pasti tengah menyusun rencana." Mahesa menjawab. "Aku memikirkan Aurora, bagaimana dia besok ke kampus? Dia pasti akan diintai oleh wartawan juga teman-teman yang penasaran." Daru mendesah. Mahesa menoleh ke arahnya, dia pemuda yang baik dan tulus. Sayangnya, Aurora tidak memilihnya. "Kau mungkin bisa menguatkan Aurora di saat dia dipojokkan. Aku rasa ini kesempatan untukmu Daru, mengingat Fabian akan terlalu sibuk untuk mengurusinya." Daru tertawa kecil. "Seandainya Aurora sekarang masih mau melihatku. Aku pasti membuatnya kecewa lagi." "Daru, saat ini Aurora pasti akan berpikir seperti itu, tapi nanti, dia justru akan berterima kasih." "Aku harap beg

