Pagi hari yang cerah, di kediaman Fabian Eisen. Aurora telah terbangun pukul lima subuh, karena hari ini berbeda dari hari-hari yang biasanya. Dia akan membuat dua bekal. Satu untuk dirinya, dan satu untuk Daru. Bukankah menyenangkan memiliki seorang teman saat makan siang sambil membicarakan pelajaran di sekolah dan juga merancang strategi untuk berkuliah.
Saat Aurora keluar, dia melihat asisten rumah tangga juga sedang memasak.
"Aurora, kau bangun pagi sekali." Dia berkata.
"Iya, Rencananya Rora mau memasak bekal makan siang untuk hari ini."
Sang art tersenyum, "Harusnya kau nggak perlu melakukannya. Kalau Pak Fabian tahu aku dimarahi."
"Nggak apa, bi, Rora sekalian mempraktekkan kemampuan memasak. Akhir-akhir ini Rora sering menonton video tutorial memasak dan aku nyari Enggak pernah mempraktekannya."
"Tapi kemarin kau juga membawa bekal, Kenapa hari ini bangun lebih pagi?"
"Rora, dengan seorang teman dan kami melakukan suatu perjanjian, Dia memberikan sesuatu dan Rora menawarkan hadiah."
"Menyenangkan sekali kehidupan di masa remaja."
Aurora tertawa. "Nenar juga, Rora ingin masa remaja Rora diisi oleh hal-hal yang indah. Itu lebih baik?'
"Kau benar, oh ya, mengenai Nona Vella kemarin. Apa kau merasa terganggu Aurora?"
Aurora mulai mengambili bahan-bahan dan peralatan, untuk dia Membuat sarapan. "Kenapa Rora harus terganggu?' karena
"Karena kelihatannya, dia nggak suka kau tinggal bersama Pak Fabian."
"Rora nggak berpikir begitu, Rora pikir dia hanya ingin tahu tentang siapa Rora."
"Aku rasa, itu hanya salah satu penyebabnya, dia penasaran dengan kehidupan Fabian."
Aurora menekan kedua tangannya di meja, memikirkan apa yang seharusnya dia masak. "Padahal, bibi juga tinggal bersama Rora dan Pak Fabian. Tapi dia tidak mau interogasi bibi, hanya fokus ke Rora, begitu maksudnya?"
Art menoleh pada Aurora, "Itu yang tadi ingin aku sampaikan."
Aurora menggembungkan pipi, dia melirik jam di dinding, menghitung detak yang tercipta dari bilahnya. Sayup masih terdengar, karena suasana begitu hening.
Mereka melihat Fabian keluar dari kamarnya dan muncul.
"Masih pagi, tapi aku lapar banget." Dia mengernyitkan kening saat melihat Aurora di sana.
"Pagi Pak Fabian." Aurora tersenyum sumringah. Art mengucapkan kata yang sama.
"Aurora." Fabian menarik kursi dan duduk. "Aku ingin makan sesuatu yang enak."
Fabian berkata.
"Saya lagi menyiapkan sarapan Pak Fabian." Art berkata. Fabian juga melihat ke arah Aurora. Dia tampak sibuk mondar mandir di sekitar situ.
"Aurora apa yang kau lakukan?" Fabian bertanya.
"Rora lagi buat bekal untuk dibawa ke sekolah." Dia menjawab sambil tersenyum. "Dan Rora juga membuatkan untuk teman sekelas."
"Bukannya sekolah kencana memiliki kantin yang bagus, kenapa harus repot-repot membawa bekal?"
Aurora menatap ke arah Fabian, "Pak Fabiang nggak suka kalau Rora membawa bekal?"
"Bukan masalah suka atau nggak suka, Aku hanya bertanya. Kenapa nggak makan di kantin bersama teman-teman yang lain?"
Aurora hanya diam. Dia melakukan itu untuk menghemat uang jajannya. Tapi, dia merasa tidak enak mengatakan pada Fabian. Aurora tahu kalau dia memiliki tabungan hasil dari peninggalan sang ibu. Fabian juga mengatakan kalau dia membutuhkan uang dia bisa berkata pada Idris. Tetapi, Aurora merasa kalau dia tidak bisa terus-terusan meminta pada Fabian. Fabian telah merawat dan menjaganya, itu saja sudah membuat Aurora bahagia.
"Pak Fabian, Rora makan siang bersama anak terpintar di sekolah. Sekalian mau mencuri sedikit ilmunya." Aurora berkata.
"Anak terpintar di sekolah? Seorang laki-laki?" Fabian bertanya. Art menghidangkan sup dan omelet ke hadapan Fabian untuk sarapan.
Aurora mengangguk. "Namanya Daru, Aurora berjanji membuatkan bekal untuknya juga. Tapi, dia harus mau diajak belajar bersama."
Fabian makan supnya perlahan. "Oh, ya?" Suaranya terdengar tenang.
Aurora menyusun sandwich ke dalam kotak bekal. "Hari ini buat sandwich aja."
"Beruntung sekali dia, bahkan aku saja nggak pernah dibuatkan sarapan oleh Aurora." Fabian berkata.
Aurora menoleh ke arahnya sambil tertawa. "Kalau begitu, besok Rora akan buatkan untuk Fabian. Besok Rora akan bangun lebih pagi lagi."
"Hari ini saja sudah bangun pukul lima, lebih pagi lagi mau bangun jam berapa?" Art menimpali pembicaraan mereka.
"Jam empat? Atau sebaiknya Rora tidur jam delapan. Jadi Rora tidur sudah cukup."
Fabian menekuni sarapannya. Aurora melirik. Dia mengenakan kaus bewarna abu-abu dan celana pendek bewarna khaki. Penampilan Fabian ini, sangat keren di mata Aurora. Dia sangat bangga kalau melihat Fabian, bisa ikut dengannya adalah hal yang baik.
Sekarang Aurora sangat bahagia, jauh berbeda dengan perasaannya saat berada di rumah keluarga Eisen. Aurora jarang melihat Fabian, karena rumah itu terlalu besar. Fabian juga kadang makan di kamarnya. Aurora tidak bisa membereskan kamar Fabian setiap hari hanya sesekali kalau Pak Tony menyuruh nya. Ternyata kepindahan Fabian membuat semuanya semakin menyenangkan.
Aurora duduk di hadapannya.
"Pak Fabian, Daru ini masuk ke sekolah dengan jalur beasiswa, murid-murid memperlakukannya berbeda. Mereka suka cemburu sama Daru apalagi Daru nilainya sangat baik, dia pintar."
"Dia murid penerima beasiswa?" tanya Fabian lagi. "Anak laki-laki yang dibuatkan bekal?"
Aurora mengangguk. "Sebenarnya di kelas ada tiga orang penerima beasiswa, tetapi anak laki-laki di kelas cuma mengganggu Daru. Hanya saja, Daru sama sekali nggak peduli." Aurora berkata sebal.
Teman-teman di sekolahnya, suka menyindir Daru ketika pelajaran di kelas, juga saat berolah raga. Lagipula, Daru memborong semuanya. Dua pintar juga lihat dalam olah raga, wajahnya juga tampan. Dia berpenampilan menarik. Anak-anak cewek di sekolah kerap membicarakan Daru. Itu semakin membuat anak cowok merasa terganggu.
"Mengganggu? Apa sampai mem-bully dengan parah, seperti itu?"
"Belum seekstrim itu, hanya saja mereka nggak mengajak Daru main bersama mereka. Atau saat ke kantin nggak pernah mengajak Daru."
"Apa mereka mengajak Aurora saat pergi ke kantin?"
Aurora mengangguk. "Mereka nggak tau siapa Aurora, Pak Idris bilang, kalau ada yang menanyakan soal latar belakang keluarga Rora. Rora harus menjawab kalau kamu paman Rora seorang pengusaha."
"Begitu lebih baik, kalau mereka memperlakukan penerima beasiswa secara berbeda. Setidaknya, mereka menerimamu dengan baik."
"Tapi, Aurora merasa sedikit bersalah."
"Kenapa begitu?"
"Rora seperti membohongi diri sendiri dan seluruh dunia. Kalau nggak ada Pak Fabian, Aurora nggak mungkin masuk ke sekolah itu. Dan kalau nanti mereka mengetahui, Rora hanya seorang pelayan. Apa mereka akan mengejek Rora?"
"Kalau begitu, jangan katakan pada mereka." Fabian meletakkan omelet-nya di hadapan Aurora. "Kau sibuk membuat bekal untuk makan siang, sehingga nggak sarapan, makan saja ini."
Aurora menatap omelet di depannya, Fabian telah memakannya sedikit. Tandanya mereka makan sepiring berdua. Perhatian kecil Fabian itu membuat hati Aurora hangat. Ternyata, Fabian memang dikirim oleh ibunya, untuk melindungi dan menjaga dia dengan baik.
"Aurora habisin?"
Fabian tersenyum tipis. "Habiskan aja."
***