12

1167 Kata
Fabian masuk ke rumahnya, dia tadi telah mendapat kabar kalau Vella datang dan menunggu di sana. Vella awalnya pergi ke rumah keluarga Eisen, namun dia mengetahui, kalau Fabian telah pindah. Vella mengetahui alamat rumah Fabian yang baru dari Nyonya Eisen. "Vella." Fabian menyapanya. "Udah lama menunggu?" Vella berdiri dan memperhatikan Fabian yang baru saja muncul setelah dia menunggu dua jam. Selama ini belum pernah dia terlihat agresif pada seorang pria, yang ada malah sebaliknya. Tapi, Vella tidak bisa bersikap biasa pada Fabian. Mereka telah berkencan sebanyak tiga kali, belum ada tanda-tanda Fabian bosan atau ingin menghentikan hubungan mereka. Tetapi masih tidak ada status. Fabian belum memintanya menjadi kekasih. Walaupun demikian, Vella telah merasa di atas angin. "Nggak apa Fabian, aku juga lagi senggang." "Ada apa mencariku sampai ke sini, Vella?" Fabian duduk di hadapan Vella. "Aku hanya bingung, aku belum pernah diajak kemari. Dan aku berinisiatif untuk datang." Vella memperhatikan Fabian, pakaian yang dikenakan pria itu selalu tampak pas dan menarik. Padahal dia hanya berpakaian formal biasa. "Apa udah minum?" Fabian melirik cangkir teh di hadapan Vella, sudah habis setengahnya. "Ya. Fabian, aku dengar kau sibuk untuk mendirikan sebuah perusahaan." Fabian menyandarkan tubuhnya, "Tampaknya, kabar tidak terbendung. Atau Nona Vella mendapat informasi lebih cepat dari yang lainnya." Fabian bahkan masih memanggilnya dengan sebutan Nona Vella. "Katakan kalau aku bisa membantu, aku punya beberapa koneksi." Vella menawarkan. Sejak awal mereka berkenalan, Fabian telah berkata, kalau hubungan di antara mereka lebih pada simbiosis mutualisme. Karena itu Vella merasa percaya diri, dibandingkan dengan wanita lain, dia berada beberapa tingkat di atas mereka. "Terima kasih, Vella. Saat ini, aku masih bisa meng-handle sendiri." "Oke, tawaran ini berlaku untuk ke depannya, nggak harus sekarang " Vella berkata lagi. Vella mengambil jeda sesaat sebelum akhirnya berkata pada Fabian lagi. " Fabian, tadi aku bertemu dengan anak asuhmu." Vella menekankan kata anak asuh dalam kalimatnya. Fabian berkerut, "Oh." Hanya oh? Sepertinya benar anak asuh bukan pelayan. "Aku nggak tau kalau kau punya sisi yang seperti itu. Fabian tersenyum. "Sisi yang seperti apa maksudmu, Vella?" "Sisi baik hati. Setiap orang yang memiliki anak asuh, pastilah punya jiwa kemanusiaan di dalam dirinya. Bukan begitu?" Vella sebenarnya hanya memancing, dia sangat penasaran dengan sosok Aurora. "Aurora anak yang sangat manis, memiliki dia sebagai seorang anak asuh pastilah menyenangkan." "Tentu saja." Fabian berkata blak-blakan, untuk persoalan Aurora, dia tidak menutupinya dari orang lain. "Aku pikir, kau mempekerjakan seorang anak di bawah umur. Dan, aku jadi kaget saat mengetahui kalau dia bukanlah seorang pembantu." Mencari informasi dari Fabian ternyata memang sulit, tampaknya pria itu merahasiakan beberapa sikap dan tindakannya. Juga, dia sangat tidak terbuka. Namun, itulah yang membuat Vella penasaran, lelaki yang tidak mudah ditaklukan. "Oh ya, kapan-kapan, mungkin kita bisa pergi bersama-sama. Dengan mengajak Aurora juga." Apa dia harus memerankan calon ibu tiri yang baik? Pastilah dia memiliki banyak saingan. "Aurora baru saja masuk SMA, dia sibuk dengan sekolahnya. Mungkin keinginanmu sedikit sulit Vella." Fabian langsung memotong niatnya, kalau orang mendengar itu, pasti akan berpikir kalau Fabian sangat protektif. "Oke, terserah kamu aja." "Ada beberapa file yang harus aku kerjakan Vella, aku akan menghubungi kamu lagi." Fabian berkata, dia jelas menutup pertemuan itu. Vella tahu dia sudah tidak bisa mencari informasi lagi, kalau begitu Sebaiknya mencari informasi dari ibu Fabian. Vella tersenyum kecut. *** Vella duduk di sebuah restoran ternama, dia menunggunya Nyonya Eisen di sana. Tadinya Vella ingin menunggu sedikit lebih lama sebelum bertemu dan membahas masalah ini. Tetapi, rasa penasaran dan tidak sabar membuatnya menghubungi Nyonya Eisen segera. Dan ternyata Ibu Fabian itu sedang senggang sehingga mereka sepakat untuk bertemu. "Hai sayang." Nyonya Eisen memeluk Vella dan mereka saling mengecup pipi kanan kiri. "Tante." Vella berkata lembut. "Tante habis dari salon, kebetulan bisa ketemuan. Apa kau baru dari rumah Fabian?" Aurora mengangguk, "Aku pesankan tante menu spesial di restoran ini." "Oke terserah aja, apapun pilihanmu pasti recommended." "Oh ya, Tante, aku baru saja dari rumah Fabian." "Terus? Kau bertemu dengan Fabian?" "Ya, aku nggak tahu harus mengatakan ini atau tidak. Hanya saja, aku merasa ada sedikit yang mengganjal." "Soal apa ini?" "Ini soal gadis remaja bernama Aurora." Vella menatap Nyonya Eisen. Nyonya Eisen melipat kedua tangannya. "Yah, kau nggak usah khawatir padanya, dia hanya anak kecil." "Tante benar, tapi dia tinggal berdua bersama Fabian. Sebenarnya aku sedikit merasa khawatir." "Begini, Fabian itu hanya merasa kasihan pada Aurora. Kau tau, ibunya dulu adalah pengasuh Fabian selama bertahun-tahun. Dia seorang single parent, jadi saat dia meninggal, Fabian merasa kalau dia memiliki tanggung jawab untuk menjaga Aurora." "Begitu ya? Padahal itu, kan, bukan urusan Fabian." "Begitulah anak tante, Fabian terkesan tidak pedulian tapi sebenarnya dia sangat baik hati. Kau nggak perlu khawatir, dia membawa Aurora hanya sebagai pelayan pribadi." "Pelayan pribadi? Pembantu di rumah Fabian mengatakan kalau Aurora adalah anak asuhnya." "Apa?" Nyonya Eisen baru mendengar hal itu, "Tante nggak pernah mendengar kalau Fabian mengatakan Aurora anak asuhnya." "Itu benar dan itu yang aku khawatirkan. Memang saat ini ... Bagaimana mengatakannya ... anak remaja zaman sekarang cepat sekali dewasa. Banyak mengkonsumsi internet dan terkena pergaulan bebas. Aku khawatir berduaan dengan Fabian yang dewasa seperti itu, akan membuat pikirannya menjadi negatif." Nyonya Eisen kali ini menatap Vella. "Seorang gadis kalau berhadapan dengan Fabian yang memiliki segalanya, aku pikir perasaannya bisa berubah." Vella menuturkan kekhawatirannya. Nyonya Eisen tampak berpikir. "Tante, sorry, sebenarnya aku nggak pernah dan aku nggak biasanya berpikiran jelek seperti ini kepada orang lain. Tante jangan menilaiku seperti itu." "Nggak, Vella. Tante paham kekhawatiran kamu. Kamu sekarang udah menjalin hubungan dengan Fabian." Vella tersenyum. "Oke, sekarang mungkin dia nggak memiliki perasaan apapun pada Fabian, sebaliknya ketika dia dewasa nanti, tiga atau empat tahun ke depan, nggak ada yang tahu. Mereka terbiasa bersama, cuma ada seorang pembantu di sana." Nyonya Eisen diam saja, putra bungsunya ini memang berbeda dengan putra-putra yang lainnya. Fabian jelas tipe yang tidak bisa diganggu gugat keputusan dan pemikirannya. Sejak dulu, mereka tidak bisa mengatur Fabian. Dia lebih suka melakukan apa-apa sendiri, bahkan sejak masih di bangku sekolah, Fabian sudah jarang melibatkan kedua orang tuanya dalam kehidupannya Karena itulah dia lebih dekat kepada pengasuhnya. "Fabian memang sedikit berbeda, Vella, bahkan ketika Aurora berada di rumah kemarin dan beberapa pelayan yang lain sedikit menyulitkannya. Fabian selalu membela gadis itu, jalan satu-satunya untuk membuat mereka berpisah bukan berbicara dengan Fabian akan tetapi ada pada Aurora. Dia adalah kuncinya." "Maksud tante kita harus memaksa Aurora yang meninggalkan Fabian?" "Hanya saja, sekarang dia masih gadis kecil, seandainya mau membuat Fabian membencinya mungkin nggak akan berhasil. Sabar aja, Fabian jarang sekali dekat dengan seorang wanita, itu tandanya kau punya tempat di hatinya." Vella memahami, memang benar selama interaksinya dengan Fabian, sedikit banyak dia bisa menilai bagaimana karakter pria itu. Fabian tipe orang yang teguh pada pendiriannya kalau dia memutuskan sesuatu, sulit untuk mengubah keputusan itu. Dia tidak menyukai adanya gangguan dalam hubungannya dengan pria yang dia suka. Di matanya, Fabian telah menjadi seorang pria yang menarik. Karena itu, perkara gadis yang bernama Aurora. Dia harus pikirkan lebih lanjut dengan serius, agar tidak menjadi duri dalam daging antara dia dan Fabian. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN