9

1549 Kata
Aurora mendengar suara keributan dari dalam kamarnya, dia keluar untuk melihat apa yang terjadi. Di sana, dia melihat Nyonya Eisen tampak begitu marah dan emosi pada Pak Toni. Sedangkan, beberapa pelayan termasuk Tika berada di belakang Pak Toni. Sedang menunduk takut. "Sudah berapa tahun bekerja di rumah ini, apa tidak bisa menyetrika satu gaun saja dengan baik?" Nyonya Eisen bergetar karena kemarahan. Nyonya Eisen mengangkat sebuah gaun berwarna kelabu. "Apa kalian tau kalau gaun ini akan aku pakai di acara ulang tahun besok? Siapa yang menyetrikanya?" Nyonya Eisen begitu ngamuk. "Untung saja aku melihatnya, kalau tidak besok aku akan memakai baju yang bolong. Sangat memalukan!" Emosinya Nyonya Eisen sedikit meledak-ledak, tapi wajar saja kalau dia begitu marah. Seandainya gaun itu memang baru dan akan dipakai ke suatu acara kemudian rusak pada saat disetrika. "Sekarang katakan, siapa yang menyetrika gaun ini? Kalau tidak ada yang mengaku. Kalian semua aku pecat!" Nyonya Eisen mengancam. Aurora kaget mendengarnya. Ancaman itu sedikit mengerikan. "Tenanglah, Bu, saya akan menyelidiki ini." Pak Toni berusaha menenangkan nyonya besar. Aurora tahu kalau di rumah keluarga Eisen, ada dua orang yang bertugas untuk menyetrika, salah satunya adalah Tika. Tapi, Aurora juga tidak tahu apakah Tika atau yang lain menyetrika gaun Nyonya Eisen. "Baik, kalau tidak ada yang mengaku. Jangan salahkan kalau aku bertindak." Nyonya Eisen mengancam lagi. "Cepat katakan. Lebih cepat kalian mengaku, lebih cepat masalah ini segera selesai." Dibilang begitu juga, pastilah tidak ada yang berani mengaku. Mereka masih membutuhkan pekerjaan di rumah keluarga Eisen. Pak Toni menoleh kepada para pelayan di belakangnya. "Katakan, siapa yang menyetrika gaun itu?" Suasana masih hening. Sampai tiba-tiba salah seorang pelayan di sebelah Tika berkata. "I-itu, Bu, kemarin pelayan pribadinya Pak Fabian yang menyetrika." Kening Aurora berkerut, pelayan pribadi Fabian? Dia mencerna kata-kata itu. "Siapa?" Nyonya Eisen bertanya. "Katakan dengan jelas!" "Tika katakan, kalau dia yang menyetrikanya, jangan melindungi dia. Sang pelayan menoleh kepada Tika. Tika bergeming. "Siapa?!" "Itu ... Itu Aurora, Bu." "Aurora?" Nyonya Eisen kemudian menyadari. Dia melihat kehadiran Aurora di sana mereka saling berpandangan. Aurora menundukkan wajah. Sementara wajah Pak Toni juga cukup kaget. Apalagi Aurora, kenapa namanya disebut-sebut di sini?" "Itu ..." Suara Tika bergetar. Nyonya Eisen melihat ke arah Aurora lagi. "Oh jadi penyihir cilik ini yang melakukannya. Kemari kamu!" Dia berteriak memanggil Aurora. Seketika Pak Toni dan pelayan yang lain melihat ke belakang, mereka tidak mengetahui kehadiran Arora di sana. Aurora diam mematung, tapi ternyata Nyonya Eisen begitu marah hingga dia mendatangi Aurora dengan cepat. "Rora, nggak pernah ..." Aurora belum menyelesaikan kalimatnya, ketikan Nyonya Eisen menamparnya keras sampai dia tersungkur ke lantai. "Bu Eisen." Pak Toni mencoba melerai. "Jangan membelanya, Toni. Ini akibat anak ini terlalu dimanjakan oleh Fabian, selalu dibela hingga dia menjadi besar kepala. Kau juga Toni, kenapa kau bisa membiarkan anak kecil melakukan tugas-tugas ini?" "Nyonya Eisen, saya akan menyelidiki hal ini. Belum tentu Aurora yang bersalah." Nyonya Eisen dengan wajah merah padam menoleh ke arah pelayan yang menuduh Aurora tadi. "Kalau kau berbohong, kau akan menanggung akibatnya." Dia mendesis. Pelayan itu menggeleng dengan ketakutan. "I-itu benar, Bu. Seharusnya itu pekerjaan Tika tapi Aurora bilang dia ingin membantu. Tika udah melarangnya." Tika hanya diam. Aurora memegangi pipinya, dia tidak pernah ditampar seumur hidupnya. Dan saat ditampar, terasa begitu pedih, dia bahkan terjatuh ke lantai. Begitu keras tamparan Nyonya Eisen, seolah-olah dia tidak memiliki harga diri di sini. Nyonya Eisen meninggalkan Aurora dan yang lain. Pak Toni membantunya berdiri. "Aurora, kenapa kau keluar?" Beliau bertanya. Aurora hanya diam, setitik air mata menggenang di ujung. Dia begitu kesakitan, sampai sepertinya rahangnya ingin terlepas. Aurora memegangi pipinya. "Kembalilah ke kamarmu. Aku akan menyelidiki ini." Pak Toni berbisik. Aurora menatap ke arah pelayan dan Tika mereka hanya terdiam saja, namun tampak gelisah. Tetapi tidak sedikitpun dia meminta maaf karena telah menuduh Aurora. Aurora berbalik dan menuju kamarnya. Menutup pintu dengan cepat. Nafasnya tersengal. Dia melihat pipinya begitu merah di cermin. Aurora mengambil baskom mengisi dengan air, dia mengompresnya pelan, jejaknya pasti membekas. Aurora berbaring di atas tempat tidurnya, tampaknya kehidupannya mulai sulit. Tadinya dia pikir dengan mengikuti Fabian, dia hanya akan bersama Fabian saja, mengobrol, tertawa, bergembira. Hanya bersama Fabian. Tapi nyatanya, dia harus mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Tanpa bisa berbuat apapun dan tidak bisa membela diri. Bahkan, tidak ada yang membelanya. Aurora jadi sangat merindukan ibunya, tapi dia tidak ingin menangis. Dia pernah berjanji pada ibunya, kalau dia berusaha untuk tidak menangis, sekeras apapun dia menjalani kehidupannya. Tetapi, di rumah keluarga Eisen, dua kali dia mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Tidak tahu, apakah Aurora akan bertahan. Tetapi kalau hidup sendirian bagaimana? Apa lebih baik begitu? Mungkin nanti, setelah dia masuk sekolah SMA, dia akan minta izin pada Fabian, dan pergi kost sendirian. Banyak anak SMA yang kost, dan mereka bisa hidup sendiri. Sekalipun begitu, Aurora masih ingin bersama Fabian. Hanya saja saat ini, hatinya terasa sakit. Pipinya terasa perih dan nyeri. Terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Aurora tidak ingin membuka, namun, ketukan itu tidak berhenti. Akhirnya Aurora beringsut bangun. Ketika dia membukanya, dia melihat sosok Tika di sana. "Apa pipimu masih sakit?" Dia bertanya. Seharusnya pertanyaan itu tidak perlu ditanyakan, bagaimana mungkin Aurora tidak merasa sakit lagi? Kejadiannya baru saja terjadi. Aurora menggeleng perlahan. "Rora, maaf kamu menjadi kambing hitam. Eni hanya nggak ingin aku disalahkan dan dipecat." Aurora menatap Tika. Dia melanjutkan. "Ya, aku yang membuat gaun Bu Eisen rusak. Eni mengetahui itu, dia tau kalau melempar kesalahan padamu, Bu Eisen hanya akan marah. Nggak mungkin mengusirmu keluar." "Tapi --- Bu Eisen ..." Dia jadi makin tidak menyukai Aurora, keluhnya. "Eni tidak tau kau berada di luar, membuat Bu Eisen menamparmu." Sekarang dia bersalah karena keluar? Aurora mengepal tangannya kuat. "Aku udah minta tolong untuk membeli salep. Beristirahatlah, Aurora." Aurora sekarang marah di dalam hatinya, tapi dia diam saja. Rahangnya sakit saat bicara. Dia melihat Tika berbalik meninggalkan dirinya sendiri. Jadi, Aurora dikorbankan untuk melindungi Tika agar tidak dipecat? Entahlah, Aurora juga tidak bisa menjelaskan tadi pada Nyonya Eisen. Wanita itu keburu mengamuk. Lagipula, kenapa sejak awal Tika tidak mengaku kalau gaun itu rusak saat disetrika? Bukankah ini jadi kebohongan? *** Fabian baru saja mendengar keributan yang terjadi, dia telah memanggil Pak Toni dan mendengar cerita kalau ibunya tadi begitu murka, dan tampaknya salah sasaran menuduh dan memukul Aurora. Dia telah meminta Idris agar memanggil Aurora ke kamarnya malam ini. Pintu kamarnya terbuka, dia melihat sosok mungil itu, tampak ketakutan. Dia meremas jemarinya dan menunduk, tidak ada keceriaan dan kepercayaan diri seperti biasa yang dilihat oleh Fabian. Aurora baru tinggal di rumahnya selama sebulan dan sekarang dia tampak murung. Ini adalah kesalahannya. "Pak Fabian." Dia bergetar saat menyebut nama Fabian. Fabian duduk di atas tempat tidurnya, memandangi Aurora yang memakai terusan berwarna lembut. Fabian meminta Idris untuk keluar. "Duduklah di sampingku, Aurora." Aurora berjalan pelan, dia duduk di samping Fabian. "Aku sudah mendengar apa yang terjadi. Coba kemarikan, aku ingin melihat pipimu." Fabian meraih dagu Aurora, melihat bekas telapak berwarna kemerahan di pipinya yang lembut. Aurora menutup matanya. "Seorang gadis harus melindungi wajahnya." Fabian berkata. Aurora membuka matanya, berpandangan sangat dekat sekali. "Rora ..." Fabian tersenyum. "Aku tau kau nggak melakukannya, Aurora. Nanti, aku akan mencari keadilan untukmu." Fabian mengambil salep di nakasnya. "Kemarilah, biar nggak berbekas dan tidak sakit lagi." "Pak Fabian, biar Rora sendiri yang mengoleskannya." "Nggak apa-apa. Ini kesalahanku, aku nggak menjagamu dengan baik." Tadi sore, Fabian pergi bertemu dengan temannya. Jadi tidak mengetahui apa yang terjadi. "Tapi, semuanya bukan salah Pak Fabian. Rora hanya sedang sial." "Bagaimana mungkin kau sedang sial, aku sudah berjanji pada ibumu untuk selalu menjagamu. Sekarang kau malah mengalami kesulitan saat berada di sini." Aurora akhirnya menurut, dia mendekat, membiarkan Fabian mengoleskan salep di pipinya. "Berbaringlah Rora." Aurora sangat terkejut, mendengar Fabian memintanya berbaring di tempat tidurnya. "Tidurlah di kamarku malam ini." "Tapi, Pak Fabian bagaimana?" "Aku akan tidur di ruang kerjaku, di sebelah." "Jangan, nanti Bu Eisen semakin marah sama Aurora." "Nggak apa, aku akan menegur mamaku karena telah menghakimimu secara nggak adil." "Pak Fabian." Aurora mendesah. "Kenapa?" Air mata Aurora mengalir, akhirnya kesedihannya tidak terbendung lagi. Melihat itu, hati Fabian merasa terluka. Bagaimana seorang dewasa bisa menyakiti seorang gadis mungil seperti ini? Fabian menarik Aurora ke pelukannya. "Nggak apa, ada aku di sini. Kau nggak perlu takut." "Rora bukannya takut, Rora ... hanya merindukan ibu. Kalau ibu melihat Rora seperti ini, ibu pasti sedih. Ibu nggak suka kalau Rora nggak membela diri sendiri." "Tapi, keadaan yang membuat kamu seperti itu." Fabian membelai rambut Aurora, terasa sangat lembut dan halus. Juga wangi. Aurora pernah mengatakan kalau tubuhnya wangi. Tetapi, dia juga terasa wangi dan segar di hidung Fabian. "Aurora jadi bingung, kalau misalnya ibu Eisen tahu yang sebenarnya, akan ada dua orang yang kehilangan pekerjaannya. Nanti Rora pasti akan semakin merasa bersalah, sekalipun mereka menuduh Rora..." "Kau nggak perlu memikirkan itu, nanti aku akan menyelesaikannya." Fabian mengusap air mata Aurora. "Pak Fabian, waktu itu, Rora bilang kalau Rora ingin terus bersama Pak Fabian. Tapi ..." "Ya?" "Rora, nanti pada saat masuk sekolah. Rora memutuskan untuk kost sendiri." Fabian menatapnya. "Rora tau kalau Pak Fabian udah mendaftarkan Rora ke sekolah yang bagus. Jadi, Rora meminta izin. Rora takut, kalau di sini terus, Rora akan terkena masalah. Bu Eisen, udah nggak menyukai Rora." "Nanti kita bahas lagi masalah itu, sekarang tidurlah." Fabian menyelipkan rambutnya ke telinga. Memperhatikan bekas kemerahan di pipinya. Aurora mengangguk. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN