11

1032 Kata
Aurora memperhatikan anak lelaki bernama Daru saat mereka menuju ruang kelas. Dia memakai headset, dan menatap lurus ke depan, kedua tangannya masuk ke dalam saku. Tas ranselnya juga disampirkan sebelah. Dia terlihat cool dan keren. Tidak peduli, kalau dia diperlakukan berbeda oleh siswa-siswa di sekolah Kencana. Sebenarnya selain Daru, masih ada dua orang lagi penerima beasiswa di kelas Aurora. Hanya saja, Daru begitu menonjol. Dia sangat pintar dan pada saat hasil tes kemampuan masuk kemarin. Daru memperoleh peringkat satu, sedangkan Aurora peringkat lima. Daru menoleh ke arahnya, seketika Aurora menjadi canggung, terlihat sekali kalau dia tengah memandangi pria itu. Tetapi Daru segera mengalihkan tatapannya lagi, seolah tidak peduli. Syukurlah, Aurora juga merasa bingung, apakah dia harus tersenyum atau malah membuang muka, opsi yang terakhir terlihat tidak sopan. Di dalam kelas, Daru terlihat serius menekuni pelajaran. Begitu pula dengan Aurora. Ternyata siswa siswi di sekolah ini sangat tenang dan tidak berisik saat belajar. "Aurora, ke kantin, yuk. " Benny mengajaknya saat jam istirahat. Aurora menggeleng, "Aku membawa bekal. Aku mau makan di kelas aja," tolak Aurora halus. "Oh, ya, udah." Beni dan beberapa teman sekelasnya pergi ke luar ruangan, di dalam kelas tidak banyak lagi siswa yang tersisa. Salah satunya adalah Daru. Aurora membuka kotak bekal dari tasnya, ya, minggu lalu dia telah pindah ke rumah baru bersama Fabian. Sejauh ini, terasa sangat menyenangkan dan santai. Fabian mempekerjakan satu orang asisten rumah tangga untuk memasak dan lainnya. Namun, untuk kebersihan rumah, dia memanggil orang setiap hari untuk datang. Sesekali Aurora hanya akan menyapu dan membuka tirai kamar Fabian saat pagi hari. Juga menempelkan post note berisi kata-kata penyemangat agar Fabian menjalani hari-harinya dengan gembira. Aurora telah menguping pembicaraan Idris kemarin, kalau Fabian berencana membuka perusahaan bersama dengan temannya. Aurora merasa itu sangat mengagumkan, pria muda seperti Fabian mendirikan sebuah perusahaan. Pastilah sangat hebat. Aurora melihat ke arah Daru lagi, dia makan roti kemasan. Jiwa perhatian Aurora mulai bangkit, dia melihat kotak bekalnya. Kemudian dia mendatangi Daru. "Daru, apa kau mau makan bekalku?" Aurora menawarinya. Beberapa orang akan beranggapan, kalau Aurora terlalu sok akrab. Tetapi, Aurora hanya berpikir kalau Daru sama sepertinya, hanya kebetulan dan beruntung saja dia bisa masuk ke dalam SMA Kencana dengan bantuan Fabian. Tidak masalah kalau dia ditolak, setidaknya dia menunjukkan kalau dia perhatian. Namun ternyata, Daru tersenyum. Senyumnya amat manis. "Kenapa kau memberi bekal makan siang mau padaku?" "Karena aku lagi diet." Aurora berbohong. "Kalau begitu terima kasih, aku akan makan dan nggak akan sungkan." Mendengar kata-kata Daru, senyum Aurora terkembang. Dia duduk di depan Daru. "Tentu saja, kalau begitu, aku akan bawa makanan lebih besok." "Jangan, nanti merepotkan pelayan di rumahmu." Daru berkata. Aurora mendesah, pastilah mereka mengira kalau dia adalah seorang Tuan Putri yang dilayani sehari-harinya. "Makanannya aku masak sendiri." Daru tampak terkejut. "Kau masak sendiri?" Dia mengulangi perkataan Aurora, tampak tidak percaya. Aurora mengangguk. "Apa enak?" Sejujurnya masakan Aurora jarang sekali ada yang makan. Di rumah baru Fabian, mereka akan makan-makanan yang dimasak oleh asisten rumah tangga. "Maaf kalau nggak enak, aku juga baru belajar." Aurora menatap ragu. Dulu, dia kerap masak saat masih ada ibunya. Ketika sendirian di rumah. Daru menyendok cumi tepung dan memakannya. "Sangat enak, kau berbakat. Namamu Aurora?" Aurora senang, Daru mengetahui namanya. "Iya." "Aku Daru." "Iya, aku tau. Kau, kan, peringkat satu di sekolah ini." "Dan kau peringkat lima." Daru membalas. Aurora tertawa. Ternyata Daru menghabiskan bekal Aurora sangat cepat. Aurora merasa gembira. "Maaf, aku nggak bisa membayar bekal makananmu." "Jangan. Bagaimana kalau aku membuatkan bekal setiap hari dan kita belajar bersama?" Daru menatapnya, Aurora memperhatikan kalau sebenarnya wajah Daru sangat bersih dan terawat. Dia sampai refleks memegang pipinya sendiri. Apa pipinya sehalus pipi Daru? Tingkah Aurora menarik perhatian Daru. "Ada apa?" "Nggak." Aurora hanya tersenyum tipis dan menggeleng. "Soal tawaran itu, aku setuju. Aku sangat suka bekal yang dimasak sendiri." "Oke, kalau gitu kita sepakat." Aurora tersenyum lagi. *** Aurora merasa gembira saat pulang, dia telah menambah satu orang teman lagi. Dan Daru, tampaknya sosok yang baik juga ramah. Apalagi Daru sangat pintar, pepatah mengatakan agar berteman dengan orang pintar supaya pintar. Aurora bersenandung masuk ke dalam gerbang rumah Fabian. Dia melihat mobil sedan berwarna merah metalik terparkir di sana. Aurora baru pertama kali melihatnya, tampaknya itu bukan mobil baru Fabian. Ketika masuk, Aurora melihat seorang wanita cantik nan anggun, duduk di sofa ruang tamu. Dia memandangi Aurora dengan wajah heran. Aurora juga menatapnya dengan heran. Saling berpandangan. "Adk ini, siapa, ya?" Dia memanggil Aurora, adik, dan Aurora tidak bisa menebak siapa wanita itu. Hanya satu yang ada di dalam pikirannya, dia pasti lah teman Fabian. "Aurora." Aurora menjawab. "Maksudnya, kenapa datang ke sini?" Wanita itu bertanya lagi. Aurora tampak kebingungan. "Rora tinggal di sini." "Apa?" Dia bangkit dari sofa, ART datang dan menyuguhkan minuman juga kue. "Tinggal di sini, maksudnya bersama dengan Fabian?" Wajahnya menatap dengan raut tidak percaya. Aurora menggangguk. Wanita itu melipat tangannya di d**a. "Silakan diminum Nona Vella." ART berkata. Kemudian Aurora ingat dengan nama itu. Kata Tika, Fabian sedang menjalin hubungan dengan seorang wanita bernama Vella. Dilihat dari gayanya, tampak berkelas. Tapi Aurora tidak mau memberi komentar. Setelah mengalami kejadian yang tidak mengenakkan di rumah keluarga Eisen dulu, Aurora tidak lagi banyak bicara kecuali ketika dia berada di hadapan Fabian atau Idris. "Rora permisi dulu, mau mengganti pakaian." Aurora berkata sopan, tampaknya lebih baik dia segera dari sana. "Tunggu." Tapi tampaknya, Vella penasaran dengan dirinya. Aurora terpaksa berbalik lagi. "Apakah pelayan di sini?" Dia bertanya. Aurora menoleh ke ART. "Aurora bukan pelayan Nona Vella, dia anak asuh Fabian." "Anak asuh?" Wajah Vella tampak terkejut. Memang benar Fabian berkata kepada ART di rumah itu kalau Aurora adalah anak asuhnya. Karena pengalaman di rumah keluarganya dulu, beberapa pelayan memperlakukannya semena-mena. "Aku nggak pernah mendengar apa-apa dari Fabian soal ini." "Sebenarnya Rora pelayan, tapi Pak Fabian udah menganggap Rora sebagai keluarganya." Aurora sangat ingin mengakhiri pembicaraannya dengan Vella, dia merasa aura Vella mengintimidasinya. "Begitu ya. Baiklah, kau boleh berganti pakaian. Aku akan menunggu Fabian di sini." Vella mulai memberi tekanan pada suaranya, tampaknya dia sedikit kesal karena tidak mendapatkan kepuasan dari jawaban Aurora. Aurora cepat-cepat berlalu dari sana sebelum dia menjadi sasaran kemarahan. Wanita kelas atas kadang sangat mengerikan. Lebih baik menghindar sebisa mungkin, begitulah pikir Aurora. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN