Fabian berhadapan dengan Vella, di sebuah restoran. Siang itu mereka sedang lunch bersama. Ada bunga berisi mawar di atas meja, juga daging domba berwarna keemasan yang terhidang dengan banyak bumbu. Itu adalah menu khas restoran tempat mereka makan siang.
Vella meletakkan kedua tangannya di dagu, memandangi pria tampan di hadapannya. Fabian memiliki rahang yang tegas, dia juga tinggi dan gagah. Berkencan dengan Fabian merupakan impian setiap wanita, Banyak yang bilang dia ramah. Tapi Vella masih melihat misteri dalam dirinya, dia merasa kalau Fabian sengaja menampilkan citra seperti itu. Di dalam hatinya, mungkin, tidak demikian.
"Terima kasih, udah mengajakku makan malam, Fabian."
"Berkencan dengan wanita secantikmu, tentu saja impian banyak pria, Vella." Fabian menjawab.
Vella tersenyum. "Banyak pria, tapi apakah kau termasuk salah satu dari yang banyak itu?"
"Tergantung. Itu semua tergantung. Kau bisa membuatnya kencan ini berakhir dengan baik atau nggak berlanjut."
Fabian terlalu frontal, sebenarnya dia adalah orang yang dingin. Dia tersenyum, hanya untuk menutupi sifatnya yang seperti itu.
"Apa kabarnya tante?" Vella mengalihkan pembicaraan.
"Baik."
"Minggu depan, aku akan berulang tahun, aku harap kau bisa datang. Mungkin membawa hadiah yang spektakuler, dan spesial."
Fabian tersenyum, "Kau tau Vella. Sekalipun seseorang itu memberi batu, tapi kau menganggapnya spesial. Batu itu akan sepesial. Tapi seandainya, kau nggak menganggap orang itu, sekalipun dia memberikan berlian. Hadiah itu nggak akan berharga di matamu."
"Fabian, dari setiap kencan yang pernah aku alami. Sepertinya kau yang paling cocok denganku. Mungkin ini bisa berlanjut."
Fabian tersenyum, "Silakan dimakan hidangannya."
Fabian memperhatikan wanita cantik di hadapannya, semua wanita terlihat sama saja di matanya. Mereka hanya melihat pada penampilan luar, juga status sosial. Semua berlomba-lomba menarik perhatiannya, karena dia berasal dari keluarga Eisen. Sebenarnya mencari orang yang tulus saat ini di dalam kehidupannya begitu sulit.
Ada kalanya, Fabian ingin selalu berpositif thinking. Tapi pengalaman di masa lalu membuatnya waspada.
"Restoran ini bagus, menunya juga istimewa. Restoran pilihanmu memang berbeda Fabian."
"Aku tau kau baru saja pulang dari luar negeri menyelesaikan pendidikan master.
Masih banyak tempat-tempat yang belum kau kunjungi, bukan?"
"Apakah kau berniat mengajakku mengunjungi satu demi satu?"
Vella memperhatikan cara makan Fabian, dia kerap melakukan kencan dengan pria-pria keluarga atas. Namun, Fabian segera menempati tempat yang istimewa di hatinya. Pria itu memiliki pesona yang berbeda. Dari cara makannya saja, menarik perhatian. Kabar yang beredar, kalau dibandingkan dengan ketiga abangnya, Fabian orang yang sangat jarang bersosialisasi dengan orang lain. Semakin membuat Vella penasaran. Sekarang dia mau buktikan sendiri kebenaran dari ucapan itu, di antara Fabian dan dia seolah ada sebuah shelter yang melindunginya dari dunia luar. Membuatnya berada dalam dunianya sendiri, yang dia tidak ingin orang lain memasukinya.
"Apa yang kau perhatikan Vella?"
"Seseorang yang baru saja aku temui hari ini."
"Jadi, apa pendapatmu mengenai diriku?"
"Cukup berkesan."
"Hanya cukup?" Fabian tersenyum simpul.
"Penilaiannya bisa jadi akan berubah, tergantung apakah pertemuan hari ini akan berkelanjutan." Vella memamerkan senyum termanisnya, senyum yang bisa membuat para lelaki bertekuk lutut di depannya. Dia harap senyum itu juga membuat kesan mendalam di hati Fabian.
"Aku akan mengabari kalau aku punya waktu senggang."
Vella sebenarnya sedikit kesal mendengar kalimat itu, ketika dia punya waktu senggang? Bukankah itu terdengar kalau Vella hanya dijadikan sesuatu yang tidak terlalu penting? Tapi, untuk kali ini dia akan mengalah. Dia terbiasa menghadapi lelaki yang sedikit cuek di awal, terkadang itu taktik mereka untuk membuat kaum wanita penasaran.
"Oke, terima kasih untuk kencan yang indah." Vella berkata.
Fabian menjawab dengan seulas senyuman.
***
Aurora tengah duduk di dalam kamarnya, sebentar lagi dia akan pergi daftar ulang ke SMA Kencana. Dan dia tidak memiliki teman untuk diajak janjian. Aurora memikirkan apa yang harus dia lakukan, dia berharap siswa-siswa di sekolah itu akan memperlakukan dia dengan baik.
Beberapa kali dia melihat pem-bully-an di sekolah, di SMP-nya, dia memiliki banyak teman dan disayangi oleh guru-guru. Nilainya juga baik, Aurora menyukai olahraga. Tapi di SMA yang baru nanti, dia belum bisa memiliki gambaran. Hanya saja, menolak keinginan Pak Fabian, rasanya tidak mungkin dia lakukan.
Aurora pergi ke luar kamar, dia melihat Pak Toni sedang sibuk memberikan perintah kepada pelayan-pelayan di sana.
"Pak Toni."
"Aurora." Toni menoleh.
"Apa yang bisa Rora lakukan?" Aurora tersenyum, memamerkan giginya.
Pak Toni melihatnya, mungkin dia masih memikirkan kekacauan yang dibuat Aurora pada saat pesta kemarin. Dia memang mengacau, tapi itu bukan keinginannya. Aurora merasa seperti ada yang mendorongnya, tetapi tidak tahu siapa.
"Pergilah ke kamar Pak Fabian, pergi mengganti bunga di kamarnya juga memeriksa, apakah kamarnya rapi atau tidak."
Aurora mengangguk gembira, dia suka pergi ke kamar Fabian. Di sana terasa nyaman dan hangat, juga aromanya wangi. Aurora akan betah berlama-lama. Lagipula, mungkin dia bisa bertemu dengan Fabian dan berbicara. Akhir-akhir ini, Aurora merasa sangat kebosanan.
***
Fabian masuk ke kamarnya dengan tergesa, dia merasa gerah dan ingin mandi. Fabian membuka kemejanya.
"Pak Fabian." Terdengar suara memanggilnya. Panggilan yang khas.
Fabian menoleh, Aurora keluar dari kamar mandinya. Dia memandangi Fabian dengan matanya yang membulat lebar, padahal saat ini Fabian tengah bertelanjang d**a. Fabian menghela nafas.
"Pak Fabian udah pulang?" Dia tersenyum mendekat.
"Apa yang kau lakukan di sini, Aurora?"
"Rora beres-beres. Tadi Pak Toni yang minta Rora ke sini." Aurora berkata.
"Bisa ambilkan aku handuk?"
Aurora mengangguk cepat, bergegas menuju kamar mandi, dia keluar lagi dengan membawa handuk. "Apa Pak Fabian pulang kerja?"
Fabian menoleh. "Aku berkencan dengan seseorang."
"Oh."
Fabian tertawa, hanya itu reaksinya? Orang di sekitar Fabian beranggapan kalau dia dan Aurora memiliki hubungan spesial saat ini, padahal tidak ada apa-apa di antara mereka, bahkan tidak ada perasaan apapun. Dia maupun Aurora.
"Pasti wanita yang menarik." Aurora berdiri di depannya, dia meletakkan kedua tangan di belakang. Mendongak pada Fabian.
"Kenapa kau mengira begitu?"
"Kalau cantik, semua perempuan juga cantik. Tapi, nggak semua menarik. Kalau orangnya seperti Pak Fabian." Dia memicingkan mata. "Pasangannya pastilah perempuan yang spesial."
"Kenapa bilang begitu."
"Soalnya, Pak Fabian keren." Aurora cengengesan.
"Aku keren?" Padahal dia saja bilang kalau Fabian membuatnya segan. Sekarang anak itu mulai memujinya.
"Eh, Pak Fabian, Rora tadi mengganti bunga itu." Dia menunjuk. "Pak Fabian, suka bunga apa?"
"Semua bunga sama aja."
Aurora melongo. "Ya ... nggak sama. Bunga mawar memiliki kelopak yang kecil, dia wangi dan elegan. Bunga lili seperti corong, dia lembut juga tegas. Kalau bunga matahari ..."
Fabian menatapnya. "Bunga matahari seperti apa?"
"Dia segar dan terlihat tegar, tapi ... aku kasihan padanya."
Fabian sejak tadi belum masuk ke kamar mandi karena mendengar ocehan gadis kecil itu. Semua perkataannya membuat Fabian ingin mendengarkan, terus dan terus.
"Kenapa kasihan pada Bunga Matahari?"
"Karena dia selalu mengejar matahari, padahal sang matahari belum tentu melihat ke arahnya. Seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan."
Tawa Fabian meledak. "Berapa umurmu untuk bicara soal cinta, Aurora?"
"Aurora udah beberapa kali ditembak sama cowok-cowok di sekolah." Aurora berkata. "Jadi, Rora mengerti sedikit." Dia membelalakkan matanya sedang mulutnya yang mungil membentuk huruf O, sangat menggemaskan.
"Kasihan, mereka pasti kau tolak."
"Kenapa Pak Fabian tau?"
"Karena kau masih kecil jadi nggak boleh pacaran."
"Siapa bilang? Rora cuma belum menemukan yang seperti Bunga Matahari."
"Kenapa mencari yang seperti Bunga Matahari?" Bukankah katanya tadi dia kasihan pada Bunga Matahari.
"Kenapa ya? Karena Rora mau cowok yang hanya melihat pada Rora. Rora benci laki-laki yang nggak setia."
"Stop-stop." Fabian sekarang merasa perutnya sakit karena geli. "Aku harap kau menemukan laki-laki seperti itu."
Rora menyunggingkan senyum manis. "Pak Fabian mandi dulu, Rora akan keluar. Bye ... Pak Fabian."
Dia berlalu meninggalkan Fabian di kamarnya. Fabian melihat punggungnya menghilang. Semakin hari Aurora semakin menarik di matanya, dia lucu dan menjadi hiburan dalam hatinya. Mengisi rongga-rongga yang hampa.
Senyum terus menerus terpasang di wajah Aurora. Namun, Fabian belum memahami, apakah senyum itu sungguhan atau hanya kamuflase dari dukanya yang belum hilang.
***