10

1708 Kata
Aurora berjalan memasuki gerbang sekolahnya yang baru, kokoh. bangunannya juga tampak megah seperti istana. Pohon-pohon tinggi menjulang ke atas. Membuat sekolah itu menjadi teduh namun juga terlihat elegan, tangganya saja tertata dengan apik memakai batu-batu alam. Wajar saja kalau biaya sekolah di sini amat mahal, karena fasilitas yang didapatkan juga lengkap. Sangat nyaman. Aurora menghirup udara pagi yang hangat menyapa hidungnya. Dia sudah mengetahui posisi kelasnya, saat melakukan daftar ulang kemarin. Ini adalah hari pertama Aurora di sekolah menengah atas, dia belum memiliki teman. Tapi, Aurora yakin dia akan mendapat banyak teman. Aurora menggerai rambutnya setelah menjadi siswa SMA, tidak seperti kala di SMP dulu. Dia selalu menguncir kuda rambutnya, namun, Aurora masih menggunakan tas ransel, karena dia lebih nyaman seperti itu. Aurora berusaha untuk bersikap wajar ketika masuk ke dalam ruang kelasnya. Sudah mulai ramai. Dia telah melakukan rencana-rencana agar tidak terlihat terlalu canggung. Beberapa teman-teman mulai memperhatikannya, kemudian mereka berkenalan. Tidak seperti yang Aurora bayangkan, ternyata, siswa-siswi kelas atas itu terlihat ramah dan baik. Padahal Aurora cemas kalau dia mengalami penindasan seperti yang dia lihat di drama-drama. Aurora mengambil kursi di jendela, tiga meja dari depan. Dia merasa rambutnya ditarik dari belakang. Aurora menoleh. "Hai, namamu siapa?" Seorang lelaki yang tampak begitu rapi dengan rambut tertata menyapanya. "Aurora." "Oh, aku Benny." Dia tersenyum. Memandangi Aurora. "Cantik kayak namanya." "Makasih, dan hai juga Benny." Dia tersenyum. Aurora kembali fokus pada ruangan kelasnya, dia membuka buku catatan yang berwarna hijau mint. "Aurora." Benny memanggilnya lagi. Dia menoleh ke belakang. "Kau berasal dari keluarga mana, sih?" Dan inilah yang ditakutkan oleh Aurora, kalau dia akan ditanyakan garis keturunan juga asal usulnya. Bukan Aurora malu mengaku kalau dia seorang pelayan. Hanya saja, sebelum berangkat ke sekolah menengah atas kemarin, Pak Idris telah memberinya wejangan soal ini. Aurora akan berkata kalau pamannya adalah seorang pengusaha. "Aku udah nggak punya orang tua lagi." "Oh ya?" Beni menatap ragu. "Aku turut prihatin." "Tapi, aku tinggal sama paman dan bibiku. Dia memiliki usaha kecil-kecilan." "Kamu pasti merendah. Kamu, kan, nggak seperti Daru." "Daru?" Aurora belum mengenal nama teman-teman di kelasnya. "Dia masuk karena beasiswa, anak yang seperti itu. Jadi, nggak mungkin kalau pamanmu pengusaha kecil-kecilan." Benny berkata lagi. Jadi ternyata mereka ramah padanya karena Aurora tidak masuk melalui jalur beasiswa? Sebenarnya dengan nilai-nilai yang cukup baik di SMP, kemungkinan besar Aurora dapat masuk dengan jalur beasiswa atau seleksi. Namun, Pak Idris berkata untuk tidak memakai jalur itu. Tampaknya Pak Idris mengetahui bagaimana para siswa di sini memperlakukan anak dengan jalur beasiswa. Kalau Aurora tidak salah mengira, mereka akan sedikit membedakannya. Benny menunjuk ke sudut, terlihat seorang remaja tampan dan terlihat tenang. Sebenarnya tidak akan ada yang tahu kalau dia berbeda dari yang lain. Tetapi, karena dia masuk dengan jalur beasiswa, seolah-olah sudah ter-cap di dalam pikiran anak-anak lain, kalau dia adalah sosok yang berbeda. "Dia memang pintar, hebat dalam berolahraga. Tapi, sayangnya dia bukan siapa-siapa di sini." Benny berkata lagi. Aurora ingin bertanya soal asal-usul Benny, kenapa dia bisa berbicara dengan sombong begitu. Tapi, dia sebaiknya menghentikan pembicaraan itu karena dia juga tidak ingin ditanya lebih lanjut. Dia ingin menjalani kehidupan SMA-nya dengan baik sesuai keinginan Fabian. Dia juga belum sempat mencari kos-kosan yang tepat, sebaiknya dia mencari di sekitar sekolah agar dia bisa berjalan kaki. Hari pertama di sekolah Aurora berjalan dengan tenang, dia sudah memiliki beberapa nama teman sekelas di ponselnya. Aurora memasuki rumah kediaman Eisen dengan gembira. Dia tidak sabar mau bertemu dengan Fabian dan menceritakan pertamanya bersekolah, dia berharap Fabian tidak sedang pergi. Aurora melihat Idris melintas. "Pak Idris." Aurora memanggil. "Hai Aurora, kau terlihat manis dengan seragammu yang baru." Dia memuji. "Terima kasih." Aurora menyunggingkan senyum yang manis. "Pak Idris tampak sibuk. Memangnya ada apa?" Aurora memang tipe yang penasaran dengan kejadian di sekitarnya terutama kalau itu menyangkut Fabian. Dia melihat, beberapa pelayan pria keluar membawa koper-koper. Idris tersenyum, "hari ini Fabian akan pindah." Senyum Aurora hilang. "P-pak Fabian pindah, pindah ke mana?" Aurora terbata. "Dia telah membeli rumah baru dan ingin hidup sendiri secara mandiri." Entah kenapa di dalam hati Aurora terasa tidak enak, dia berpikir kalau Fabian mungkin memisahkan diri dari rumah utama Keluarga Eisen karena dia ingin menikah. Kalau dipikir, jarak usianya dengan Pak Fabian sekitar 11 tahun. Berarti saat ini, Fabian berumur 26 tahun. "Pak Fabian, nggak bilang apa-apa sama Rora." "Karena kau lagi sekolah. Aku ke atas dulu untuk mempersiapkan yang lain." Idris berpamitan. Aurora mengangguk sedih, dia masuk ke kamar dengan gontai. Dia melihat Tika ada di sana. Duduk menunggu di atas tempat tidur. "Bibi Tika." "Kau udah pulang, Aurora?" Tika telah sedikit berbeda padanya sejak kejadian gaun Nyonya Eisen yang rusak dan saat itu, Aurora meminta pada Fabian untuk tidak memperpanjang permasalahannya. Ternyata tidak sia-sia juga dia menahan kesakitan karena tamparan Nyonya Eisen. Tika sebagai walinya di sekolah jadi bersikap lebih baik. Dan mereka tampak wajar seperti seorang keponakan dan tante sungguhan. "Semuanya baik-baik saja, juga menyenangkan," sahut Aurora. "Jadi, kenapa wajahmu sedikit sedih?" Tika menyelidik. "Katanya Pak Fabian akan pindah." Tika melihat dengan heran. "Kau belum tau? Berita ini sudah kami dengar beberapa hari yang lalu." Aurora hanya diam. Tika mendesah, dia berusaha menghibur Aurora. "Aurora, kau nggak bisa mengandalkan siapapun. Apalagi Fabian, dia yang mengajakmu ke sini. Tapi, pada akhirnya dia akan meninggalkanmu." Aurora masih diam dan tidak ingin bicara, dia juga akan pergi kost. Sebenarnya, Fabian pindah juga tidak masalah. Tapi, rasanya sedikit menyedihkan karena Fabian tidak berkata apa-apa padanya. "Dia menjalin hubungan dengan Nona Vella, mungkin ingin lebih serius, jadi Pak Fabian mempersiapkan rumah." "Nona Vella?" Akhirnya suara Aurora keluar. "Ya. Wanita yang amat cantik dan berkelas. Bahkan Nindy saja begitu cemburu padanya." Aurora tidak mengetahui itu, dia juga tidak perlu mengetahui dengan siapa Fabian menjalin hubungan karena bukan urusannya. "Ya udah, kamu ganti baju terus nanti makan. Nggak usah dipikirin." Tika berkata lagi. Aurora mengiakan. Dia membuka seragamnya, rasanya lesu. Padahal, tadi dia ingin memamerkan seragam barunya pada Fabian. *** Aurora memandangi ikan yang berenang dengan mata tak berkedip, dia berjongkok di pinggir kolam, di bawah naungan pohon-pohon yang merindangi area samping rumah keluarga Eisen. Sekarang ikan-ikan ini akan ditinggalkan oleh Fabian, dengan kata lain kesempatan mereka untuk dimakan oleh Fabian mungkin sulit untuk tercapai. "Aurora, apa yang kau lakukan di sini?" Terdengar suara pria yang sangat ingin dia temui. Aurora mendongak, "Pak Fabian." Dia masih saja sedih mengetahui kalau Fabian akan pindah. Dan kenapa, pria itu di sini? Pastilah ingin berpamitan padanya. "Aku ..., ngeliatin ikan." Aurora berdiri, sekarang berhadapan dengan Fabian. Dia menengadah, Fabian memakai setelan yang rapi, kemeja berwarna lembut dengan tangan digulung hingga ke siku. "Kau ingin aku membawanya ke rumah baru?" Fabian bertanya. Aurora menggeleng. "Tapi itu terserah Pak Fabian, ikannya juga punya Pak Fabian." Fabian tertawa, dia membelai rambut Aurora. Ada daun di atasnya, dia meletakkan daun itu di atas tangan Aurora. Berkata dengan lembut. "Bagaimana sekolah hari ini?" "Semuanya bersikap ramah pada Rora, karena Rora nggak masuk dari jalur penerima beasiswa. Mereka sedikit aneh memandang siswa yang berprestasi." "Manusia kerap menilai dari sampulnya. Kau nggak usah khawatir soal sekolah. Kalau merasa nggak nyaman, katakan saja padaku." Fabian berkata lagi. "Rora mau pergi mencari kos-kosan, mungkin nggak bisa menunggu sampai Pak Fabian berangkat ke rumah baru." Terlalu kentara kalau dia merajuk. Nada suara Aurora terdengar begitu. Fabian menaikkan alisnya, dia menatap Aurora. "Kau masih ingin tinggal di kos sendiri?" "Iya. Setelah Rora pikirkan masak-masak, lebih baik, Rora kos aja." "Kau nggak ingin ikut denganku?" Aurora menatap Fabian. "Ke mana?" "Tentunya tinggal di rumah baru, apa masih ingin kost?" "Rumah baru Pak Fabian?" Aurora bertanya kebingungan. Fabian mengangguk dan tersenyum. "Rumah siapa lagi? Itu juga kalau mau." "Aurora ... Maksudnya, Pak Fabian mengajak Rora?" "Tentu saja." "Tapi, Rora pikir akan ditinggal. Pak Idris juga nggak bilang apa-apa." Fabian tersenyum. "Dia sengaja mau mengerjai Rora, ingin melihat Rora nangis karena ditinggal." "J-jadi, Rora ikut sama Pak Fabian?" Aurora bertanya lagi dengan ragu. "Mau?" "Mau!" Aurora seketika menjadi terharu. Dia menghambur dan melompat arah Fabian, memeluknya kuat. "Rora mau ikut sama Pak Fabian. Rora nggak suka di sini." "Kalau nanti di rumah yang baru juga masih nggak suka, kau boleh mencari kos-kosan." "Jadi siap-siap sekarang?" Aurora melepaskan pelukannya. Fabian mengangguk. Aurora begitu bahagia dan gembira, ternyata Fabian tidak meninggalkannya. Seketika hari-harinya yang muram berseri kembali. Dia akan pergi bersama Fabian ke rumah baru, meninggalkan Nyonya Eisen dan pelayan-pelayan yang bersikap sinis kepadanya. Di sana, Fabian sebagai kepala rumahnya, pastilah menyenangkan. Fabian menatap Aurora yang secepat kilat menghilang dari pandangannya. *** Idris memasuki kamar Fabian. "Apa barang-barangnya sudah semua?" "Tinggal barang-barang Aurora, sepertinya barang-barangnya tidak banyak." Fabian menjawab. "Apa dia udah menangis tadi?" Idris tertawa. "Belum." Idris menggelengkan kepala. "Fabian, pengorbananmu untuk Aurora cukup besar." Fabian menoleh. "Aku memang udah lama ingin pindah, namun, belum mendapatkan rumah yang tepat. Lagipula, aku juga perlu merancang masa depanku." "Bersama Nona Vella?" "Masa depan nggak ada yang tahu, Idris. Apa yang terjadi pada Aurora hanyalah salah satu dari penyebab aku mempercepat kepindahanku. Dia baru saja masuk SMA, aku nggak ingin dia terbebani dengan situasi di rumah ini." "Fabian, kau mengajak Aurora untuk ikut bersamamu tinggal di rumahmu yang baru. Apa kau nggak takut menyebabkan skandal?" "Kalau begitu, kau yang membereskannya Idris." Fabian menoleh. "Kau tau, aku sangat kaget ketika Aurora mengemukakan keinginannya untuk tinggal di kos-kosan. Itu membuatku merasa gagal." "Bagaimanapun, Aurora hanyalah seorang anak remaja. Ketika dia ingin ikut denganmu, mungkin dia nggak berpikir kalau dia harus menghadapi hal-hal lain di sekitarmu. Dia hanya ingin bermain dan bersenang-senang." "Seorang anak remaja memang harus melakukan itu, mereka nggak perlu diberikan beban kehidupan, Idris." "Tetapi nggak semua manusia seberuntung dirimu, Fabian, tidak semua manusia dilahirkan sepertimu. Contohnya aku." Fabian menatapnya. "Fabian, apa kau nggak berpikir. Bagaimana seandainya kalau kau menikah nanti? Bagaimana dengan Aurora? Apa istrimu di masa yang akan datang, akan menerimanya begitu saja?" "Aku belum memikirkan itu, Idris." "Aku rasa kau sudah memikirkannya, aku mengenalmu Fabian. Kau selalu memikirkan semua hal, jauh ke depan." Fabian berbalik, sebelah tangannya dimasukkan ke kantong celana. Kemudian tersenyum simpul. "Kalau begitu, kau nggak perlu mempertanyakan itu lagi. Sejak aku memutuskan untuk menerima dan membawa Aurora dalam kehidupanku. Aku akan bertanggung jawab terhadap dirinya." "Fabian, komitmen terhadap seorang manusia memiliki waktu yang panjang. Aku hanya mengingatkanmu." "Aku mengerti, sekarang pergilah melihat apakah Aurora telah selesai berkemas. Aku ingin meninggalkan rumah ini." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN